
***
Mirai tak bisa lakukan apapun pada moster dalam tubuh Kaisar Qing. Apa lagi, setitik cahaya yang monster itu berikan padanya telah hinggap di jantung Mirai.
SREEETT! GREEET! Mirai menarik benang yang terbuat dari sutra dan beberapa guts dan bahan lain. Ia menutup luka robekan di pergelangan tangan Kaisar Qing dengan jahitan tipis berbenang sintetis buatannya.
"Hampir selesai" Bisiknya. Ia sudah berkutat cukup lama, hingga ia pun selesai membersihkan darah dan menutup luka sang kaisar. Ia lekas menutupnya dengan kain putih, ke ahlian medis yang ia pelajari di masanya sungguh berguna kala ia ada di tempat entah berantah itu.
Ia lekas berdiri setelah mengemas, dan pergi meninggalkan kaisar tanpa meninggalkan obat. Apa boleh buat, penyakit kaisar bukanlah penyakit medis yang harus ia tangani. Namun penyakit itu lebih ke tentang penyakit spiritual yang berhubungan dunia supranatural juga sebagainya.
Srreettt! Ia menggeser pintu kamar Kaisar yang terbuat dari kayu brtutup lembaran kertas pintu khusus di jaman kuno. Setelah ia keluar dari kamar Kaisar, ia di sambut tuan muda.
"Apakah sudah selesai?" tanya Tuan muda. Mirai mengangguk diam.
"Apakah sekarang kamu akan pergi? Ke gunung Xingliun?"Tanya Tuan muda.
"Ya. Aku akan pergi ke gunung itu... Bisakah kamu menunjukan rute tercepat?" Tanya Mirai.
"Serahkan padaku" Balas tuan muda meraih pedangnya lalu memasukannya ke sarung yang ia gantung di pinggangnya.
"Sebaiknya. Kamu juga bantu gantikan pakaian kaisar Qing. sebab pakaian yang sedang ia kenakan terlalu kotor dan berbau tak sedap. Aku tak mau Shu Feng murka dan mengamuk lagi" tegasnya.
"Shu Feng? Siapa dia?"
"Dialah monster yang tersegel di dalam tubuh Kaisar. Jadi...Bergegaslah, waktuku tidaklah banyak... Karna masih banyak urusan yang belum aku selesaikan di luar istana mu ini" Cerocos Mirai. Tuan muda mengagguk lalu menugaskan para pelayannya untuk melakukan apa yang Mirai katakan tadi...
Sementara Mio... Ia masih menangis di samping panglima Ou Tian Feyn "Nona Mio... Apakah anda sudah selesai menulis?" Tanya Ou Tian Feyn sedikit cemas.
__ADS_1
Mio tetap sesegukan seraya menggulung secarik surat yang ia tulis di kertas putih itu "Silahkan masukan ke dalam pipa kecil ini. Aku sudah siapkan merpatinya" Ujar Panglima Ou Tian Feyn.
"Hiks... Apakah merpati ini akan sampai ke pihak istana?" Tanya Mio masih sedih.
"Tentu. Merpati ini pasti akan hinggap di area menara pantau istana... Dan mereka pasti akan menemukannya lalu menyampaikannya ke pihak kerajaan" jelas Ou Tian Feyn.
"Semoga saja..." bisik Mio menepis bulir basah di pelipisnya. Ia meletakan surat itu sesuai ujaran Ou Tian Feyn...
Ou Tian Feyn mengikatnya di kaki merpati dan melemparnya. Merpati itu pun terbang tinggi ke arah kerajaan Ming. Mungkin akan sampai di sana siang atau sore hari.... Da kemungkinan saat merpati itu sampai di istana Ming. Ou Tian Fyen dan kawan kawannya telah pergi dari tempat itu...
Mio dan Ou Tian Feyn masih menatap langit dan memantau merpati itu. Lalu Mirai datang bersama tuan muda "Mio, Panglima... Kemasi barang barang kalian lalu kita pergi" Tegas Mirai.
Mio menoleh ke arah Mirai dan bertanya "Pergi? Kemana? Apakah perjalanan kemari belum membuatmu puas hah! Aku sudah jenuh dan ingin pulang!" Pinta Mio seakan memaki Mirai.
"..."Mirai terdiam kala mendengarkan umpatan Mio yang di tujukan pada Mirai.
"Tapi! Jika aku tidak mengikutinya tempo hari. Aku pasti tidak akan pernah terlilit masalah yang hampir merenggut nyawaku" Bentak Mio tak mau mengalah.
"Tenanglah... Jangan marah. Ini semua adalah salahku!" Tuan muda menundukan atensinya.
"Ia. Kau juga salah karna telah menyeretku ke istana kotormu ini!" bentak Mio menunjuk tua muda.
"Maafkan aku..." Tuan muda menekuk wajahnya sedih.
Mio uring uringan dan menyalahkan semua orang yang telah menjeratnya ke dalam masalah itu. Lalu Mirai berkata... "Pulanglah jika kau ingin pulang"
Mio seketika menghentikan amukannya dan menoleh pelan ke arah Mirai "Apa katamu?"
__ADS_1
"Kembalilah ke istana! Lagi pula... Kau hanya membuat langkahku semakin sulit" Ujar Mirai dingin. Ia segera memalingkan wajahnya dari Mio seraya menarik barang barangnya. Mio terdiam sesaat... Ia menyadari kesalahannya...
"Jika kau ingin pulang, pulanglah, tapi maaf aku tidak bisa mengantarkanmu' Mirai beranjak dari hadapan Mio lalu pergi ke lantai bawah istana itu.
"Putri Mio... Bagai mana menurut anda? Apakah anda akan tetap pulang?" tanya Ou Tian Feyn.
"...Hiks! Keterlaluan! Dia sungguh dingin! Siapa sebenarnya putri mahkota! Bahkan sikapnya sama sekali tak menunjukan kewibawaan seorang putri" Rengek Mio menangis kian kencang.
"...Maaf jika saya membuat anda makin marah putri. Tapi saya harus pergi bersama Putri mahkota dan menjaga nya di perjalanan" Tegas Ou Tian Feyn. Ou Tian Feyn mengabaikan Mio dan Tinggalah dia sendiri di istana Qing.
Jahat sekali! Mereka malah mengabaikan ku!' Bathin Mio. Hatinya kini resah... Mau ikit tapi ia takut mati. Mau pulang tapi ia juga tak bisa pulang sendiri karna ia tak mau di tangkap oleh perompak lainnya...
Akhirnya setelah berfikir lama... Mio pun mulai terpikir "Tunggu! Putri mahkota! Aku ikut!!" Pekik Mio bergegas turun dari lantai atas menuju ke lantai bawah...
Sebuah kereta kencana yang nantinya akan di isi oleh Mirai dan tuan Muda sudah siap... Sedang Ou Tian Feyn menunggangu kuda kekar milik istana tersebut bersama puluhan pengawal tuan muda.
"Bagai mana? Kereta ini sudah sangat kencang... Akan aman kala di naiki dalam perjalanan jauh yang cukup panjang dan menyita waktu" Tegas Tuan muda meminta komentar dari Mirai.
"Masuklah. Kita harus bergegas..." Ujar Mirai. Ia mulai masuk dan nampaknya tuan muda sangat senang kala dapat duduk bersama Mirai dalam satu kereta. Mau bagai mana pun juga, Mirai adalah wanita tifenya cantik, tegas dan pintar dalam hal apapun.
Saat tuan muda hendak masuk, Mio berlari dan melambaikan tangannya "Jangan tinggalkan aku!" teriak Mio...
Akhirnya, tuan muda mengurungkan niatnya untuk duduk di sisi Mirai karna Mio pun ikut dalam rombongan.
"Kalau begitu aku akan naik kuda ku saja" Ucap Tuan muda kesal...
Kini, mereka pun mulai melakukan perjalanan jauh menuju gunung Xingliun di arah tenggara istana Qing. Parjalan yang cukup jauh yakni 200 Kilo meter, mungkin akan menghabiskan berhari hari untuk menuju ke gunung Xingliun. Sedangkan hati Mirai sungguh risau bukan kepalang, hal ini bukanlah tentang kutukan sang monter, namun tentang ke sehatan ibu suri yang sedang di incar seseorang. Karna seseorang itu tengah berusaha melenyapkan nyawa ibu suri.
__ADS_1
Semoga.. Anda bertahan hingga aku kembali yang mulia. Bathin Mirai menggumam.