
"Pusing! Ku harap kau mematikan dupa itu!" Bentak Mirai.
"Heh. Aku tak akan mendengarkan mu"
Kini Mirai dan putra mahkota mulai saling berhadapan. Dua mata sinis itu saling berpaut satu sama lain... Dari tatapan dinginnya saja sudah mampu menjelaskan bahwa di antara ke duanya tak ada hasrat kemesraan melainkan sebuah dendam dan kemarahan.
"Kau sungguh wanita siluman Rubah tengik!" Dengus kesal putra mahkota seraya hendak mencekik leher Mirai. Mirai yang tiba tiba melemah mulai ke hilangan sebagian penglihatannya.
GREEEP!!? Leher Mirai kembali di tekan dan hampir di patahkan.
"Uhuk!"
Sial! Kenapa tubuh ini jadi melemah. Padahal beberapa hari yang lalu aku bisa menghajarnya habis habisan, tapi kenapa aku jadi melemah begini... Dan Ilmu bela diri ku tak bisa ku gunakan di tempat ini. Kenapa aku jadi tak berdaya begini!!" Bisik Mirai, tangannya mencari sesuatu untuk memukul Fei Si si psycopath ini.
"Kau harus mati! Ajalmu kini telah tiba!! Rasakan lah ini!! Dan nikmatilah dengan perlahan... Hehehehe" Putra mahkota terkekeh, bicara seraya memperkuat cengkramannya.
"Nnghh! Sa-sakit!" Rintihan Mirai.
"Sakit?! Sebaiknya ucap kan kata terakhirmu" Ujar putra mahkota.
"Ad-a apa ini. Kenapa tubuhku lemas sekali..."
"Kau lemas ya? Hahahah tentu saja lemas. Aku sudah menyiapkan dupa yang terbuat dari bunga popy, dan sekali kamu menghirupnya. Maka kamu akan mati kelemasan... Hehehe... Aku menambahkan kadar yang sangat tinggi agar kau secepatnya tiada" putra mahkota makin mencengkram leher Mirai yang hampir ke habisan napasnya.
"Be-berhenti! Kau putra mah-kota yang berengsek!" Ucap Mirai terbatuk batuk.
Putra mahkota menyunggingkan bibirnya " Meski aku berengsek, Kau tetap akan mati di tanganku!" Cekikan makin kuat, Kuat dan semakin kuat... seakan hendak mematahkan leher Putei mahkota.
Namun tiba-tiba, Angin segar mulai berhembus. Saat Mirai hendak mati untuk ke sekian kalinya. Ibu suri datang ke sel bawah tanah bersama panglima perang andalannya.
"Hentikan! Putra mahkota Fei Si!!" Tegas ibu suri.
Degh! Seketika Fei Si sadar dan mulai melepas cengkraman nya. Fei Si segera menoleh dengan sorot matanya yang tajam dan dingin.
"Uhuk! Uhuk!" Erang Mirai terbatuk batuk, Mirai yang lemas hanya bisa tergeletak di tanah sel tahan itu. Ibu suri segera berlari dan mulai memeluk Mirai.
"Kau baik baik saja putri mahkota? Oh maafkan aku sayang. Hampir saja, terlambat sedikit aku datang. Entah harus kemana aku menyembuhkanmu" Panik ibu Suri, Mirai mulai kehilangan ke sadarannya.
"Putri! Putri mahkota! Sadarlah!" pinta ibu suri menggoyang goyangkan tubuh Mirai yang tak berdaya itu.
"Tian Feyn! Gendong Putri mahkota, bawa ke paviliun nya dan segara panggilkan tabib istana secepatnya untuk merawat putri mahkota!" Pinta Ibu Suri.
Panglima Perang Ou Tian Fei mulai mengangguk "Hamba segera menjalankan perintah Ibu suri!" Imbuh Panglima Ou tian Feyn. Tubuh Mirai mulai diraih panglima perang tampan itu untuk kedua kalinya. Mirai di gendong panglima perang hingga keluar dari sel tersebut.
Sementara itu, Putra mahkota dan ibu suri mulai bersitegang. Mereka saling bertatapan sinis,
__ADS_1
.
.
.
" Jelaskanlah! Apa yang kau perbuat pada putri Hyr-in!!" Pekik ibu suri.
"..." Fei Si diam seribu bahasa dan malah mengabaikan ibu suri.
"Putra mahkota! Apa yang ada di dalam kepalamu! Kenapa kau menyakiti putri mahkota!" teriak Ibu suri meminta pertanggung jawaban dari cucuknya itu.
"Tidak ada hubungannya dengan mu!" jawab Fei Si dingin, Fei Si berpaling dan mengabaikan ibu suri begitu saja.
"Aku ingatkan! Jangan sentuh putri Hyr-in lagi! Apalagi berniat membunuhnya!" Ancam ibu suri. Tiba tiba langkah Fei Si terhenti di tengah-tengah pintu keluar penjara bawah tanah itu .
"Heh! Jangan ingatkan aku, sebab aku akan membunuh wanita dengan wajah yang sama itu setiap kali aku melihatnya!! Camkan itu" Ancam Fei Si seraya berlalu.
Degh! Ibu suri marah dan mulai mengigit bibirnya sendiri.
"Jika itu mau mu, Jangan salah kan aku... jika aku mengirim penjagaan ketat untuk putri Hyr-in mulai saat ini! Siapa pun takkan bisa menyentuh nya!! Terutama dirimu!" Ibu suri memperingatkan Fei Si dengan tegas.
"Heh! Lakukanlah, Tapi aku tetap pada pendirian ku! Sejak awal, aku tidak menginginkan perjodohan ini. Aku hanya ingin menikahi wanita pilihanku sendiri! Ingatlah, Dia adalah sebuah tumbal... dia hanya pengganti beberapa Putri mahkota yang tewas di tangan ku! Permainan akan sangat cukup menarik bukan?" Ucapnya seraya pergi dan mulai meninggalkan ibu suri sendiri. Ibu suri marah besar dan mengepalkan tangannya erat.
"Fei Si! Bagaimana kau punya hati segelap ini karena sebuah cinta? Siapa wanita yang sudah meracuni otakmu itu... Racun apa yang wanita sihir itu beri untuk cucukku?!" Ibu suri mulai pusing dan hendak jatuh. Mungkin ibu suri tak tahu saja jika di ruangan itu telah di asapi oleh dupa bunga popy.
"Bawa aku keluar" Pinta ibu suri.
"Ambil tandu" pekik para pengawal.
Ibu suri pun mulai melanjutkan langkahnya menuju ke paviliun teratai api milik Mirai.
.
.
.
.
Favilun mawar...
"Terimakasih panglima..." Ucap Mirai Senang.
"Sama-sama... Anda akan baik-baik saja, Tunggulah... sebentar lagi tabib akan segera datang" Tian Fei segera pamit dan melangkah mulai menjauh.
"Tunggu! Panglima... bolehkan aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Ya. Silahkan yang mulia" Panglima menghantikan langkahnya dan mulai menoleh ke arah putri mahkota.
"Apakah kau sudah punya istri!" tanya Mirai. Seketika nanar Ou Tian Feyn mulai kaku.
"I-istri?!" Canggung Tian Feyn.
"Kau belum punya istri? Atau pacar? Atau kekasih... Atau teman dekat... Atau LDR? Lalu apakah kekasihmu ada di istana ini?!" Tanya Mirai bertubi dan membuat Ou Tian Feyn tak nyaman.
Wajah Tian Feyn semakin pucat saat pertanyaan pertanyaan aneh itu terucap dari bibir putri mahkota.
"Maaf, Saya tidak paham pada pertanyaan anda... Saya pamit!" Tian Feyn hanya memberi hormat dan pergi.
"Tunggu!" Mirai mulai bangun dan berlari ke arah Jendral perang itu.
"Ada apa... Yang mulia"
"Jika kau tak punya pacar... aku mau jadi pacarmu!" Gurau Mirai dengan nada menggoda.
Tian Feyn hanya bisa terdiam dan mencercidkan alisnya. Ia sama sekali tak paham pada kata-kata Putri mahkota tersebut.
"Maaf. Saya sudah terlalu lancang, Sebaiknya... anda istirahatlah. Saya akan berjaga di luar faviliun anda" Jendral mulai menutup pintu faviliun Mawar milik Mirai. Mirai memukul mukul bibirnya "Sial! Apa otakku sudah tidak waras. Kenapa aku malah mendekatinya... Ini pasti efek bunga popy yang memabukkan itu. Aku jadi berhalusinasi bahwa aku menyukai Panglima Ou Tian Feyn sejak pandangan pertama.
Jika sejak awal Mirai sudah suka pada Jendral perang itu. Maka kebalikan dari hati pemilik tubuh malah akan lemah jika mendapatkan bentakan atau kata kata mematahkan hatinya. Maka Mirai yang akan jadi korban. Mirai akan menangis histeris jika Fei Si mencampakannya atau mencecahnya. Padahal hati Mirai tak ingin menangis. Namun karna Hyr In sangat mencintai putra mahkota. Maka... Mirai lah yang harus menanggungnya.
.
.
.
Usai di periksa sang tabib.
"Anda sangat kuat. Hingga tak ada satupun yang terluka parah. bahkan sisa memar di leher anda langsung memulih dengan sendirinya. Ini adalah kemajuan yang sangat mengherankan. Selama bertahun-tahun... dalam pengobatan China, ini adalah pertama kalinya aku melihat sebuah keajaiban " Jelas sang tabib istana.
" Jadi putri mahlota tak terluka parah?" Tanya ibu suri.
"Tidak, Ini sungguh ke ajaiban besar..."
"Syukurlah jika begitu..." Ibu suri menghampiri Mirai dan mulai memeluknya.
"Aku tak apa-apa ibu suri. Jangan khawatir"
"Maafkan cucukku ya..."
"ajangan panik... aku baik-baik saja... Lihatlah. Aku masih hidupkan?" Gurau Mirai.
"Semoga Fei Si cepat sadar dan mulai menanamkan hatinya padamu..." Pelukan ibu suri terasa hangat hingga membuat hati Mirai merasa tenang dan tentram.
__ADS_1
Terimakasih... Ternyata masih ada beberapa orang yang masih menyayangiku. Jika di abad dua puluh satu, Ayah dan ibu angkatku tidak mencintaiku. Setidaknya di dunia ini. Biarkan aku bahagia, Bersama ibu suri yang jadi ibu dari mertuaku.