
"Apa! Ternyata selama ini kau adalah pelakunya?" pekik sang kaisar ia berdiri dan menunjuk sang selir. Betapa malu nya pangeran Li Bai kala tahu kebenaran bahwa ibunya adalah pelaku utama dari penderitaan ibu suri dan permaisyuri.
"Beraninya kau menghianati ke baikanku! Kau sudah naik pangkat menjadi selir agung dan kau malah menusuk istriku dari belakang! Malah kau bilang ingin menjadi permaisyuriku.. Jangan mimpi kamu" amuk kaisar. Selir agung hanya bisa mematung tanpa kata, tamparan Mirai tadi membekukan hati egonya "Ibu... Benarkah? Ibu tidak mungkin ibu melakukan hal ini kan? Ibu adalah orang baik... Ibu tak mungkin melakukannya kan?" tanya Li Bai menghampiri sang ibu dan memeluknya. Seketika tangisan selir agung pecah karna ia tak tega menjawab kebenaran tentang dugaan sang raja.
"...Maafkan aku pangeran Li Bai... Ini semua adalah salahku. Aku sungguh serakah akan tahta... Bahkan aku tak pernah menyangka jika kejahatanku akan terbongkar hari ini oleh tabib agung... Aku sungguh menyesal" tangis Selir agung.
"Tapi untuk apa bu. Untuk apa ibu melakukan hal ini? Aku tidak membutuhkan tahta atau apa pun itu, harta ku di dunia ini adalah ibu... Ku mohon bu jangan lakukan itu" tangis Li Bai membuat seluruh istana larut dalam ke sedihan.
"Tak ada alasan lagi! Seret dia ke penjera bawah tanah!" amuk Sang raja menunjuk selir agung menuju penjara oleh para penjaga istana.
"Tidak yang mulia. Mohon ampuni ibuku... Jangan biarkan dia kedinginan di balik jeruji besi ruang bawah tanah. Aku mohon" Li Bai bersimpuh di hadapan singgahsana sang raja dengan nanar yang sembab.
"Ibu mu berani menyakiti ibu ku dan istri ku! Maka... Statusmu sebagai pangeran! Akan di cabut hari ini juga!" Tegas sang raja. Selir agung histeris "Tidak! Yang mulia... Janga cabut status nya sebagai pangeran! Aku mohon!" teriak selir agung ter jatuh lemas.
"Ini adalah hukuman yang pantas untuk pembangkang sepertimu! Pengawal! Seret wanita iblis itu ke penjara... Lalu umumkan pencabutan gelar pangeran Li Bai ke seluruh kota!" tegas sang raja.
"Yang mulia... Hamba tak perduli, hamba tak perduli dengan gelar pangeran atau status kerajaan... Tapi hamba mohon... Tolong bebaskan ibu hamba yang mulia" Li Bai bersujud menundukkan jidaknya di lantai.
"Heh. Kalian bisa saja melakukan hal yang sama pada putra putra ku... Bahkan, ibu mu saja sudah mencemari kepercayaan ku"
"Hamba mohon yang mulia. Bebaskan ibu hamba... Bebaskan ibh hamba yang mulia" Li Bai bersimpuh dan memohon pembebasan.
Para saudaranya tidak tega menatap pangeran Li bai di kejauhan... Para mentri dan yang lainnya pun termenung karna haru melihat pangeran Li Bai di eksekusi oleh sang raja. Juga gelarnya sebagau pangeran akan di cabut.
"Yang Mulia... Ampuni pangeran Li bai' Para pengeran ikut bersimpuh untuk pembebasan pangeran Li Bai.
"Kalian! Kenapa kalian malah ikut ikutan!" amuk yang mulia.
"Tolong berikan pangeran Li Bai kebebasan. Dia tidak bersalah dalam kejadian ini...Hamba mohon" Ujar Li Zhau si kakak tertua.
Kaisar mulai terdiam "Tabib agung. Bagai mana menurut pandanganmu tentang masalah besar ini?" Tanya Kaisar.
"Hamba tidak bisa berkomentar yang mulia. Mohon ampun... Tapi, hamba harap, yang mulia bisa bijak dalam mengambil keputusan" Pintanya. Kaisar mulai memutar otaknya sejenak dan kemudian...
"Baiklah... Karna kewibawaan tabib agung. Pangeran Li Bai di bebaskan, tapi... Aku akan mencabut gelar selir agung di istana ini. Dan kau selir agung, aku akan memindahkanmu ke pulau Chi di ujung barat. Kau akan mengurus kebun teh ku di sana... Kau di hukum atas segala kesalahanmu karna hampir membunuh ibu suri dan permaisyuri. Kau tidak di izinkan bertemu pangeran Li Bai seumur hidupmu! Kau di bebaskan dan tidak di hukum mati!" Tegas sang raja. Meski berat berpisah dengan Li Bai, selir agung pun menerima nya dengan tulus...
__ADS_1
"Hamba menerima nya yang mulia" Ucap selir agung menahan tangisan nya agar Li Bai tidak sedih lalu memohon pengampunan lagi pada kaisar .
"Ibu..." Li Bai menoleh kebelakang dan ibunya di bawa pergi oleh puluhan penjaga dan Li Bai di larang mengikutinya.
"Ibu! Ibu... Ibu tunggu! Jangan! Jangan bawa ibuku!" Li Bai terjatuh karna di dorong para penjaga. Para pengeran lain pun lekas memeluk Li Bai dan menenangkannya.
"Kakak! Tolong jangan bawa pergi ibuku! Kakak... Aku mohon! Ibu! Ibu!" Tangis Li Bai... Tak kuasa dan Syok, Li Bai pun pingsan seketika itu.
"Tabib bagai mana ini?" tanya Pangeran Li Zhau.
"Bawalah ia ke faviliunnya. Karan dia akan baik baik saja... Dia hanya syok. Berikan ini padanya" ucap Mirai menyerahkan sebotol kecil cairan berbau segar.
"Apa ini?"
"Itu adalah eucalyptus oil. Aku sengaja membuatnya dengan penyulingan sempurna agar wanginya terjaga"
"Baiklah. Kami akan membawanya sekarang"
"Oleskan beberapa sentuhan di atas bibir pangeran Li Bai agar ia bisa sadar" Tambah Mirai.
"Yang mulia... Hamba mohon, bebaskan para dayang yang terlibat ini. Mereka tidak bersalah" Pinta Mirai.
Kaisar terdiam di singgahsananya. Lalu Permaisyuri pun menyeru "Kaisar... Yang di katakan tabib agung adalah benar" Ujarnya. Kaisar menatap ke arah Mirai "...Kau adalah penyelamat istana ku. Tanpa mu, huru hara di istana ini tak akan selesai dan akan tetap menjadi misteri..." jelas Kaisar.
"...Anda sangat berlebihan yang mulia"
"Aku akan memberikan mu hadiah... Karna kau sudah menyelamatkan nyawa kedua wanita ke sayanganku" jelas kaisar.
"..."
"Besok. Aku akan memberikan hadiah hadiah itu saat perayaan kesembuhan ibu suri dan permaisyuri" Tegas sang kaisar.
Mirai lekas memotong kalimat pria kekar itu "Ampun yang mulia. Bukan niat hamba untuk menolak segala kebaikan yang anda berikan, akan tetapi hamba harus pulang hari ini juga. Masih banyak pasien hamba di luaran sana yang masih membutuhkan pertologan saya"
"Tapi. Sebentar lagi malam akan menyapa akan sangat berbahaya jika tabib agung pulang sekarang. Apa lagi di perbatasan selalu di kelilingi para perompak jahat"
__ADS_1
"Hamba sangat berterimakasih atas perhatian anda karna telah memperingatkan. Namun... Hamba akan tetap menempuh jalan tersebut" Balas Mirai.
"... Tabib agung. Kami ucapkan banyak terimakasih" ucap ibu suri mambaikan tanganya.
"Jangan sungkan ibu suri... Ini adalah tugas hamba. Yang mulia... Satu hal lagi yang mengganjal di hati hamba"
"Apa itu. Jika kau butuh sesuatu bicaralah" Ucap Kaisar.
"Ada rumor mengatakan. Di istana ini, banyak tabib yang di kurung... Bisakah hamba bertemu dengan mereka?" Tanya Mirai.
"... Aku, aku mengurungnya di bawah tanah" Kaisar menekuk wajahnya malu.
"Hamba tidak akan meminta imbalan pada anda atas jasa yang saya berikan untuk kerajaan Hong. Tapi, saya mohon. Bebaskan para tabib... Mereka tidak bersalah... Hamba mohon pada yang mulia" mirai hendak bersimpuh tapi Kaisar menahan nya agar tak melakukan itu. Akhirnya, Kaisar pun membawa Mirai ke bawah tanah dan meminta kaisar membebasakn 100 tabib yang sudah terlihat kucel itu.
"Kalian di bebaskan!" tegas Kaisar. Seketika para tabib terpekik dengan nanar berkaca kaca "Kalian di bebaskan mulai hari ini" Sambungnya.
"Benarkah! Kita bebas! Terimakasih yang mulia... Akhirnya setelah sekian lama kita di kurung. Kita pun bisa bebas" Ucap para tahanan.
"Jangan berterimakasih padaku. Berterimakasih lah pada Tabib agung di sebelahku" Balas sang kaisar.
"Tabib agung. Apakah anda yang telah menyembuhkan ibu suri dan permaisyuri?" Tanya salah satu tahanan.
"jangan di pikirkan... Sekarang nikmatilah ke bebasan kalian. Lalu obati pasien dengan penuh rendah hati" pinta Mirai.
Akhirnya... Para tabib di bebaskan, para tabib tak hanti hentinya berterimakasih pada Mirai karna telah menemukan cara untuk mengobati ibu suri dan permaisyuri lalu membebaskan mereka (Para tabib). Mirai, Ou Tian Feyn dan putri Mio lekas pulang ke istana Ming tanpa mengabari Para pangeran. Kasihan pageran Li Yuan pasti ia akan patah hati... Lalu nantinya mencari ke beradaan Mirai, sedangkan Mirai sendiri sangat gemar menyembunyikan identitasnya sebagai putri mahkota kerajaan Ming.
***
Di istana Ming...
Fei Si sibuk mengerahkan para pelayan untuk memperbaiki kamar Mirai yang telah ia hancurkan. Ia menata kamar Mirai bah kamar seorang pengantin baru...
"Hahahah... Ini adalah sebuah kejutan besar untuknya" Fei si mengandai andai tentang malam pertama di faviliun istrinya "Pasti akan sangat menyennangkan" Pikirnya.
Padahal... Mirai sama sekali tak suka jika ada orang yang menyentuh barang barangnya tanpa izin. Dan kemungkinan, Fei si akan menerima balasannya.
__ADS_1