Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Perjalanan


__ADS_3

***


Kereta kenacana sudah mulai berjalan beberapa jam yang lalu. Kuda yang di pakai menarik kereta tersebut adalah kereta yang kokoh dengan kuda kuda yang terlatih.


Mungkin perjalanan menuju gunung Xingliun tak akan memakan waktu terlalu lama... Mio dan Mirai duduk bersampingan. Mirai tetap saja diam dan sibuk dengan lamunannya. Sedangkan Mio yang tak enak hati pada Mirai mencoba meminta maaf padanya atas kelakuan yang tidak sopan tadi pada Mirai. Cuman yang jadi masalah, Mio sama sekali tak paham bagai mana cara memulainya...


"Ahem..." erang Mio seraya menggeser tubuhnya ke samping Mirai dan mencuri padang darinya.


"...Mmmh! Putri mahkota..." ucap Mio mulai berani menatap wajah Mirai yang dingin.


Mirai tidak merespon sapaan Mio karna ia sedang sibuk dalam pikiran yang buncar. Mio putuskan untuk memegang tangan Mirai secara tiba tiba "Plek!' Mirai segera menatap Mio "Aah!" Pekik Mirai kaget.


"Putri mahkota. Maafkan aku karna aku terlalu kasar dan selalu menyalahkan kejadian apapun padamu... Aku sungguh menyesal" Ujar Mio tulus meminta maaf.


"...Tak masalah, aku tak ambil pusing soal itu" balas Mirai.


"Lalu kenapa sedari tadi aku lihat wajah mu terus saja begitu dingin padaku. Jika bukan marah lantas apa?" tanya Mio.


"...Aku sedang gundah saja" balas Mirai enggan panjang lebar.


"...Apakah perasaanmu sama seperti ku? Kamu rindu rumah dan ingin pulang? Atau... Kamu rindu pada putra mahkota yang jadi kakakku?" Tanya Mio menyinggung soal Fei Si. Lantas saja Mirai mengerutkan dahinya dan cukup marah pada Mio "Apa maksudmu rindu pada pria ****** itu!" Mirai tak sengaja mengucapkan kalimat cemoohan pada Mio.


"J-******. Maksudmu kakakku adalah ******....oh astaga kenapa kamu menghina putra mahkota seperti itu?" Mio sungguh marah.


Mirai sungguh tak sengaja "Maafkan aku. Aku hanya asal bicara saja"


"Tolong hargai kakak ku. Maksudku, kamu tak perlu menghinanya begitu... Kakak ku adalah pria tertampan di kerajaan Ming, karismanya tak tertahankan hingga banyak wanita yang begitu mencintainya dan memujanya. Jadi jika ia populer di kalangan wanita... Kamu sebagai pendampingnya tak boleh menyalahkannya... Kamu harus tetap menyemangatinya. Lagi pula dia juga masih mencintaimu dan bla bla bla bla!' Entah apa yang Mio katakan selanjutnya tentang memuji kakaknya yang di mata Mirai tetaplah pria berengsek.

__ADS_1


"Aku ingin memejamkan mataku..." Ucap Mirai. Mio pun mulai mengangguk...


Benar saja, Mirai merasa lelah dan ia pun terlelap begitu saja. Dan lagi lagi, ia terperosok kedalam mimpi yang sedikit mengerihkan dari sebelumnya. Feng Shu rupanya sungguh berniat menjadikan Mirai sebagai tuannya hingga ia menguak masa lalu Mirai sedari kecil...


"Di mana ini?" Bisiknya kedinginan. Yang Mirai lihat hanyalah langkah kaki orang orang dan ia merasa heran, karna ia merasa dirinya sungguh pendek. Kaki jenjang yang lalu lalang di hadapannya sungguh banyak dan ramai. Namun tak ada satupun yang mengulurkan tangannya untuk menolong Mirai yang kala itu kedinginan.


"Kamu kedinginan?" Tanya seseorang tiba tiba menumpuk kepala Mirai dengan sebuah mantel yang cukup tebal dan hangat. Mirai lekas mendonggakan wajahnya ke arah di mana seseorang itu menumpuk mantel tersebut.


"Hehe... Kamu manis" Ucapnya. Pria tampan dengan rambut panjang sepinggang berwarna perak dan bermata biru sedalam samudra. Pria itu tersenyum manis hingga membuat Mirai kecil terpesona "Mana orang tuamu?" tanya Pria tampan itu.


"Orang tua ku tewas dalam peperangan di kampung halamanku... Aku datang ke kota ini bersama bibiku. Tapi bibiku malah meninggalkan ku disini... Aku sudah tiga hari tidak makan" cerocos Mirai kecil.


"Wah... Sayang sekali. Apakah kamu mau ikut denganku?" tanya Pria tampan yang berfostur tinggi ramping denga kulit putih pucat. Tentu saja Mirai mengangguk...


"Kalau begitu. Ayo pegang tangan ku" pintanya. Mirai terpikat dan segera menggapai tangan dermawan itu. Di perjalanan ia di beri makan sepuasnya. Meski pria itu hanya bisa memberikan makan untuk Mirai dan perutnya sendiri malah berbunyi.


Pria tampan itu tersenyum "Aku tidak lapar. Kamu makan saja" balasnya. Ia segera meraih gelas lalu mengisinya dengan air... Mirai perhatikan dan ia berfikir jika pirasat nya benar. Bahwa pria itu sangatlah kelaparan...


"Oh ia. Siapa nama mu?" tanya pria tampan itu. Mirai menggelengkan kepalanya, ia sungguh lupa pada dirinya sendiri karna saat itu usianya baru saja menginjak 4thn.


"Begitu ya. Apakah kamu mau tinggal bersama ku?" tanya pria itu. Mirai mengaguk dengan pipi yang terisi penuh oleh makanan.


"Kalau kamu mau tinggal bersamaku... Aku akan tentukan namamu. Bagai mana kalau nama mu adalah Mirai?" tanya pria tampan itu.


Mirai senang dan mengangguk angguk beberapa kali "Kamu akan jadi muridku mulai saat ini. Panggil aku Suhu, Mu Zhi..." Imbuhnya.


Malam itu, adalah kali pertama Mirai memanggil gurunya "Suhu, Mu Zhi..."

__ADS_1


"Anak yang pintar..."


Pertemuan pertama Mirai dengan gurunya sungguh tak bisa ia lupakan. Setiap hari ia membantu sang guru merawat orang sakit dan ia pun di ajarkan beberapa teknik meramu obat obatan herbal. Akupuntur, totot syaraf metode bekam dan penyaluran energi positif... Mirai menguasai segala hal yang di ajarkan sang guru dengan baik dan begitu mudah hingga membuat Guru Mu Zhi sangat bangga pada Mirai.


"Hai Muzzi... Siapa dia?" tanya sahabat karib Muzzi.


"Bai Xin... Kau baru datang?" tanya Muzzi mengabaikan pertanyaan Bai Xin.


"Sudahlah jawab pertanyaan ku siapa gadis cilik itu..."


"Dia adalah muridku" Senyum Muzzi seraya menatap Mirai lalu menepuk kepalanya lembut.


"Apa? Murid? Sejak kapan kau memiliki murid? Usia mu menginjak 200 tahun dan aku paham betul kalau kamu tak pernah mau mengangkat seorang murid?" Bai Xin sungguh kaget kala mendengar kalimat murid yang keluar dari mulut Muzzi.


"Karna... Aku tak bisa terus hidup selamanya... Mungkin jika aku mengangkat murid. Kelak ia akan menjadi penerusku" balas Muzzi berjongkok di hadapan Mirai lalu memeluknya. Mirai tak paham apa kalimat Muzzi yang ia pahami hanyalah sebuah kasih sayang dari sang guru...


Bai Xin sedikit sedih, ia tak pernah melihat Muzzi secocok itu dengan muridnya. Hingga ia pun memperlakukan Mirai dengan drajat yang sama... Baik Xin memutuskan untuk menurunkan segala ilmu belaridinya pada gadis mungil itu. Termasuk marganya saat ini Xin... Mirai dari Muzzi dan Xin dari guru Bai Xin.


Sesuai harapan kedua guru yang telah mengangkat derajatnya... Xin Mirai tumbuh menjadi gadis cantik yang pandai di dunia modern. Banyak mata yang jatuh hati padanya saat usianya 10thn. Terutama kluarga yang mengadopsi Mirai, Mirai selalu menolak kala ada orang yang ingin mengadopisnya... Namun, malam itu... Saat usia Muzzi genap 207 tahun. Ia pun menutup matanya dan meminta Mirai agar menerima kluarga baru...


Tangisan pedih Mirai pecah kala ia harus berpisah dengan sang guru... "Mirai... Ingatlah kata kataku. Selamatkan lah orang orang yang membutuhkan pertolonganmu tanpa mengharapkan imbalan. Impian ku adalah membangun klik trauma untuk masyarakat Miskin. Karna... Tarap hidup di dunia ini belum merata. Yang miskin hanya mendapatkan penolakan... Jika kamu berhasil. Buktikan pada guru... Buatlah guru bangga..." Pinta Muzzi. Usai kalimat itu di lontatkan... Sang guru pun tewas di usia genap 207 tahun dan genap di usia mirai yang ke 11 tahun...


"GURUUUUU!!" Mirai memeking hingga terdengar ke langit...


Ia memeluk jasad gurunya seerat mungkin seakan enggan di tinggalkan.


Bai Xin lekas menarik tubuh Mirai lalu memeluknya. Itu sebabnya Mirai begitu antusias hingga bersikeras dalam hidupnya untuk mewujudkan cita cita sang guru... Membangun klinik trauma untuk pasien miskin. Namun nahas, nyawanya hanya sebatas 21tahun dan ia tak sempat mewujudkan harapan sang guru...

__ADS_1


__ADS_2