
"Putri, jangan larut dalam kesedihan ya. Apa lagi banyak berfikir hal yang bukan bukan tentang Kaisar" Pinta ibu suri mencoba menenangkan hati Mirai yang kala itu masih berkecamuk tak karuan.
"...Saat ini aku sungguh ingin menemui Panglima Ou Tian Feyn dan meminta maaf padanya atas musibah yang telah di hadapinya" keluh Mirai mesih menundukan atensinya.
"Kita bisa menemuinya di sel" balas ibu suri membuat sebuah senyuman mulai terbit dari raut wajah wanita cantik itu.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Ayo bergegas... Kita akan pergi sekarang" ujar sang ibu suri.
Mirai sangat bersemangat dan ia secepatnya berdiri "Ayo ibu suri biar ku bantu..." Mirai menarik tubuh buntal sang ibu suri karna terlalu bersemangat. Mau bagai mana pun juga, ibu suri cukup gemuk saat ini. Jadi ia perlu waktu untuk berdiri dan duduk...
Mirai dan ibu suri pun bergegas keluar dari faviliun tersebut... Ketika Mirai membuka kan pintu, langkahnya di sambut oleh putri Mio "Hormat kepada ibu suri" Pekik Mio membungkukan.
"Wah. Mimpi apa aku selamam, hingga di kunjungi dua cucuk cantikku secara bersamaan siang ini..." Ibu suri sengat bahagia.
"Egh... Aku ingin bertemu dengan putri mahkota dan membicarakan hal yang serius dengannya" ujar putri Mio menatap intrents ke arah Mirai. Bahkan tatapan mereka saling berpautan satu sama lain...
"Ada apa Putri Mio... Bicaralah sekarang? Karna kami masih banyak hal yang harus di selesaikan" susul Mirai menanggapi hal tersebut.
'Eh... Memangnya kalian mau kemana?" Tanya putri Mio sedikit agak heran pada ke kompakan ke duanya.
"Kami akan menjenguk panglima di sel tahan bawah tanah" Balas Mirai tanpa exapresi yang belarti.
"Oh. Begitu ya... Jika memang ada masalah yang mendesak... Silahkan selesaikan saja terlebih dahulu. Karna urusan ku bisa di tunda untuk beberapa saat" ujar Mio sedikit ragu ragu.
Dari tatapan Putri Mio, Mirai sudah membacanya dengan jelas. Jika putri Mio sungguh sedang gelisah...
"Jika kamu ingin membicarakan hal penting itu denganku... Tunggulah di faviliunmu. Aku akan datang setelah menjenguk panglima di sel tahanannya" Setelah mendengarkan kesiapan Mirai. Putri Mio pun membalas dengan anggukan lalu pergi dari hadapan kedua wanita kompak itu.
__ADS_1
"Putri Mio. Apakah kamu tidak ingin ikut menjeguk?" tanya Mirai sedikit heran. Putri Mio cenderung bungkam seraya menggelangkan kepalanya, kemudian ia pun membuanh wajahnya dan kembali melangkah menjauhi Mirai.
"Ada apa putri mahkota?" tanya ibu suri menatap ke pergian putri Mio.
"Entahlah... Sebaiknya kita bergegas menemui panglima. Sekalian aku akan membawa buah buahan sebagai camilan untuknya" Lugas Mirai.
Ibu suri tersenyum dan memangut "Ya. Pasti panglima akan sangat senang..."
Mereka pun melanjutkan langkah tersendat mereka, hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di sel tahan bawah tanah yang pengap. Ibu suri membawa sebuah obor untuk masuk ke dalam ruangan menakutkan itu.
"Kenapa sel ini sangat kotor dan mirip penangkaran hewan buas... Aku tak setuju panglima di masukan ke dalam sel ini" Gumam Mirai.
Shu Feng mendengar dengan jelas kalimat formal itu. Namun saat hendak merasuki mata hati Mirai, panglima menyeru dari arah sel yang ia huni setelah ibu suri berjalan melewati sel tersebut.
"Putri mahkota..." pekik Ou Tian Feyn. Plap! Putri mahkota lekas sadar dan membuat Shu Feng mengurungkan niatnya.
"Panglima..." Pekik Mirai lekas mencengkram sel tahanan tersebut.
"Putri mahkota? Yang mulia Ibu suri? Apa yang sedang anda berdua lakukan di sini?" cerocos Panglima Ou ian Feyn.
"Panglima! Panglima maafkan aku... Ini semua adalah salahku..." Mirai panik hingga tak sadar jika ia sudah menangis saja.
"Putri mahkota... Jangan salahkan diri anda. Hamba memang pantas di hukum karna telah membahayakan nyawa anda" balas panglima.
"Tidak... Jika saja aku tidak keluar secara diam diam dari istana. Hal ini tak akan mungkin menimpamu... Aku sungguh meminta maaf panglima" Cerocos Mirai. Panglima mulai terenyuh kala melihat tetesan bening melintas di sebelah pipi kanan putri mahkota.
Hingga tanpa sadar, tangan Panglima menjulur keluar sel dan menghempas bulir basah di pipi Putri mahkota "Mohon jangan tangisi orang kotor sepertiku putri..." pintanya seraya menyeka tangisan Mirai.
Ibu suri terdiam kala melihat adengan tak pantas itu, tapi ibu suri tak menyalahkan panglima dalam masalah ini. Sebab jika sampai panglima menyukai putri mahkota, itu adalah mutlak kesalahan ibu suri karna tak memberi batasan pada panglima kala mengawal Mirai habis habisan.
__ADS_1
"Ahem..." ibu suri menggeram karna ia tak ingin ada yang tahu jika panglima bersikap manis pada putri mahkota.
Ia pun lekas menarik tangannya dari pipi bening yang penuh rona merah sang putri mahkota "Aah. Maafkan hamba karna telah lancang" Ia lekas menundukan atensinya.
Grap! Saat tangan Panglima di tarik masuk kembali ke dalam sel, Mirai malah mendapatkan tangan itu dan kembali menariknya hingga membuat ibu suri salah paham.
"Tanganmu? Kenapa bisa ada robekan di tangan mu panglima? Apakah para pengawal kerajaan telah menyakitimu?" Tanya Mirai panik. Ibu suri seketika itu paham maksud Mirai.
Ku pikir akan ada adegan romantis lainnya. Bathin ibu suri menggumam.
"Ahhh... Itu hanya sedikit luka robekan putri?" Panglima mencoba menarik tangannya dari genggaman putri mahkota. Tapi putri mahkota bersikeras dan tetap memaksa panglima untuk diam.
"Ibu suri... Mohon tunggu, aku ingin menyembuhkan dulu luka robekan di tangan panglima... Bolehkan?"
"Tentu... Silahkan" Ibu suri mengarahkan obor dan mengaitkannya di sisi sel tersebut.
"Xigua! Muncullah!" pinta Mirai refleks, seketika Xigua keluar dari kantung penyimpanan itu lalu menunduk di belakang tubuh Mirai.
"Aku datang master" Ia berwujud harimau besar yang gemuk di hadapan ibu suri. Hingga ibu suri Syok 'Aah... Mahluk apa itu?" Ibu suri mundur dari hadapan Xigua. Mirai sadar jika ia telah membuat ke onaran hingga ia pun berusaha menenangkan sang ibu suri.
"Ibu suri... Jangan panik. Tarik napas, tahan lalu buang perlahan" Pinta Mirai seraya mengusap usap punggung ibu suri agar ia tidak pingsan.
"Tapi putri mahluk apa itu?" tanya ibu suri, meski ketakutan ia tetap tahan rasa paniknya itu.
"Jangan takut ibu suri... Dia adalah peliharaanku. Aku mendapatkan mahluk itu dari kota langit saat menempuh perjalanan untuk sampai di sini..."
"Bagai mana bisa mahluk sebengis itu bisa tunduk padamu..." ibu suri tak percaya jika wanita di hadapannya sungguh luar biasa.
"Nanti akan aku jelaskan. Dan lagi, tak ada satu orang pun yang tahu keberadaan Xigua selain ibu suri dan Putri Mio juga panglima Ou Tian Feyn. Ini adalah sebuah rahasia besar" Bisik Mirai. Ibu suri pun kembali memangut dan mencoba untuk tidak takut...
__ADS_1