Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Sisa permasalahan


__ADS_3

Perjalanan menuju dunia bawah...


"Kakak" Seru Mio menghampiri Mirai yang kala itu duduk di tepian perahu seraya memandangi langit biru, penuh tumpukan embuh putih yang basah "Kakak... Apa tadi aku melewatkan sesuatu?" tanya Mio seraya menekan nekan satu telunjuknya di pelipisnya, netranya memutar keatas dan berfikir sesuatu.


Mirai merespon ke resahan hatinya adiknya itu "Ada apa?" Tanya Mirai mulai merubah posisinya menjadi berdiri.


"Usai pertandingan. Aku merasa, aku telah melewatkan sesuatu... Apakah itu hanya pikiranku saja ya?" Mio sungguh berfikir tentang waktu yang telah di hentikan sesaat tadi.


"Tidurlah... Besok kita akan sampai ke istana Ming" Ucap Mirai seraya melangkah menghampiri Mio dan menepuk pucuk kepala wanita itu "Pluk!"


Mio sungguh senang mendapat perhatian dari Mirai, Ia pun sontak membalas perhatian itu dengan sebuah pelukan erat di punggung Mirai "Grap!"


"Kakak. Aku sungguh menyayangimu..." Ocehnya tampak bahagia. Sementara Mirai, ia merenung kala di peluk erat oleh Mio seperti itu.


Ia sedang memikirkan sesuatu "Peluklah sesukamu... Karna setelah ini, aku mungkin tak akan pernah nisa kau gapai. Setelah urusanku dengan kakak mu berakhir... Maka, otomatis... Statusku akan di cabut. Hingga mungkin, aku tak akan pernah tinggal di istana itu lagi" Bisik Mirai dalam hatinya.


Usai melepas kangen, Mio pun lekas pergi ke kamarnya. Sementara Mirai, ia kembali duduk di sebuah tempat yang sunyi dan menatap langit malam. Seluruh persoalan yang sedang ia pikul di pundaknya perlahan lahan menghilang satu persatu.


Kini yang harusnya ia hadapi adalah keputusan nya untuk berpisah dengan Putra mahkota. Saat pikirannya sedang memutar hebat, Seseorang menyodorkan teh hangat di malam dingin itu "Kau perlu ini" Ucapnya seraya menyerahkan segelas teh. Mirai mendonggakan wajahnya untuk tahu, siapa yang telah memberinya air hangat itu...


"Panglima..." Pekiknya sembari melempar senyum ke arahnya.


Panglima membalas senyuman itu "Apakah aku boleh duduk di sini?" Tanya Panglima.


Mirai mengangguk "Ya. Silahkan..." Panglima pun duduk perlahan di samping Mirai.


"Apa yang sedang anda lihat putri mahkota?" tanya Panglima menatap ke arah di mana Mirai memperhatikan hamparan bintang yang menghiasi langit gelap malam itu. Bahkan, rembulan yang indah tak menyapanya, meski ia tetap mendonggakan netranya ke langit malam.


"...Aku sedang lelah" Balasnya.


"Kalau begitu tidurlah. Maka anda akan lebih baik" Pinta panglima.


Mirai seketika menunduk "Seandainya tidur bisa merubah gambaran nasibku. Aku pasti sudah melakukannya dari dulu..." Tegas Mirai.

__ADS_1


Tak paham akan balasan itu, panglima pun mengerutkan dahinya "Apa maksud anda?"


"Aku ingin kembali ke duniaku... Banyak masyarakat miskin di sana. Mereka akan datang setiap membutuhkan pertolonganku. Aku tak pernah berharap mereka memberikan upah atas jasaku... Hanya dengan melihat mereka sehat kembali dan bahagia saja. Umurku seakan bertambah panjang satu tahun... Dan aku ingin terus hidup beberapa tahun lagi di dunia itu. Tapi... Nyatanya, kini aku malah terjebak dan tidak bisa menunaikan harapan guruku" Keluh Mirai begitu terbuka. Padahal ia selalu menutupi perasaanya yang gusar itu.


"Seperti apa duniamu putri?" tanya Panglima.


Mirai tersenyum dan menatap panglimanya sayu "Duniaku sangat berbeda, masyarakat di duniaku sungguh maju. Mereka berbondong bondong merubah wajah bumi ini sedemikian rupa dengan membangun tembok tembok yang tinggi dan bangunan bangunan pencakar langit" tegasnya. Panglima hanya bisa menatap wajah Mirai seraya senyuman tulus mengiringinya.


"Jaman yang modern, semauanya di lakukan dengan mesin" jelas Mirai.


"Mesin? Apa itu?" Panglima menanggapi ocehan Mirai penuh antusias seraya membayangkan dunia macam apa yang di tinggali wanita yang paling ia segani itu.


"Kelak. Jika bisa... Aku ingin mengajakmu ke duniaku" Ucap Mirai seraya menggengam tangan panglimanya yang hangat itu. Panglima kaget dan lekas menariknya pelan...


Mirai pun seketika ingat "Maafkan aku..." Mirai malu karna telah melewati batasannya dengan kontak fisik pada panglimanya.


"...Tidak apa apa nona... Udara makin dingin. Mari masuk ke dalam?" Pinta Panglima mulai berdiri. Tapi Mirai malah menariknya. Panglima pun lekas duduk kembali di samping Mirai kasar "Aahh!" Pekiknya.


"Ada apa tuan putri?" Panglima panik seketika itu.


"Temani aku minum teh sebentar" Pinta Mirai.


Panglima yang kikuk pun lekas diam di samping Mirai "Panglima. Apakah aku salah jika aku ingin berpisah dengan putra mahkota?" tiba tiba pertanyaan itu lolos dari bibir tipis wanita cantik itu.


"Apa maksud anda?" Respon Panglima.


"Aku akan berpisah dengan putra mahkota..." Cetus Mirai semakin membuat panglima tak percaya.


"Apa alasannya putri, apakah anda sudah tak bisa bertahan lagi dengan sikap putra mahkota? Padahal yang hamba lihat... Putra mahkota yang sekarang, mulai mencintai anda..." jawab Panglima berusaha memberikan saran terbaik untuk putri mahkota.


"...Semua itu sudah telambat, sejak ke datangan ku kemari. Hatiku sudah tercuri oleh seseorang... Dan dialah cinta pertamaku" Penjelasan Mirai membuat panglima Ou Tian Feyn terbelalak.


Sesaat ia meremas dadanya yang sedikit sesak dan sakit, dalam pikirannya ia bergumam "Aku terlambat, ada orang lain yang putri mahkota sukai... Heh. Bagai mana bisa seekor punguk merindukan bulan. Cita citaku sungguh terlalu besar, tapi... Jika pria itu bisa membuat putri mahkota bahagia. Maka aku akan sangat mendukungnya" Gumam Panglima.

__ADS_1


"Dia orangnya sangat tampan" kode untuk panglima.


"Begitu rupanya... Syukurlah, jika anda sudah menemukan orang yang tepat" Hanya itu balasan dari panglima yang bernada sedikit dingin.


"Ya. Selain dia tampan, dia sangat baik hati dan murah senyum. Perhatian dan penuh kewibawaan... Seorang pria yang bertanggung jawab dan penuh tegaran..."


"Pria yang sungguh sempurna" balas panglima tak sadar.


"Kelak... Setelah aku berpisah dengan putra mahkota. Aku berniat menikahinya" Tegas Mirai.


Sesaat, Panglima membelalakan matanya. Lagi lagi hatinya sungguh sesaak, ada rasa nyeri seaakan di tusuk ribuan anak panah kala mendengar pernyataan Mirai yang begitu terbuka kala memuji pria idamannya di hadapan orang yang begitu mengaguminya.


Mau di sembunyikan sedalam apapun, panglima tetapalah menyukai Mirai. Ia hanya berusaha mati matian menyembunyikan perasaan itu dari Mirai.


Malam makin larut, udara kian dingin. Tapi... Nampaknya karna terlalu lelah bertanding. Mirai sangat mengantuk, usai mengutarakan isi hatinya... Ia terlelap seperti beruang betina yang hibernasi.


Pluk! Ia menjatuhkan kepalanya di pundak sang panglima.


"Eh..." Panglima mebelalak saat menatap wanita yang ia kasihi itu tak berdaya.


Ia pun lekas memegang kepala Mirai dan mendudukannya lurus lalu menyenderkannya di sebuah kayu penyangga. Setelah itu, Panglima menatao wajah cantik putri mahkota secara seksama... Tak bisa ia bodohi hati nuraninya.


"Cantik..." Bisiknya nyaris tak terdengar.


Begitu tergodanya ia dengan polesan merah alami di bibirnya yang berwarna merah merekah dengan pipi merona.


Gluk! Saliva panglima di telan beberapa kali. Setan dalam hatinya merasuki jiwa gelapnya... Ingin sekali ia *-***** bibir tipis itu dan memiliki nya seumur hidupnya.


Namun sayang. Panglima bukanlah orang bejat, hingga ia pun urungkan niatnya dan lekas membawa Mirai ke kamarnya untuk merebahkannya.


Ia hanya bisa tersenyum akan sisi gelapnya yang terlalu naif. Karna mau bagai mana pun juga, cinta tidak bisa di bohongi... Semakin ia berpura pura, hatinya semakin sakit seiring waktu berjalan.


Akankah ada sebuah kesempatan untuk Mirai dan panglimanya menjadi satu kluarga?

__ADS_1


__ADS_2