
"Putri mahkota sebaiknya kita pulang. Karna pihak istana pasti sangat mengkhawatirkan anda" Ujar panglima Tian Feyn.
Tapi Mirai seakan enggan mendengarkan permintaan Panglima Ou Tian Feyn dan cenderung mengabaikannya... Matanya terus saja melalatan kesana kemari mencari makanan tradisioal enak dan manis di masa itu.
BRETTT!!!! Seseorang menabrak panglima Tian Feyn dan mirai seketika tahu jika panglima Tian Feyn telah di jambret "Jambret" Bisik Mirai berbalik ke belakang dan melompat lalu bersalto di udara "Putri Mahkota!" Pekik Panglima Tian Feyn ke ceplosan.
Para penduduk pun mulai menoleh ke arah Tian Feyn dan menghampiri Jendral tersebut "Putri mahkota? Apakah anda dari orang dari istana?" tanya penduduk kota.
"Apakah ada pihak istana datang ke kota ya?" Bisik bisik.
"Lihat orang ini... Dia nampaknya adalah orang dari kerajaan" bisik bisik.
Oh Astaga... Aku salah bicara. Dan sekarang putri mahkota pergi entah kemana. Bathin Tian Feyn menggumam. Mau di kerjar pun tak sempat. Sebab para penduduk telah terlebih dahulu berkerumun dan membuat Jendral Tian Feyn kewalahan membalas pertanyaan untuk mereka.
***
Mirai berlari mengejar seorang pria bercadar yang berfostur agak pendek dan kurus. Entah kenapa, tubuh Mirai sangat ringan. Hingga ia mampu melompat menggunakan ilmu peringan tubuhnya "Tunggu!' Pekik Mirai mengejar lelaki yang larinya sungguh cepat itu.
Anak itu tak menggubris dan malah terus berlari di antara puluhan penduduk yang tengah lalu lalang "Kenapa dia gesit sekali" bisik Mirai.
"Tangkap dia! Dia pencuri!" Pekik seseorang seraya membawa senjata tajam.
4
Mirai menoleh ke belakang dan ia pun kaget bukan kepalang "Tunggu, siapa yang meneriakki orang ini pencuri? Aku hanya bicara dalam hati" bathin Mirai.
Karna banyak sekali orang yang tahu bahwa Mirai tengah mengejar pencuri. Akhirnya Mirai melompat lebih tinggi dan berputar di udara, lalu mendarat tepat di hadapan pencuri itu "Berhenti!" Pekik Mirai mengarahkan tangannya pada pria di depannya itu.
Pria itu panik dan mecari sisi kanan dan kiri untuk kabur. Tapi langkahnya terhambat para penduduk yang telah mengepungnya "Jangan lari lagi. Ayo serahkan kantung uang itu pada pemiliknya" Pinta Mirai menghampiri pria itu dengan menadahkan tangannya.
Pria itu malah berlari ke arah Mirai dan menyiapkan satu kakinya untuk menendang. Tapi serangannya terbaca oleh Mirai hingga Mirai terpaksa harus meraih kaki pria itu dan menariknya hingga pria itu tersungkur ke hadapan Mirai. Mirai mulai menekannya di tanah dan menarik kedua tangan pria itu ke belakang punggungnya. Mirai pun duduk di punggung itu, pria kerdil tersebut mulai meminta ampun "Tolong nona Biarkan aku pergi... Aku memang mencuri kantung penyimpanan temanmu. Tapi aku terpaksa nona" suara yang keluar dari balik cadar itu terdengar bergetar dan ketakutan.
Suaranya mirip suara anak umur 8 tahunan bathin Mirai menggumam.
"Hei nona! Berikan anak itu! Dia sudah sangat meresahkan kami. Biarkan kami yang menghakiminya... Biar kan dia di hukum gantung atas perbuatannya.
Glek! Mendengar ujaran kebencian dari penduduk kota membuat mental pria itu rubuh. Dan pria itu pun menangis "Tunggu jangan main hakim sendiri... Masih ada pihak berwajib yang akan mengadili anak ini da buka kalian" ujar Mirai melerai.
__ADS_1
"Omong kosong! Dia pasti adalah komplotan anak ini... Dia mungkin ingin menyelamatkan anak buahnya" Tambah para penduduk kota dengan propokasi mereka.
"Tolong tenang. Kasus ini akan ku selesaikan sendiri... Dan harus kalian tahu, aku bukankah komplotan pencuri... Aku hanyalah seorang musafir yang kebetulan lewat dan mendapatkan musibah karna tas temanku di ambil pria ini" Jelas Mirai.
"Hah. Mana ada maling mengaku. Ayo semua, serang dia..." Ujar para penduduk.
Tak lama setelah kalimat itu di lontarkan, beberapa orang mengguyur Mirai bersama anak laki laki pencuri itu dengan air sisa membersihkan ikan salmon yang bau amis karna terlalu banyak darah di air itu.
"Uek!" Mirai langsung bergidig jijik.
"Nona. Maafkan aku... Aku akan memberikan tas ini padamu. Tapi tolong biarkan aku pergi" Pinta pria itu masih tengkurab di tanah karna Mirai masih mencengkram tangannya.
"Tidak. Kau akan aman jika bersama ku" Ujar Mirai.
"Mereka masih bertahan? Sebaiknya kita serang saja dia!" Pekik para penduduk. Akhirnya... Para penduduk mencoba menyerang Mirai.
"Hei kau. Diam di belakangku dan jangan kabur. Jika kay kabur, para penduduk pasti akan membakarmu hidup hidup!" Pinta Mirai. Pria itu pun mengangguk dan Mirai mulai melepakannya.
Sesuai ucapan Mirai, laki laki itu pun menurut saja padanya "Jangan salahkan aku jika kalian terluka!" Pekik Mirai.
Para penduduk mulai mengarahkan senjata mereka ke tubuh Mirai, namun Mirai malah menendang senjata senjata itu satu persatu hingga senjata tersebut terlempar ke udara "Waw. Nona cantik itu hebat sekali" Ucap si laki laki pencuri itu.
"Sekarang menyerahlah!" pinta Mirai.
"Kau memang tangguh. Tapi kau kalah jumlah" Balas penduduk kota.
Mirai tak tinggal diam dan tak diam untuk di hajar. Akhirnya ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghajar 11 pria dewas hanya dengan tiga kali pukulan bertubi tubi.
Buak! Buak! Dak! Dak! BLUGHHH...
Para pria itu langsung babak belur di hajar Mirai, sebagian berhamburan pergi karna takut jadi korban pukulan Mirai yang mungil itu "Baru tahu rasa kalian... Aaaauuu, pergelangan tanganku sakit sekali" Bisiik Mirai membenahi tangannya yang mulai nut nyutan karana terus memukul sekuat tenaganya.
Mirai menoleh ke belakang "...Hei kau kau menepati ucapamu" Ujar Mirai menunjuk anak yang mencuri dompet Panglima Ou Tian feyn.
"Waw... Nona, anda sangat hebat" kagum anak itu menghampiri Mirai.
"Heh... Itu tidaklah seberapa" Balas Mirai menyungingkan bibirnya bangga.
__ADS_1
"Duhhh. Sakit sekali..." Gumam para penduduk kota.
"Kalian tidak mendengarkan ucapanku... Aku akan memberikan kalian barang berharga milikku" Karna kasihan Mirai memberikan satu persatu hiasan yang ada pada tubuhnya.
"Ambil ini!" Ujar Mirai menarih barang barang berharga milik nya di depan penduduk yang ia hajar tadi.
"Ah apa ini?" Penduduk mulai meraih satu persatu hiasan dari Mirai yang terdiri dari 4 Cincin yang terbuat dari giok murni. Dua gelang yang terbuat dari giok murni. Satu tusukan sanggul yang terbuat dari emas... Anting anting yang terbuat dari perak asli... Juga beberapa hiasan rambut "Hanya itu yang aku punya. Juallah itu untuk biaya berobat mu" Ujar Mirai.
Mirai tak pernah tahu, jika seseorang sedang memperhatikannya. Seseorang itu adalah pangeran ke tiga dari kerajaan Hong.
Dia memanglah dia gadis yang unik, aku sungguh makin penasaran dengannya... Bisik pangera Li Yuan.
"Sekarang mana dompet pengawalku?" Mirai menadahkan tangannya ke arah pria itu.
Pria itu gemetaran dan seakan tak mau memeberikan dompet itu pada Mirai "Ayo... Kemarikan?" pinta Mirai lagi.
Lama pria kecil itu berfikir, dan akhirnya ia pun menyerahkannya dengan mata yang berkaca kaca... "I-ini..."
"Jangan menangis. Ayo buka cadarmu" Pinta Mirai.
Pria itu mulai membukanya, dan seketika Mirai terbelalak... Rupanya pria itu adalah seorang anak perempuan yang cantik "Kau perempuan?" tanya Mirai.
Anak itu mengangguk seraya menangis cengeng "Ya. Nona..."
"...Kenapa kamu malah menangis?" tanya Mirai.
"Saya sedang membutuhkan uang ini untuk biaya tabib"
"Tabib... Siapa yang sakit?"
"Ibu dan dua adik saya terkena sserangan wabah. Dan tak ada yang mau memeriksanya. Karna kami tidak memiliki sekeping perak pun untuk membayar biaya tabib..." Rengek anak itu.
"Kalau begitu antar aku ke kediamanmu. Aku adalah seorang tabib" Ujar Mirai.
Seketika tangisan cengeng anak perempuan berusia 8tahn itu berhenti.
"Benarkah nona. Apakah anda seorang tabib?" Tanya anak itu. Mirai mengangguk mantap...
__ADS_1
"Akan aku antar. Ayo ikut aku" Pinta anak itu... Akhirnya Mirai dan anak itu pun pergi dari area itu dan menghilang. Pangeran ke 3 dari kerajaan Hong pun diam diam membuntuti mereka.