
***
Mirai tak menerima begitu saja kala Ou Tian Feyn menghindarinya seperti itu. Ia pun lekas pergi ke faviliunnya dan membersihkan dirinya lalu mengganti pakaiannya...
Ia pun kembali menata langkah menuju faviliun putri Mio. Sesampainya di sana, putri Mio sama sekali tak ada di tempat "Kemana dia pergi?" Bisik Mirai. Ia ingin menemui putri Mio karna pastinya putri Mio tahu tentang ke jadian kemarin. Mirai bersikeras menyugesti dirinya, bahwa dirinya memang tidak mabuk malam itu... Namun, ia juga tak mengerti, kenapa bisa bisanya ia ceroboh dan menginapndi kamar pria yang paling ia benci...
"Putri... Tunggu" pekik seseorang menghentikan langkah Mirai. Mirai lekas menoleh ke arah seruan itu "Putri mahkota..." Ulangnya.
Mirai sungguh malu, ketika para pengeran datang menghampiri Mirai. Ia pun menundukan atensinya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan yang ada "Kalian salah orang" Mirai segera mengambil langkah kabur. Tapi pangeran Li Yuan lekas menarik pergelangan tangan Mirai untuk menghentikan langkahnya "Jangan pergi..." Pinta pangeran Li Yuan.
Mirai pun seketika tersentak, begitupun ke tiga pangeran yang kala itu berjalan beriringan dengan pangeran Li Yuan. Pangeran Li Zhau, pangeran Li Huen, Pangeran Li Bai, dan pangeran Li Mao... Mereka hanya bisa menatap tak berkutik ketika pangeran Li Yuan refleks menghentikan langkah Mirai.
"Tolong jangan menyentuhku... Aku tak mau timbul fintah di antara kita..." Pinta putri Mahkota menatap tajam pandangan nanar sang pangeran Li Yuan.
Pangeran Li Yuan pun seketika itu melepaskan cengkraman tangannya "Maafkan aku..." Pangeran Li Yuan lekas mundur dan menundukan atensinya.
"Kalian belum pergi?" Tanya Mirai menatap ke empat pangeran tersebut "Jahat sekali. Apakah itu adalah kalimat pengusiran?" tanya pangeran Li Zhau menekuk wajahnya tampak sedih.
"Maafkan aku..." Mirai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa kau menyembunyikan jati dirimu putri?" Tanya pangeran Li Zhau menghampiri sang putri.
"...Eehm, itu... Hahahaha, tak penting membahas soal itu. Toh, aku sudah ketahuan" umpatnya mendelik ke kiri seaakan membuang tatapannya.
"Hebat sekali... Aku tak pernah menyangka. Jika orang orang penting di istana inti kerajaan Ming. Akan berbaik hati dan turun tangan sendiri untuk menyambuhkan seseorang yang membutuhkan bantuan, bahkan dia bergelar sebagai putri mahkota... Dan orang yang kau sembuhkan itu bukanlah bagian dari kluargamu..." cerocos Pangeran Li Bai menatap Mirai penuh ketegasan. Mirai menyangka jika pangeran Li Bai berkata demikian karna ia sedikit dendam padanya. Sebab mau bagai mana pun juga, ia lah yang menyebabkan ibunya di hukum berat oleh sang raja Hong.
"...Wah wah, kamu ingat betul ya. Maaf jika saat itu aku telah membuat kesalahan, karna telah menyembunyikan identitasku"
"Bukan masalah besar... Kami yang harusnya berterimakasih, karna bantuan mu... Ibu suri dan permaisyuri sembuh total. Juga, hubungan mereka dengan selir agung pun terjalin dengan baik... Meski saat ini, selir agung telah di pindahkan ke pulau kosong" Balas pangeran Li Zhau. Pangeran Li Bai pun terdiam dan lebih tennang, ia menundukan wajahnya seakaan memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Begitu ya. Syukurlah..." Mirai menghelan napas leganya.
"Oh putri. Kami mencarimu untuk mengucapkan rasa terimakasih kami..." tukas pangeran Li Mao. Ia jarang berinteraksi, tapi karna ia tak ingin membuang waktu. Ia pun mempersingkat pertemuan tersebut.
"Terimakasih? Untuk apa?" Mirai pun lekas menoleh ke arah pangeran Li Mao.
"...Apakah anda tak ingat? Semalam anda memberikan hadiah untuk para tamu... Kau sungguh hebat" ujar pangeran Li Zhau.
"Memberikan hadiah?" Mirai lekas mengerutkan dahinya. Ia pun memutar otak untuk mengingat kejadian semalam.
"Kamu membuatkan pil tingkat tinggi ke pada seluruh para tamu... Bahkan karna kelelahan, kamu pun tertidur di atas tungku api putri" jelas Pangeran Li Yuan.
Mendengar akan kalimat tersebut, Mirai pun melamunkan ingatannya menuju malam tersebut...
Flasback...
"Sebaiknya. Kaisar istirahat dulu" Pinta permaisyuri.
"Tidak... Masih banyak hal yang harus aku perkenalkan tentang ke indahan kerajaan Ming pada para tamu..." Cerocos raja sedikit tak jelas.
Mirai menatap risih ke arah kaisar dan segera merogoh kantung penyimpanannya "Permaisyuri... Ambilah ini. Ini adalah pil pemurnian, mabuk kaisar akan sedikit mereda setelah meneguk pil ini" tegas Mirai. Permaisyuri pun mengangguk dan tak banyak berfikir. Ia lekas meminumkan pil tersebut, kemudian disusul dengan beberapa tegukan air.
"Ahhh... Makan apa tadi, kenapa terasa sangat lezat" racau kaisar. Lambat laun, energinya kembali dan ia pun pulih dari mabuknya.
"Apa tadi yang kamu berikan padaku putri mahkota?" tanya Kaisar.
"Itu adalah pil pemurnian..."
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya kaisar lagi. Mirai di pertanyaan yang begitu bertubi tubi...
__ADS_1
"Aku yang mambuatnya sendiri yang mulia" tegas Mirai.
Kaisar sungguh senang kala Mirai menjawab demikian. Sebab ia sungguh ingin melihat kemampuan alkemis sang putri mahkota dan memampangkan nya di muka umum 'Apa? Tapi yang mulia. Aku sama sekali tidak pernah meracik obat di muka umum... Mohon urungkan titah anda yang mulia" Pinta Mirai.
"Permintaan ku adalah mutlak... Kau tidak bisa menolaknya. Apa kau ingin mendapatkan hukuman?" tanya Kaisar mengamuk. Mungkin ada beberapa pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang...
"...Kaisar, anda tidak bisa memaksakan putri mahkota. Lagi pula, jika para pihak kerajan mengetahui hal yang cukup rahasia ini... Aku tak ingin nantinya akan timbuk rasa iri dari pihak kerajan lain, hingga menimbulkan ke onaran" Permaisyuri berusaha menesihati sang kaisar. Tapi, Kaisar beriskeras lalu memaksa Mirai menguji kemampuannya di muka umum.
Padahal saat itu, Energi Mirai belum berkumpul dengan sempurna. Hingga saat ia melakukan peramuan pil, tubuhnya lemas dan ia pun tergolek lemas tak berdaya di atas tungku api yang kala itu masih menyala. Beruntung, Panglima Ou Tian Feyn datang hingga Mirai sama sekali tak mengalami luka serius.
"Panglima. Bawa putri mahkota untuk beristirahat" Pinta Kaisar. Panglima pun menggendong tubuh lelah sang putri mahkota. Sedangkan sang raja, sibuk dengan pil yang berhambur keluar... Mirai menghabiskan energinya hanya untuk menghasilkan ratusan Pil pemurnian tingkat sedikit rendah, agar membuat sang kaisar puas.
Panglima pun membawa sang putri menuju faviliun Milik Mirai. Namun, Fei Si tak senang jika ada pria lain yang menyentuh istrinya. Hingga ia pun lekas bangkit dari singgah sananya kemudian membuntuti langkah panglima.
Putra mahkota melihat dengan jelas jika memang panglima memiliki perasaan tersembunyi pada putri mahkota. Ia memperlambat langkahnya seraya berjalan menatapi wajah Mirai yang kian cantik kala terlelap tak berdaya. Putra mahkota yang tahu akan hal itu mengepalkan tangannya seraya menahan emosinya.
Ia lekas menghampiri panglima dan menyerunya "Panglima Ou Tian Feyn' Pekik putra mahkota.
Panglima menoleh "Ya yang mulia..."
"Serahkan istriku padaku. Aku akan menidurkannya di faviliunku" Pinta Putra mahkota bersiap menggendong istrinya.
"Tapi. Kaisar bilang, putru mahkota harus di bawa ke faviliunnya" Tegas panglima.
"Aku adalah suaminya. Aku tahu yang terbaik untuk istriku" tegas Putra mahkota hendak merampas tubuh istrinya yang di gendong panglima.
"Maaf yang mulia. Tapi... Hamba harus membawanya ke faviliun milik putri mahkota. Sesuai perintah kaisar" tegas Panglima bersikeras.
Mulailah terjadi ketegangan antar ke duanya "Panglima... Kau harus tahu. Dia adalah istriku... Kau tak boleh memiliki perasaaan lain padanya. Apa lagi menaruh hatimu untuknya..." tegas Putra mahkota meninju panglima dengan kalimat pedasnya.
__ADS_1