
"Aaaghhh!! Kau! Aku akan membunuhmu!" Teriak Kaisar Qing berontak tak karuan. Mirai tak bisa berkomentar, kakinya hanya bisa tertatih di daun pintu seraya mematap lurus ke arah di mana Kaisar Qing telah di ikat secara ketat.
Amukannya tak bisa di hentikan, hingga ketika berontak... Kedua tangan dan kakinya berdarah akibat gesekan keras yang terjadi kala belitan besi mencengkram erat lingkar tangan dan kakinya.
"S-sudah berapa lama ia menderita begini?" tanya Mirai gagap.
"Apa maksudmu berapa lama?" Bantak tuan muda.
"Aku, aku... Aku hanya bisa mengobati. Nampaknya, kaisar Qing mengalami depresi berat... Dan juga, kenapa aku merasa ada aura kelam di dalam tubuh Kaisar Qing, aura itu menyeruat ke arahku hingga kakiku gemetaran..." Bisik Mirai, baru saja bertemu dengan Kaisar Qing. Keringat Mirai mulai bercucuran dan perasaan pusing hingga ingin muntah...
"Sial! Belum juga kau memeriksa penyakit apa yang menimpa Ayahku. Kau malah menyerah di sini! Lakukan sesuatu, untuk ayahku! Berfikirlah..." Teriak Tuan muda memaksa Mirai yang sudah tampak letih. Entah kenapa, tenaga positif milik Mirai malah terasa tersedot ke dalam tubuh Kaisar Qing.
BRUGH!!
Mirai bersimpuh, peluh bercucuran lebat dan wajahnya mulai pucat pasi "... Uhuk!" Mirai terbatuk, ia merasa sangat sesak... Ia mulai meraih kantung penyimpanan di sisi kanan pinggangnya lalu melempar sebuah botol berisikan cairan bening ke arah Kaisar Ming.
Syuut! PRANG! Botol itu pecah tepat di atas kepala sang Kaisar... "Aaagghhh!! Apa ini! Panas!!! Panas!!!" Teriak nya makin berontak...
"Apa yang kau berikan pada ayahku! Apakah kau ingin membunuhny?" Amuk tuan muda.
"Hosh! Hosh! Hosh!" Napas Mirai mulai tersenggal dan ia hampir kehilangan kesadarannya.
"Ayah! Ayah!" Pekik tuan muda menatap ayahnya yang kini sedikit lemas "Aagghh... Panas..." Lenguhnya. Suaranya mulai menipis, hingga lambat laun... Pria kekar tak terawat itu mulai lemas hingga ia pun terjatuh di lantai marmer yang dingin.
BRUGGHHH!! Pria itu tergolek lemah seraya memejamkan matanya "Apa yang kau berikan pada ayahku! Apakah dia sudah mati!" bentak tuan muda meraih dua bahu Mirai lalu menggoyang goyangkannya kasar.
"Uhuk! Uhuk!" Mirai terbatuk.
__ADS_1
Plak! Tak sudi dengan perlakuan kasar dari tuan muda. Mirai yang sudah lemas itu pun sengaja menampar pipi kana Tuan muda, hingga wajah seketika merah pekat bertato kelima jemari jenjang Mirai.
"Hentikan. Kau sudah menyakitiku! Uhuk Uhuk!" Mirai masih dalam mode bertahan meski energinya tadi tersedot habis oleh amarah kaisar Qing.
Sementara, tuan muda menundukkan wajahnya "Sadarlah. Ayahmu terkena sebuah segel... Kemungkinan itu adalah segel kutukan. Aku adalah tabib, tugasku mengabati orang yang sakit! Jika kasus ayahmu... Ia seharusnya bisa di obati dengan ilmu spiritual saja..." Tegas Mirai dengan suara yang tersenggal senggal kala menjelaskan hal yang sebenarnya itu.
Tuan muda mulai menoleh pelan ke arah Mirai "Apa maksudmu?" Tanya Tuan muda dengan wajah yang datar.
"...Maksudku. Ayahmu... Terkena sebuah segel, lihatlah... Ketika ia mengamuk. Tanda merah di jidaknya mulai bersinar dan terlihat seperti api yang tengah berkobar kobar" sambung Mirai.
"...Mana mungkin! Mana mungkin ayahku terkena kutukan" Dengus tuan muda kesal.
"...Berapa lama Kaisar sakit seperti ini?" tanya Mirai pelan. Padahal ia sudah tak sanggup, ia hampir ke hilangan kesadarannya...
"Ayahku... Sejak aku berusia 15 tahun, dia sudah seperti ini. Dia selalu mengamuk tanpa alasan... Aku sangat kasihan melihatnya. Aku pikir! Kau bisa menolongnya!" Bentak Tuan muda membali menepuk pundak Mirai dan mencubitnya.
Mirai sudah sampai pada batasannya dan ia pun terjatuh di hadapan si tuan muda BRUGH! Seketika Mirai tergolek lemas tak berdaya.
Tuan muda langsung panik dan memeking tinggi "Ah! Hei... Kau!" ia sungguh ketar ketir kala melihat Mirai terjatuh di hadapannya.
"Pelayan! Pelayan!" Pekik tuan muda... Ia di buat cemas oleh keadaan Mirai, karna tak ada pelayan yang datang menghampiri, tuan muda pun menggendong Mirai dan lekas membawanya ke sebuah kamar. Lalu menidurkannya di sana...
Setelah Mirai di rebahkan di matras empuk para pelayan pun datang menghampiri sang tuan muda "Lama sekali!" Bentak sang tuan muda.
"Maafkan hamba" Balas para pelayan menunduk.
"..Ambilkan air hangat dan kain lap" Pinta Tuan muda.
__ADS_1
Para pelayan pun mengangguk dan kemudian beranjak pergi untuk membawa apa yang tuan muda inginkan.
Seraya menunggu, tuan muda menyelimuti Mirai dengan lembutnya, ia pun duduk di sisi ranjang dan memperhatikan nanar Mirai yang kian pucat saja.
"Tuan muda... silahkan" Pelayan itu datang dengan apa yang tuan muda butuhkan.
"Pergilah" balasnya seraya meraih baskom berisi air dan menaruhnya di meja samping ranjang itu.
Kemudian, Tuan muda mulai berkutat mengompres Mirai jidak seraya menhempas bulir peluh yang terus saja bercucuran lebat itu... Saat ini, bukannya Mirai yang merawat pasien. Malah pasiennya yang merawat Mirai...
***
Jeruji besi...
"Hei! Keluarkan aku!" teriak Mio berontak kala di kurung di sebuah jeruji besi. Yang lebih parahnya lagi, ia di kurung secara terpisah dengan Ou Tian Feyn. Sedangkan Ou Tian Feyn malah mondar mandir tak karuan di dalam jeruji besi itu. Mio dapat melihatnya dengan jelas karna mereka di kurung secara berhadapan.
"Panglima! Bagai mana bisa orang hebat sepertimu malah ikut ikutan terkurung! Aahh sial sekali...!" Mio uring uringan.
"Sial sekali nasibku setelah mengikuti kalian ke istana Hong. Dan sekarang kita malah di kurung di tempat gelap dan menjijikan ini!" Mio masih mengamuk dan menyalahkan segalanya pada Mirai.
Kemana putri mahkota? Sedang apa dia sekarang...? Bagai mana keadaannya? Apakah dia juga tertangkap? Apakah dia baik baik saja? Bagai mana jika dia tertangkap... Apa yang akan mereka lakukan pada putri mahkota... Ah tidak tidak. Semoga saja putri mahkota selamat dan ia sedang mencari bala bantuan" bathin Ou tian Feyn menggumam. Ia sungguh cemas pada keadaan putri mahkota...
"Panglima! Kenapa kau diam saja! Bagai mana keadaan kita sekarang! Jika kita tidak bisa meloloskan diri sekarang! Maka kita akan mati!!" Amuk Mio uring uringan. Mio sudah sampai pada batas kesabarannya hingga ia menangis tak karuan.
"Putra mahkota! Ibu suri! Yang mulia... Tolong aku! Aku adalah putri mu... Tolong bebaskan aku! Aku tidak mau di kurung di sini! Lagi pula... Kemana putri mahkota? Dia malah kabur duluan dan tidak menyelamatkan kita! Hu hu hu..." Sel tahan sangat berisik oleh tangisan Mio.
Meski berisik, tetap saja Ou Tian Feyn masih memikirkan keadaan Putri mahkota... Ia harap putri mahkota akan baik baik saja.
__ADS_1