
***
Malam itu, Mirai terlelap dengan begitu nyanyak, hingga seseorang membangunkannya dengan menggoyang goyangkan tubuhnya "Kakak. Kakak! Kakak ayo bangun" bisik Mio sedikit kasar. Mirai pun berusaha membuka matanya perlahan, ia semangat melawan rasa kantuk di benaknya itu.
"Mmmh. Adik, ada apa?" Balas Mirai mulai membuka matanya lebar seraya malas merasuki jiwanya.
"Kita sudah sampai" ujarnya.
"Sampai. Benarkah? Ku pikir kita masih dalam perjalanan" Gumamnya mulai mengingsutkan tubuhnya.
"Tidak. Kita sudah mendarat dengan selamat di dunia bawah. Sebaiknya ayo cepat bangun" Mio menarik tangan Mirai seakan mengajaknya ke suatu tempat.
Mirai pun lekas membuang selimutnya lalu mengikuti arah tarikan tangan itu "Ayo. Ikutlah... Aku sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan ayah dan ibuku... Bukankah kau juga rindu pada kakak ku?" Tanya Mio seraya cengengesan.
Mirai hanya bisa melemparkan sebuah senyum ringan tanpa beban dan ikut merasa bahagia "Lewat sini kak" pinta Mio masih menarik tangan Mirai.
Saat sampai di pintu keluar, Mirai simak jika ada hal yang aneh di depannya. Istana Ming yang selalu ia dambakan dan rindukan, tiba tiba terlihat sangat berbeda dari biasanya...
"Tunggu! Ini bukan istana Ming" Pekik Mirai membelalakan matanya.
Bagai mana Mirai tak membelalak, istana Ming yang indah permai kala ia tinggalkan itu tiba tiba berubah gelap dan pekat oleh asap sisa peperangan. Dan lagi, tak ada tanda tanda kehidupan di sana...
Mirai pun seketika itu turun dari perahu layar yang kala itu pas mendarat di halaman megah istana Ming "Tidak mungkin" bisiknya.
Ia melangkah seraya menatap intrents, ia menyapu setiap seluk beluk istana yang kini tunggal puing puingnya "Tidak mungkin! Ibu suri! Di mana ibu suri?" teriak Mirai histeris. Ia berlarian kesana kemari untuk mencari seseorang yang masih hidup di antara reruntuhan bangunan itu.
"Adik! Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Mirai membentak Mio. Namun Mio hanya diam mematung dengan tatapan lurus kosong ke depan.
"Adik! Adik... Adik sadarlah!" pekik Mirai mencoba menghampiri Mio untuk memeluknya.
"Adik! Adik!!" Ulangnya. Namun Mio tetap saja mematung dan tak meresponnya.
"Adik!" Mirai melangkah lebih jauh untuk menggapai Mio. Tapi Mio mulai menoleh pelan dengan senyuman sinis nya dan berkata "Kena kau!" Ucapnya. Mirai pun membelalak "Apa!" Mirai mulai sadar jika ini hanyalah ilusi atau semacam jebakan.
Zraaat!! Kakinya terpeleset "Aaakhh!" Ia hampir saja jatuh dari ketinggian ratusan kaki di atas permukaan laut. Namun ia beruntung sebab seseorang tengah memegang tangannya erat
GRAPPP!!
__ADS_1
"Putri mahkota!" Pekik pria yang selalu siap menolong wanita itu apapun yang terjadi.
"Sial!" Ucap Mio mendelik lalu membuang wajahnya dan berusaha melarikan diri. Namun, Seseorang pula malah menjaring Mio dengan jaring ikan nelayan.
BRUUK!! Mio pun berontak "Lepaskan aku!!" teriak Mio berontak.
"Adik!! Apa yang kau lakukan pada adikku?" Teriak Mirai marah, ia pun berusaha naik ke permukaan setelah di tarik panglima Ou Tian Feyn dengan sangat sigap. Untung ada panglima, jika tidak, habislah riwayat Mirai.
"Lepaskan adikku!" Mirai berhasil mendarat di atas permukaan kapal dengan kedua kakinya, ia pun berdiri tegak lalu menatap kaget ke arah Mio lainnya.
"Kakak! Kau baik baik saja?"tanya Mio, nampaknya Mirai telah melihat dua Mio dalam satu kapal. Dan yang menjaring Mio rupanya adalah Mio lagi...
"Kalian ada dua?" tanya Mirai kaget.
"Dia adalah yang palsu! Dia ingin membunuhmu kak!" Tegas Mio.
Sementara Mio yang ada di dalam jaring hanya bisa berontak tak bisa meloloskan dirinya "Cepat lepaskan aku! Jika kalian tidak melepaskan aku. Maka aku akan membunuh kalian sekarang juga!' Oceh Mio palsu tetap berontak didalam jaring yang Mio lempar tadi.
"Membunuh. Cih, mudah sekali kau berkata demikian... Sebelum kau ingin membunuh kami. Kami akan terlebih dahulu membakarmu!" Tegas Mio.
Rupanya Mio palsu pun ketakutan dan membungkuk lalu diam membungkam mulutnya "Ampun. Ampuni aku..." Bisiknya mulai merengek lalu memelas.
"Apa yang kau... La... Ku... Kan, pada... Ku" Setelah berontak, Mio palsu pun terlelap.
BOOMM! Ia pun berubah menjadi seekor hewan yang imut dan menggemaskan seperti boneka burung kecil berwarna kuning ke emasan "Uwaaaaah. Imutnya" Mio lekas terpesona pada mahluk itu. Ia pun lekas memeluk hewan itu.
"Dia berubah?" tanya Panglima Ou Tian Feyn.
"Sudah ku duga' Mirai menyungingkan bibirnya.
"Apa maksudmu kak sudah ku duga?" tanya Mio menatap Mirai mantap.
"Dia adalah bast spirit pencuri titik fokus, ke ahliannya adalah ilusi. Hampir saja aku terkecoh" Jelas Mirai seraya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu kak hampir? Kau kan sudah terkecoh dan hampir mati... Untung ada panglima, jika tidak kau akan terjun ke bawah dan tewas" Cerocos Mio memojokan Mirai.
"Mati? Mana mungkin, kau lupa aku punya bulu ini?" Mirai tak kalah bersitegang dengan Mio. Ia malah memperlihatkan bulu si phonex emas padanya.
__ADS_1
"Ia ia. Kau menang lagi kak. Aku memang kalah..." Mio menunduk seraya mengkrucutkan bibirnya.
"Terimakasih" ucap Mirai membuat Mio kembali menatapnya "Apa?" Tanya Mio tak paham.
"Terimakasih karna telah menyelamatkan ku" Mirai memperjelas pernyataannya.
"Benarkah. Aku telah berguna bagimu kak. Akhirnya kini aku bisa menyelamatkan mu... Kak. Aku senang sekali" Mio lekas berlari lalu memeluk Mirai.
"Kebiasaan" Jutek Mirai.
"Apa boleh buat. Aku selalu kangen pada pelukan kakak ku yang hangat ini" cerocos Mio.
"Adik. Kau suka pada best spirit itu?" Tanya Mirai. Mio pun mengangguk "Ya. Kak aku suka... Bisakah aku memeliharanya?"
"Ya. Pelihara saja... Dia akan jadi penurut setelah kamu mengikat kontrak dengannya" tegas Mirai. Mio mengangguk dan Mirai pun membantu Mio untuk mengikat kontrak dengan bast spirit itu.
"Akhirnya. Aku bisa punya binatang kontrak seperti mu kak" senang Mio.
"Tapi. Kamu harus menyembunyikannya dari publik. Jangam sampai mereka tahu jika kamu memiliki binatang bast spirit mu sendiri"
"Baik aku paham"
Setelah mereka saling mengangguk, Kepakan sayap lebar berwarna kunging ke emasan yang mengkilau dan bercahaya pun mulai menyinari fajar kala itu.
WHUASSH!! Mirai terbelalak lagi "Phonex surgawi. Kau kah itu?" tanya Mirai. Phonex itu pun mendarat di perahu Mirai "Ah master. Sungguh beruntung kita bertemu lagi" balas si phonex.
"Ya. Apa yang membawamu ke mari?' Tanya Mirai.
"Aku mencari anakku... Salah satu anakku yang nakal itu kabur dari sarang gara gara ia menggunakan ilmu sihirnya sembarangan. Jadi aku mengusirnya... Dan sudah dua hari ia belum kembali. Aku sungguh khawatir padanya" cerocos si Phonex.
Mirao sadar jika yang ia cari adalah burung nakal tadi "Apakah itu yang kau cari?" tanya Mirai pada Phonex seraya menunjuk Burung kecil di pangkuan Mio.
Sang Phonex menoleh "Ah benar. Itu dia... Gou Tou! Kau si sana rupanya?" Ia ingin memeluk anaknya. Tapi ada fortal yang menghalangi jarak di antara mereka "Ah. fortal itu?"
Mirai mengangguk "Ahhh..." phonex surgawi itu mengeluh "Anakku. Gou Tou... Dia sudah jadi milikmu?" tanya phonex surgawi pada Mio. Mio pun mengangguk.
Dengan deraian air mata sang phonex pun menyerah tanpa mengucapkan salam perpisahan pada nya. Mio dan Mirai menjelaskan panjang lebar kejadian sebelum Mirai mengikat kan kontrak Mio pada burung itu.
__ADS_1
"Dia memang nakal... Tapi meski demikian. Tolong jangan sakiti anak ku. Sayangi lah dia seperti aku menyayanginya. Dia memang nakal tapi dia sangat baik hati..." Jelas Phonex. Akhirnya phonex pun pergi dari kapal layar itu dan meninggalkan Mirai dkk.
Whussshhh