Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Memohon pengampunan


__ADS_3

"Hamba mohon kerendahan hati paduka..." Ulang Fei Si masih berlutut di samping Mirai. Mirai sedikit mendelik tajam ke arahnya...


Dasar... Pria aneh dan tidak bisa di tebak... Bathin Mirai kembali menggumam.


"Aku akan merundingkan masalah ini dengan para mentri istana. Jadi... Tunggulah hingga keputusan akhir keluar. Jika para mentri memberatkan panglima sebagai terdakwa. Maka... Aku sama sekali tidak bisa berbuat banyak..." Kaisar mengabaikan putra mahkota yang kala itu masih menunduk dengan pakaian basah nya.


"Semoga. Keputusan yang paduka ambil... Adalah keputusan terbaik bagi semua orang. Termasuk keadilan bagi panglima Ou Tian Feyn..." Sambung Fei Si.


"Semoga saja. Bangunlah... Lalu tinggalkan aula istana ini... Biarkan aku sendiri..." pinta kaisar enggan menatap dua sejoli tersebut.


"Baik. Hamba mohon pamit paduka..." Putra mahkota berdiri, ia mulai menarik tangan putri mahkota untuk ikut berdiri.


"Lepaskan! Aku bisa melakukannya sendiri" Mirai menghempas tangan Fei Si yang kala itu menyambutnya.


"Maafkan aku..."


"Hamba pamit pada paduka raja... Semoga paduka selalu sehat dan panjang umur" Mirai lekas memutar langkah dan meninggalkan aula tersebut. Di susul oleh Fei Si membuntuti Mirai dari belakang...


Luar aula...


"Apa yang kau lakukan di sana tadi?" Tanya Mirai sinis. Ia menghentikan langkahnya lalu menghakimi Putra mahkota.


"Maafkan aku... Tapi, tadi aku tak sengaja mengikutimu dan mendengarkan pembicaraan kalian tentang panglima Ou Tian Feyn yang di kurung di sel bawah tanah" jelas Fei Si menurunkan atensinya.


"Lalu... Untuk apa kamu ikut campur tentang urusan panglima Ou Tian Feyn... Bukankah, seharusnya kau senang karna nantinya tak ada orang yang bisa menjagaku dari kebengisanmu?" Cerocos Mirai dengan kata kata yang menohok hati Putra mahkota.


"...Maafkan aku atas kesalahanku di masa lalu. Tapi, ku mohon... Izinkan aku merubah segalanya. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi..." Putra mahkota menekuk wajahnya tampak malu.


"Lalu untuk apa. Kenapa kau ingin melakukannya? Jangan jangan ini hanyalah akal akalanmu untuk menusukku dari belakang" timbal Mirai masih waspada akan ke kerendahan hati pria di hadapannya.

__ADS_1


"...Tolong jangan salah paham putri mahkota. Aku memang sudah keterlaluan di masa lalu... Tapi untuk saat ini. Tolong berikan aku kesempatan untuk merubah sikap ku...' Fei Si tetap menjalaskan dan mencoba menyadarkan Mirai akan pernikahan mereka yang hampir kandas itu. Ia ingin pernikahan tersebut kembali terbina dan di mulai dari awal lagi. Tapi nampaknya hati Mirai tidak peka hingga ia sama sekali tak mengarahkan emosinya ke jalur tersebut.


"Lakukanlah sesukamu... Jika itu tidak membuatku merugi. Lagi pula itu bukanlah urusanku..." Mirai mengabaikan Fei Si dengan hatinya yang mulai terbuka lebar untuk menerima istrinya. Tapi, sikap Mirai yang dingin sungguh melukainya...


"Putri mahkota tunggu..." Teriak putra mahkota membuntuti langkah sang putri mahkota yang kala itu melangkah cepat.


Meski putra mahkota berusaha mengejarnya, putri mahkota tetap saja abai dan enggan menoleh ke arah pria itu.


Tentu saja Mirai enggan menoleh apa lagi perduli pada Fei Si, toh... tubuh yang di ikuti Putra mahkota bukanlah putri Hyr In melaikan Xin Mirai, hingga ia sama sekali tidak perduli pada pria di belakangnya itu, hingga ia mengacuhkan pria tersebut.


"Tunggu putri!" Putra mahkota menarik pergelangan Mirai dan menyeretnya ke dinding.


BRAK! Ia menekan tangan tersebut di atas kepala istrinya seraya menekan tubuh mungil wanita itu dan menghimpitnya. Kedua buah bola mata Mirai di buat terbelalak seketika itu, putra mahkota melemparkan senyuman simpulnya dan menatap lembut nanar sang putri.


"Akhirnya. Aku mendapatkan mu juga putri..." bisiknya menatap wajah istrinya yang kian hari kian bercahaya. Terlihat glowing di mata Fei Si, Karna Mirai memang sering melakukan perawatan wajah dengan membuat pacial poam alami dari air sisa mencuci beras. Juga masker bahan bahan herbal seperti bengkuang dan jerut lemon.


"Kamu jadi lebih cantik putri..." Bisik Fei Si seraya membelai rambut Mirai yang berserakan ke depan. Ia merapihkannya lembut dan mengaitkannya di daun telinga wanita tersebut. Dari tatapannya saja, Mirai sudah tahu jika kali ini Fei Si sudah mulai menyukai bahkan mencintainya.


"Lepaskan!!" pekik Mirai membuka suaranya dengan nada yang tinggi.


"Tidak. Jika aku melepaskanmu saat ini... Maka nantinya aku sama sekali tak akan pernah bisa mendapatkan mu lagi" balas Fei Si mengeratkan tekanan tangannya pada pergelangan Mirai.


Aku bukan wanita bodoh atau murahan. Aku paham dengan jelas, adegan apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Kau akan menghampiri wajahku lalu menyematkan senyuman busukmu di bibirku. Cuih! Dasar ja-lang... Aku sama sekali tak akan pernah membiarkan tangan kotormu itu menyentuhku!" Amuk Mirai dalam hatinya.


Nampaknya, umpatan itu di dengar jelas oleh Shu Feng.


"Keinginanmu. Adalah perintah untukku" bisik Mirai mulai tak sadarkan diri.


Benar saja apa yang telah di pikirkan Mirai, Fei Si lekas mendekatkan wajahnya perlahan menghampiri bibir tipis istrinya dan mulai mempokuskan pergerakannya menuju arah tersebut.

__ADS_1


Tapi nampaknya harapan Fei Si gagal, sebab kali ini... Shu Feng telah tersadar dan kembali membuat ulah.


Mirai memundurkan kepalanya ke belakang lalu seketika itu menjedokkan kepalanya ke arah jidak Putra mahkota...


Bledak!!


Bukannya ciuman yang putra mahkota dapatkan dari istrinya, melainkan sebuah pukulan berat di kepalanya "Aahh!" Pekik Putra mahkota mundur beberapa langkah ke belakang, nampaknya tangan Mirai belum Fei si Lepaskan. Shu Feng pun menarik bahu putra mahkota lalu menendang segitiga emas miliknya dengan lutut runcing yang Mirai miliki.


Jdak!!


"Ugghhh!!!" Seketika putra mahkota terbelalak dengan kakinya yang mulai gemetaran. Ia pun melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Mirai...


"B-burung... Burung ku!" Bisik putra mahkota gemetaran. Ia mulai mengarahkan kedua tangannya untuk mendekap barang berharga miliknya.


Ia pun berlutut dan seketika meringkuk di lantai seraya mengerang kesakitan. Shu Feng tertawa lepas dan kembali menjentikan jemarinya CTIK!! Plap... Mirai terbelalak menatap lurus ke depan. Ia sama sekali tak sadar jika putra mahkota telah meringkuk seraya meringis di lantai.


"Apa yang terjadi padaku... Kenapa akhir akhir ini aku sering lupa pada apa yang telah aku lakukan. Apakah ini karna aku terlalu lelah ya... Aku perlu beristirahat saja, kenapa aku jadi bodoh begini" Bisinya pada dirinya sendiri. Ia mulai melangkah dan seketika Duk! Mirai kaget kala kakinya menendang punggung putra mahkota tanpa sadar.


"Ahhh... Putra mahkota!" pekik Mirai seketika berjongkok.


"Apa! Apa yang terjadi padamu putra mahkota. Apakah kau sakit?" tanya Mirai panik. Ia kelimpungan sendiri, putra mahkota yang terlihat pucat itu lekas menarik tangan Mirai "A... Aku sepertinya ak-an mati..." bisik putra mahkota. Kemudian ia tak sadarkan diri...


"Aahh... Pengawal! Pengawal!!" pekik Mirai. Mirai panik dan meminta para pengawal untuk membawa putra mahkota ke Faviliunnya.


Para pengwalpun sigap, ia membawa tandu dan menaikan tubuh dingin sang putra mahkota menuju faviliunnya.


Mirai berlari mengikuti langkah para pengwal. Ia berniat memeriksa putra mahkota dan menyembuhkan penyakit aneh yang telah menimpa putra mahkota.


Hahahahaha... Shu Feng hanya bisa tertawa puas dalam tubuh Mirai. Ia bisa melihat, merasakan dan menyimak situasi yang ada. Apapun yang ia rasa membahayakan bagi tubuh tuannya. Maka ia akan melenyapkan ancaman itu sesuai isi hati sang tuannya.

__ADS_1


__ADS_2