
"Kita akan tangkap pelaku utamanya" Pekik Mirai.
Entah kenapa, jantung sang selir agung terasa berdetak kencang setelah Mirai berkata demikian, apa lagi delikan matanya seakan menusuk ulu hatinya.
Kenapa wanita siluman itu malah menatap ke arahku? Gumam Selir agung. Nampaknya ia sudah punya pirasat buruk...
"Pangeran, silahkan masuk ke aula inti istana..." Pinta Mirai menyambut kedatangan para pengeran ..
Suasana di aula istana menjadi sedikit sesak dan panas, seluruh pasang mata mulai tertuju ke arah pintu keluar tempat di mana sang pangeran datang.
"Ada apa ini?"
"Entahlah, yang jelas tabib agung telah menyelamatkan ibu suri dan permaisyuri kerajaan kita" Bisik bisik. Para seisi aula inti di buat penasaran akan kejutan yang akan Mirai berikan sesaat lagi.
BRAK!! Kaki para pangeran melangkah serentak ke aula istana dengan kedua tangannya yang sibuk menenteng sesuatu "Itu dia para pengeran. Apa yang telah mereka bawa?" Tanya mentri dan jajarannya curiga.
Selir agung yang sedari tadi tampak gelisah pun mulai menoleh ke arah di mana para pangeran datang. Setelah netra Selir agung menatap ke arah anaknya ia pun terbelalak bukan main "Pangeran Li Bai?" Pekiknya mencercidkan alisnya. Mirai sedikit paham akan gerak gerik mencurigakan sang selir ketika para pengeran memasuki area aula inti. Sang selir kian gelisah dan panik ketika ia lihat pangeran Li Bai menenteng sesuatu, Mirai menyungingkan bibirnya "Ada apa selir agung? Kenapa anda terlihat begitu panik?" Tanya Mirai selah membaca raut wajah sang selir, apa boleh buat... Kerutan dahi di jidak sang selir mulai timbul dan membuat Mirai mengetahui satu hal...
"Tabib agung... Di mana aku harus meletakan barang barang ini?" Tanya Wuxi menghampiri Mirai.
"Letakan di tengah" Pinta Mirai, Wuxi pun meletakannya di tengah tengah pengobatan tadi. Tapi di sana malah ada Mio yang tengah berdiri, Wuxi pun menatap sol sepatu Mio, perlahan pandangannya naik naik dan naik lagi... Hingga Wuxi mendonggak kan wajahnya kala miring ke samping untuk memperhatikan. Mio dan Wuxi saling bertatapan satu sama lain, Mio yang masih ingat perlakuan jutek Wuxi padanya pun mulai kesal. Ia seketika membuang wajahnya kala tatapan mereka saling terpaut satu sama lain.
"Huh!" Mio sungguh tak sudi menatap Wuxi lebih lama. Wuxi pun marah lalu mengerucutkan bibirnya sepanjang lima mili (Bibir monyong lima mili).
"Heh. Kenapa dengan wanita menyebalkan ini.. Sungguh aneh sekali" Wuxi mundur dari hadapan Mio dan kembali ke jajaran kakak kakak nya.
__ADS_1
"Ada apa adik?" Goda Li Zhau.
"Kenapa aku bisa bisa nya kebetulan menghampiri wanita itu?" Umpat Wuxi kesal.
"Mungkin karna kalian jodoh" Ujar Li Bai tertawa terbahak... Ia bahkan tak tahu hal apa yang akan terjadi ke depannya. Tawa lebarnya sungguh menggoda ibunya yang kini sedang di rasuki rasa gelisah yang tinggi...
"Baiklah... Semua bukti sudah ada di sini..." Ujar Mirai mengheningkan suasana yang sedari tadi terasa sangat panas itu.
"Penasihat. Tolong buka beberapa bungkusan kain ini" Pinta Mirai.
"Pengawal... Pelayan! Lekas buka beberapa bungkusan kain ini" Pinta penasihat, Para pelayan dan beberapa pengawalpun mulai bergegas membukakan bungkusan itu.
Setelah bungkusan di buka JREGGG! Beberapa bahan yang di jarah para pangerab sebagian nya adalah bahan kimia yang belum di ketahui pihak istana jika bahan bahan itu beracun. Di jaman itu, Merkuri sudah di temukan dan itu adalah bahan aktif untuk membuat perhiasan agar tahan lama dan mengkilat. Mereka tak tahu jika bahan tersebut bisa membunuh jika di pakai secara terus menerus dan berlebihan.
"Wa wa... Apa itu... Entahlah" Bisik bisik. Para jajaran mentri dan yang lainnya saling melempar tanya karna mereka sungguh ingin tahu.
"Sebagian kami temukan di dapur kerajaan dan sebagian kami temukan di kamar para pelayan. Jelasnya Pelayan King Er, Liau Mey dan Fu Ling" Li Zhau memperjelas.
DEG!!!
Selir agung tak bergeming sebab tiga dari tujuh dayang telah di sebutkan. Itu sungguh membuat selir agung panik...
Celaka... Aku tak mau para dayang itu membuka mulutnya kala Kaisar menghakiminya. Bathin Selir agung.
"Keterlaluan! Lancang sekali mereka menyimpan racun racun itu di kamar mereka!! Jika terbukti mereka ingin mencelakakan permaisyuri dan ibu suri. Mereka pantas di hukum penggal kepapa karna telah berani beraninya melakukan hal demikian demi melenyapkan permaisyuri!" Tegas sang raja kian tersulur emosi.
__ADS_1
"Tunggu yang mulia. Kita belum menyelidiki lebih lanjut... Jangan bertindak gegabah dan membuat orang yang tak bersalah menjadi korban. Bisa saja mereka melakukan hal tersebut karna paksaan dari seseorang" Jelas Mirai meyakinkan sang raja. Mirai berkata demikian pada raja tapi pandangannya masih lurus tajam ke depan dan menatap sang selir intrents.
Sedari tadi wanita seluman itu terus saja menatapku tajam. Tidak mungkin kan dia mencurigaiku... Aku sama sekali tak akan biarkan wanita itu menang. Jika dia mencurigaiku... Maka dia harus mati. Bathin sang selir. Sang selir mulai mengeluarkan jarum jarum beracunnya dari sebuah kantung penyimpanan. Kantung itu di sembunyikan di dalam lengan pakaiannya yang menggerai indah ke bawah... Hingga apapun yang ia sembunyikan di dalamnya. Akan aman dan terkendali...
"Tunggu!" Pekik Mirai. Sang selir tersentak setelah sebelah tangannya ia masukan ke dalam kain lengan panjang yang membelit tangan Sang selir.
Selir pun mendonggakan kepalanya ke arah Mirai dengan penuh kegetiran "Sial. Ku pikir dia sedang memperhatikan gerak gerikku" Bathin Selir agung. Mirai terpekik setelah ia pastikan dengan jelas... Bahan bahan apa yang telah ia temukan di dalam 12 bungkusan penemuan Para pengeran
"Oh ia... Tabib agung. Kami menangkap tiga pelayan yang hendak membunuh kami" Tegas Ou Tian Feyn. Mio mulai ingat "Benar, mereka hampir saja membunuhku" Jelas Mio menunjuk ke atas langit langit seraya mengingat.
"Kenapa kita tidak meminta penjelasan dari para pelayan itu?" Pinta Mirai. Pengeran Li Zhau maju lalu memberi tahukan hal apa yang terjadi pada para dayang tersebut "Tabib. Nampaknya mereka tak sadarkan diri"
"Tak sadarkan diri?" Tanya Mirai menatap Li Zhau.
"Ya. Mereka ada di laur aula istana"
"Bawa mereka masuk. Biar aku periksa... Semoga merek belum tiada" Pinta Mirai.
"Tapi tabib. Untuk apa anda menolong mereka? Bukankah mereka hendak melenyapkan para pelayanmu?"Tanya Pangeran Wuxi bengis.
"...Benar tabib agung. Biarkan mereka tiada saja... Kita tak usah menolong mereka" Kaisar menunjuk kala menurunkan perintah.
"Tidak yang mulia. Kita harus menyembuhkannya... Lalu tanyakan pada mereka, siapa yang telah menyuruh mereka... Aku yakin, mereka pasti melakukannya secara terpaksa. Kira kira, siapa yang bertanggung jawab dengan sumber daya manusia (SDM) yang di pekerjakan di istana? Istana sangatlah ketat dalam memilih pelayan untuk menbantu mengurus istana... Dan tidak mungkin sumber daya manusia sengaja masuk istana tanpa seleksi ketat terlebih dahulu?" Tanya Mirai bertubi. Raja pun terbelalak "Selir agung!" Pekik sang raja menoleh ke arahnya dengan pandangan menusuk.
Sang selir yang masih menyembunyikan tangannya di dalam lengan pakaianya seketika ia menelan salivanya sendiri GLUK!
__ADS_1
"Bukankah kau yang bertanggung jawab atas sumber daya manusia di kerjaan Hong?" Tegas Kaisar. Sang slir sudah terjebak dan ia tak bisa mengelak... Apa lagi jika Mirai sampai menyembuhkan Tiga dayang kaki tangannya. Maka tamatlah riwayat sang selir agung... Bagai mana bisa ia menanggung malu terbesarnya di hadapan anak semata wayangnya pangeran Li Bai.
Mirai menyungingkan bibirnya ke arah sang selir Sial. Rupanya wanita siluman itu sungguh benar benar menargetkan ku sebagai tersangka utama. Sial aku terlambat selangkah di belakangnya... Bagai mana ini? Bathin sang selir.