Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Jamuan sang penguasa kota


__ADS_3

Usai di hadapkan dengan situasi mencekam. Akhirnya Mirai dan kawan kawan pun tak bisa menolak jamuan sang penguasa kota yang terkesan memaksa itu.


Meski pun napsu makan Mirai juga putri Mio hilang. Mereka tetap duduk di meja makan sembari memainkan sendok mereka.


Sementara Mirai dan Mio duduk di meja makan. Sang penguasa kota malah terus saja menyambut para tamu yang tak lain adalah rakyat setianya. Bahkan para rakyatnya terlihat begitu gembira menyambut jamuan sang penguasa kota tersebut.


"Makanlan yang banyak malam ini... Karna malam ini aku sedang senang!" tegasnya seraya terbahak.


Mirai dan putri Mio yang turun hadir di antara jamuan tersebut sungguhlah merasa sangat bosan.


"Hei... Kenapa kau memainkan makanan mu begitu?" Seseorang tiba tiba menegur Mirai juga putri Mio dengan kata kata yang cukuk menyinggung. Mio lekas menatap kedatangan wanita itu.


Mirai hanya mengabaikannya, ia masih ingat suara manja dan kekanak kanakan Xue Jing "Pergilah, kami sedang tidak mau berdebat dengan siapapun!" Ucap Mirai dengan wajah datar.


"Cih. Dingin sakali responmu... Kamu sungguh sombong gara gara penguasa kota menunjukmu sebagau kandidat penerusnya" Balas Xue Jing tak senang.


"Kenapa kamu mengusik masalah itu. Apakah kamu iri pada putri Mahkota!" sela putri Mio menjawab dengan juteknya.


Xue Jing makin marah saja hingga ia mengepalkan tangannya "Kenapa dia tidak mati sesuai ke inginan ku!" Umpat Xue Jing dalam hatinya. Giginya bahkan menggigit kuat kuat bibir bawahnya.


"Pergilah... Aku tak mau terus mengulang kalimat itu" Tegas Mirai tetap abai pada Xue Jing.


"Heh. Baiklah, aku menantangmu di kompetisi besok! Kita lihat... Siapa yang lebih baik dalam meracik obat. Kau atau aku... Jika kau kalah di babak penyisihan. Lihat saja, akan ku permalukan dirimu!" Amuk Xue Jing dengan segenap amarahnya.


"Jangan banyak bicara dulu... Bahkan kau belum menunjukkan sampai di mana kemampuanmu. Dasar mulut besar!" Ketus Mirai masih enggan menggubris Xue Jing. Ia cenderung menatap makanan yang menurutnya tak menggugah seleranya.

__ADS_1


"Baik. Akan ku perlihakan padamu... Dasar wanita bebal!" imbuhnya seraya pergi dengan membawa tatapan sinis.


"Putri mahkota. Siapa dia, kenapa dia sepertinya tak menyukaimu? Lalu... Apakah benar, kamu akan menjadi penguasa kota di kota layang ini, jika begitu... Kita tak akan pernah bisa pulang bersama dong ke istana Ming?" Mio tampak sedih kala tahu hal yang sebenarnya terjadi.


"Tenanglah putri Mio... Sebisa mungkin. Aku tak akan lama tinggal di kota ini... Kita datang bersama, maka kita pun akan pulang bersama pula" Tegas Mirai. Seketika, air wajah putri Mio kembali merona "Benarkah?" tanya putri Mio.


Mirai hanya membalas dengan secuil senyuman pahitnya "Putri Mio. Kamu sungguh polos, tapi... Kepulangan ku kelak ke istana Ming. Hanya untuk meminta kaisar untuk menandatangani surat cerai dan penurunan tahta ku... Kelak, aku akan menjadi warga sipil biasa. Tanpa sebuah ikatan atau status kerajaan yang membuatku tersiksa..." bathin Mirai menggumam.


Saat putri Mio dan putri mahkota ada di meja yang sama. Seseorang yang tak di undangpun menghampiri meja mereka "Kau sudah selesai?" tanya nya. Mirai ingat gema suara itu hingga ia lekas mendonggakan wajahnya ke arah pria tersebut "Moo Shan Shan" pekik Mirai.


Moo Shan Shan lekas duduk di meja yang sama "Aku sudah mendengarnya" ucapnya tiba tiba.


"Tentang hal apa?" respon Mirai.


"Merekas menyerang dengan sangat serampangan bahkan terkesam bodoh' Ujar Mirai terkekeh.


"Kau benar. Untuk apa mereka menyerahkan nyawanya begitu mudah"


"Seharusnya. Jika ingin menyerang, setidaknya mereka harus menunggu hingga larut malam tiba. Ini, baru saja menginjak malam... Mereka sudah mati konyol" Gerutu Mirai.


"Kekuatan penghancuranmu sungguh hebat. Sebelumnya tak ada yang pernah menghancurkan sebagian istana kota layaras. Tapi... Kau melakukannya dengan sangat baik... Bahkan penguasa kota yang arogan itu sama sekali tak marah atas kelakuan brutalmu itu" Moo Shan Shan cukup curiga.


"Heh. Tahu apa tua bangka itu tentang penyerangan. Dia malah membunuh para pelaku itu tanpa mengorek secuil informasi pun" Gumam Mirai sedikit kecewa.


"Begitu ya. Kau harus berhati hati pada Xing Yue... Kekuatan misteriusnya sangat menakutkan. Dia bahkan bisa melenyapkan nyawa seseorang tanpa menyentuhnya" Tegas Moo Shan Shan memperingatkan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan tersebut, entah kenapa sungguh membuat Mirai cemas. Pasalnya, kemampuan Xing Yue... Sama seperti kemampuan Shu Feng.


"Sungguh informasi yang cukup menarik..." Balas Mirai menyungingkan bibirnya.


"Baiklah... aku pergi, sebelum pria itu mendekatiku dan menegurku karna telah mendekatimu" Gumam Moo Shan Shan.


"Tunggu...!" Mirai baru ingat jika ia juga masih ada hal yang ingin di tanyakan terkait tubuh Shu Feng.


"Ada apa? Kenapa tiba tiba kau tertarik mengobrol denganku?"


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu" Mirai menatap intrents pria itu.


"Tentang apa... Kenapa kau sungguh terlibat sangat serius?" Moo Shan Shan cukup curiga pada Mirai.


"Tentang... Jasad Shu Feng. Di mana kau menyegelnya" tegas Mirai.


"Wah wah... Sungguh pertanyaan yang mengejutkan. Untuk saat ini dan seterusnya, aku menolak pembahasan tentang mahluk itu. Aku tidak mau, ada pihak ke tiga di antara aku dan Xing Yue yang terlalu serakah..."


"Apa maksudmu terlalu serakah? Apakah ini ada hubungannya dengan kekuasaan kota layaras?'


Saat pertanyaan itu di lontarkan, Moo Shan Shan lekas membungkam mulut Mirai dan mendelik ke arah sang penguasa kota "Jaga nada bicaramu..." Pintanya membungkam erat mulut Mirai.


Mirai seketika membelalak...


Ada apa ini... Siapa sebenarnya Shu Feng. Kenapa Moo Shan Shan takut jika Xing Yue tahu tentang ke beradaan Shu Feng. Apakah ada hal yang tak bisa di jelaskan tentang keberadaan Shu Feng di masa lalu... Moo Shan Shan... Dia harus menjelaskannya padaku. Bathin Mirai menggumam.

__ADS_1


__ADS_2