
***
Moo Shan Shan sungguh bukan orang biasa, ia mampu menciptakan waktunya sendiri. Ia bisa menghentikan dan melanjutkan waktu di dimensi yang berbeda. Waktu di kota layaras berjalan lebih cepat, sementara di dunia nyata, dunia berjalan cukup lambat...
Hingga saat Mirai kembali ke Gunung Xingliun, keadaan di sana sudah cukup gelap dan nampaknya di dunia nyata, ia hanya pergi berjam jam saja...
"Apakah kalian yakin akan turun gunung sekarang?" tanya Tetua Zhen.
"Tentu. Lebih cepat maka akan lebih baik..." Tegas Mirai.
"Perjalanan menuju istana Qing sangatlah jauh... Dan rute yang harus di lalui pun sungguh berliku dan terjal, jika kalian melanjutkan perjalanan di saat gelap. Hal terburuk yang tak kita inginkan pasti akan terjadi" Ujar tetua Chen ikut mengambil suara karna sangat mengkhawatirkan mereka.
"...Apa kita bisa menggunakan jalan alternatif saja untuk mempercepat perjalanan?" Tanya Ou Tian Feyn pada para tetua.
"Tidak. Jalan satu satunya menuju ke istana Qing adalah jalan manual yang kalian lalui sebelum sampai di sini' Tegas Tetua tetua Chen Lyn.
"Ini hanya sebuah simulasi, jika nantinya di jalan ada hambatan. Maka kita sungguh akan celaka..." Mio turun bicara dan mencoba meredakan ke inginan Mirai untuk turun gunung malam itu.
"...Coba saja kalau kita punya alat transportasi, apakah tetua Moo Shan Shan mau memindahkan kita satu persatu lewat ilmu teleportasinya?" tanya Mirai pada tetua Chen Liyn.
Tetua Chen Lyn menggelengkan kepalanya "Heh. Jangan bercanda... Kau ingin membuatnya lelah, atau memintanya menyelamatkan Kaisar Qing? Pilihlah salah satu, dasar serakah..." Tetua Chen Lyn mengabaikan pertanyaan Mirai lalu melontarkan pertanyaan baru padanya.
"Benar juga..." bisik Mirai, Mirai mulai menekan jemarinya di dagunya seraya memutar otaknya.
"Dan lagi. Jika kita turun gunung malam ini. Takutnya kita malah akan jatuh ke tebing, sebab memang tak ada jalan lain, selain menapaki jalan kecil yang kita lalui sebelum sampai di sini... Dan lagi, jalan itu hanya bisa di lalui oleh satu orang saja... Kita sama sekali tidak bisa berjalan beriringan... Kecuali hanya mengikuti dari belakang..." ujar tuan muda mengingat dengan jelas tentang riwayat perjalanan menuju ke Gunung Xingliun itu. Sebab, karna ia mengacuhkan peringatan Ou Tian Feyn, ia hampir saja kehilangan nyawanya...
"Benar juga. Tuan muda sungguh paham betul akan bahaya di rute jalan manual itu..." Ujar Ou Tian Feyn menyungingkan sebelah bibirnya seakan memperolok sang tuan muda.
"Apaan sih... Jangan tersenyum aneh begitu padaku" Jawaban Ou Tian Feyn membuat tuan muda sungguh tak nyaman.
Sementara Ou Tian Feyn dan Tuan muda saling sindir satu sama lain. Tampaknya tidak bagi seluruh anggota tetua sekte gunung Xingliun. Nampaknya mereka sedang berfikir cara termudah dan tercepat menuju ke istana Qing yang berjarak 200 kilo meter di arah barat laut...
"Coba saja kalau kita punya layangan besar yang bisa terbang dan membawa kita semua terbang menuju ke istana Qing. Pasti kita akan lebih cepat sampai di sana..." Ujar Mio memberi ide pada Mirai yang kala itu tengah memutar otaknya.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Karna arah angin selalu berpindah pindah tanpa bisa kita prediksi, dan jika kita hanya mengandalkan layangan maka kita akan tetap celaka. Bukannya kita sampai, tapi nantinya kita malah akan tersasar ke segala arah. Tergantung angin yang membawa layangan itu" komen Tetua Yin Yin ikut berusara. Lama berfikir nampaknya Mirai mengingat sesuatu yang berkaitan dengan penerbangan...
TING! Lampu di kepala Mirai seakan menyala begitu saja, kala kalimat yang Mio ungkapkan tergambar jelas di benaknya "Aku punya ide!!" Pekik Mirai seketika merogoh kantung penyimpanan miliknya.
"Putri Mahkota, ada apa?! Apakah kau menemukan sesuatu agar kita bisa turun gunung lebih cepat?' Tanya Mio menatap Mirai yang tampak serius kala itu.
Seluruh pasang mata sungguh menyorot ke arah tangan Mirai yang kala itu berusaha keras meraih sesuatu di kantung penyimpanan miliknya "Apa yang sedang anda lakukan tabib muda?' Tanya Tuan muda masih memperhatikan gerakan Mirai tangan Mirai yang cukup bersusah payah itu.
"...Tunggu.. Aku hendak meraihnya" imbuh Mirai berusaha untuk meraih sesuatu, dan nampaknya ia pun mendapatkan hal yang ia inginkan.
"Ini dia!!" Mirai terpekik seraya mengacungkan sesuatu di tangannya.
Seluruh pasang mata mulai tertuju pada tangan kanan Mirai yang kala itu tengah memegangi sebuah benda.
JRENG!!
"Apa itu?! Apakah itu sebuah bulu burung?" Mio sedikit kecewa kala Mirai terlihat tengah mempermainkan Mio.
"Bulu burung? Kenapa anda malah bermain main tabib muda?" tanya tuan muda sedikit kesal. Ia seakan telah di permainkan oleh ulah Mirai. Mau bagai mana pun, tuan muda sangat kecewa pada apa yang telah ia lihat.
"Bulu burung Phonex ini..." Tanya tetua Yin Yin menyentuh bulu tersebut dan merampasnya.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" Sambung tetua Yin Yin seraya melotot ke arah Mirai.
"...Aku mendapatkan bulu ini sebagai hadiah dari se ekor phonex emas..." Balas Mirai santai.
Seketika bulu kuduk para tetua sekte merinding kala mendengar ungkapan Mirai yang terdengar seperti sebuah khayalan "Kau berbohong. Phonex surgawi hanya akan keluar selama 100 tahun sekali untuk mencari tuannya... Jangan jangan kau" Tetua Chen Lyn mulai menunjuk Mirai dengan bulu kuduk yang berdiri.
"Jangan bercanda. Mencari tuan apa nya, mahluk itu memiliki anak di sarangnya. Mana mungkin aku setega itu untuk merampas ke bebasannya"
"Lalu. Untuk apa bulu ini..." Tetua Yin Yin lekas menyerahkan bulu itu kembali ke tangan Mirai. Ada banyak pertanyaan di benak Mio dan Tuan muda, sedangkan Ou Tian Feyn malah tersenyum...
"Aku sedang terjepit, jadi aku akan meminta bantuan darinya..." Ujar Mirai.
__ADS_1
"Jika kau bukan tuannya, maka mustahil untukmu memanggil mahluk legendaris itu hanya dengan sebuah bulu..." ujar tetua Yin Yin. Sedangkan Mirai malah menyungingkan bibirnya "Kita tak akan pernah tahu jika kita belum mencobanya..."
Mirai lekas mendekap bulu itu di tengah tengah dadanya seraya memejamkan matanya lalu berbisik "Hei! Phonex emas... Bisakah kau datang! Aku sedang membutuhkan bantuanmu saat ini..." bisiknya nyaris tak terdengar...
Mirai berdiri tepat di tengah tengah kerumunan, dan seketika tubuhnya mulai bercahaya POWWW! Rambutnya terhempas angin yang entah datang dari mana... Kilauan cahaya seakan membanjiri tubuh Mirai.
Hal tersebut sungguh membuat para tetua juga kawan kawan Mirai terbelalak...
Tak berselang lama, dari atas langit gelap itu mulai terukir sebuah potal berbentuk bulat, Nampak lubang bercahaya yang cukup terang telah tergambar jelas di angkasa dan membuat tetua Yin Yin membelalak bukan kepalang.
Whuussssshhh Seketika langit seakan murka, cahaya terang mulai meredup di susul oleh kilatan petir silih berganti seakan hendak terjadi sebuah badai besar malam itu.
"Hei. Gadis muda! Hentikan tindakanmu! Dewa nampaknya murka padamu..." teriak tetua Chen Lyn sungguh panik kala melihat langit kian menampakan ke bengisannya.
Meski Mirai mendengarkan perintah tetua Yin Yin, ia tak bisa menghentikan gerakannya itu, entah kenapa... Tubuhnya terasa berat dan tetap bergerak di luar kendali...
Kemudian, saat langit mulai gelap bersama kilatan petir yang menyambar nyambar. Sebuah suara memeking terdengar jelas memecah ke gusaran malam itu.
EEAAAKKKK! Suara pekikan sang burung phonex surgawi... Mulai terdengar, seketika... Seluruh pasang mata pun mulai tertuju ke angkasa yang gelap itu.
"Apa!! Apa itu?!" Pekik setiap orang yang menyaksikan ke anehan tersebut.
"Itu dia..." Mirai menyungingkan bibirnya.
Seluruh pasang mata di buat terbelalak tak percaya kala di saat langit yang gelap. Muncullah sebuah kepakan lebar dari sang burung legendaris. Burung tersebut sungguh bercahaya dan sangat indah kala meliuk liuk di angkasa yang sangat gelap.
"Phonex emas! Aku di sini!!" Pekik Mirai menggoyang goyangkan tangan bersama selebar bulu di kepalannya.
Eeaaaaakkkk! sang burung mulai menukik tajam ke arah Mirai lalu kuku tajamnya terhenti dengan pelan di halaman sekte gunung Xingliun.
BRUUUGGH Sang phonex mendarat dengan sangat sempurna di hadapan kerumunan.
Untung saja halaman sekte itu cukup luas untuk menampung tubuh besar sang raksasa legendaris itu.
__ADS_1
"Kau! Kau benar benar memanggilnya..." tetua Yin Yin tak percaya dan ia mencengkram dada kirinya. Mirai membelalak, ia takut jika tetua Yin Yin terkena serangan jantung tiba tiba...
"Tetua!!" Pekik seluruh orang yang ada di sana.