Rebirth Of Queen

Rebirth Of Queen
Percakapan dua remaja


__ADS_3

Q.A Hospital, Sean di dampingi William berjalan ke salah satu ruangan psikolog. Setidaknya Sebulan sekali ia harus therapy di sana agar trauma yang ia derita selama ini dapat di tekan.


Karena therapy ini lah salah satu traumanya dengan kegelapan bisa hilang, namun OCD miliknya masih belum hilang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bersentuhan dengannya.


Dan ia datang untuk berkonsultasi tentang mimpi yang selalu menerornya tiap malam.


"Apa anda masih sering memimpikan kejadian itu?" tanya Dokter


"Ya, setiap malam aku memimpikannya. Bahkan hypnotherapy terakhir kali tidak berefek padaku" ucap Sean dengan tangan saling meremas.


Bahkan jika obatnya habis saat ia sadar dari mimpinya itu, efek trauma itu membuat nafasnya akan terasa tercekat dan kepalanya akan terasa sakit. Hingga ia tidak sadar menyakiti dirinya sendiri saat ia tidak menyadarinya.


"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya dokter, ia tahu tentang Elie yang terakhir kali kunjungan Sean menceritakan jika penyakitnya tidak bereaksi saat bersentuhan dengannya.


"Aku terlalu sibuk Hingga aku jarang bertemu dengannya" ucap Sean


Dokter menyarankan agar melakukan hypnotherapy dengan cara lain dan juga memberikan resep obat lainnya. Dan therapy akan di lakukan seminggu lagi.


Sean tidak lama di sana, hanya 20 menit. Karena ia ada pertemuan dengan klient setelahnya.


...


"Te-tempat apa ini?" tanya Cheryl saat dirinya dan suami masuk ke pekarangan sebuah rumah kecil di pinggiran ibukota.


Rumah itu hanya seluas 54m². Hanya ada rumah tamu, dua kamar, dapur dan kamar mandi.


"Jangan banyak tanya, mulai saat ini kita tinggal di rumah ini. Bukannya bagus, kamu jadi tidak terlalu capek dan banyak mengeluh saat membersihkan rumah kecil seperti ini" ucap Rico ketus.


"Aku nggak mau, lebih baik kita kembali ke mansion kamu dengan Airani, atau kita ke rumah keluarga Sebastian saja. Ya sayang. Rumah ini terlalu kecil" ucap Cheryl


"Kita tidak bisa ke sana" ucap Rico


"Pokoknya nggak mau, aku nggak suka rumah apaan ini? Pokoknya aku mau kita ke rumah yang besar!" ucap Cheryl setengah berteriak

__ADS_1


"Cukup Cheryl, kita tidak bisa kembali ke sana. Kalau kau tidak ingin tinggal di sini, keluar saja sana!!" teriak Rico kesal.


"Ma-maafkan aku Rico, jangan usir aku, aku mohon" ucap Cheryl mengiba. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain tinggal di rumah kecil itu meskipun ia tidak ingin.


"Aku pusing mendengar rengekan mu, jangan bisanya terus mengeluh saja. Kau pikir semua ini terjadi gara-gara siapa? Kamu sendiri yang membuat semuanya seperti ini, sialan!!!" teriak Rico melangkah meninggalkan Cheryl di sana.


Rengekan Cheryl membuat kepalanya terasa makin pusing. Tentu saja dirinya sudah menghubungi keluarganya dan berharap dirinya bisa tinggal di sana.


Namun lagi-lagi kakak sialannya itu, menghasut ayahnya agar tidak memperbolehkannya tinggal di sana. Dengan alasan harus mandiri karena sudah berumah tangga dan tidak baik tinggal bersama orang tua.


Terlebih keluarga Sebastian sudah mengetahui jika Rico sudah menikahi kakak dari mendiang istrinya. Rico terkena amukan dari kedua orang tuanya saat mengetahui hal itu.


Mereka merasa malu dengan tindakan Rico, apalagi mendengar jika Cheryl tengah berbadan dua. Membuat ibunya bahkan pingsan saat mendengar itu, ia tidak menyangka putranya bisa melakukan hal memalukan seperti itu.


Dan yang membuat Rico marah dan terkejut, saat ia mengetahui jika kartu Debit milik mendiang istrinya dulu sudah di blokir, membuatnya tidak memiliki uang lagi.


Jika saja Kartu milik Airani tidak di blokir oleh orang yang tidak di kenal, dirinya bisa hidup hingga puluhan tahun dengan uang itu tanpa bekerja. Karena jumlah di dalamnya Ratusan miliar.


Yang memblokir? Tentu saja itu adalah Elie, dengan kemampuan meretasnya ia memindahkan semua uang di sana ke rekeningnya yang baru dan memblokir kartu yang saat ini ada di tangan Rico. Ia tidak Sudi uang miliknya di pakai bajingan itu.


Kini di tabungannya hanya tersisa 7 digit angka saja. Hal itu membuat Rico sangat frustasi di buatnya dan emosinya sering meledak-ledak.


...


Elie menghentikan mobilnya di salah satu tempat makan di pinggir jalan. Perutnya sudah berdemo minta di isi karena saat ini hampir jam 1 siang, namun ia belum makan siang.


Ia menghela nafas, biasanya makan siangnya selalu bersama dengan Finn. Belum apa-apa Elie sudah sangat merindukan laki-laki yang mencintai dan memanjakan dirinya itu.


Ia juga harus sabar menunggu kabar Finn, karena penerbangan dari negaranya ke negara Inggris hampir 17 jam lamanya.


"Untuk berapa orang kak?" tanya pelayan


"Satu" ucap Elie.

__ADS_1


"Mau pilih tempat di luar atau di dalam kak?" tanya pelayan


"Di dalam saja" jawab Elie


"Mari silahkan ikuti saya" ucap Pelayan.


Elie kemudian duduk di tempat duduk dengan meja kecil dan dua kursi, yang biasanya untuk dua orang.


Tempat makan itu tidak miliki ruangan VIP, hanya tepat makan umum yang di sediakan di dalam dan di luar ruangan. Biasanya di dalam ruangan adalah no smoking area.


Namun terlihat cukup ramai, meskipun bukan tempat makan mahal. Dan tentu saja kedatangan Elie cukup menghebohkan karena menggunakan mobil mewah, namun Elie mengabaikan kehohan itu dan memilih untuk masuk karena sudah lapar.


Saat Elie tengah menyantap makanannya, telinga Elie yang sensitif mendengar dua remaja pelajar sedang mengobrol dengan suara pelan. Tidak ada yang aneh memang, namun obrolan mereka adalah obrolan yang bukan ranah umur mereka.


Awalnya Elie mendengus dan mengumpat kenakalan remaja jaman sekarang. Namun, matanya melebar saat mendengar sebuah nama yang tidak asing di telinganya.


"Kamu jadi kan ajak dia ke acara ultah bohongan aku nanti malam" ucap salah satu remaja laki-laki.


"Tenang aja, aku udah bujuk dia dengan rayuan maut andalanku. Susah bener ngajak dia ke acara party, apalagi acaranya di Mare Club'. Serius kamu bisa booking itu Club? Kita masih pelajar, meskipun usia kita sudah lebih dari 17 tahun dan di sana sangat mahal" ucap remaja perempuan.


"Tenang, aku punya uang. Kau lupa jika orang tuaku punya bisnis cukup besar di ibukota?Aku juga kenal sama manager di sana, dia temen kakak ku dan aku bisa ke sana dengan bantuannya" ucap remaja laki-laki lainnya.


"Kamu beneran cuma mau ngerjain dia doang kan? Kamu beneran nggak naksir sama dia kan?" ucap remaja perempuan itu.


"Tentu saja dong sayang, aku cuma cintanya sama kamu. Aku hanya kesal saja sama tuh cewek satu, sok jual mahal. Aku hanya mau berikan dia pelajaran, dan memper**sa dia dan menjadikannya perempuan rendahan" ucap remaja laki-laki itu.


"Ya aku juga benci sama dia, sok paling cantik di sekolah anjir. Aku berteman dengan dia karena dia kelihatannya diri keluarga berada" ucap remaja perempuan itu.


"Bagus, kalau begitu kita deal. Kita buat Moza kehilangan hal berharganya malam ini, dan kita buat dia menjadi wanita serendah-rendahnya" ucap Remaja laki-laki.


"Moza sayang, aku tidak sabar untuk mencicipi tubuh molekmu itu baby. Suruh siapa kamu menolak cintaku, alasan klise ingin fokus sekolah aku tidak percaya itu. Kita lihat nanti malam, aku akan buat kau menjadi milikku seutuhnya dengan cara mengambil hal paling berharga yang kamu miliki" gumam remaja laki-laki itu dalam hati.


Elie yang mendengar nama itu, jantungnya berdetak kencang.

__ADS_1


"Moza? Bukankah itu nama adik Finn? Aku nggak tahu yang mereka berdua bicarakan adalah Moza adik Finn atau Moza yang lain. Tapi aku tidak ingin mengambil resiko, aku harus bertindak sebelum semuanya terlambat. Mare Club' , Aku tahu Club itu, Baiklah kita lihat dulu dan bertindak saat waktunya tepat" gumam Elie dalam hati.


...••••...


__ADS_2