
Saat ini di ruangan kerja, Finn mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga jahitan di tangannya terlepas dan lukanya kembali terbuka.
Meskipun ia selalu berkata akan merasa bahagia jika Aurelie bahagia, namun faktanya ia hanyalah manusia biasa dan tidak bisa memungkiri perasaan cemburu dalam dirinya.
Ia sangat cemburu saat melihat Sean menatap Aurelie dengan penuh cinta, bahkan pria dingin itu berkata dengan sangat lembut padanya.
"Aku tidak suka tatapan itu, aku tidak suka melihat laki-laki lain menatapmu dengan penuh kekaguman. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa" gumam Finn dengan tatapan sendu ke arah tab di tangannya.
Di mana ia melihat Sean berkata dengan nada yang lembut pada Aurelie, untung saja Aurelie menolak ajakan itu hingga Finn bernafas lega. Meskipun ia masih tidak suka saat Aurelie menjanjikan untuk makan malam bersama Sean di lain waktu.
Finn baru merasakan sakit di tangannya, ia menoleh ke arah perban di tangannya yang sudah berwarna merah, karena darah merembes keluar.
Sedetik kemudian dia tersenyum dan mengambil ponselnya dan memphoto tangannya yang lukanya kembali terbuka dan berdarah. Ia kemudian mengupload ke story WA miliknya.
Benar saja, beberapa saat kemudian story nya di lihat oleh Aurelie dan teleponnya langsung berdering. Nama Elie-ku dengan tanda hati muncul di layar.
"Finn, kenapa tanganmu kembali terbuka??" tanya Aurelie di ujung telepon terdengar panik.
Mendengar perhatian Aurelie senyum merekah di wajah Finn. Sampai rasa sakit di tangannya pun tidak lagi ia rasakan dan tergantikan dengan perasaan bahagia karena perhatian Aurelie.
"Aku menahan beban berat dan lukanya kembali terbuka" ucap Finn berbohong, tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya, bukan?
"Astaga, kenapa kau begitu ceroboh? Apa kau berada di rumah sekarang? atau sudah di obati di rumah sakit?" tanya Aurelie lagi.
"Aku sedang berada di luar, kebetulan aku keluar mencari makanan enak untuk makan malam. Tapi tadi ada kejadian tidak terduga" ucap Finn dengan nada memelas.
"Kamu keluar di daerah mana? Aku ke sana sekarang" ucap Aurelie
"Apa tidak merepotkanmu? Aku bisa memesan taksi ke rumah sakit" ucap Finn
"Kirim lokasinya padaku sekarang dan tunggu aku datang sebentar lagi!" ucap Aurelie dengan nada yang kentara sekali khawatir pada Finn.
Aurelie mematikan teleponnya sepihak dan bergegas mengambil tas dan kunci mobilnya lalu keluar.
__ADS_1
Finn menatap ponselnya sejenak, ada perasaan menghangat di hatinya mendengar Aurelie perhatian dan khawatir padanya.
Sedetik kemudian ia bergegas keluar dari perusahaan dan jalan kaki menuju gedung sebelah jalan yang tak lain adalah pusat perbelanjaan.
...
Sepuluh menit kemudian Aurelie damai di titik lokasi yang di kirim Finn. Jarak dari perusahaan ke lokasi ini tidak terlalu jauh, namun biasanya memakan waktu dalam waktu 20 atau 30 menit. Bisa di bayangkan betapa ngebut dan selip menyelip, Aurelie mengendarai mobilnya di tengah jalanan ibukota yang padat merayap.
"Finn" panggil Aurelie
Ia setengah berlari menghampiri Finn yang duduk di sebuah bangku dengan tangan kiri memangku telapak tangan kanan yang darahnya keluar menembus balutan perban di tangan Finn.
"El, kok kamu cepet banget sampenya? Kamu ngebut?" ucap Finn terlihat sedikit cemas dan merasa bersalah.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Elie? Ya Tuhan, Bego kau Finn!!! Kau tidak berpikir sampai ke sana. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Elie. Harusnya aku tidak membuatnya khawatir hingga ia datang dengan tergesa-gesa karena panik" ucap Finn dalam hati yang merasa menyesal dan bersalah
Aurelie mengerti jika Finn merasa bersalah padanya, ia kemudian menghampirinya dan menarik tangan kirinya.
Finn menatap tangannya yang di tarik Aurelie, ia tahu jika Aurelie tengah membohonginya. Karena ia tahu Aurelie dari gedung Q.A Group, yang jaraknya lumayan apalagi jalanan di sana sini yang macet.
Hatinya merasakan sakit bercampur senang, mengingat Aurelie mencoba menenangkan dirinya, namun Finn tetap khawatir seandainya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Aurelie, ia akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf" ucap Finn setelah berada di dalam mobil Aurelie.
"Untuk?" tanya Aurelie sambil fokus menyetir mobilnya.
"Membuatmu khawatir hingga ngebut untuk cepat menghampiriku di sini, aku sebenarnya tidak apa-apa dan ini hanya luka kecil. Aku yang bodoh dengan sengaja membuat story WA agar membuatmu tahu jika lukaku kembali terbuka dan mendapat perhatianmu" ucap Finn merasa bersalah.
Aurelie menghela nafasnya, dan tidak menjawab. Ia tidak bodoh untuk tidak mengetahui hal ini. Namun tetap saja dia merasa panik dan tidak tenang saat mengetahui luka di tangan Finn kembali terbuka.
Ia juga tidak tahu mengapa sepanik ini saat melihat story Finn, terlebih ada perasaan sakit melihat photo tangan Finn yang berdarah.
...
__ADS_1
Dokter umum di IGD langsung menangani luka Finn. mengobatinya lalu membungkusnya kembali dengan perban.
"Untungnya jahitan dalam tidak terbuka banyak, hanya sedikit saja yang terbuka. Tolong perhatikan pacar anda untuk tidak mengangkat atau melakukan pekerjaan berat. Dan tolok terapkan obat ini di area sekitar jahitan setelah perbannya di ganti nanti di rumah. Ini resep obat untuk di minum bisa di tebus di apotek. Dan jangan lupa tangan pacar anda tidak boleh terkena air dulu, kurang lebih selama satu minggu" ucap Dokter menyerahkan selembar kertas ke arah Aurelie
Finn tersenyum tipis saat dokter mengatakan Aurelie adalah pacarnya, ia juga mengharap dan berdoa semoga itu benar-benar terjadi. Sedangkan Aurelie menerima secarik kertas resep itu dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
Mereka berdua kini sudah di dalam mobil keheningan melanda, sampai Finn membuka suaranya.
"Terimakasih" ucap Finn dengan senyum manis di wajahnya.
Degh! Degh!
Jantung Aurelie lagi-lagi berdetak kencang melihat senyuman Finn.
"Jangan tersenyum seperti itu di depan orang lain" ucap Aurelie, entah mengapa membayangkan Finn tersenyum pada orang lain dirinya tidak rela.
"Kenapa? Apa kau tidak suka aku senyum untuk orang lain?" tanya Finn mendekatkan wajahnya dengan senyuman manis di depan Aurelie.
Ia merasakan perasaan senang di hatinya mendengar Aurelie tidak rela orang lain melihat senyumnya.
"Bu-bukan begitu maksudku" ucap Aurelie gugup
"Astaga baru kali ini aku gugup saat bicara pada orang lain. Hais aku kenapa sih? Mana Finn deket banget, wajahnya juga sangat tampan" ucap Aurelie dalam hati menyadari jika dirinya gugup saat jarak dirinya dan Finn sangatlah dekat.
"Tenang saja, aku hanya tersenyum saat bersama denganmu. Aku yakin kau tahu siapa yang sudah berjaya menaklukkan hati ini" ucap Finn tersenyum manis dan juga hangat.
Dia mengelus rambut Aurelie sebentar lalu kembali ke posisi duduknya dan memasang seat belt.
Degh! Degh!
Jantung keduanya berdetak dengan cepat, Diam-diam Finn menghela nafas. Ia tak berani untuk membatin, Sejujurnya dia tergoda oleh bibir manis di depannya barusan. Namun ia mencoba menahan diri untuk mencium dan melu*atnya.
...
__ADS_1