
Di dalam pesawat, Elie terus mendesak Finn menjelaskan apa yang terjadi pada Grace. Memang Finn mengatakan jika ia dan keluarganya akan di kirim ke Afrika.
Tapi bukannya Grace saat ini berada di Gili Trawangan? Finn yang melihat istrinya penasaran hanya terkekeh dan menjelaskan padanya hanya dalam beberapa kalimat.
"Akan ada orangku yang akan mengurusnya, kamu tidak perlu khawatir. Jangankan ia yang saat ini berada di Gili Trawangan, yang hotel tempat ia menginap saja kita tahu. Bahkan seandainya ia bersembunyi di lubang semut di kutub Utara pun, orangku pasti menemukannya dan menyeretnya ke Afrika sesuai ucapaku" ucap Finn
"Kau ini, memang di kutub ada semut?" ucap Elie terkekeh
"Seandainya sayang, se-an-dai-nya" ucap Finn, Elie hanya terkekeh melihat tingkah Finn.
...
Benar yang di katakan Finn, saat ini Grace tengah menggerutu sambil berjalan mengitari pantai. Ia sangat kesal karena Finn berani menampar dan mempermalukannya di depan umum.
Ia sama sekali tidak menggubris ucapan Finn yang akan membuat ia dan keluarganya pergi ke Afrika. Ia tidak mempercayai hal itu akan terjadi pada dirinya!
Bagaimana pun, keluarganya masihlah keluarga berpengaruh. Meski Ayahnya bukan lagi pemilik Ace Royal Group, tapi keluarganya masih masuk keluarga terkaya di dunia dengan sisa properti dan aset yang keluarganya miliki dengan nilai fantastis.
Namun Grace terlalu percaya diri, dia bahkan tidak menyadari, jika dirinya di ikuti oleh 4 orang di belakangnya sejak tadi.
Dan ia baru menyadari saat dua orang berdiri depannya. Salah satu di antaranya yang berwajah asli Indonesia, yang berjalan dan menghalangi jalannya dari depan
"Hei, kau menghalangi jalanku! Minggir!!!" ucap Grace dengan nada sombongnya.
"Nona, anda harus ikut kami sekarang juga!" ucap Salah seorang yang berkulit gelap dengan memakai bahasa Inggris.
"Kalian mau apa? Jangan-jangan kalian mau menculikku, iya??" ucap Grace melihat ke kanan dan ke kiri yang masih banyak pengunjung.
Melihat dua orang di depannya tidak menjawab, Grace berbalik ingin pergi menjauh.
Namun ternyata di belakangnya ada dua laki-laki lain yang menghadang dirinya, dengan pakaian yang sama dengan dua laki-laki yang mengadang dari depan.
"Ka-kalian mau apa? Minggir aku mau lewat!" ucap Grace ketakutan
"Jangan mendekat! Atau aku akan teriak!" ucap Grace mengancam saat keduanya melangkah mendekati dirinya.
Namun ke empat orang itu tidak menjawab perkataan Grace dan terus berjalan ke arahnya. Grace gemetar takut, ia kemudian berteriak sekencang-kencangnya meminta tolong.
"Help me!!! Help me Please!!!" teriak Grace.
Meskipun Grace berteriak menggunakan bahasa Inggris, namun orang-orang di sekitar mengerti jika dirinya minta tolong.
__ADS_1
Beberapa warga dan pengunjung mulai berdatangan hendak menolongnya.
"Hei, lepaskan wanita itu? Kalian mau apa? Berani sekali kalian ingin menculik orang di siang bolong!" ucap salah satu warga, sebelum ia mengayunkan pukulannya.
Yang lain pun berdatangan dan hendak membantu salah satu warga itu. Namun tindakannya berhenti saat salah satu orang yang menghadang Grace mengucapkan sesuatu.
"Saya adalah polisi yang sedang menjalankan tugas. Jika kalian menyerang polisi yang sedang bertugas, kalian justru akan di tuntut dan di hukum sesuai undang-undang, karena secara di sengaja atau tidak kalian sudah melindungi tersangka. Silahkan jika kalian ingin mencobanya!" ucap pria itu.
Seketika pukulan warga berhenti dan melayang di udara secara mendadak.
"Apa kalian tidak berbohong? Apa kau punya bukti keanggotaan dan juga surat tugas?" tanya salah satu warga di sana.
Pria itu berjalan mendekat dan mengeluarkan lencana miliknya dan juga surat tugas dari balik jaket hitam miliknya.
"Saya dari Polres Mataram, di utus Kapolda untuk membawa wanita ini pergi, wanita ini memiliki keterlibatan kejahatan internasional. Anda bisa mengecek apakah lencana dan surat tugas saya palsu atau tidak" ucap pria itu dengan tenang dan menyerahkan lencana miliknya juga surat tugas.
Melihat itu warga perlahan mundur dan meminta maaf karena sudah menghalangi pihak polisi menangkap buronan.
Grace bingung mengapa warga justru pergi, dan tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan saat berbicara. Dan tangannya kini di borgol dan di bawa pergi secara paksa.
Ia terus berteriak minta di lepaskan dan meminta tolong. Namun tidak ada satupun yang mau menolongnya.
Di dalam mobil, Moza melirik wajah tegang Keegan saat dirinya duduk di samping mobilnya.
Keduanya berencana menjemput Finn dan Elie di Airport. Ide itu bermula saat Keegan menawarkan dirinya menjemput pengantin baru itu, dan memiliki alasan untuk bisa mengajak Moza sekalian.
Moza terkekeh dalam hatinya melihat wajah tegang Keegan yang menurutnya lucu.
"Om, eh maksudnya kak, kenapa wajah kakak tegang begitu?" tanya Moza.
"Ah, eh, ma-masa?" tanya Keegan dengan tampang bodohnya, membuat tawa Moza meledak, tanpa bisa di tahan.
Melihat Moza tertawa, bukannya kesal. Keegan justru terpesona melihatnya.
"Cantik!" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar Moza.
Moza menghentikan tawanya dan wajahnya memerah. Entah mengapa wajahnya terasa panas saat mendengar pujian Keegan untuk dirinya.
"Ekhmm!!" Keegan berdeham untuk menghilangkan kecanggungan.
"Permisi, sabuk pengamannya" ucap Keegan kemudian ia memasangkan sabuk pengaman Moza.
__ADS_1
"Astaga jantungku!!! Ya Tuhan kenapa ia cantik dan imut secara bersamaan, jadi pengen cepat-cepat Halalin. Tapi nggak bakal boleh Sama kakaknya karena dia masih kecil. Astaga mikir apa aku ini" ucap Keegan.
Yang tidak Keegan ketahui, saat ini Moza juga tengah menahan nafas dan jantungnya berdebar kencang saat jarak keduanya sangat dekat.
Selama hidup, ia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria selain ayah dan kakaknya.
Suasana begitu sepi di perjalanan sampai keduanya sampai di Airport. Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju pintu kedatangan.
"Za!" panggil Keegan
"Hmm, kenapa Kak?" Tanya Moza.
"Se-sekarang masih terlalu dini untuk masuk. Pesawat mereka akan landing empat puluh menit lagi. Boleh kakak minta waktu nya sebentar?" ucap Keegan memberanikan diri.
Moza mengangguk dan mengikuti Keegan ke arah coffe shoop. Keduanya memesan dan duduk di meja pojok.
"Ada apa kak, sepertinya ada sesuatu yang penting?" tanya Moza
"Ya, aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Keegan.
"Katakanlah!" ucap Moza
"Ak-aku... akuu... aku" ucap Keegan gugup.
Ia mengutuk keberanian dan ketegasan nya yang hilang entah kemana saat ini. Di mana sosok Keegan yang selalu percaya diri dan memenangkan tender dengan gemilang, kini Hilang entah kemana saat berhadapan dengan Moza.
"Ya?" ucap Moza dengan sabar mendengarkan
"Aku... Astaga kenapa susah sekali mengatakannya" ucap Keegan pelan namun masih di dengar oleh Moza.
"Ada apa Kak? Jika kakak memang tidak mengatakannya, tidak usah di paksakan kak. Mungkin kakak bisa mengatakan pada orang lain, mungkin kakak akan lebih nyaman dan berbagi" ucap Moza dengan polosnya.
"Aku tidak bisa mengatakan pada yang lain selain kamu" ucap Keegan
"Maksudnya? memangnya itu tentang apa kak?" tanya Moza lagi tidak mengerti.
"Aku menyukaimu Moza, aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu" ucap Keegan dengan satu tarikan nafas.
"Hah???" ucap Moza terkejut saat mendengarnya.
...••••...
__ADS_1