
Finn berdecih menatap Arthur, ia sangat menyayangkan sikap bodoh sahabatnya itu. Gayanya saja bak seorang player profesional, aslinya ia dangkal dalam hal cinta, Cetek!
"Kenapa? Menyesal? Sakit hati?" ucap Finn menyindir.
Arthur mendongak melihat Finn, ia tidak menyalahkan Finn yang menyindirnya. Karena memang itulah kenyataannya.
"Bos kau benar, aku menyesali semuanya. Aku baru menyadari perasaan ku terhadapnya sekarang" ucap Arthur memilih untuk jujur.
"Hah..... Meskipun aku kesal padamu, tapi aku tidak bisa menyalahkan mu untuk urusan kau dan Kakak ipar ku. Jangan mudah menyerah, masih ada banyak cara untuk memperbaiki semuanya. Selagi ada niat, keseriusan, bukti dan perjuangan yang berat. Tentu saja itu semua harus ada restu Tuhan dan juga faktor keberuntungan" ucap Finn
"Bos" mendengar itu Arthur terharu, ia merasa di semangati oleh Finn untuk mengejar kembali cintanya yang mulai pergi menjauh.
Ia bertekad untuk berbalik mengejar Cheryl setelah ini. Ia berharap Tuhan memberikan ia kesempatan juga restu untuk bisa membuat Cheryl kembali jatuh cinta padanya.
Ia berjanji seandainya ia akan setia dan menyayangi Cheryl seumur hidupnya. Tentunya ia juga akan menerima kondisi apa adanya Cheryl, termasuk masa lalu kelamnya.
"Tapi.... Meskipun aku tidak menyalahkan kamu atas hubunganmu dengan iparku. Aku tetap menyalahkan kamu karena lalai dan membuat istriku marah padaku, karena j*l*ng mu itu. Jadi kau tunggu hukuman dariku nanti!!" ucap Finn
Glek!
Arthur meneguk salivanya susah payah. Ia tahu ia tidak bisa menghindar dari hukuman yang sudah pasti akan ia dapatkan.
"Ayo kita keluar dan temui wanita si*lan yang sudah berani membuat istriku marah padaku" ucap Finn melangkah keluar ruangan dan Arthur mengikuti nya dari belakang.
....
Melihat Finn keluar dan menghampiri mereka Lidya bergegas membenahi pakaiannya dan bersikap seanggun mungkin.
Finn berdecih dalam hati melihat seorang J*l*Ng tidak tahu malu berusaha menggodanya. Melihatnya saja sebenarnya Finn malas dan mual.
Jika Lidya di bandingkan dengan istrinya, tentu saja bagaikan langit dan bumi. Sangat-sangat jauh bahkan tidak seujung jari pun bisa di bandingkan dengan istri tercintanya.
"Kau jal, hmm Lidya?" tanya Finn, hampir saja ia menyebutnya j*l*ng.
Lidya yang terlalu senang bertemu dengan Finn, sehingga ia tidak sadar jika Finn hampir memanggilnya j*l*ng.
"Hai tuan Finn, senang anda masih mengingat saya" ucap Lidya dengan malu-malu.
"Kau tahu kenapa aku memanggil kamu? tanya Finn dengan nada biasa saja.
__ADS_1
"Hmm, mungkin tuan membutuhkan sesuatu yang hanya bisa di lakukan oleh saya?" ucap Lidya dengan malu dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
"Kau benar" ucap Finn langsung
Mendengar itu Lidya tidak kuasa menahan senyum di wajahnya.
"Gotcha!!!! Akhirnya kau melihat keberadaan ku dan membutuhkanku juga Finn-ku sayang. Aku pastikan aku akan membuat kau bertekuk lutut setelah merasakan betapa hebatnya aku menservice dan memuaskan mu di atas ranjang. Akan ku buat kau berteriak kenikmatan saat menjelajahiku" ucap Lidya dalam hati.
Finn memang tidak memiliki kemampuan membaca pikiran seperti istrinya. Namun ia bisa melihat dengan jelas apa yang di pikirkan orang lain hanya dari raut wajahnya.
Finn juga berdecih jijik dalam hati saat tahu Lidya berpikiran yang tidak-tidak. Ia jengah dan tidak ingin bermain-main lagi.
"Aku tidak ingin kau bekerja lagi di perusahaan. Karena aku membutuhkanmu untuk bersenang-senang di tempat lain, apa kau bersedia, Lidya?" tanya Finn
"Ya!!! Tentu saja aku mau!!! Ah, maksudku aku bersedia Finn" ucap Lidya dengan sigap. Bahkan ia sudah tidak malu-malu lagi memanggil atasannya itu hanya dengan nama saja.
Jelas Lidya sangat bodoh karena tidak sadar dirinya sudah masuk ke kandang harimau.
"Kalau begitu, kita akan minum bersama untuk kesepakatan kita" ucap Finn mengambil dua gelas wine dan menyerahkan satu untuk Lidya.
Lidya menerimanya dengan senang hati.
Dentingan gelas berbunyi nyaring, tak lama setelah meminum wine. Lidya merasa seperti ada yang salah dengan tubuhnya. Tubuhnya tiba-tiba saja memanas, ia sadar jika Finn pasti memasukan obat ke minumannya.
Namun Lidya tidak marah, ia justru menyimpulkan jika Finn tidak sabar ingin bermain panas dengannya. Padahal tanpa obat pun, ia dengan senang hati menyerahkan tubuhnya.
"Finn sayang, tubuhku panas. Tolong peluk aku!! Aku membutuhkanmu ssshhh" ucap Lidya berjalan mendekat ke arah Finn. Namun Finn hanya berdecih jijik dan mundur ke belakang. Azel berjalan menghalangi langkah Lidya, membuat Lidya sedikit tidak senang.
"Azel tampan, biarkan aku menemani bos mu. Kau tidak ingin bos mu marah padamu, karena kau menghalangi kesenangannya bukan?" ucap Lidya dengan suara sedikit men**sah. Karena minuman yang ia minum mengandung obat berdosis tinggi.
"Justru karena aku tidak ingin membuat bos marah, jadi aku menghalangimu. Nona Lidya, harusnya kau sadar diri dengan posisimu. Jika kau tidak memiliki cermin, aku bisa meminjamkannya padamu dengan ukuran yang sangat besar. Hingga kau bisa berkaca dan menyadari, betapa bodoh dan murahannya anda, cihh" ucap Azel dengan jijik dan dingin, berbanding terbalik dengan Azel beberapa saat lalu yang mengajaknya berbincang dengan ramah.
"K-kau!!! Kau berani mengataiku??? Aku adalah Wanita bosmu, Beraninya kamu!!!" ucap Lidya marah, namun tubuhnya yang kepanasan membuatnya tidak nyaman.
"Berani sekali kau menyebut dirimu yang hanya kuman, sebagai wanitaku??!! Dengar aku baik-baik, Aku hanya akan memiliki satu wanita seumur hidupku, dan jelas itu bukan kamu, dasar menjijikan!!!" ucap Finn dengan sinis.
"Finn, kenapa kamu... Bukankah kita sepakat untuk bersenang-senang bersama tadi ssshhh" ucap Lidya terkejut mendengar Finn.
"Cih, tentu aku sepakat untuk membuatmu bersenang-senang. Tapi bukan denganku!!!" ucap Finn
__ADS_1
Prok!!! Prok!!!
Azel bertepuk tangan beberapa kali setelah mendapat kode mata dari Finn. Tak lama kemudian, sepuluh orang pria bertubuh tinggi dan kekar datang.
Lidya yang melihat pria-pria itu merinding, ia menoleh ke arah Finn.
"A-a-apa maksud ini semua, Finn? Ssshhh" tanya Lidya.
"Tentu saja sesuai dengan apa yang kau pikirkan" ucap Finn menyunggingkan senyum smirk nya.
"Tidak!!!! Ssshhh, kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Lidya menebaknya dengan tepat, jika pria-pria itu pasti ingin menggagahinya.
"Kenapa??? Tentu saja itu karena kau sudah menyinggung istri tercintaku dan membuatnya marah padaku. Ia pasti sangat tahu apa yang kau katakan dan yang kau pikirkan" ucap Finn.
Ya, Finn menduga jika Elie mendengar rencana atau hal buruk yang di pikirkan Lidya. Kalau tidak, bagaimana dia bisa begitu marah padanya?
"Istri?" beo Lidya.
"Wanita yang kau Katai janda beranak satu adalah istri dan anakku. Beraninya wanita rendahan sepertimu menghinanya!!!! Jadi aku akan mengabulkan keinginanmu untuk bersenang-senang" ucap Finn dengan keras dan sangat dingin menusuk
"Kalian semua, bawa wanita ini ke ruangan belakang. Kalian bebas melakukan apapun padanya, aku tidak peduli kalian menyakitinya atau tidak. Asalkan jangan membuatnya mati" Ucap Finn
"Baik!" ucap pria-pria kekar itu, mereka kemudian menyeret Lidya dan menjalankan ultimatum dari tuannya.
Pria-pria itu adalah masokis yang terkenal dengan kebrutalan dan kekejamannya pada partner ranjangnya.
"Azel, Pastikan wanita itu tidak sampai mati di tangan masokis itu. Setelah mereka selesai dengan kegiatannya. Bawa wanita itu ke pulau X, buat dia menjadi pemuas penghuni pulau itu.
"Baik" jawab Azel dengan merinding mendengar perintah itu.
Jelas merinding, karena ia sangat tahu seperti apa pulau X yang di maksud Finn. Bahkan dirinya saja enggan untuk datang ke sana.
Pulau X, adalah pulau khusus di mana orang yang ada di pulau itu adalah lusinan manusia yang memiliki kebutuhan se*s yang sangat besar.
Mereka akan senang di berikan seorang wanita, dan akan memakainya secara bergilir hingga wanita manapun tidak berdaya di buatnya dan sangat menderita sebelum kematiannya.
Dan satu hal lagi, selain lusinan manusia itu memiliki kebutuhan se*s yang sangat besar. Mereka juga tidak segan untuk memakan korban yang sudah meninggal dengan cara membakar tubuhnya dan berpesta menyantapnya bersama-sama.
...••••...
__ADS_1