
Di dalam ruangan Adrian, kini ada Cheryl dan Rico yang tengah duduk di depannya. Adrian menghela nafas, ia tidak tahu mengapa Rico malah membawa putri sulungnya ke kantornya. Padahal dia meminta Rico untuk datang sendiri ke perusahaan.
Adrian mengundang Rico, terkait perpindahan aset atas nama mendiang Airani. Adrian harus meminta tanda tangan Rico sebagai suami sah, saat Airani masih hidup. Dan Rico secara hukum berhak atas aset mendiang istrinya.
"Kenapa Ayah memutuskan hubungan keluarga denganku, aku tahu aku mengaku salah karena sudah mengkhianati Rani. Tapi aku tetap putri ayah, tidak bisakah ayah memaafkanku, sekali ini saja?" ucap Cheryl dengan tampang sedihnya
"Maaf nona Cheryl, kita bukan lagi keluarga. Harap jaga sikap sopan santun anda, saya bukan lagi ayahmu sejak kau menyakiti adikmu sendiri. Dan lagi, keputusan saya sudah bulat dan sudah di sahkan oleh hukum. Jadi mulai hari ini kita adalah orang asing, dan silahkan keluar dari ruangan saya karena anda bukan tamu saya, sebelum saya memanggil security untuk menyeret anda keluar!" ucap Adrian tidak bergeming dengan tangis buaya Cheryl.
"Aku benci ayah, aku benci!!" teriak Cheryl sambil menghentakkan kakinya kemudian keluar dari ruangan Adrian dengan kesal.
Ia memutuskan untuk menunggu suami nya di dalam mobil saja, jadi dia keluar dan menuju lift. Siapa sangka, saat pintu lift terbuka dan ia hendak melangkah keluar. Tanpa ia tahu, dia berpapasan dengan adik yang sudah tidak ia kenali lagi karena sudah berbeda tubuh.
Cheryl yang tidak mengenali Elie yang adalah Rani, menyenggol bahunya dengan cukup keras karena terdiam dan menghalangi jalannya untuk keluar dari lift.
"Kalau bengong jangan di tengah jalan, sialan!" teriak Cheryl sambil berlalu meninggalkan perusahaan menuju area parkir, di mana mobil Rico terparkir.
...
Di depan Lift, Elie masih syok melihat wajah yang paling ia benci dan paling tidak ingin di lihatnya di dunia ini selain Rico, mantan suaminya. Tentu saja itu adalah Cheryl, kakak perempuan yang sudah menusuknya dari belakang, bermain api dengan iparnya sendiri.
Setelah menghela nafasnya, Elie yang masih gemetar menekan tombol lift lagi yang pintunya sudah tertutup kembali itu. Setelah pintu lift terbuka ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai paling atas.
Ting!
Pintu lift terbuka,
"Selamat sore nona Queen"
__ADS_1
Elie di sambut oleh Diki dan di persilahkan untuk masuk ke dalam ruangan Adrian. Elie mengangguk dan masuk setelah Diki mengetuk pintu dan terdengar suara Adrian mengizinkannya masuk.
"Nona Queen, kau sudah datang. Ayo silahkan duduk di sini" ucap Adrian dengan senyum tulus melihat putri angkatnya sudah datang.
Mendengar nama Queen di sebut, jantung Rico berdetak. Rico juga tidak tahu kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat. Namun ia menepis perasaan itu dan menghubungkan jika keduanya memiliki nama depan yang sama dengan mendiang istrinya, hingga jantungnya tiba-tiba berdetak cepat.
"Ayah,mm maksudku tuan Adrian. Siapa nona ini?" tanya Rico menatap wajah Elie yang tertutup masker
Elie hanya diam saja, sejujurnya saat ini badannya tengah gemetar sejak bertemu dengan Cheryl di tambah dengan Rico yang ada di hadapannya saat ini.
Tiba-tiba saja, bayangan pengkhianatan yang di lakukan keduanya dan juga rasa sakit ketika jatuh di tangga dan kehilangan anak yang berada di rahimnya kala itu.
Elie berusaha menekan rasa amarahnya, agar tidak menerjang pria di hadapannya itu. Ingin sekali ia menghabisi orang di depannya saat ini juga.
"Maaf tuan Adrian, saya ke toilet sebentar" ucap Elie, ia memilih untuk menenangkan dirinya dulu.
"Oh silahkan. Diki, tolong tunjukan Nona Queen di mana letak toiletnya" ucap Adrian, ia menyadari tubuh Queen yang bergetar melihat Rico.
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengingat apa yang telah di lakukan Rico dan Cheryl terhadap Airani. Membuatnya ingin sekali menghukum keduanya dengan berat dan memukuli wajah pria menjijikan di depannya itu.
"Tu-tuan Adrian, anda kenapa?" tanya Rico dengan bingung melihat raut wajah Adrian memerah karena menahan amarah.
"Tidak apa-apa. Tolong jaga kesopananmu pada Nona Queen, Rico. Jika kau ingin tahu, dia adalah Queen si legendara bisnis, orang terkaya nomor satu di negara ini, pemilik Q.A Group" ucap Adrian
Sontak itu membuat Rico terkejut, kenyataan bahwa dirinya bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan orang terkaya nomor satu di negara ini. Tentu saja hal ini membuatnya senang dan bangga. Karena sangat sulit menemui orang terkaya nomer satu di negaranya itu.
"Be-benarkah itu Queen, legenda bisnis ?" ucap Rico masih dengan mode terkejut nya.
__ADS_1
"Ya itu benar. Tapi saya merasa kesal karena kau membawa Cheryl ke sini tanpa persetujuan ku" ucap Adrian
"Maaf ay T-Tuan. itu karena Cheryl memaksa ikut meskipun saya melarang nya" ucap Rico
"Ya, kali ini aku maaf kan. Dan asal kau tahu, saya meminta mu datang ke sini, itu karena aku membutuhkan tanda tanganmu untuk peralihan saham Air Hotel" ucap Adrian tanpa basa-basi.
"Kenapa saya harus tanda tangan?" tanya Rico merasa heran.
"Hotel itu atas nama Airani, dan kau sebagai suaminya sampai ia menutup mata. Jadi secara otomatis saham ini mengarah padamu sebagai ahli waris, kecuali Airani sudah menuliskan wasiat sebelum ia meninggal dan memutuskan untuk siapa semua asetnya di wariskan" ucap Adrian.
"Maaf, peralihan saham ini atas nama siapa? Apa itu atas namaku?" tanya Rico
"Kau terlalu tinggi memandang langit, Rico. Tentu saja aku memintamu tanda tangan peralihan saham atas nama Nona Queen" ucap Adrian
"Apa maksud Ayah? Ini adalah aset milik istriku, aku tidak akan memberikannya pada orang lain" ucap Rico
"Apa kau masih menginginkan harta Rani setelah kau mengkhianati dan menyakiti fisik dan batinnya, hah?" ucap Adrian dengan nada tinggi.
"Bukan begitu Ayah" ucap Rico
"Jangan panggil aku ayah, aku tidak sudi di panggil ayah oleh pria bajingan seperti dirimu!!" ucap Adrian lagi.
"Saya tidak mau tanda tangan, itu milik Rani istriku. Aku tidak akan memberikannya pada orang lain, aku sendiri yang akan mengelola hotel itu. Aku tidak peduli dengan keuntungan, jika tuan ingin mengambil keuntungannya silahkan saja. Tapi jangan harap hotel itu berpindah nama, karena sampai kapan pun aku akan mempertahankan milik Rani yang masih ada" ucap Rico tanpa tahu malu.
"Kau... dasar kau tidak tahu malu!!" teriak Adrian.
"Terserah Tuan ingin mengatakan apa, aku tetap akan mempertahankannya. Apa yang bisa anda lakukan jika aku tidak tanda tangan? Aku pastikan Aset Rani akan aku jaga sampai aku mati" ucap Rico tetap mempertahankan ego-nya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh tanda tanganmu untuk memiliki Air Hotel, tuan Sebastian" ucap Elie yang tiba-tiba datang.
...••••...