
Elie terkejut saat melihat William ada di depannya.
"Tuan William, maafkan saya, saya tidak bisa" ucap Elie menolaknya dengan halus.
"Saya mohon nona" ucap William memohon.
Elie gamang, ia melihat jam yang melingkar di tangannya. Lima menit lagi kelasnya akan di mulai.
"Tuan William, maaf sebentar lagi kelas saya akan di mulai. Jika anda tidak keberatan, aku punya waktu saat jam makan siang, setelah kelas berakhir" ucap Elie memilih jalan tengah
"Baik, kalau begitu saya tunggu di restoran seberang sana saat jam makan siang" ucap William
"Tentu" ucap Elie.
Elie melanjutkan menuju ke kelasnya, setelah kelas berakhir, Elie memenuhi janjinya untuk bertemu dengan William di restoran seberang kampus.
"Selamat siang nona. Maaf apa anda sudah reservasi atau belum? Jika belum bisa kami bantu pesankan meja untuk di ruangan atau di area umum" ucap pelayan dengan sopan.
"Siang juga mba, saya sudah janji dengan seseorang atas nama William" ucap Elie
"Apa anda nona Aurelie?" tanya pelayan itu lagi
"Benar" jawab Elie
"Mari ikut saya kalau begitu nona, ruangannya sebelah sini" ucap pelayan lagi
Elie mengikuti langkah pelayan itu menuju ruang VIP di restoran tersebut. Setelah sampai dan menunjukan yang mana ruangannya, pelayan itu pamit pergi.
Tok! Tok! Tok!
Elie mengetuk pintu dan masuk saat William membuka pintu ruangan itu. Elie terkejut karena bukan dirinya dan William saja yang berada di ruangan itu. Meriana, nyonya Demetri juga berada di dalam ruangan.
"Selamat siang Nyonya Demetri" sapa Elie sopan.
"Selamat siang nona Aurelie, mari silahkan duduk" ucap Meriana lembut.
"Silahkan pesan makanannya nona" ucap William pada Elie menyodorkan buku menu.
__ADS_1
"Tolong, orange Juice saja, terimakasih tuan William" ucap Elie sopan.
"Maaf Nyonya, ada hal apa anda ingin menemui saya?" tanya Elie to the point, namun ia tidak terkesan sombong ataupun merendah dalam nada suaranya.
"Maksud saya menemuimu, mungkin nona Aurelie sudah bisa menebaknya. Tentu saja perihal putra saya Sean. Saya sebagai seorang ibu di sini meminta tolong pada anda untuk sedikit lebih lembut dengan putra saya. Bisakah anda memberikan kesempatan untuk Sean, agar bisa masuk kedalam hatimu? Saya sudah mendengar semuanya dari William tentang penolakan anda sebelumnya" ucap Meriana
"Maafksn saya Nyonya, jawaban saya tetap tidak bisa" ucap Elie
"Saya mohon, sekarang kondisi Sean tidak lah baik. Dia sudah menderita sejak kecil, dia tidak pernah merasakan bahagia selama ini selain dengan kehadiranmu. Saya akan lakukan apapun agar nona Elie bersedia menerima dan memberikan kesempatan untuk Sean" ucap Meriana memohon.
"Nyonya tolong jangan seperti ini, anda tahu jika saat ini saya sudah memilih dan menjalani hubungan dengan Finn, yang tidak lain keponakan anda dan sepupu dari Sean. Saya tidak bisa melepaskannya karena saya mencintainya" ucap Elie apa adanya.
"Nona, tolong anda pikirkan lagi. Finn bisa mencari dan berhubungan dengan wanita lain, saat hubungan dengan anda berakhir. Tapi Sean, dia tidak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa bersentuhan dengan wanita lain selain anda. Jika anda meninggalkannya, dunianya akan hancur selamanya. Setidaknya tolong datang jenguk Sean dan berikan semangat, dia bahkan tidak bisa di berikan perawatan dengan baik. Karena tidak bisa di sentuh oleh dokter dan perawat yang menanganinya" ucap Meriana.
"Nyonya salah, tidak selamanya sudut pandang di ambil dari perasaan Sean saja. Tapi Finn juga manusia yang memiliki perasaan dan dia juga bisa terluka. Dan saya tidak sanggup melihatnya terluka, nyonya.
Saya bukan tidak ingin menjenguk Sean, tapi tidak dalam waktu dekat, tidak akan baik untuk Sean jika saya berada di dekatnya saat ini. Yang ada dia semakin terluka, karena akan sulit baginya untuk bangkit dari rasa sakitnya. Anda juga salah jika mengatakan hanya saya yang bisa menyentuh Sean tanpa mengakibatkan reaksi padanya" ucap Elie
"Maksud anda?" ucap Meriana terkejut.
"Anda bisa tanyakan hal itu pada tuan William, benarkan tuan William" ucap Elie tersenyum menoleh ke arah William.
"Dan aku beri tahu sesuatu rahasia lain. Tahukah anda tuan Will, kakak ku selain berkarir menjadi model, Dia juga seorang dokter dengan lulusan terbaik tahun lalu. Namun dia memilih meneruskan menjadi model karena ia sangat menyukai bidang itu" ucap Elie membuat William terkejut.
Willian tentu saja tahu, mengapa Elie mengatakan hal itu padanya. Dan mungkin saja yang di bilang Elie benar, bukan tidak ada jalan lain.
"Cinta tidak bisa di paksa, namun tidak jarang Cinta juga bisa di tumbuhkan. Tapi bukan aku orangnya, karena aku sudah memilih jalan dan orang yang akan berjalan bersamaku di masa depan. Tapi mungkin orang lain bisa melakukannya bersama Sean" ucap Elie lagi.
Setelahnya Elie pamit pergi, karena ia memiliki satu kelas lagi yang harus di hadiri hari ini. Sedangkan Meriana kini terpaku pada William untuk meminta penjelasan.
Akhirnya William menjelaskan yang di maksud Elie, yang tentunya membuat Meriana terkejut tentang apa yang ia dengar dari asisten putranya itu.
...
Finn tersenyum saat ia menginjakan kakinya kembali di Indonesia, ia bersama Arthur dan Eveline tiba di Indonesia setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 17 jam.
"Selamat siang dan selamat datang kembali, ketua" ucap Justin yang menjemput ketiganya di Airport.
__ADS_1
Ketiganya masuk ke dalam mobil, Finn membuka ponselnya ia meretas CCTV di kampus, sudut bibirnya terangkat saat melihat Elie masih ada kelas.
"Ke kampus Q.A University!" ucap Finn.
"Baik" ucap Justin yang melajukan mobilnya menuju Q.A University.
Dan di sinilah Finn berada, ia berdiri di depan mobil Elie yang terparkir di parkiran kampus. Sedangkan Justin, Arthur dan Eveline tidak beranjak dan masih berada di area kampus.
Karena Arthur penasaran dengan wanita yang sudah mencairkan hati Finn, jadi mereka melihatnya dari jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, agar bisa melihatnya.
Secara kebetulan, Dareen juga berada di area parkir. Mobilnya terparkir tepat di samping mobil Elie. Melihat laki-laki yang berdiri di depan mobil Elie, namun ia tidak melihat wajahnya karena posisi orang itu membelakangi dirinya.
Elie yang keluar dari kelas berjalan menuju area parkir, namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang yang ia rindukan berdiri di depan mobilnya dan tersenyum ke arahnya.
Elie bergegas menghampirinya, senyumnya tidak luntur dari wajahnya mengiringi langkah kakinya.
"Astaga, bidadari ku tersenyum padaku? Cantiknya... Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Sekarang dia datang menghampiriku?" gumam Dareen pelan yang hanya di dengar dirinya sendiri.
Ia begitu senang dan bersemangat saat melihat Elie tersenyum dan berjalan dengan cepat ke arahnya. Dareen dengan percaya diri membuka kedua tangannya.
GREP!!!
"Ehh...." Mulut Dareen terbuka lebar.
Bukan dia yang di peluk, melainkan pria yang berada tak jauh darinya.
Elie kini menghamburkan dirinya ke pelukan hangat Finn, pria yang sangat ia rindukan.
"Finn..." ucap Elie memeluk Finn erat
"Ya ini aku, apa kau merindukanku?" tanya Finn, Elie tidak menjawabnya dan mengangguk dalam pelukan Finn.
Finn membalas pelukan erat kekasihnya itu, Bibirnya tersungging sebelah ke atas. Ia adalah pria yang peka, dia tahu jika pria bule yang saat ini di belakangnya tengah memperhatikannya dan tentu saja Finn tahu jika pria itu menyukai gadisnya.
Sedang tak jauh dari mereka tiga orang memperhatikan bos dan juga gadisnya.
"Kak Queen..." ucap Evelin lirih dan meneteskan air matanya saat melihat Elie dari kejauhan.
__ADS_1
...••••...