
Setelah selesai berkutat pada dokumen di depannya, Elie melihat jam di ponsel miliknya, sudah setengah enam sore. Tidak terasa ia bekerja sampai hari sudah mulai gelap.
Elie menoleh ke arah pintu, Daniel tidak memberi tahunya jika hari sudah mulai gelap. Namun sedetik kemudian ia menyadari, jika mungkin Daniel dan Keegan tidak berani masuk. Karena beberapa jam yang lalu ia dalam keadaan mood yang buruk.
Elie menekan interkom memanggil Daniel untuk ke ruangannya. Meskipun setengah jam yang lalu karyawan sudah pulang, kecuali mereka yang lembur. Tapi Elie yakin Daniel tidak akan pulang sebelum dirinya pulang.
"Ke ruangan ku sekarang!" ucap Elie
Tok! Tok! Tok!
"Masuk" ucap Elie
Ceklek!
Daniel membuk pintu dan beranjak masuk lalu berdiri tak jauh dari meja Elie.
"Kau sudah selesai mengerjakan pekerjaan mu, Niel?" tanya Elie.
"Sudah Nona" jawab Daniel membuat Elie mengangguk
"Bagus, sekarang kau ikut denganku" ucap Elie yang kini sudah berdiri setelah merapihkan dokumen di atas meja kerjanya.
"Baik" ucap Daniel.
Keduanya keluar dari ruangan, dan bergegas ke mansion pribadi miliknya. Elie sengaja tidak pulang ke rumahnya dulu dan memilih ke Mansion miliknya untuk membersihkan diri dan Menganti pakaiannya.
Daniel hanya menurut saja, ia juga membersihkan dirinya di kamarnya sendiri. Yaps, Baik Daniel maupun Keegan memiliki kamar sendiri di mansion ini. Dan pakaian miliknya juga sudah tersedia di sana.
Dan kini keduanya sudah berada di dalam mobilnya masing-masing. Tentu saja karena nanti saat pulang dari Club' mereka tidak akan searah.
Mare Club' Nama itu terpampang di depan sebuah gedung. Daniel yang heran mengapa mereka datang ke tempat ini, namun ia tetap masuk mengikuti Elie yang sudah lebih dulu melangkah ke dalam.
Tentu saja Daniel heran, karena Elie sejak dulu tidak suka menginjakan kaki ke tempat berisik seperti ini, kecuali saat ia sedang menjalankan misi di The Darkness.
__ADS_1
Masih jam tujuh, di sana masih relatif sepi karena club' baru buka. Biasanya semakin malam semakin ramai orang yang datang ke tempat hiburan malam itu.
Juga perlu di garis bawahi, beda tempat, beda pula jam operasional Club' malam. Namun Mare Club' yang merupakan Club kelas menengah itu buka mulai jam 7 malam.
Elie dan Daniel duduk di sebuah meja, tentu saja keduanya tidak memesan minuman beralkohol. Meskipun keduanya memiliki toleransi alkohol yang tinggi dan tidak mudah mabuk.
"El, kenapa kita datang ke tempat ini? Bukannya kau tidak menyukai tempat berisik seperti ini, ya? Dan kenapa kau mengajakku ikut ke sini?" tanya Daniel
"Kau banyak bertanya, Niel. Aku juga malas berada di tempat seperti ini. Jika aku tidak memiliki kepentingan yang darurat, aku juga tidak mau. Aku mengajakmu, tentu saja karena aku tidak suka di dekati pria tidak jelas" ucap Elie.
"Hmm aku mengerti. Kamu pastinya tidak suka jika di dekati pria hidung belang penghuni setia club" ucap Daniel mengangguk paham.
Meskipun Elie memakai masker, tapi tidak menutupi aura dan kecantikan di balik masker yang ia kenakan itu.
Tak lama, Elie melihat beberapa orang yang terlihat muda masuk ke dalam sebuah ruangan di sana. Elie mengenali salah satunya yaitu Roni, dan beberapa teman laki-laki sekitar lima orang.
Setengah jam kemudian masuk Lusi dan dua orang wanita lainnya. Lusi memakai pakaian dan rok mini yang cukup ketat. Sedangkan dua lainnya hanya menggunakan Dress selutut.
Elie melihat jika salah satunya merasa tidak nyaman, seakan meminta pada temannya untuk kembali. Gadis itu terlihat seperti duplikat Fara namun dalam versi muda.
"Lus, kenapa kita ke tempat seperti ini. Aku tidak mau, ayo kita kembali saja" ucap Moza
"Janganlah, kita sudah sampai disini masa harus balik lagi. Setidaknya kita menghargai Roni dan memberikan selamat ulang tahun untuknya" ucap Lusi
"Tapi Moza bener Lus, masa acara ulang tahun di tempat seperti ini. Aku juga merasa nggak nyaman ada di tempat ini" ucap Salah satu gadis lainnya.
"Nggak lama ko Ria, paling kita di sini setengah jam aja, abis itu kita pamit pulang. Pasti Roni juga mengerti, yang penting niat baik kita untuk datang" ucap Lusi masih berusaha membujuk keduanya.
Dan akhirnya keduanya menyerah dan ikut Lusi masuk ke dalam satu ruangan. Elie mengatur mini kameranya ikut masuk ke dalam ruangan itu untuk memantau situasi di dalam sana.
"Yo, kalian sudah datang. Ayo silahkan duduk cantik" ucap Roni dengan senyum manisnya.
"Selamat ulang tahun ya Roni, aku doakan semoga apa yang kamu inginkan segera tercapai" ucap Lusi yang menyerahkan hadiahnya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Roni" ucap Moza
"Selamat ulang tahun Roni" ucap Ria
Moza dan Ria meskipun tidak nyaman, mereka tetap memberikan selamat dan kado untuk Roni.
"Terimakasih kalian sudah datang di acara ulang tahunku. Ayo silahkan duduk" ucap Roni
Di atas meja sudah ada kue ulang tahun yang sengaja Roni beli agar Moza tidak mencurigai pesta yang ia buat adalah kebohongan semata. Ada juga minuman beralkohol dan juga jus di sebuah teko kaca.
"Apa hanya segini yang datang?" tanya Ria yang merasa aneh karena hanya mereka bersembilan.
"Sebenarnya masih ada beberapa lagi, tapi mereka masih ada di jalan dan belum sampai" ucap Roni yang di angguki Ria.
"Ayo kita bersulang" ucap Roni memberikan gelas berisi minuman beralkohol.
"Maaf aku tidak minum alkohol" ucap Moza
"Aku juga" ucap Ria yang sependapat dengan ucapan Moza.
"Hmm kalau begitu ganti dengan jus jeruk saja, bagaimana?" ucap Roni yang di angguki Moza dan Ria.
Roni menuangkan jus jeruk ke dalam tiga gelas dan memberikan kepada ke tiga gadis itu. Mereka di dalam ruangan bersulang dan meminum minuman mereka masing-masing.
Roni menyeringai saat ketiga gadis itu minum jus mereka. Tentu saja Roni sudah menebak jika Moza menolak minum beralkohol, jadi dia menawarkan Orange Juice yang sebelumnya sudah ia berikan obat.
Elie dan Daniel melihat melalui tablet yang di mana video yang di ambil nyamuk buatan Elie. Elie tahu jika minuman itu pasti di berikan sesuatu.
"Niel, hubungi Dokter Vano, suruh ia datang ke Air Hotel. Suruh ia bawa obat di gudang obat di kotak nomer 6" ucap Elie
"Ah, iya, baik" ucap Daniel
Mendengar itu Daniel yang awalnya bingung kenapa ia mengawasi beberapa remaja. Ia tahu sekarang, yang pasti Elie ingin menyelamatkan gadis yang ada di dalam ruangan itu. Karena Elie meminta Dokter Vano membawa kotak nomer 6, yang ia tahu jelas apa kegunaan obat yang di buat langsung oleh Elie itu.
__ADS_1
...••••...