
Kediaman Demetri
Sean dan William baru sampai di kediaman Demetri jam 7 kurang. William melihat tuan mudanya berdecak malas saat turun dari mobil, dia bukannya tidak tahu jika tuan mudanya malas bertemu dengan keluarga dari ibunya itu, terlebih kakeknya yang selalu mendesak dirinya untuk segera menemukan pasangan.
Yang membuat Sean makin malas adalah kehadiran Michelle, wanita manja yang suka sekali menempel padanya sejak dulu. Untung saja Sean selalu menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengan wanita itu.
"Sean kau sudah pulang nak" ucap Meriana, ibu dari Sean
"Hmm" jawab Sean kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya berada.
Ia mengabaikan tatapan tajam dari kakek dan neneknya, juga tatapan memuja dari Michelle.
"Tidak ada yang berubah, kenapa anak mu menjadi semakin dingin Ana?" tanya Janetta Chu, nenek Sean. Menggunakan bahasa mandarin tentunya.
Keluarga Sean memang wajib fasih berbicara bahasa mandarin karena didikan sang ibu, Meriana. Jadi percakapan dengan bahasa mandarin tidak asing di rumah ini. Bagaimana pun Meriana berasal dari negeri tirai bambu tersebut.
"Seperti itu lah bu" jawab Meriana
"Bibi, apa Kak Sean sudah memiliki kekasih?" tanya Michelle dengan penasaran.
"Belum" jawab Meriana membuat Michelle merasa senang, namun itu hanya sementara setelah Meriana melanjutkan ucapannya, ada perasaan sakit di hati Michelle.
"Tapi yang aku tahu dia saat ini tengah menyukai seorang gadis. Bahkan dia berani menyentuhnya tanpa mengalami reaksi apapun di tubuhnya. Sepertinya gadis itu pengecualian untuk OCD Sean" ucap Meriana.
Raut wajah Michelle menjadi pias, ia merasakan cemburu dan tidak rela saat mendengar kabar itu.
Setelah mereka mengobrol dan saat ini mereka semua kumpul di ruang makan, termasuk Sean. Suasana di meja makan sangat sunyi sebelum acara makan di mulai, sampai akhirnya Jackson Chu membuka suaranya.
"Sean" panggilnya, yang di panggil hanya menoleh menatap ke arah sang kakek tanpa menjawabnya.
"Bagaimana kabarmu dan juga pekerjaanmu? Kakek dengar sore tadi ada pertemuan untuk mendapatkan tender" ucap Jackson.
"Kabarku baik, semua pekerjaan lancar dan aku memenangkan salah satu tender sore tadi" ucap Sean dengan nada datar namun tidak dingin.
"Kerja bagus, kau memang cucuku paling berbakat dan berharga. Kau benar-benar membanggakan" ucap Jackson
Namun tidak ada reaksi berlebihan dari Sean, hanya ada ucapan terimakasih yang keluar dari mulutnya, setelah itu dia diam lagi.
"Kak, mau makan apa? Biar nanti aku ambilkan" ucap Michelle dengan senyum manis di wajahnya mengarah pada Sean.
__ADS_1
"Tidak perlu!" ucap Sean dingin, dia tidak suka miliknya di sentuh orang lain. Dan alat makan yang di sediakan untuknya adalah set khusus.
Ucapan dingin Sean membuat Michelle sedih, apalagi saat ia teringat kejadian saat ia menyentuh tangan Sean dan membuat laki-laki yang di cintainya itu hampir kehilangan nyawanya.
Jadi ia mencoba menahan diri untuk tidak menyentuh Sean. Meskipun ia ingin sekali lebih dekat dengan pria tampan yang duduk tenang di seberang meja.
Dan dia juga berusaha membantu keluarga untuk menemukan dokter terbaik, untuk menyembuhkan OCD Sean.
"Aku dengar kau sedang dekat dengan seorang wanita" ucap Jackson memecah suasana lagi
"Hmm..." ucap Sean dengan wajah sedikit memerah kala mengingat Aurelie.
"Astaga wajahmu memerah, apa kau memikirkan gadis itu sekarang? Ha-ha" tawa Jackson pecah melihat ekspresi cucu laki-lakinya itu, ia sungguh tidak menyangka Sean bisa bersemu merah.
"Ayah jangan meledaknya seperti itu, lihat wajah keponakanku sudah seperti kepiting rebus ha-ha" ucap James, paman Sean, kakak satu-satunya Meriana.
"Seperti apa gadis itu? Apa dia gadis dari keluarga baik-baik?" tanya James dengan lembut.
"Ya, dia gadis yang baik, cantik, cerdas dan juga luar biasa. Tentu saja dia berasal dari keluarga yang sangat baik" ucap Sean dengan sedikit senyum melengkung di wajahnya.
Semua orang dia meja makan terkejut melihat manusia kutub itu bisa tersenyum saat menceritakan seorang gadis di depan mereka.
Berbeda dengan Michelle yang mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia sangat kesal Sean memuji wanita lain dan juga terlihat bahagia saat menceritakannya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya mendengarkan dan menahan emosinya.
"Tapi aku belum berhasil mendapatkan hatinya. Dia gadis yang sangat luar biasa dan susah untuk di gapai" ucap Sean membuat semua orang terkejut lagi.
"Bagaimana bisa ada wanita yang tidak bisa kau dekati? Kau tampan, kaya dan pastinya setia. Apa yang membuatmu sulit mendekatinya? Kau bisa memberinya sesuatu yang dia inginkan atau memberikan kejutan untuk memenangkan hatinya" ucap Jackson
"Dia berbeda dari gadis lain, kek. Dia tidak kekurangan apapun, bahkan dia bisa mendapatkan apapun yang ia mau dengan usahanya sendiri, tidak mengandalkan orang lain. Dia juga memiliki sedikit trauma dengan hubungan, dia pernah di khianati oleh orang yang dulu ia sukai dan dia percaya" ucap Sean.
Semua orang tertegun, bukan hanya karena cerita tentang gadis yang di sukai Sean. Tapi juga ini pertama kalinya Sean mengucapkan kalimat yang begitu panjang. Jadi mereka yakin jika gadis ini pasti istimewa bagi Sean.
"Apa dia seorang pengusaha atau anak orang kaya? Meskipun dia anak orang kaya tapi tidak mungkin menyaingi harta keluarga Demetri ataupun kakekmu ini, bukan?" ucap Jackson percaya diri
Meriana hanya diam menyimak, sedikitnya dia sudah mengetahui identitas dari calon menantunya itu. Dan dia setuju jika Sean bisa dekat dan bersama dengan Aurelie.
"Keluarga kita memang lebih kaya dari pada keluarganya. Namun aset milik pribadinya justru lebih besar dari aset milik kakek. Dia adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses" ucap Sean memuji Aurelie dengan tulus dan apa adanya.
Semua orang terkejut lagi dan lagi, mereka penasaran wanita seperti apa yang beruntung di sukai Sean dan sekaya apa dirinya, hingga Sean mengatakan lebih kaya dari keluarga Chu.
__ADS_1
Meriana juga sama terkejutnya, karena yang ia tahu, Aurelie adalah anak bungsu dari keluarga Adhisti dan dia juga seorang mahasiswi di Q.A University.
"Sepertinya aku harus mengorek informasi lebih dari William. Beraninya dia tidak mengatakan semua informasi calon menantu padaku" ucap Meriana dalam hati.
Mereka semua kini tengah menikmati makan di atas meja dengan pikirannya masing-masing.
...
Di tempat yang berbeda, Finn dan Aurelie tengah berada di Foodcourt pusat kota. Dengan makanan di depan mereka, dan di selingi dengan obrolan. Yang tentu saja makanan Finn, Aurelie yang menyuapinya.
Finn menatap Aurelie yang fokus menyuapinya dan juga dirinya sendiri secara bergantian. Fokus Finn teralihkan karena tatapan memuja dari laki-laki yang berada di sekitarnya.
Ia sendiri bahkan tidak sadar jika dirinya juga menjadi pusat perhatian dan pemandangan indah bagi kaum hawa karena ketampanannya.
Finn sebisa mungkin tidak membatin. Ia menyadari jika Aurelie terlalu mempesona dan pastinya ia memiliki banyak saingan cinta di sekitarnya.
Ia sadar jika ia tidak segera bergerak cepat, mungkin ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Aurelie.
"El..." panggil Finn
"Hmm" jawab Aurelie menoleh ke arah Finn dengan mulut penuh dengan makanan lalu menelannya.
"Kau seperti anak kecil makan saja belepotan ha-ha" ucap Finn sambil menyeka sisa makanan di bibir Aurelie dengan tangan kirinya.
Degh!
Jantung Aurelie berdetak kencang, tubuhnya menegang saat ibu jari Finn menempel di pipinya dan ibu jari Finn menyeka di sudut bibirnya. Di tambah tawa Finn yang begitu memikat di matanya.
"Apa aku tampan?" tanya Finn saat melihat Aurelie tengah menatapnya.
"Ya" tanpa sadar Aurelie mengiyakan pertanyaan Finn, membuat Finn senang tentu saja.
"Apa kau menyukaiku?" tanya Finn lagi dengan tatapan terpaku pada Aurelie sedang tangannya masih berada di wajah Aurelie.
"Mungkin sa... ahh... aku tidak tahu" ucap Aurelie seketika sadar, ia menjadi sangat gugup dan mengalihkan tatapannya dari Finn.
"Aku menyukaimu" ucap Finn sukses membuat Aurelie terkejut dan menoleh kembali menatap mata Finn.
Ia mencari tahu dari mata Finn, apa dia bercanda? Namun ia tidak melihat jika Finn bercanda. Justru tatapan hangat itu penuh cinta di matanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf El, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku menyukaimu El, lebih tepatnya aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" ucap Finn dengan serius dan tatapan penuh cinta pada Aurelie.
...