
Moza sudah selesai mandi, ia memakai pakaian rumahan. Setelahnya ia keluar dari kamar dan bergegas turun dari tangga. Ia melangkah menuju ruang tamu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Lalu ia beranjak ke ruang makan yang letaknya berdekatan dengan dapur. ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun ia tidak melihat orang yang ia cari, hanya mamahnya saja yang terlihat menyusun makanan lezat di atas meja.
"Kamu sedang ngapain, Za? Nyari apaan?" tanya Fara
"Kak El mana mah?" tanya Moza balik
"Elie sudah pergi sejak tadi. Ia bilang ingin menemui Sean" ucap Fara apa adanya
"Loh, kok mamah izinin? Kalau kak Elie di rebut kak Sean gimana? Moza nggak mau kak Elie di ambil kak Sean" ucap Moza cemberut mendengar ucapan mamahnya.
"Kamu ini ada-ada aja. Bukannya Elie sudah beritahu kamu waktu di salon. Kalau ia hanya menganggap Sean sebagai temannya. Barang kali Sean memang ada keperluan yang harus di bahas dengan Elie, mungkin urusan pekerjaan" ucap Fara.
"Iya sih kak El udah bilang begitu, tapi kan bisa jadi Kak Sean nekad nembak kak El. Kan gawat mah" tebak Moza.
"Mamah nggak tahu kalau hal seperti itu, yang jelas kamu berdoa aja supaya hubungan kakak kamu dan Elie baik-baik saja. Jangan berpikir macam-macam" ucap Fara
"Kalau Do'a sudah pasti mah, Moza nggak mau kakak ipar yang lain. Moza maunya cuma kak El aja yang jadi kakak ipar Moza" ucap Moza
"Ya, mamah juga berharap begitu. Entah mengapa perasaan mamah yakin kalau Elie setia dan mencintai kakak kamu" ucap Fara
"Moza juga berharap seperti itu" ucap Moza.
"Sudah-sudah, sini kamu makan dulu. Perut kamu harus di isi biar sehat dan nggak gampang sakit. Urusan El lihat nanti" ucap Fara.
"Iya mah, Papah mana?" tanya Moza tidak melihat Papah nya juga.
"Papah lembur dan pulang telat hari ini" ucap Fara.
Moza mengangguk dan duduk di kursi, ia mengambil nasi dan lauknya sendiri. Ia juga menawari mamahnya untuk di ambilkan nasi dan lauk.
Keduanya kemudian makan malam berdua dengan lahapnya sambil sesekali mengobrol dan saling berbagi pendapat.
...
Senyum di wajah Sean mengembang saat ia melihat Elie benar-benar bersedia datang menemui dirinya.
Sean segera berdiri dan menarik kursi untuk Elie duduk.
"Silahkan duduk" ucap Sean.
__ADS_1
"Terimakasih" balas Elie
Elie melihat di sekelilingnya, restoran itu sangat sepi, tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua.
Jadi sudah di pastikan jika tempat ini sengaja di booking oleh Sean. Elie menghela nafas saat mengetahui hal itu. Terlebih saat ia melihat lilin menyala di atas meja. Dan pemandangan kota pada malam hari terlihat dari sana, karena ia duduk di bagian tepi.
Suasana di sana terlihat sangat romantis, Elie bukan orang bodoh, jelas ia sudah menebak apa yang sebenarnya ingin di bicarakan Sean dengan dirinya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Elie to the point.
"Kenapa buru-buru? Bukankah lebih baik kita makan dulu, baru nanti kita bicara hal yang penting. Kau pesanlah, di sini semua makanan nya enak dan higienis" ucap Sean dengan senyum manisnya, menyodorkan buku menu.
"Baiklah, aku pesan ini dan ini" Elie menurut dan memesan makanan yang ia inginkan.
Pelayan yang di panggil Sean, sudah ada di sana mencatat pesanan Elie dan Sean.
Keheningan menyelimuti keduanya saat menunggu makanan datang, Elie sedikit merasa canggung. Karena sejak tadi Sean terus menatapnya.
Tentu Sean saat ini menikmati memandang wanita cantik yang selalu membuat dia terbayang-bayang. Wanita pertama yang mampu mengobrak-abrik hatinya.
Untung saja makanan cepat datang dan sekarang mereka mulai makan dengan khidmat dan menghabiskan makanan yang sudah di hidangkan di atas meja.
"Hmm" balas Elie menoleh ke arah Sean.
"Aku ingin minta maaf, atas apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, saat kau datang ke rumahku untuk bertemu keluarga dari pihak ibuku" ucap Sean menatap Elie lembut.
"Tak usah di bahas lagi, aku sudah mengatakannya sejak awal. Aku sudah menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi, jadi kamu tidak perlu minta maaf dan tidak enak hati" ucap Elie
"Syukurlah jika kau sudah memaafkan ku dan keluarga" ucap Sean tersenyum hangat.
"Ya, tidak masalah. Itu hanya masalah kecil" ucap Elie tidak mempermasalahkan nya lagi.
"El, boleh aku mengatakan sesuatu" ucap Sean
"Mengatakan apa? bukannya dari tadi kamu sudah bicara" ucap Elie.
"He-he benar juga, tapi aku serius ingin bicara hal serius denganmu" ucap Sean
"Tentang Apa?" tanya Elie
Meskipun sebenarnya Elie sudah tahu apa yang akan di katakan Sean, namun ia tidak mencegah Sean mengatakan hal itu. Elie ingin setelah ini semua nya menjadi jelas, bukan ia jahat dan kejam menyakiti hati Sean.
__ADS_1
Hanya saja, ia tidak ingin Sean memupuk perasaan cinta padanya lebih lama dan lebih dalam lagi, itu akan menyakiti Sean lebih dalam lagi saat cintanya kian membesar seiring waktu.
"Sebenarnya A-aku... A-ku su- suka padamu El. Ah Bukan, bukan suka, tapi cinta. Aku yakin jika aku mencintaimu El, Perasaan ini ada sejak pertama kali kita bertemu dan sedikit berkonflik. Namun aku baru berani mengungkapkannya sekarang padamu" ucap Sean, menarik nafas dan mengumpulkan keberaniannya.
"Seumur hidupku, ini kali pertama aku mencintai seorang, dan orang itu adalah kamu. Tolong berikan aku kesempatan untuk mencintaimu lebih dan lebih lagi setiap harinya. Tolong berikan kesempatan untuk bisa memasuki hati mu. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan perasaan cintaku padamu.
Nona Queen Aurelie Adhisti, mau kah kau menjadi kekasihku? Aku berjanji menjadikan kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, hari ini esok dan seterusnya, dan aku juga tidak akan pernah mengkhianati mu" ucap Sean bersungguh-sungguh.
Elie tertegun mendengar ungkapan hati Sean padanya, ia tidak menyangka jika Sean begitu mencintai dirinya dengan tulus. Tapi sayangnya Sean terlambat untuk di berikan kesempatan untuk bisa masuk ke dalam hatinya.
Elie benar-benar tidak ingin melukai Sean, karena ia menghargai ketulusannya. Tapi ia lebih tidak ingin melukai laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya, yaitu Finn.
Ia tidak bisa membohongi hati kecilnya, perasaan nyaman dan perasaan berdebar dengan kencang. Perasaan tidak rela saat ada wanita lain yang mendekatinya. Perasaan tidak ingin kehilangan dan selalu ingin berdekatan. Elie hanya merasakan itu semua saat ia bersama dengan Finn, bukan dengan Sean.
Seandainya saja, Sean lebih berani menyatakan perasaan terlebih dulu, mungkin saja Elie bisa membuka hatinya. Namun sayangnya, kini hatinya sudah di miliki oleh Finn dan Elie tidak mungkin mengkhianati cinta tulus Finn padanya.
"Sean, aku menghargai perasaan mu padaku yang begitu tulus" ucap Eli menghela nafasnya.
Ia melihat Sean yang saat ini tersenyum manis menatap nya, menantikan jawaban yang keluar dari mulut Elie.
"Maaf, tapi kamu terlambat untuk aku beri kesempatan. Finn sudah memintanya terlebih dulu. Kini aku sudah membuka hatiku sepenuhnya untuk Finn dan aku sudah menjadi kekasihnya." ucap Elie
"Aku berharap kamu perlahan mengubur perasaan mu padaku. Dan membuka kembali lembaran baru untuk wanita lain. Aku minta maaf, aku ingin kamu bahagia Sean, tapi bukan denganku" ucap Elie
Elie kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia meninggalkan Sean yang masih terdiam di sana. Sebelum ia keluar dari restoran, ia mendapati William ada di sana tengah menatapnya dengan beragam emosi di matanya.
"Maaf" hanya itu yang terucap keluar dari bibir Elie pada William, kemudian ia berlalu pergi.
DEGH!!!
Jantung Sean seperti di remas, terasa sangat sakit, saat mendengar Elie telah di miliki pria lain yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Ia sudah kalah! Bukan hanya kalah start, namun ia juga kalah saat di garis Finish.
Patah hati yang di rasakan oleh Sean, Cintanya yang patah bahkan sebelum mulai bertumbuh. Sakitnya begitu meluluh lantakkan hatinya, kancur berkeping-keping.
"Haaahhh....Haaahh..." Sean tidak dapat menghentikan air mata yang turun dengan deras mengalir di pipinya, nafasnya tercekat menahan sakit di dadanya.
Dia menyesal karena terlambat untuk memulai, dia menyesal karena terlambat untuk berani mengutarakan perasaannya pada wanita yang di cintai nya. Dia menyesal karena terlambat menyadari cintanya yang kini sudah tumbuh sangat kuat di hatinya, namun gagal untuk di gapai.
••••
__ADS_1