
Ari melirik ke arah Elie yang masih terisak di pelukan Finn. Entah mengapa ia seperti melihat Airani dalam diri Elie.
Namun ia buang jauh-jauh pemikirannya yang sangat tidak masuk akal itu. Meskipun ia tidak mengerti kenapa wanita di depannya itu menangis saat ia bercerita.
"Kenapa kamu menangis saat aku menceritakan tentang Airani?" tanya Ari yang mulai tenang.
"Kau tidak perlu tahu kenapa istriku menangis" ucap Finn dengan datar dan dingin juga menatap tajam ke arah Ari.
Ari hanya mengangkat bahunya, setidaknya ia tahu jika wanita di depannya bukanlah Airani. Dan tahu pria yang sedang memeluk wanita itu adalah suaminya.
Elie melepas pelukannya dari Finn, ia menghapus air matanya dan menatap ke arah Ari.
"Kamu sudah mendapat apa yang kamu mau, lalu kenapa kamu masih menjual Cheryl ke Madam Freya?" tanya Elie yang sudah mulai menenangkan dirinya.
"Aku tidak menjualnya, karena aku tidak menerima uang sepeser pun dari Madam Freya. Aku hanya meminta Madam Freya memberikan pelajaran untuknya selama setahun agar dia merasakan apa itu kehilangan orang ia cintai dan juga rasanya di siksa oleh orang lain. Meskipun itu masih belum apa-apa di bandingkan apa yang sudah ia lakukan pada Ai" ucap Ari tanpa rasa bersalah.
"Bukankah itu artinya kamu sama saja dengannya. Kau tidak berfikir jika apa yang kamu lakukan itu salah? Bahkan Rani sendiri sudah memaafkannya meskipun dirinya yang merasakan sakit. Karena bagaimanapun mereka berdua lahir dari rahim yang sama dan memiliki ayah yang sama" ucap Elie
"Aku tahu, aku mengakuinya jika aku salah membalaskan dendam Ai tanpa meminta persetujuannya terlebih dulu. Tapi aku tidak menyesalinya. Jika kau mau membunuhku silahkan saja, aku tidak akan mengelak. Tapi aku mohon jangan sakiti istriku, biarkan dia hidup dengan baik. Dia tidak punya salah dan sangkut paut dengan tindakanku.
Aku mencintainya, meskipun rasa cintaku padanya tidak sebesar cintaku pada Rani, tapi ia adalah istri yang sangat baik. Biarkan ia yang merawat putriku Rani, aku tidak ingin putriku tinggal bersama dengan ibunya yang kejam yang berimbas buruk pada masa depan putriku kelak" ucap Ari pasrah.
"Maafkan papah Rani, mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Maafkan papah tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ayah padamu lagi, nak. Papah harap kamu tumbuh menjadi wanita baik-baik dan berhati lembut, tidak seperti ibumu yang berhati jahat. Maafkan papah sayang, maafkan Papah yang tidak bisa merawatmu sampai dewasa sesuai janji papah" ucap Ari dalam hati.
Elie yang mendengar itu memejamkan mata sejenak, ia lalu beranjak pergi keluar dari ruangan itu sambil menarik tangan suaminya, tanpa sepatah kata pun.
Ari menatap punggung Elie yang menjauh, ia meneteskan air mata lagi, meskipun Elie tidak menjawab permintaannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, di sini ia tidak memiliki hak untuk berbicara.
__ADS_1
...
"Sayang" panggil Finn saat keduanya sudah berada di dalam sebuah kamar hotel yang sama saat malam pertama mereka.
Finn menarik tubuh istrinya dan mendudukkan Elie di pangkuannya. Elie mengalungkan tangannya ke leher Finn, dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya itu.
"Mas, maafkan aku belum menceritakan soal Rio padamu. Aku pikir ini hanya masa lalu dan tidak ada artinya lagi, namun ternyata saat ini masalah justru berkaitan dengannya. Seperti yang kamu dengar darinya, itu lah kenyataannya. Rio adalah sahabat ku dulu saat aku sekolah menengah dan aku mulai menjauhinya saat ia mengatakan jika Rico bukanlah pria baik-baik, dan kakakku merencanakan sesuatu yang jahat padaku, dan aku tidak mempercayainya saat itu, karena aku pikir itu hanya bualannya semata." ucap Elie
"Mas, apa aku jahat? bukankah hal ini terjadi karena aku? Aku adalah pusat masalah itu, akulah sumber penderitaan semua orang di sekitaku. Bagi kak Cheryl aku adalah benalu dan kesialan yang membuat ibu meninggal. Dan kini, aku membuat seorang anak berpisah dari ibunya, membuat kakakku sendiri menderita dan tergolek di rumah sakit, karena sahabatku yang membalaskan dendam untukku" ucap Elie dengan rasa sesak di dadanya.
Finn mengeratkan pelukannya, dan mengecup pucuk kepala Elie.
"Tidak sayang! Kamu bukanlah beban, kesialan ataupun sumber masalah. Kau adalah sumber kebahagian dan anugerah terindah yang di berikan Tuhan untukku, ayah, dan orang-orang yang menyayangimu" ucap Finn dengan lembut.
"Itu semua bukan salahmu, mereka yang salah karena mereka bertindak sesuai kemauan mereka sendiri, bukan menuruti kemauanku. Itu pilihan mereka" ucap Finn meyakinkan istrinya.
"Lebih baik kita temui ayah, bagaimanapun beliau harus tahu tentang hal ini. Kita bisa mencari solusinya bersama-sama, aku yakin ada jalan keluar dari setiap masalah. Dan kita tunggu saat kak Cheryl siuman untuk mendengar pendapatnya, bukankah ia yang saat ini menjadi korban? Kamu tenang saja, kakakmu sudah di pindahkan ke tempat yang aman oleh Arthur" ucap Finn.
"Baiklah, kita ke ayah sekarang, terimakasih untuk semuanya mas. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu di sini, mungkin aku...." ucap Elie
"Sudah jangan di pikirkan El dan tidak perlu berterima kasih, ini sudah kewajiban ku sebagai seorang suami. Sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita baru ke kantor ayah, hari sudah malam" ucap Finn.
Elie menganggukan kepalanya, ia menurut apa yang di katakan suaminya. Ia beranjak untuk istirahat, tentunya dengan pelukan hangat sang suami.
...•••...
Keesokan harinya, Finn dan Elie sudah berangkat menuju kantor Adrian. Elie sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada ayahnya.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah tiba di perusahaan Eleanor Group. Dengan menggenggam erat tangan Finn, Elie melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Adrian.
"Ayah" ucap Elie sambil memeluk ayahnya
"Hai sayang, pengantin baru kok malah masih di sini? Nggak bulan madu?" tanya Adrian yang membalas pelukan sayang untuk anaknya.
"Aku dan Mas Finn bulan madunya di tunda dulu yah, ada masalah yang ingin kami selesaikan dulu" ucap Elie
"Masalah? Masalah apa El" ucap Adrian mengerutkan keningnya.
"Kita duduk dulu yuk yah, El akan ceritakan semuanya" ucap Elie yang di angguki oleh Adrian dan mempersilahkan pasangan suami-istri itu untuk duduk.
Mereka beranjak ke sofa tamu, Finn tidak lupa mencium tangan ayah mertuanya terlebih dulu.
"Masalah apa? Apa Finn menyakitimu?" tanya Adrian sambil melirik Finn tajam.
"Ayah, aku tidak mungkin menyakiti El. Kau tahu aku sangat mencintainya" ucap Finn bersuara.
"Benar ayah, mas Finn tidak pernah menyakitiku, dia sangat menyayangiku" ucap Elie tersenyum ke arah suaminya dan di balas senyuman yang tak kalah manis juga. Membuat Adrian pun memutar matanya jengah karena di suguhi adegan kesuwun pengantin baru.
"Lalu masalah apa, El?" tanya Adrian tidak sabar.
"Ini tentang kak Cheryl, yah" ucap Elie
"Cheryl? Ada apa lagi dengannya?" ucap Adrian dengan kening mengerut, namun dalam hati ia khawatir jika putri sulungnya itu berbuat masalah atau mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya.
...••••...
__ADS_1