
Elie mengantar Finn sampai ke halaman mansion di mana mobilnya terparkir, Finn terlihat kurang bersemangat karena Elie tidak di izinkan ikut bersama dengannya pergi ke Inggris.
Menyadari itu, Elie menggenggam tangan Finn sebelum Finn masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum dengan manis ke arahnya.
"Finn, jangan di tekuk begitu wajahnya. Nanti tidak tampan lagi" ucap Elie terkekeh
"Hmm, aku hanya sedikit tidak bersemangat jika kamu tidak ada di sisiku. Bagaimana kalau aku tidak jadi pergi ke inggris" ucap Finn menatap Elie dengan sendu.
Elie menggeleng menandakan jika ia tidak setuju dengan ucapan Finn barusan.
"Tidak! Aku ingin kamu tetap pergi ke sana, selesai kan pekerjaan mu dengan baik lalu kembalilah ke sini menemuiku dengan hasil yang memuaskan. Aku percaya kamu bisa melakukannya" ucap Elie tersenyum memberikan semangat pada kekasihnya itu.
"Huufftt baiklah, aku akan tetap pergi. Aku akan menuruti apapun yang di katakan olehmu" ucap Finn menyerah
"Ya, aku akan mengantarmu ke Airport besok" ucap Elie
"Hmm, kamu masuklah ke dalam. Angin di luar sangat dingin, nanti kamu masuk angin" ucap Finn mengelus Surai panjang Elie.
Ingin sekali ia mencium keningnya sebelum dirinya pulang, namun tidak pantas ia melakukannya di tempat terbuka. Terlebih dengan kepekaan Finn, ia tahu jika kedua orang tua Elie beserta kakaknya, mengawasinya di balik jendela.
"Hati-hati, kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah" ucap Elie
"iya sayang, aku pulang dulu" ucap Finn tersenyum manis sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Elie beranjak masuk ke dalam mansion saat mobil Finn sudah menghilang dari pandangan. Namun ia terkejut saat melihat keluarganya berdiri di sana dengan senyum canggung ke arahnya.
"Astaga, kenapa kalian berdiri di situ? Mengagetkan saja" ucap Elie mengelus dadanya.
"Apa Finn sudah pulang?" tanya Alexa dengan bodohnya
"Ya, bukannya tadi Finn sudah pamit" ucap Elie memicingkan mata nya.
__ADS_1
"El, apa kamu benar-benar serius dengan Finn? Apa kamu mencintainya?" tanya Angga
"Aku serius menjalankan hubungan dengan Finn Kak, El nggak akan main-main dalam suatu hubungan. Masalah mencintai, jujur Elie tidak tahu jelas" ucap Elie
"Apa yang kamu rasakan saat bersama dengannya?" tanya Angga, ia tahu jika kedua adiknya itu sangat awam dengan namanya laki-laki.
Jika dulu, saat Elie mengejar cinta Gerald, Angga pikir itu bukan cinta. Melainkan karena hasutan Gista yang membuatnya terobsesi pada cecunguk itu. Wanita itu memang memberikan pengaruh buruk pada adik bungsunya itu. Untungnya Elie cepat menyadari jika itu adalah perilaku dan tindakan yang salah.
"Jantung El selalu berdetak cepat saat bersama Finn, Yang pasti El merasa nyaman di dekat nya. El tidak merasa canggung sama sekali, bahkan bertingkah dengan apa adanya tanpa menjaga image di depannya. Dan Elie merasa tidak suka, bahkan takut kehilangan dia saat ada wanita lain yang mencoba untuk mendekatinya. Apa itu cukup menggambarkan jika El jatuh cinta padanya, kak?" tanya Elie.
"Ya itu sudah cukup, sudah jangan terlalu di pikirkan. Sekarang istirahatlah ini sudah malam, bukannya besok kau akan mengantar Finn ke Airport" ucap Kelvin menengahi
"Siap kapten. Selamat malam semuanya" ucap Elie tersenyum manis dan mencium pipi satu persatu keluarganya, lalu beranjak dari sana menuju kamar.
"Ga, percayakan saja pada pilihan adikmu. Yang di katakan nya itu sudah jelas jika adikmu jatuh cinta dengan Finn. Lagian di lihat dari segi manapun, Finn adalah pilihan terbaik yang bisa melindungi Elie. Daddy yakin, dia pria yang bertanggung jawab dan tidak akan menyakiti adikmu juga terlihat dari matanya jika ia begitu mencintai Eli" ucap Kelvin
"Daddy Benar, Astaga jika teringat obrolan kita dengannya aku masih belum percaya" ucap Angga
"Memang apa yang membuat kalian Sampai syok seperti di ruangan tadi?" tanya Stella.
"Itu adalah rahasia antar laki-laki mom, benar tidak Dad?" ucap Angga meminta dukungan dari Daddy nya
"Benar, udah malam mom yuk kita istirahat. Angga Lexa, kalian makan dulu sebelum tidur. Jangan sampai tidur dalam kondisi perut kosong" ucap Kelvin yang membawa istrinya pergi ke kamar.
...
"Kenapa diam?? Cepat tusuk lagi!!!" ucap Wanita itu penuh dengan amarah.
"Aku tidak mau, aku ingin pulang!" ucap seorang anak kecil yang jarinya di paksa untuk menusuk sambil menangis memberontak ingin pulang.
"Lepaskan, tolong lepaskan aku! huuuhuuuu, aku ingin pulang!" tangis anak kecil itu lagi.
__ADS_1
"Dasar cengeng! Sini kamu!!! Remas ini dengan kuat!!!" ucap wanita itu dengan penuh emosi saat anak kecil itu kembali memberontak tidak menuruti keinginannya.
Plak!
Tamparan keras ke wajah anak kecil itu. Tidak berhenti sampai di situ, wanita itu mengambil cambuk dan mencambukinya.
"Tante, Tante, tolong jangan sakiti kakak laki-laki itu" ucap anak gadis kecil yang menarik tangan wanita yang hendak mencambuk anak laki-laki itu.
"Dasar anak Sialan!!" teriak wanita itu yang kini hendak memukul anak kecil perempuan itu. namun tidak jadi karena anak perempuan lainnya memukul tangannya dengan tangan kecil miliknya.
"Jangan pukul kakakku" ucap anak kecil itu lagi.
"Kau memancing amarahku!! Mati kau!! Dasar anak sialan!!" teriak wanita itu sambil menendang kuat anak kecil yang mencoba memukulnya hingga anak itu terdorong dan terbentur sebuah benda yang tergeletak di sana.
"Dek!!! bangun dek!!!" teriak anak kecil lainnya saat melihat kepala adiknya berlumuran darah, ia menangis sambil memeluk adiknya itu.
"Sini kamu!!" ucap wanita itu menarik anak laki-laki yang ketakutan dan membawanya ke ruangan lain.
"Jangan bawa kakak laki-laki!!!" teriak anak kecil perempuan itu.
"Tolong aku, lepaskan, aku tidak mau" ucap anak laki-laki itu.
Karena terus memberontak, wanita itu mengambil balik kayu dan hendak memukulnya, namun anak perempuan yang memanggu adiknya, tiba-tiba berlari mengalangi wanita itu.
"TIDAAAKKKKK!!!!!" Teriak Sean terbangun dari mimpi buruknya.
Nafasnya tersengal, kilasan kejadian buruk bertahun-tahun yang lalu kembali menghantui tidur di malam harinya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang bergetar, jantungnya berdetak kencang.
Sean kembali mengambil obat di meja nakas nya lalu meminumnya. Ia sudah lelah dengan trauma masa kecil yang sudah mengubah hidup bahagia nya itu.
Rasanya menyesakkan, bayangan wajah kedua anak kecil yang terluka karena membantunya. Dan juga anak gadis lain yang datang menerjang dan menolongnya.
__ADS_1
Terlebih mengingat sesuatu hal yang tidak senonoh yang di lihatnya secara paksa, bahkan pelecehan dan juga kekerasan secara fisik yang dia alami. Membuatnya tidak bisa hidup normal dan tidak bisa di sentuh orang lain sampai saat ini, kecuali orang-orang tertentu.
...••••...