Rebirth Of Queen

Rebirth Of Queen
Rani kecil


__ADS_3

Setelah menunggu dua jam, akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Lalu Selang beberapa menit kemudian tangisan bayi lainnya terdengar.


Mendengar itu Angga, Stella dan Kelvin senang sekaligus lega. Namun ketiganya tidak putus berdoa demi keselamatan sang ibu, yang belum di ketahui kondisi nya, yang mereka harapkan dalam keadaan baik-baik saja.


Tak lama Dokter Galang keluar dari ruang operasi. Angga dan yang lain langsung mendekat.


"Selamat Pak, putra dan putri bapak sudah lahir dengan selamat, sempurna tanpa kurang satu pun" ucap Dokter Galang.


"Syukurlah" ucap Angga merasa lega saat ia mendengarnya.


"Lalu bagaimana kondisi istriku, Dok?" tanya Angga.


"Ibu Tari baik-baik saja, hanya saja beliau masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius, mungkin setengah jam lagi beliau sudah mulai sadar" ucap Dokter Galang.


Mendengar itu semuanya merasa lega.


"Boleh kami melihatnya?" tanya Stella


"Boleh, tapi tunggu sebentar lagi. Karena pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap dulu" ucap Dokter Galang.


Setelah di izinkan dokter, Semuanya masuk setelah Tari sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap VVIP.


...


Di mansion Sean-Lexa.


Lexa terkejut, ia merasa cemas saat mendengar adik dan juga kakak iparnya tengah melahirkan.


Setelah mendengar keduanya beserta anak mereka selamat dan baik-baik saja, Lexa menghela nafas lega.


Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk datang, karena baru sebulan yang lalu melahirkan. Dan kadang-kadang kaitan di perut masih teras sakit.


Jadi Lexa tidak bisa kemana-mana, dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat.


Anaknya juga lahir sama tampannya dengan papahnya. Anak Sean dan Lexa di beri nama Reva Arsenio Demetri, di panggil Arsen.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa, kelihatannya bahagia sekali?" tanya Sean yang melihat istrinya asik bermain ponsel, karena Arsen tengah tertidur, ia sedikit bersantai.


"Ini sayang, hari ini Elie dan Kak Tari melahirkan. Aku sekarang punya 3 ponakan sekaligus" ucap Lexa bersemangat


"Woah... Lahir bareng gitu yang?" tanya Sean terkejut dan tidak menyangka.


"Ya, mereka bertiga lahir di hari dan tanggal yang sama. Aahh, aku jadi ingin punya anak kembar juga, sepertinya menyenangkan, sekali brojol langsung dua, sepasang lagi" ucap Lexa.


"Kalau begitu, kita harus pintar-pintar membuat adonannya yang. Mau coba berlatih dulu yang?" ucap Sean memainkan alisnya.


"Kau buat aja sama sabun dulu yang" ucap Lexa


"Kok sabun sih yang" ucap Sean cemberut


"Lah kamu lupa? Aku kan masih nifas, gimana buatnya coba" ucap Lexa.


"Astaga aku lupa itu, karena sangat antusias membicarakan membuat adonan. Hais, gagal lagi dong" ucap Sean tanpa malu.


"Astaga, sepertinya julukan pria dingin tidak pantas lagi kamu gelar. Kamu pantasnya bergelar Pria mesum" ucap Lexa.


...


Berbeda dengan keluarga besar Adhisti.


Ari, Riana dan Rani kecil yang sudah aktif merangkak dan menggapai benda yang di lihatnya di umurnya menginjak 11 bulan.


Keluarga kecil itu tengah menikmati piknik di halaman belakang mansion. Yang mana ada sebuah taman dan juga pohon yang rimbun, di sisi kanan kirinya, membuat udara di sana begitu segar.


Di usia Rani kecil, Riana dan juga babysiter tidak bisa meleng sedikit, karena sedang aktif aktif nya dan penasaran dengan barang yang baru ia lihat. Apalagi, ia sudah mulai mengoceh membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


Rani juga sudah mulai belajar berdiri dan berjalan. Meskipun masih di bantu atau merambat pada benda yang bisa ia gapai.


"Uuhh, anak mamah sangat aktif sekali" ucap Riana menciumi pipi gembul putrinya itu.


"Ha-ha-ha Liii ma...." ucap Rani kecil tertawa renyah. Kemudian Rani turun dari gendongan Riana dan menghampiri papahnya yang tengah duduk di samping mamahnya.

__ADS_1


"Pa-pa-pa" ucap Rani mengoceh.


"Kenapa putri cantik papah. Udah pintar ngoceh hmmm" ucap Ari menggendong putri kecilnya itu.


"Tuuu" ucap Riana menunjuk sesuatu pada papah nya.


"Kamu mau nunjukin apa sama papah hmm?" tanya Ari.


"Mam tu, lak" oceh Rani yang tidak bisa di mengerti, sampai membuat Ari mengangkat alisnya, mencoba untuk mencerna kata-kata Rani.


Rani kecil turun dari gendongan papahnya juga. Ia kemudian merangkak menjauh dari tikar dan duduk di di antara rerumputan dan mengais tanah hingga tubuhnya kotor.


"Ni, lak mam ha-ha" ucap Rani tertawa memenggang cacing yang ia ambil dari tanah yang menggeliat di tangan mungilnya dan hampir ia masukan ke mulut.


Semenjak mulai makan seperti MPASI atau biskuit, buah dan lain-lain. Rani memang sangat penasaran dengan apapun dan ingin memasukannya ke dalam mulutnya.


"Ehh, jangan di makan sayang" ucap Riana dan Ari bersamaan, buru-buru menghampiri putrinya.


Melihat cacing nya di ambil dan di buang, Rani kecil mulai menangis.


"Huaaa,,,, Mam Ni" ucap Rani


"Cup cup cup sayang, itu bukan makanan. Itu namanya cacing, itu tidak bisa di makan, nggak boleh ya" ucap Riana pelan.


"da, mam ni" ucap Rani sesenggukan


"Iya nggak boleh ya. Itu bukan makanan, Rani makan yang ini saja" ucap Riana menyodorkan buah apel yang sudah di kupas, sebelum memberikannya ia mengangkat tubuh Rani, membersihkan tanah yang menempel di tangan, tubuh dan baju Rani yang kotor.


Gigi susu Rani sudah tumbuh 4, dia sudah bisa menggigit makanan sendiri.


Setelah di berikan Apel, Rani saat ini duduk tenang sambil makan buah yang ada di tangannya.


"Nyak" oceh Rani yang membuat semua orang tergelak karena tingkahnya.


Para maid yang melihatnya juga sangat gemas, terlebih Rani sangat aktif dan kadang membuat suasana Mansion lebih hidup.

__ADS_1


...••••...


__ADS_2