
Gerald kini sudah berbaring di kamar hotel, baru saja Reza pergi setelah mendapat telepon yang ia bilang telepon dari sang mamah dan memintanya untuk pulang sekarang juga.
Gerald sama sekali tidak menaruh curiga pada Reza. Pasalnya ia dan teman-temannya tahu, jika mamah dari Reza adalah orang tua yang kolot. Bahkan Reza kerap di ledek sebagai anak mami oleh teman-temannya.
"****!! Kenapa badanku makin terasa panas haaahh haaahh" ucap Gerald dengan nafas tersengal seperti baru saja berlari maraton.
Karena rasa panas di tubuhnya, ia membuka seluruh pakaian nya dan hanya menyisakan boxer yang masih menempel menutupi aset di tubuhnya.
Karena panas yang tidak kunjung reda, Gerald berjalan dengan tertatih ke kamar mandi dan mengguyur dirinya dengan air dingin. Itu membuatnya cukup merasa lebih baik.
Tit!! Ceklek!
Bunyi Scan kartu dan pintu terbuka, Gista masuk dan menutup pintu itu kembali. Ia mendengar suara gemercik dari dalam kamar mandi.
Langsung saja Gista membuka semua pakaiannya hingga polos tak ada benang sehelai pun di badannya dan masuk ke dalam kamar mandi di mana Gerald berada.
Grep!!!
Gerald terlonjak kaget saat ia merasakan tangan mungil yang memeluknya dari belakang. Jangan lupakan dua bakpau matang yang menekan di punggungnya sangat terasa.
Sentuhan itu membuat junior di bawah sana terbangun, namun Gerald masih bisa sedikit mengontrol kesadaran nya dan menghentakkan tangan Gista dan lalu berbalik untuk melihat.
"Kau!!!" ucap Gerald geram saat melihat Gista yang sudah tel*nj*ng bulat di depannya tahu malu.
"Pergi kau j*l*ng!!" bentak Gerald sambil mendorong tubuh Gista hingga ia terjatuh ke lantai.
Meskipun tubuhnya panas karena pengaruh obat dan saat mendapat sentuhan Gista membuat pengaruh obat bereaksi lebih. Gerald sebisa mungkin menahan h*sratnya untuk tidak terjebak dalam permainan Gista.
Gerald menggigit bibirnya hingga berdarah, agar kedasarannya tetap terjaga. Sedangkan Gista kini sudah bangun lagi dan kembali mendekati Gerald.
"Sayang, lepaskan saja jangan di tahan. Malam ini aku milikmu, kau bebas melakukan apa saja. Kita buat malam ini semakin indah dan menyenangkan" ucap Gista dengan nada sen*ual nya.
__ADS_1
Gerald makin melemas, karena obat yang di berikan adalah dosis tinggi. Meskipun Gerald sudah melakukan berbagai cara agar tetap sadar, namun karena Gista terus menerus mendekatinya dan pengaruh obat yang kuat. Membuat kesadaran Gerald perlahan-lahan menghilang.
Dan terjadilah, kejadian seperti yang di inginkan Gista, hingga mereka berdua bergumul sampai pagi menjelang, entah sudah berapa kali tembakan dan sudah di tempat mana saja mereka melakukan nya.
Dan kejadian itu membuat Gerald marah, kesal juga jijik saat ia sadar. Dan akhirnya mau tidak mu, ia menerima Gista kembali, karena telah mengancamnya lewat video asusila keduanya.
Namun Gerald hanya menerimanya sementara waktu dan enggan untuk menyentuhnya kembali dalam keadaan sadar. Dan ia juga berusaha mencari cara untuk terlepas dari jeratan wanita licik seperti Gista.
...•••...
Hari yang di janjikan telah tiba, pertemuan perwakilan dari perusahaan Eleanor Group, Q.A Technologi dan juga Q.A Group.
Masih ada 3 jam lagi sebelum pertemuan itu di mulai. Elie dan Finn masih berada di taman kampus, meskipun keduanya sudah tidak memiliki kelas lagi setelah ini, keduanya masih belum pulang.
Keduanya mengabaikan orang yang berlalu lalang di sana, hal itu sudah terbiasa bagi keduanya menjadi sorotan karena selalu berdua di sudut kampus manapun.
"Kenapa kau terlihat gelisah hmm?" tanya Finn memegang tangan Elie erat.
"Aku gugup dan tidak tahu harus berbuat apa saat bertemu dengan ayah nanti" ucap Elie jujur
"Kau benar, tapi aku baru saja mendapat kabar jika ayah telah memutuskan hubungan ayah dan anak dengan wanita itu. Kemungkinan besar ayah sudah tahu kebenaran mengenai kematianku" ucap Elie
"Oh ya, bukankah itu kabar bagus?" ucap Finn
"Ya benar, dan kau tahu? Ayah juga menarik wasiat lamanya dan tidak akan memberikan wanita dan pria bajingan itu bagian dari hartanya. Saat ayah meninggal, harta itu akan di sumbangkan untuk dinas sosial" ucap Elie
"Woah ternyata ayah mertua cukup tegas, tapi apa wanita itu diam saja dan tidak menolaknya?" tanya Finn.
"Dia belum menyadarinya, mungkin saja ia akan ngamuk sat mengetahui hal itu. Namun keputusan ayah sudah Final, tidak bisa di ganggu gugat, apalagi hal itu saat ini sudah legal secara hukum. Tapi ada satu hal yang aku inginkan, yaitu Air Hotel. Aku tidak ingin Hotel itu menjadi milik orang lain" ucap Elie
"Air Hotel? Salah satu Hotel bintang lima di Ibukota" tanya Finn.
__ADS_1
"Ya, Hotel itu aku yang bangun dari nol, bahkan pembangunannya menggunakan uang ku, yang aku bilang ke ayah jika yang itu berasal dari tabungan milikku. Karena ayah tidak mengetahui jika aku memiliki identitas lain di dunia bisnis. Jadi kenyataan jika Hotel itu adalah milikku hanya aku dan ayah yang mengetahuinya" ucap Elie
"Lalu kau ingin mengambil kembali hotel milikmu itu?" tanya Finn
"Ya, maka dari itu aku ingin bertemu langsung dengan Ayah dan membicarakannya" ucap Elie
"Aku percaya, kekasihku sangat hebat dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi jika ada kesulitan, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Kau harus ingat jika semua yang aku punya adalah milikmu, dan aku akan melakukan apa saja untukmu" ucap Finn
"Tentu, terimakasih sudah mendukungku dan terus berada di sampingku" ucap Elie yang tersenyum manis.
"Sama-sama. Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang! Kita bisa menunggunya di ruangan pribadi kita saja sampai mereka datang" ucap Finn
"Hmm, Ayo" ucap Elie.
...
AILEE Resto, di ruangan pribadi saat ini sudah datang dari Eleanor Group, Adrian juga Diki sang asisten. Dari Q.A Technologi sudah datang Dirga beserta sekretaris nya dan Dari Q.A Group, sudah ada Daniel.
Hanya tinggal menunggu Queen yang belum datang. Masih kurang 10 menit dari jam yang sudah di janjikan.
Tepat satu menit sebelum jam 2 siang. Queen datang menggunakan masker yang menghiasi wajahnya.
"Maaf saya datang terlambat" ucap Queen dengan aura kepemimpinan yang sangat kuat, hingga semua orang di sana sedikit merasa tertekan.
"Sama sekali tidak terlambat, anda datang tepat waktu. Silahkan duduk nona" ucap Dirga
"Benar yang di katakan Direktur Dirga, anda sama sekali tidak terlambat, masih ada satu menit sebelum di mulai. Juga salam kenal Nona Queen, perkenalkan nama saya Adrian, ketua dari Elenor Group" ucap Adrian., menyodorkan tangannya ke arah Queen
"Senang bertemu anda tuan Eleanor" ucap Queen seraya. membalas jabatan tangan Adrian.
Sesungguhnya jantung Queen berdetak saat bertemu kembali dan berjabat tangan dengan ayah kandungnya di kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
Namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya ia ingin sekali menghamburkan dirinya ke dalam pelukan ayah kandung nya itu.
...••••...