Rebirth Of Queen

Rebirth Of Queen
Ikatan Batin.


__ADS_3

Elie terdiam saat ia mendengarkan Finn menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya.


Terlebih saat Finn mengatakan, jika saat ini kakaknya itu tengah berada di rumah sakit.


Meskipun dari sejak ia kecil sampai ia meninggal di kehidupan nya dulu, kakaknya tidak pernah menyayanginya sedikit pun bahan terkesan membencinya.


Entah mengapa saat mendengar kakaknya di perlakukan seperti itu dirinya merasa marah dan juga sakit di dalam hatinya.


Mungkin benar yang di katakan orang. Jika Darah lebih kental dari pada Air. Begitu juga yang di rasakan oleh Elie, seberapa kejam dan jahatnya perlakuan sang kakak padanya.


Tetap saja rasa sayang sebagai saudara itu tetap ada dalam hatinya. Terlebih mengingat mereka lahir dari rahim orang yang sama.


Melihat istrinya diam saja, Finn sangat tahu jika pikiran dan hati Elie saat ini tengah berkecamuk. Ia paham jika Elie saat ini tengah menahan emosinya agar tidak meledak.


"Sayang, lihat aku" ucap Finn lembut di telinga Elie.


Elie mengalihkan antensinya ke arah netra sang suami. Setelah melihat mata teduh yang sang suami, yang selalu di penuhi cinta untuknya, Elie tak kuasa menahan tangisnya.


"Finn Huhuhuuu hiks, apa yang harus aku lakukan? Di sini sakit sekali saat mendengarnya, sakit, sesak. Kakakku Finn...Kakakku" ucap Elie sambil memukul-mukul dadanya.


Ia bahkan melupakan panggilan pada sang suami, namun Finn memakluminya. Selain mungkin Elie belum terbiasa memanggil dengan tambahan Mas di depannya. Ia juga tahu jika suasana hati dan pikiran istrinya itu juga sedang tidak bisa berfikir tenang.


Sebagai seorang suami, ini adalah salah satu kewajibannya untuk menenangkannya, memberikan pundak dan pelukan untuknya. Dan jika bisa, ia memberikan solusi untuk memecahkan masalahnya.

__ADS_1


"Jangan di pukul sayang! Aku tidak ingin kamu terluka" ucap Finn menahan tangan Elie yang memukul dadanya sendiri.


Finn saat ini menakup wajah Elie dengan kedua tangannya dan mengusap air mata istrinya itu dengan ibu jarinya.


"Kamu memiliki aku, aku ada di sini, di sampingmu! Aku tidak ingin kamu menangis sayang, jika kamu sakit, aku akan merasakan sakitnya juga" ucap Finn menatap teduh Elie.


"Dengarkan aku! Kamu harus tenang, jika kamu panik seperti ini, Jangankan untuk menyelamatkan Kak Cheryl. Sekedar berfikir jernih untuk menyelesaikan masalahnya pun kamu tidak akan bisa. Kamu memilikiku, aku akan membantumu untuk mencari tahu dan menangkap semua orang yang terlibat, jadi kamu harus tenang" ucap Finn


"Maaf, aku tiba-tiba emosi karena rasanya sangat sakit saat mendengarnya" ucap Elie yang kini sudah mulai tenang.


"Aku tahu, aku paham sayang. Kita akan menyelesaikannya bersama, hmm" ucap Finn, Elie mengangguk.


"Sekarang kita istirahat dulu, karena untuk memutar otak, kita butuh memulihkan tenaga dan daya fikir dengan istirahat dan juga makan. Besok kita akan memikirkan solusinya" ucap Finn.


"Tapi mas..." ucap Elie


Elie sedikit lega mendengarnya, ia pun saat ini tidur dalam pelukan Finn yang memeluknya dengan erat. Sesekali ia mengelus kepala dan juga mencium kening istrinya hingga ia juga ikut memejamkan matanya.


....


Di sisi lain, Riana tengah mencoba menenangkan Rani. Bayi kecil itu tidak henti-hentinya menangis.


Sepertinya bayi itu merasakan ikatan batin dengan sang ibu yang saat ini tengah tergolek lemah di rumah sakit.

__ADS_1


"Biar aku yang menggendongnya sayang" ucap Ari mengambil Rani dari gendongan Riana.


"Kamu istirahat saja, biar aku yang menjaga Rani" ucap Ari, ia kasihan melihat sang istri lelah menenangkan putrinya yang masih tidak mau tenang, dan belum beristirahat.


"Tidak apa sayang, aku akan ikut menjaga Rani. Kamu juga pasti capek karena banyak kerjaan di kantor kan" ucap Riana


"Tidak apa-apa, aku sekarang tidak capek kok. Kita bisa bergantian menjaga Rani. Tidurlah, aku akan mencoba menidurkan Rani, mungkin jika aku yang menimangnya ia bisa sedikit tenang" ucap Ari


"Hmm, baiklah, jika ada apa-apa, jangan sungkan bangunkan aku" ucap Riana yang di angguki oleh Ari.


Setelah di bujuk akhirnya Riana mau beristirahat. Ari yang kini tengah berdua dengan Rani di kamar sang anak, mencoba untuk berbicara pada putrinya. Meskipun ia tahu putrinya mungkin tidak mengerti.


"Sayang, apa kamu merasakan jika ibumu saat ini sedang sakit? Maafkan papah nak, bukan maksud papah memisahkan kamu dengan ibumu. Papah hanya tidak ingin kamu terkena Ibas jika bersama dengan ibu seperti dirinya" ucap Ari sambil mencium kening Rani


"Papah akan memberikan kasih sayang keluarga yang utuh dan juga memenuhi semua kebutuhanmu. Meskipun bukan dengan ibumu, tapi mamah Riana" ucap Ari lagi.


"Kamu jangan khawatir, meskipun papah sangat membenci ibumu, papah juga tidak akan membiarkan ibumu mati. Papah sudah meminta tim medis terbaik untuk mengobati ibumu sampai dia sembuh" ucap Ari


"Maafkan papah melakukan itu semua, karena kesalahan ibumu terhadap orang yang papah cintai di masa lalu, tidak bisa papah maafkan" ucap Ari


Entah karena mengerti atau memang kebetulan, Rani kini sudah tidak menangis lagi, setelah mendengar ucapan Ari. Karena ia lelah menangis, Rani kini sudah mulai tenang dan bahkan tertidur.


Ari tersenyum melihat putrinya kini mulai tertidur nyenyak, Ari sengaja membawa Rani ke kamarnya dengan istri.

__ADS_1


Ia tidak ingin meninggalkan Rani sendirian di kamar khusus Rani. Meskipun di rumahnya ada baby sitter, namun ia ingin memberikan kasih sayang untuk putrinya secara langsung.


...••••...


__ADS_2