
Hallo pembaca setia Wiindy Aras.
Maaf baru update lagi🙏
Author baru pulang dari Lombok, dan mendapat musibah. HP author hilang saat perjalanan pulang, padahal setengah jam lagi sampe rumah😢
Laptop juga lagi bermasalah karena tidak bisa terhubung ke internet 🤦Jadi author pinjam HP untuk nulis.
Butuh waktu buat beli HP baru, karena cuan di dompet Author lagi kurus karena baru pulang liburan.
Jadi mohon maaf jika update agak jarang karena bukan pake HP sendiri untuk nulis. tapi sebisa mungkin secepatnya bisa update normal lagi🙏🙏
Selamat membaca, jangan lupa like, comment, favorit dan vote juga hadiahnya ya, terimakasih 🤗
...**********...
Sesampainya di rumah, Elie dan Finn langsung cuci tangan dan masuk ke kamar khusus melihat Baby Al yang sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Keduanya mencium kening putra semata wayangnya itu, mengucapkan selamat tidur. Lalu mereka kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
"Aku akan menanyakannya pada Arthur" ucap Finn menatap sang istri.
Elie tidak terkejut saat Finn mengetahui jika Cheryl menyukai Arthur. Karena suaminya itu adalah orang yang sangat peka, terutama ekspresi dan tatapan mata seseorang.
Jadi ia bisa langsung tahu jika Cheryl menyukai sahabat sekaligus anggota JRS itu.
"Tidak perlu" ucap Elie menolak usulan Finn
"Kenapa?" tanya Finn
"Perasaan seseorang tidak bisa di paksakan. Mas dengarkan, apa yang kakakku bilang? Dia sudah memutuskan untuk menyerah" ucap Elie
"Apa kau yakin Arthur tidak memiliki perasaan yang sama pada Cheryl?" tanya Finn, karena ia merasa Arthur tertarik pada kakak iparnya itu.
Entahlah, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Jika tidak, mengapa Arthur menolak Cheryl berkali-kali.
"Itu urusan pribadi mereka, kita tidak berhak ikut campur. Biarkan mereka menentukan masa depan mereka sendiri. Yang penting adalah orang lain tidak menganggu kehidupan kita berdua" ucap Elie
"Kamu benar, dan kamu tidak perlu khawatir. Karena selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan orang lain memecah belah keluarga kita" ucap Finn memeluk istrinya untuk tidur dalam dekapannya.
"Hmm, aku percaya padamu mas" ucap Elie membalas pelukan sang suami yang terasa hangat dan nyaman itu.
Tak lama setelahnya keduanya pun tertidur pulas.
...••••...
Sebulan setelah Arthur untuk kesekian kalinya menolak cinta Cheryl dan Cheryl sudah menyerah pada akhirnya.
Cheryl sudah kembali menata diri, ia menyibukkan dirinya dengan membangun hubungan yang baik dengan putri semata wayangnya.
__ADS_1
Hubungannya dengan Riana juga terjalin dengan sangat baik, mereka bersama-sama mengasuh Rani kecil dan membesarkannya dengan penuh kasih dan sayang.
Tidak ada konflik saling memperebutkan anak! Keduanya kompak memberikan kasih sayang yang tulus pada Rani.
Sedangkan Ari meskipun ia tidak dekat dengan Cheryl, namun ia berusaha bersikap biasa saja padanya. Ia juga mencoba untuk melupakan kebenciannya pada ibu dari anaknya itu.
Berbeda dengan Cheryl yang menyibukkan dirinya agar melupakan cintanya pada Arthur, Arthur kini sedang gelisah.
Pasalnya beberapa kali ia tidak sengaja bertemu dengan Cheryl, namun wanita itu mengabaikannya seakan tidak mengenal dirinya sama sekali. ia merasa heran dan entah mengapa ia merasa kesal karenanya.
Tanpa ia sadari, rasa di hatinya mulai tumbuh, Namun dirinya tidak menyadari hal itu.
...
Hari ini Elie membawa Baby Al keluar, ia mengajak Cheryl yang juga membawa Rani kecil. Tentu saja itu sudah sepengetahuan juga izin dari Riana dan Ari saat membawa Rani keluar.
Mereka menuju mall untuk berbelanja dan mampir ke tempat area bermain anak. Baby Al yang masih berusia 6 bulan hanya bisa mengoceh dan merangkang. Karena ia belum bisa jalan, jadi ia tetap berada di pangkuan Elie dan sesekali ia biarkan bermain.
Sedangkan Rani kecil berlari ke sana kemari, karena di umurnya yang menginjak satu tahun setengah. Ia sangat aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Cheryl pun mengawasi Rani dari dekat karena ia tidak ingin kecolongan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada putri tercintanya itu.
"Nyonya, anda di sini?" sapa seseorang yang tidak lain adalah Arthur.
Elie menoleh ke arah Arthur, ia melihat Arthur tengah berjalan bersama seorang wanita pribumi yang cukup cantik dan juga berpakaian se*si itu.
"Ah, iya. Kamu di sini juga?" ucap Elie sambil melirik ke arah Cheryl.
Degh!
Entah mengapa Arthur merasa seperti tengah kepergok berselingkuh.
"Sa-saya hanya sedang jalan-jalan nyonya" jawab Arthur dengan ekor mata yang melihat ke arah Cheryl.
"Siapa ini sayang?" tanya wanita di samping Arthur dengan nada yang terdengar ketus yang merendahkan dan tatapan tidak suka ke arah Elie, karena melihat penampilan Elie yang sederhana namun tetap cantik.
Elie menatap wanita yang tengah bergelayut itu, Arthur melepaskan pelukannya yang membuat wanita yang bernama Lidya itu terlihat tidak senang.
"Ah perkenalkan, dia nyonya..." belum selesai Arthur menjawab, Lydia memotong ucapannya.
"Jangan bilang wanita ini janda beranak satu yang ingin kau dekati?" ucap Lidya dengan keras, membuat beberapa orang di sana menoleh dan menaruh perhatian pada mereka.
"LIDYA!!!" bentak Arthur, ia tidak menyangka jika Lidya begitu berani mengatakan seperti itu di depan umum, tanpa mengetahui kebenarannya.
"Nyonya, tolong maafkan Lidya" ucap Arthur
"Apa hak kamu mengatai adikku? Kau tidak tahu apa-apa tentangnya, kenapa kau bisa yakin jika adikku adalah seorang janda" ucap Cheryl yang beranjak dari tempatnya tidak terima jika Elie di hina orang lain di depan umum.
"Oh jadi wanita ini adik kamu? Jelas aku mengatakan hal itu, karena jika ia punya suami kenapa ia keluar tanpa suaminya saat weekend. Jangan-jangan kalian kakak beradik sama-sama janda ya, ouppps" cibir Lidya.
__ADS_1
"Kamu!!!" ucap Cheryl
Plak!!!
Karena tidak tahan Arthur menampar wanita di sampingnya itu, Lidya terkejut karena Arthur berani menamparnya.
"Aku bilang DIAM!!! apa kau tidak punya telinga hah?? Minta maaf pada nyonya Elie dan dan Nona Cheryl! SEKARANG!!! Atau aku tidak segan berbuat kasar padamu tanpa memandang kau wanita" teriak Arthur. Ia takut ia mendapat masalah karena mengusik orang tidak bisa ia usik. Ia lebih baik mengusik Finn dari pada istrinya.
"Sial, bule sok kegantengan ini beraninya menamparku, kalau saja dia bukan CEO di perusahaan dan kepercayaan ketua. Ingin sekali aku mencabik-cabik wajahnya. Lihat saja nanti, setelah aku berhasil membuat ketua bertekuk lutut padaku dan menjadikanku nyonya F.A Corporation, aku akan membuatnya menjadi orang pertama yang aku tendang dari perusahaan" ucap Lidya dalam hati.
Ia sekuat tenaga menahan amarahnya, bagaimanapun Arthur adalah atasannya di tempat kerja.
Mendengar batinan Lidya, Elie mengerutkan keningnya. Amarahnya seketika memuncak saat mengetahui niatan busuk wanita berpakaian kurang bahan itu.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Elie mengambil ponselnya dan menghubungi Finn. Ia mencoba menahan diri karena saat ini dirinya berada di tempat umum.
"Hallo sayang, ada apa? Apa kau merindukanku hmm? Apa mau aku jemput?" tanya Finn dengan nada yang semangat mendapat telepon dari sang istri yang sejak pagi meminta waktu untuk keluar bersama kakaknya itu.
"Apa kau mengenal wanita bernama Lidya? Dia datang bersama dengan Arthur" ucap Elie, ia tidak merespon ucapan Finn. Ia juga memanggil Finn tanpa embel-embel mas.
Finn yang mendengarnya mengerutkan kening dan mencoba mengingat. Ia juga tidak mempermasalahkan panggilan itu, ia mengira Elie menanyakan itu untuk kakaknya.
"Ah aku ingat, dia adalah sekretaris Arthur yang baru. Kau mengenalnya sayang?" tanya Finn
"Ah begitu rupanya. Dia mencoba mendekatimu bukan? Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun tentang dia padaku?" tanya Elie dengan nada datar.
Mendengar itu Finn terkejut, bukan karena ia melakukan kesalahan. Tapi ia takut istrinya salah paham padanya.
Tentu saja Finn mengetahui jika Sekretaris Arthur beberapa kali mencoba menggodanya saat di kantor. Namun Finn sudah memperingatkannya dengan tegas dan keras, dan sejak saat itu pula Lidya sedikit menjaga jarak, meskipun beberapa kali mencoba untuk mendekatinya dengan cara halus.
Karena Lidya adalah sekretaris pilihan Arthur, ia tidak ikut campur tentang itu selagi tidak mengusiknya. Finn juga mengatakan pada Arthur. Jika ada sesuatu yang berhubungan dengannya, harus di katakan secara langsung tanpa perantara sekretaris. Jadi ia sangat jarang bertemu dengan Lidya di kantor.
"Sayang..." ucap Finn ingin menjelaskannya
"Jika kau tidak menyelesaikannya! Jangan berharap kau bisa pulang apalagi menemuiku dan Baby Al!" ucap Elie pada suaminya itu.
Hari ini tamu planetnya datang berkunjung, jadi perasaannya sangat sensitif. Bisa di bilang mode senggol bacok, jadi Elie tentu saja tengah marah saat ini.
Mendengar itu tentu saja, Finn panik setengah mati. Ia yakin jika Sekretaris Arthur itu membuat istrinya marah. Finn ingin menjelaskan dan menenangkan sang istri. Namun telepon itu sudah di matikan.
Finn uring-uringan, ia yang marah besar langsung menelepon Arthur menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat ponsel Arthur berbunyi, keringat dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Elie yang mengabaikan dan justru mengajak Cheryl untuk pergi sebelum tinjunya bersarang di wajah Lidya karena kemarahannya.
Arthur mengangkat telepon dan siap-siap menerima amukan dari bos sekaligus sahabatnya itu.
"ARTHUR!!!! Kau pasti tahu kenapa aku meneleponmu bukan???" ucap Finn dengan nada marah dan sangat dingin. Membuat Arthur tegang seketika.
GLEK!!!!
__ADS_1
"Mati aku!!!" ucap Arthur dalam hati.
...•••••••...