
Setelah masalah dengan Dareen dan juga Tri, baik Finn maupun Elie pulang ke ibukota lebih cepat. Sebelumnya mereka sudah izin terlebih dulu pada dosen, pulang terlebih dulu.
Untuk Ketua panitia yang sempat di suap Dareen untuk membentuk kelompok hingga kejadian itu terjadi. Elie tidak ambil pusing hal itu, ia menyuruh Daniel untuk mencari tahu tentang ketua panitia itu secara rinci.
Jika ini hanya terjadi sekali, Elie hanya minta Daniel menasehati dan melepaskannya. Namun jika ia pernah melakukan hal yang sama atau lebih, Elie memerintah kan Daniel untuk mengeluarkan benalu seperti itu dari kampusnya.
Finn meminta anak buahnya menjemput mereka berdua. Di perjalanan Elie menyenderkan kepalanya di bahu Finn yang di balas dekapan dan juga elusan lembut di punggungnya.
"Tidurlah! kamu pasti lelah, ini juga sudah malam. Aku akan membangunkan mu jika sudah sampai Ibukota" ucap Finn
"Hmm" ucap Elie yang tak lama langsung tertidur dalam pelukan Finn.
Tangan sebelah Finn yang menganggur mengambil HP dan mengetik sesuatu di ponselnya. Lalu ia memasukannya kembali ke tas miliknya dan ikut terlelap bersama Elie di kursi belakang mobil.
...•••...
Setelah Dareen dan Tri di tahan di kantor polisi terdekat, pengacara keluarga Dareen datang untuk membebaskan Dareen dengan jaminan dan ingin menyelesaikan hal itu dengan kekeluargaan.
Sayangnya hal itu langsung di tolak oleh Finn, membuat keluarga Dareen kesal dan marah. Meskipun mereka tahu itu semua kesalahan Dareen.
Tapi Dareen adalah satu-satunya pewaris yang mereka miliki dan mereka tetap berusaha membebaskannya dengan berbagai cara, meskipun dengan cara mengancam atau tindak kejahatan lain.
....
Drrrrtttt....
Telepon Elie bergetar.
"Halo dek" ucap Angga dengan nada sedikit panik tak lama Elie mengangkat teleponnya.
"Ada apa kak, kenapa suara kakak terdengar sangat panik?" tanya Elie mengerutkan keningnya.
"Sepertinya ada orang yang berusaha membobol data dan menekan nilai saham perusahaan keluarga kita. Aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi" ucap Angga.
"Hmm aku mengerti, aku akan ke perusahaan sekarang!" ucap Elie beranjak bangun dari kursi malas di pojokan kamarnya.
Ia segera mengganti pakaian dan langsung berangkat menuju perusahaan Adhisti Group.
"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap Resepsionis menghalangi Elie masuk.
__ADS_1
"Aku ingin ke ruangan Kak Angga" ucap Elie
"Maaf, apa sebelumnya anda sudah memiliki janji?" ucap Resepsionis dengan wajah sedikit tidak suka namun di tahannya dan masih berbicara lembut.
"Sudah, permisi" ucap Elie dan tidak menggubris resepsionis dan beranjak menuju lift dan menekan tombol di sana.
Elie memang jarang datang ke perusahaan orang tuanya itu, ia terakhir menginjakan kakinya di perusahaan, saat ia belum mengenal Gista waktu itu.
Jadi wajar saja tidak ada yang mengenalinya, terlebih jika melihat usia resepsionis itu. Dia masih baru bekerja di perusahaan milik ayahnya itu.
"Nona tunggu!" ucap Resepsionis mengejar Elie. Namun ia telat, karena Elie sudah masuk ke dalam lift dan pintunya sudah tertutup.
"Cih, aku gagal mengalanginya. Pasti dia salah satu wanita yang mengincar posisi nyonya muda Adhisti. Aku jadi ragu dia memiliki janji dengan tuan muda Angga" ucap Resepsionis itu
Ia kembali ke mejanya dan mengotak-atik komputer. Ia lalu mengepalkan tangan era dan mengeram marah.
"Si*l!! benar saja, wanita itu tidak memiliki janji. Karena hari ini tuan muda hanya memiliki janji dengan klien sore nanti. Awas saja tuh ja**Ng berani sekali berbohong dan berniat mencuri tuan muda Angga dariku" ucap Resepsionis sinis.
....
TING!!
"Maaf nona, ini bukan ruangan yang sembarangan bisa di masuki orang luar. Nona bisa tunggu di ruang tunggu di bawah sebelum di persilahkan datang ke sini" ucap Sekretaris Angga yang kebetulan seorang laki-laki, ia berkata dengan sopan sesuai peraturan yang tidak memperbolehkan orang luar masuk ke lantai ini sebelum di berikan izin.
"Maaf aku sedang terburu-buru, di mana Kak Angga?" tanya Elie
"Apa anda nona Elie?" tanya sekretaris itu terkejut saat gadis di depannya menyebut nama bos nya.
"Hmm, di mana Kak Angga?" tanya Elie lagi.
"Mari ikut saya nona" ucap Sekretaris Angga mengajak Elie ke ruangan yang tak jauh dari ruang kerja Angga.
Ceklek!
Pintu terbuka, membuat Angga menoleh. Di sana juga ada Kelvin yang juga sama menoleh ke arah pintu.
"Sayang, kamu sudah datang?" ucap Kelvin lega melihat putrinya sudah datang.
"Bagaimana?" tanya Elie bertanya balik.
__ADS_1
"Sementara masih bisa kita tahan dengan bantuan perangkat yang di pasang Q.A Technology. Namun kita takut itu tidak bisa bertahan lama, karena sepertinya pihak di sana terus menerus menekannya dan menyerangnya dengan ratusan hacker" ucap Angga.
Elie mengangguk mengerti, meskipun perangkat yang di buat Dirga sangat bagus dan bisa menahan orang yang mencoba meretas perangkat perusahaan.
Tapi tetap saja memiliki beberapa kelemahan dan jika dalam kurun waktu 12 jam di retas tanpa berhenti oleh ratusan hacker, bisa jadi pertahanan jebol juga.
"Biar Elie yang tangani" ucap Elie melangkah ke arah kursi.
Angga berdiri dan menyerahkan semuanya pada adiknya itu.
Elie menggerakkan jemarinya dengan lincah, hanya butuh 1 menit sebelum sistem pertahanan kembali pulih.
Elie kemudian menggerakkan jarinya kembali dan saat ini lebih cepat lagi, membuat Angga, Kelvin dan sekretaris Angga terdiam menganga tidak percaya.
"Sudah" ucap Elie setelah berkutat di depan PC kurang dari lima menit
"Sudah??" tanya balik ketiganya dengan terkejut.
"Hmm, aku sudah memperbaiki sistem dan juga menambah perangkat lain yang aku buat sendiri sebagai dinding lapisan terakhir. Jika perangkat yang Dirga buat berhasil di bobol.
Dan perangkat yang aku buat tidak bisa di tembus bahkan jika 1000 hacker mencoba membobolnya secara bersamaan. Tapi mungkin perangkatku bisa di bobol oleh satu orang" ucap Elie berkata apa adanya.
"Siapa?" tanya Angga terkejut karena ada yang lebih hebat dari adik bungsunya itu.
"Calon ipar kakak" ucap Elie terkekeh
"Finn?" ucap Kelvin dan Angga serentak terkejut.
"Ya, kakak dan Daddy tahu latar belakangnya bukan?" ucap Elie menatap Daddy dan kakanya itu.
"Hmm, benar kami sudah tahu. Tapi siapa yang sudah mencoba menjatuhkan perusahaan kita sayang?" tanya Kelvin.
"Orang tua dari salah satu mahasiswa baru dari Australia. Daddy tenang saja, mereka sudah tidak berani berkutik lagi" ucap Elie.
"Benarkah? Apa kau mengirim virus kembali ke sana?" tanya Kelvin yang di balas gelengan kepala oleh Elie.
"Awalnya aku berencana begitu. Tapi sepertinya perusahaan itu salah memilih lawan. Mereka tidak hanya menargetkan keluarga Adhisti tapi juga keluarga Lance. Kalian bisa menebak kelanjutannya, bukan?" ucap Elie
"Ha-ha-ha, mereka mencari mati, menyenggol Finn yang berada di belakangnya" ucap Angga tertawa yang di sambut kekehan dari Elie dan Kelvin. Hanya sekretaris Angga yang menggaruk kepalanya bingung, tidak mengerti apa yang keluarga bosnya bicarakan.
__ADS_1
...••••...