
Dareen mengepalkan tangan melihat wanita yang sudah beberapa hari ini ia kejar, justru berpelukan dengan laki-laki lain di hadapannya.
Terlebih saat melihat ekspresi wajah Elie yang terlihat begitu bahagia saat melihat laki-laki yang kini sedang di peluknya. Bahkan Dareen baru melihat senyum itu terukir di wajah cantik Elie, senyum yang sangat indah dan cantik.
"Kita ke resto, kamu belum makan kan?" ucap Finn menebaknya.
Elie mengangguk, entah bagaimana Finn tahu jika dirinya melewatkan jam makan siangnya. Finn seperti tahu segala tentang dia, apa yang dia butuhkan tanpa harus bicara.
"Lain kali jangan telat makan, itu nggak baik buat lambung. Kamu bisa kena asam lambung atau maag jika terus di biasakan. Bagaimana kalau perut kamu sakit nantinya?" ucap Finn sambil berjalan menggandeng Elie menuju pintu co.driver, di mana hanya berjarak satu meter dari Dareen saat ini berdiri.
"Masuklah" ucap tersenyum Finn saat ia membuka pintu mobil Elie. Setelah menutup pintu Finn mengabaikan keberadaan Dareen seperti makhluk kasat mata.
Ia berjalan memutar menuju pintu kemudi, lalu mengemudikannya ke arah AILIE Resto berada.
"****!!! Siapa sebenarnya pria itu?" maki Dareen dan melepas tinju ke udara kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya itu dengan kencang.
Dia benar-benar tidak suka, wanita idamannya di ambil oleh laki-laki lain.
...
"Eve, kamu tadi bergumam apa?" tanya Arthur seperti ia mendengar sesuatu.
"Tidak" balas Eve singkat dan dingin.
"Oh, kirain kamu mengatakan sesuatu. Eh, Loh kenapa kamu nangis, Eve?" ucap Arthur terkejut melihat air mata Eveline jatuh di pipinya.
Eveline tersadar dan mengusap air matanya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kelilipan" ucap Eveline dengan datar.
Arthur mengerutkan keningnya tidak percaya. Namun ia tidak bisa memaksa gadis Es itu angkat bicara. Gadis itu hanya bicara seperlunya saja jika di tanya oleh orang lain.
"Justin, boleh aku tanya sesuatu? Apa kau tahu siapa nama kekasih ketua?" tanya Eveline tidak bisa menahan penasaran di hatinya.
Arthur lagi-lagi terkejut, si gadis Es yang biasanya irit bicara dan hanya bicara paling banyak dua kata, kini mengatakan satu kalimat yang panjang dengan nada sedikit lembut.
"Wow, rekor!" ucap Arthur dalam hati
__ADS_1
Justin mengerutkan keningnya, Ia heran untuk apa Eveline menanyakan identitas calon nyonya Finn? Tidak mungkin wanita di depannya menyukai Bos dan juga tidak suka dengan bos wanita, bukan? itu yang di pikirkan Justin.
"Aku bertanya, hanya karena penasaran. Aku rasa dia terlihat cantik dan bukan seperti gadis lemah. Aku pikir dia sangat cocok untuk mendampingi ketua" ucap Eveline lagi
Sungguh Arthur lama-lama bisa mati konyol karena terkejut terus-menerus. Hari ini ia menyaksikan rekor dunia perkutuban dan perkulkasan dari genre ladies, mencair.
"Namanya Queen Aurelie Adhisti, anak dari keluarga terkaya nomor tiga di negara ini. Tapi nona Queen sendiri merupakan orang terkaya di negara ini" ucap Justin memilih untuk memberi tahu.
Toh, ia rasa Eveline tidak terlihat seperti Hellen. Ya, Justin tahu tentang Jade Royal Squad Karena dirinya lebih dulu kenal dengan Finn.
Justin memanggil Elie dengan sebutan nona Queen, karena ia tahu jika Elie adalah Queen, pemilik Q.A Group.
Degh!!!
Queen?? Begitu nama itu di sebut, maka nama itu selalu terngiang di kepala Eveline.
"Ingat, jangan macam-macam dengan nona Queen. Selain dia adalah orang yang paling berharga bagi ketua. Namun identitas Queen juga tidak main-main, bisa jadi nyawa taruhannya" ucap Justin menasehati
"Akan aku ingat, terimakasih" jawab Eveline tulus
"Kak, Akhirnya kita bertemu lagi. Aku yakin itu kamu, selain aura kamu yang sama, gelang yang kamu pakai itu dan namamu juga sama. Aku harap kita bertemu lagi dan aku ingin sekali memeluk mu" Ucap Eveline dalam hati.
...
Tidak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia selain dekat dan melihat kekasihnya itu tersenyum bahagia. Ia berharap terus selamanya membuat gadisnya selalu tersenyum dan bahagia.
"Kita sudah sampai" ucap Finn saat mobil milik kekasihnya itu sudah terparkir di halaman AILIE Resto.
"Hmm, ayo turun" ucap Elie, yang di angguki Finn.
Elie dan Finn masuk bergandengan tangan seperti tidak ingin terpisah kan, wajah keduanya terlihat sangat bahagia karena sudah lama tidak bertemu.
"Selamat Sore Tuan muda, Nona" sapa pelayan
"Sore" balas Elie, sedangkan Finn hanya mengangguk saja.
"Kau mau makan apa, El?" tanya Finn lembut
__ADS_1
"Seperti biasa saja" jawab Elie.
"Siapkan makanan favorit ku dan kekasihku!" ucap Finn pada pelayan.
"Baik" jawab Pelayan.
"Ayo kita ke atas" ucap Finn membawa Elie ke ruangan pribadi milik mereka berdua.
"Hmmmppphh..."
Begitu ruangan di tutup, Finn yang sejak tadi menahan untuk tidak mencium Elie. Akhirnya tidak kuat juga, rindu pada kekasihnya itu sangat membuncah.
Elie yang sama merindukan Finn melingkarkan tangannya di leher Finn dan membalas mencium, saling meny*sap dan me**mat.
Bunyi decakan kedua bibir mereka terdengar, mereka larut ciuman yang begitu panjang dan menggairahkan. Hingga sebuah ketukan pintu menyadarkan keduanya.
Finn melepas bibir merah candunya itu, ia menempelkan keningnya ke kening Elie yang tengah meraup oksigen banyak-banyak. Finn tersenyum manis dan mengecup bibir Elie sekilas dan berakhir mencium kening Elie dalam.
"Bibirmu sangat manis sayang, maaf aku tidak bisa bisa menahannya. Tapi sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat, kita lanjutkan nanti" ucap Finn mengerlingkan matanya dan tersenyum.
"Masuk!" ucap Finn menyerukan agar pelayan yang datang membawakan mereka makanan untuk masuk.
Wajah Elie memerah, detak jantungnya tidak bisa lagi ia kontrol saat Finn mengatakan 'kita lanjutkan nanti'.
"Hello El, sadar... Kamu bukan lagi anak kemarin sore yang baru merasakan ciuman seperti apa. Astaga, kenapa ini jantung nggak bisa di ajak kerja sama. Hufftt tenang El tenang... tarik nafas, bibir Finn sangat manis aaaarrhhhh dasar Elie otak mesum" ucap Elie pada dirinya sendiri dalam hati.
Memang benar jika Elie pernah melakukan ciuman dulu saat ia menjadi Airani dan tentunya ia melakukannya dengan Rico yang kala itu menjadi suaminya.
Tapi saat melakukannya dengan Finn, rasanya benar-benar berbeda. Seperti ia tidak ingin lepas walaupun hanya sebentar saja.
"Ayo makan sayang, setelah selesai kita lanjutkan lagi" ucap Finn berbisik di telinga Elie.
Melihat semburat rona merah di wajah kekasihnya itu membuat Finn gemas. Ia tidak menyangka, menggoda Elie ternyata sangat mengasyikkan.
Keduanya lalu makan dengan tenang dan lahap. Finn selalu memanjakan kekasihnya itu, dari memotong steak milik Elie dan lain sebagainya.
Ini yang membuat Elie beberapa waktu lalu terlihat kehilangan, karena terbiasa di manjakan oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
...••••...