RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 10 HAL YANG MUSTAHIL


__ADS_3

HAL YANG MUSTAHIL


Pemimpin yang baik tidak mengabdi pada kekuasaan tapi berpihak pada keadilan. Karena cinta rakyat akan tumbuh saat mereka merasakan keadilan dan kebahagiaan.


Panembahan Somawangi tiba kembali di tanah Perdikan. Kedatangannya di sambut suka cita warga yang telah lama merindukannya. Mereka tahu kepergian pemimpin tanah Perdikan ke negeri para dewa adalah untuk ‘berobat’, menyembuhkan penyakit lumpuh yang dideritanya. Dan saat melihat pemimpin mereka kembali dalam keadaan ‘baik-baik saja’, kegembiraan langsung membuncah di hati rakyat tanah Perdikan.


Roro Lawe memeluk adiknya itu erat sekali disaksikan oleh Eyang Karangkobar. Dia tahu penderitaan Panembahan jauh lebih berat yang bersemayam di dalam hatinya ketimbang kelumpuhannya. Karena penyakit raga biasanya lebih mudah disembuhkan ketimbang penyakit' hati.


“Selamat datang kembali di Tanah Perdikan, adikku Somawangi,” katanya.


Melihat keadaan adiknya yang segar bugar, Roro Lawe sampai meneteskan air mata bahagia. Tadinya dia sempat mengkhawatirkannya karena melakukan perjalanan suci sendirian. Tapi dengan tekad dan kesadaran barunya, akhirnya Panembahan berhasil mengalahkan kegalauan hatinya.


“Terimakasih kakakku. Kalau bukan karena dirimu, mungkin aku sudah melupakan siapa aku dan rakyatku,” katanya.


“Selamat datang kembali kang Soma,” kata Eyang Karangkobar.


Panembahan tersenyum lebar, lalu ditepuknya bahu adiknya keras sekali.


“Terimakasih. Ternyata kau lebih hebat dari kakakmu ini.”


“Hehehe…”


Karangkobar tertawa lebar, tapi Roro Lawe malah tersenyum sinis.


“Orang muka badak begitu kok lebih baik,” gerutunya.


“Hahaha…”


Tawa Karangkobar semakin lebar melihat bibir kakak perempuannya yang manyun. Panembahan Somawangi mengernyitkan keningnya.


“Bikin ulah apalagi adikku yang sok gagah ini mbakyu?” ujarnya.


Mendengar pertanyaan itu bibir Karangkobar langsung terkatup rapat. Gawat, bisa dikuya-kuya kalau sampai kakaknya tahu masalah puteri ki Demang Wanasepi.


“Eh, Kak Soma, aku sudah menyiapkan makanan dan minuman kesukaanmu. Kambing guling yang aku bakar dengan apiku sendiri. Rasanya pasti lezat,” ucapnya mengalihkan perhatian.


Dipegangnya tangan kakaknya itu dan segera dibawa masuk, sebelum mulut Roro Lawe membuka ‘aibnya’ didepan kakaknya.


***


Bukan maksud Tuhan menciptakan Iblis hanya sebagai kambing hitam dari setiap kesalahan manusia. Karena apa yang diterimanya hanyalah buah dari kesombongan yang terlalu melambungkan jati dirinya tapi mengingkari titah sang Penciptanya.

__ADS_1


“Apa!”


Suara Panembahan Somawangi terdengar menggelegar mendengar berita yang baru diterimanya dari Roro Lawe. Dia benar-benar marah dengan kelakuan adiknya.


“Kau benar-benar sudah melampaui batasanmu Karangkobar. Kau benar-benar telah mempermalukan aku sebagai pemimpin tanah perdikan. Kalau Demang Wanasepi mengadukan hal ini kepada kanjeng Sultan, mau ditaruh dimana mukaku ini?” katanya dengan suara keras.


Karangkobar hanya terdiam. Baru sekarang dia menyadari kesalahannya, ternyata bisa berakibat fatal. Kanjeng Sultan bisa menganggap kakaknya telah menyalahgunakan kekuasaannya sebagai pejabat kerajaan.


“Maafkan aku,” katanya.


“Kau harus lebih mampu mengendalikan amarahmu. Orang-orang bisa menganggapmu sombong kalau kau menggunakan kekuatanmu untuk menakut-nakuti mereka,” gerutu Panembahan. “Sedikit-sedikit main bakar.”


Lalu semuanya terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Panembahan dengan kekesalannya, Karangkobar dengan penyesalannya dan Roro Lawe mencari jalan keluarnya.


“Lalu bagaimana ini kakak Lawe? Wanasepi bisa menertawakan aku kalau kakak tidak datang kesana,” kata Karangkobar.


Roro Lawe menghela nafas panjang.


“Somawangi harus tetap pergi ke Wanasepi,” ujarnya.


Pandangannya lurus menatap wajah Panembahan Somawangi.


“Apa?”


“Apa maksudmu kakak? Aku harus datang kesana, kemudian menyampaikan maksud hatiku untuk melamar puteri Wanasepi. Gadis yang sama sekali tidak aku kenal? Tidak! Aku tidak akan ke sana,” katanya tegas.


“Apa kau mengenal Miryam saat kau membawanya kemari?” Roro Lawe balik bertanya. Pandangannya masih terpaku menatap wajah Panembahan.


“Hah?”


Panembahan tergagap mendengar kakaknya menyebut nama Miryam.


“Aku memang tidak mengenalnya. Tapi itu beda,” sahutnya.


Nada suaranya mulai menurun.


“Tentu saja berbeda. Memaksa seorang perempuan selama bertahun-tahun dengan dalih cinta, dan menyelubunginya dengan cerita dustamu?”


Panembahan terdiam.


“Ini kesempatanmu untuk memperbaiki citramu dan adikmu. Datangi rumah Wanasepi, lepaskan jubah kesombonganmu. Minta baik-baik puterinya tanpa ada kesan menakuti. Tunjukkan kalau kalian adalah putera-putera Begawan Wanayasa yang santun dan penuh adab.”

__ADS_1


Kata-kata Roro Lawe sungguh menyentuh hati Panembahan Somawangi dan Eyang Karangkobar. Alangkah malunya bila orang-orang menjuluki mereka tukang rampas gadis orang. Memaksakan cinta tanpa bercermin siapa diri mereka? Benar-benar tua bangka keparat!


“Baik. Baiklah kakak Roro Lawe, aku akan menuruti semua kata-katamu,” kata Panembahan akhirnya.


Roro Lawe bangkit dari duduknya.


“Diantara kita harus ada yang berkeluarga dan memiliki anak. Untuk meneruskan garis keluarga Begawan Wanayasa. Aku memilihmu karena sejak muda, kau yang tertarik dengan dunia keramaian. Kau punya watak yang baik dan kedudukan yang baik. Sudah sepantasnya kau mencari perempuan muda yang masih bisa meneruskan garis keturunan kita.”


“Kau benar kakak. Tapi apa masih ada gadis yang mau denganku, usiaku sudah tujuhpuluh lima tahun,” sahut Panembahan.


“Tapi puteri Wanasepi sudah menyatakan kesediannya menjadi isterimu kang Soma,” sela Eyang Karangkobar.


Panembahan mendorong dahi Karangkobar.


“Sontoloyo! Itu karena dia takut padamu, bukan karena suka. Kenal saja tidak.”


Karangkobar nyengir kuda, Uh,salah melulu, batinnya.


“Kau harus mendatanginya layaknya anak muda yang mengejar gadis yang dicintainya. Itulah cara terhormat untuk mendapatkan cinta seorang gadis,” ujar Roro Lawe.


Panembahan Somawangi mengernyitkan keningnya.


“Apa maksudmu kak Lawe. Aku harus berpenampilan seperti orang muda?”


Roro Lawe menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Kau bukan hanya berpenampilan layaknya orang muda, tapi aku akan mengembalikan wujudmu seperti saat kau muda dahulu.”


“Hah?”


Panembahan Somawangi terhenyak. Mulut Karangkobar bahkan sampai melongo mendengar kata-kata kakaknya. Hm, hal yang mustahil!


***


Sesuatu tidak bisa dinilai hanya darimana dia berasal, atau dari apa dia terbentuk. Tapi kemampuan dan kecerdasan yang kemudian juga memberi nilai pada seseorang.


Roro Lawe membawa Panembahan Somawangi dan Eyang Karangkobar ke puncak gunung mati. Di sana ada sebuah kawah berair hangat yang bernama sendang Edi Peni, artinya selalu memberika keindahan. Di sendang itulah proses regenerasi Panembahan Somawangi akan dilakukan.


“Setiap turun tahun kembar, air sendang ini akan mengeluarkan bau harum. Serta memilki kekuatan yang mampu membuat jaringan sel di dalam tubuhmu akan mengalami kelahiran kembali,” kata Roro Lawe. “Sekarang buka seluruh pakaianmu dan lumuri badanmu dengan lempung putih ini dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu, tenggelamkan dirimu di dalam sendang ini.”


Roro Lawe duduk bersila sambil memejamkan matanya. Bibirnya Nampak bergerak-gerak membaca doa. Lalu tangan kananya menebarkan tujuh butir gotri emas berbentuk bulatan kecil dan beberapa ramuan lainnya ke dalam sendang. Seketika permukaan sendang bergejolak, lalu muncul gelembung-gelembung yang pecah dan mengeluarkan bau harum.

__ADS_1


Tubuh Panembahan yang sudah tertutup tanah liat berwarna putih itu masuk ke dalam sendang yang airnya hangat. Selama tujuh hari tujuh malam dia akan bertapa di dalam air sendang untuk memperbaiki jaringan tubuhnya yang sudah menua menjadi muda kembali.


__ADS_2