
TEWASNYA PEMIMPIN TERTINGGI
Ada tiga hal yang menjadi kunci dalam menjalani hidup, yaitu jalani, nikmati semuanya lalu syukuri. Masalah bukan berarti kita harus berhenti karena justru ia adalah petunjuk. Orang yang tidak mampu mengidentifikasi masalah, dia juga tidak mampu memperbaikinya menjadi benar.
Suasana panas di negeri padang sabana itu begitu menegangkan. Angin berhembus semilir, menerbangkan anak-anak rambut Pranaja yang dibiarkan tergerai. Demikian juga dengan rambut Jenderal Xialuai Khan, Pemimpin Tertinggi Tentara Pembebasan Mongolia, sebagian wajahnya tetutup rambutnya yang hitam dan tebal. Cuman anehnya walaupun gondrong dan betubuh tinggi besar, wajahnya sangat bersih dari jambang, jenggot dan kumis.
Keduanya saling memandang tajam dengan posisi siaga satu. Mereka sama-sama siap melepaskan kekuatan pamungkas. Dia menpersiapkan pukulan Perisai Emas Garuda Himalaya.
Hrrrgggg…Xialuai meggeram.
Tubuh Xialuai melayang ke udara. Membelakangi bola matahari hingga bayangannya menutupi pandangan Pranaja. Nampak aura cahaya kuning keemasan melingkari tubuhnya. Lalu kekuatan itu mulai merambat dan mengisi kedua tangannya. Mulai dari siku sampai telapak tangannya, terpancar sinar kuning keemasan.
Rich Pranaja berdiri tegak. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Kekuatan para dewa bersatu mengalir dalam darahnya. Merambat ke dalam kedua bola matanya. Beberapa saat kemudian, tampak matanya berubah menjadi biru langit bersinar menyilaukan. Inilah kekuatan Anugerah Mata Dewa yang sangat dahsyat warisan Eyang Karangkobar.
Xialuai memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam. Dengan satu hentakan tangannya didorong ke bawah, dimana Pranaja berdiri. Selarik sinar kuning keemasan melesat cepat ke arah tubuh Pranaja.
“Perisai Emas Garuda Himalaya!”
Pranaja menengadahkan matanya. Selarik sinar putih keperakan melesat cepat keluar dari kedua matanya, menyambut kekuatan pukulan warisan Dalai Lama.
“Anugerah Mata Dewa!”
Pertarungan dua generasi yang mewakili kekuatan tanah suci Tibet dan kekuatan puncak Nusantara terjadi.
BLARRR!! DUM!
“Aaarrgghhh!!!”
Dentuman hebat terdengar ketika dua kekuatan jawara itu berbenturan. Bumi bergoncang hebat, rumput-rumput layu terbakar, dan benda-benda beterbangan ke segala arah. Sejenak terjadi keributan, tentara dari kedua belah pihak banyak yang terpental dan terluka. Kekuatan pukulan mereka bedampak pada jarak seratus meter persegi. Jerit kesakitan terdengar dimana-mana.
“Adduh!”
“Aaakh”
Debu dan asap mengepul tinggi. Pepohonan, batu-batu besar bahkan gundukan, rata dengan tanah!
Setelah itu suasana menjadi hening. Orang-orang ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Wajah-wajah mereka Nampak terkesiap kaget, melihat apa yang terjadi. Seolah tidak percaya dengan pemandangan di depan mereka.
__ADS_1
Asap yang mengepul mulai hilang. Nampak Rich Pranaja gagah berdiri, sementara Xialuai Khan bersimpuh didepannya. Tubuhnya bersimbah darah, matanya tajam menatap pemuda didepannya. Pranaja membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
“K..kau ..siapa k..kau anak muda?”
Hanya itu ucapan terakhir Xialuai. Lalu tubuhnya rebah ke tanah, tak bernyawa lagi.
Brug!
Semua orang diam terpaku. Tidak ada sorak sorai kemenangan, atau tangis kekalahan yang terdengar. Hanya sepi dan pengap yang tersisa. Meninggalkan ruang sunyi dalam hati masing-masing.
Bentang Sabana di penuhi dengan darah dan air mata. Jerit kesakitan dan suara mengaduh terdengar menusuk telinga. Meninggalkan luka dalam hati, pikiran dan jiwa bangsa Mongolia. Merobek-robek rasa keangkuhan yang selama ini terpateri kuat di dinding keakuan.
Menanggalkan kebenaran akan patriotisme semu yang di bangun secara serampangan. Mengakibatkan hilangnya nyawa anak-anak bangsa dalam peperangan yang menipu dan sia-sia.
***
Pranaja bergerak cepat memburu tubuh Xialuai Khan sebelum tentara pemerintah Mongolia mengevakuasinya. Dipondongnya tubuh raksasa setinggi lebih dari dua meter tersebut ke atas bahunya. Tentara pemerintah langsung mengepungnya.
“Jangan merepotkan dirimu agen 009,” kata Jenderal Chenghiz, panglima perang pemerintah Mongolia. “Biar kami yang akan mengurusnya.”
Pranaja tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
“Tapi, mau dibawa kemana mayat pengkhianat itu?”
“Aku akan mengantarnya sendiri ke istananya.”
Jenderal Chenghiz langsung bergerak menghalangi jalan Pranaja. Beberapa moncong senjata ikut di arahkan ke tubuh pemuda tinggi kurus itu. Pranaja terkesiap.
“Apa maksudmu Panglima?” tanya Pranaja. “Apa kau berniat menghalangiku?”
Matanya tajam memandang Jenderal Chenghiz.
“Urusanmu dengan kami sudah selesai. Kehadiranmu tidak kami butuhkan lagi. Silahkan pulang ke negerimu,” ucap Chenghiz tegas.
“Kau sudah memikirkan dengan matang ucapanmu itu Panglima?” sapa Miracle dari belakang.
Jenderal Chenghiz terkejut. Dia langsung membalikkan tubuhnya. Nampak tubuh Miracle melayang ringan di udara. Pakaiannya yang tipis berkibar-kibar terkena hembusan angin sabana. Yang lebih mengejutkan, senjata-senjata milik anak buahnya kini terarah kepadanya.
__ADS_1
“Ap..apa yang kalian lakukan?” tanya Chenghiz.
Ditatapnya wajah anak buahnya satu persatu.
“Mereka tidak akan mendengarkan perintahmu Panglima. Aku yang mengendalikan mereka sekarang,” kata Miracle sambil tersenyum.
Tubuh Panglima Perang itu sedikit gemetar. Namun dia berusaha keras mengatasi rasa gugupnya. Wajahnya di tegakkan menatap Miracle, kemudian berbalik menatap Pranaja.
“Aku akan melaporkan perbuatan kalian kepada kosulat jenderal Inggris,” katanya.
“Kalau begitu aku akan menghilangkan otak dari dalam kepalamu. Agar kau tidak bisa berpikir dan mengingat kami,” kata Pranaja.
Kali ini tubuhnya ikut melayang ringan sambil memondong tubuh raksasa Jenderal Xialuai, mendekati Jenderal Chenghiz.
“Hah? Eh..oh..”
Kali ini dia tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Tubuhnya bergetar hebat dan bersimpuh di tanah. Kepalanya tertunduk dalam, sementara matanya terpejam.
“B..baik. A..aku tidak akan melaporkan kalian. Aku akan mengatakan tubuh Xialuai hancur di dalam perut gunung itu,” kata Chenghiz sambil menunjuk pegunungan Sayan.
Namun ketika mendongak dia tidak melihat siapapun di udara, Hanya tatapan heran anak buahnya yang berdiri mengelilinginya.
“Apa yang kau lakukan Panglima?” tanya Kolonel Bataar.
Jenderal Chenghiz nampak kebingungan, Kemana hilangnya kedua agen rahasia Inggris itu? Kepalanya dibolak-balik, pandangannya ditebar kemana-mana, tapi tetap saja dia tidak menemukan jejak kedua manusia aneh itu.
***
Berita tewasnya Jenderal Xialuai Khan pun tersebar dengan cepat. Di istana milik Xialuai jauh di dalam perut bumi, suasana kesedihan begitu terasa. Semua orang tak percaya akan kematiannya. Apalagi dia dikalahkan oleh seorang pemuda yang belum pernah terdengar namanya.
“Siapa yang telah berani membunuh ayahku?”
Suara seseorang muncul dari kegelapan kamar puteri istana. Lalu dia berjalan ke arah yang lebih terang. Menemui beberapa prajurit ayahnya yang membawa kabar itu kepadanya. Seorang gadis muda, berdiri gagah di hadapan mereka. Tubuhnya tinggi, padat berisi. Langkahnya sigap dengan bahu yang bidang, wajahnya bening bagaikan pualam, sorot matanya tajam menunjukkan jiwa kepemimpinan.
“Namanya Pranaja, puteri Xena,” kata pemimin prajurit.
Dialah Xenara , putri Jenderal Xialuai Khan. Puteri satu-satunya Pemimpin Tertinggi Tentara Pembebasan Mongolia itu berjalan ke arah Balairung. Duduk terpaku di singgasana warisan Kaisar Jenghiz Khan yang belum sempat diduduki ayahnya. Dia bertekad akan mempertahankan singgasananya sampai mati.
__ADS_1
.