
EPS 113 SERANGAN TAK TERDUGA.
Melihat orang yang ditolong Pranaja seorang gadis cantik, Wyona langsung menegurnya lewat bahasa batin.
“Eh, Pranaja! Kenapa kamu masuk ke dalam pesawat orang tanpa ijin yang empunya?” katanya sewot.
Pranaja langsung menghentikan langkahnya, dia jadi ragu. Benar juga kata Wyona, batinnya. Tapi bagaimana dia bisa minta izin menolong kalau tuan rumahnya dalam keadaan tidak sadar?
“Tapi Wyona, gadis itu pingsan. Bagaimana aku bisa aku minta izin?”
“Pokoknya kamu tidak boleh masuk ruangan alias menunggu sampai dia siuman!” tegas Wyona.
“Tapi Wyona…”
“Dengar ya! Kalau ada dua orang laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan, maka yang ketiga adalah Syaithon! Sampai disini paham?” nadanya semakin meninggi.
Pranaja terhenyak. Kok, sepertinya Wyona marah?
“Eh Wyona, kamu cemburu?”
Tiada jawaban, sepertinya suara Wyona tercekat.
“A…apa! Aku cemburu? Tidak!” katanya beberapa saat kemudian.
Pranaja tersenyum jahil. Hehehe, bisa di kerjain nih.
“Gadis itu butuh pertolongan Wyona, kau tidak berpikir kalau dia kenapa-kenapa, kau akan merasa bersalah? Jangan sampai rasa cemburumu mematikan akal sehatmu.”
Wyona terdiam, mungkin sedang merenungkan kata-kata Pranaja. Pemuda itu tersenyum. Lalu dengan langkah yakin dia masuk ke dalam ruangan kokpit yang cukup lebar.
“Assalamu’alaikum!” sapanya, siapa tahu ada orang selain gadis itu.
Hm, tidak ada jawaban.
“Wa’alaikum salam!” dia jawab sendiri. “Silahkan masuk Pranaja!”
Pranaja berjalan menghampiri gadis itu, lalu berjongkok memandangnya. Diperiksanya semua tanda-tanda vitalnya. Nadi, napas jantung dan suhu tubuhnya. Semuanya normal. Napasnya terdengar mengalun lembut secara teratur.Diamatinya tubuh gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kekuatan dan ketangguhan terpancar dari wajahnya yang bening. Pasti gadis ini adalah seorang prajurit atau mungkin juga terlatih secara militer.
Sejak berada di Merkurius sampai balik lagi ke Bumi, dia belum menjumpai ada tanda-tanda kehidupan. Lalu, siapa gadis ini? Dengan tangan gemetar pemuda itu menyibak sehelai rambut hitam yang terjatuh di ujung hidungnya. Gadis itu seperti tersentak kaget. Matanya terbuka. Ada sinar biru yang mengerjap dari dua kelopak matanya. Pranaja terperanjat hingga langkahnya mundur sejengkal.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu,” katanya beberapa saat kemudian.
Pranaja jadi tidak enak hati. Dia takut gadis itu marah dan menuduhnya macam-macam. Tapi mendadak gadis itu tersenyum.
“Hai! Kamu siapa?” sapa gadis itu ramah.
Pranaja jadi lega. Heh, dia jadi ikut tersenyum.
“Hai. Ehm…namaku Pranaja. Aku tadi bermaksud menolongmu. Karena pesawatmu terombang-ambing di tengah gugusan asteroid. Dan kau pingsan di dalamnya,” katanya.
__ADS_1
Gadis itu tersipu malu. Wajahnya sedikit merah jambu.
“Hehehe…aku tadi pingsan karena takut,” katanya. “Untung ada kamu yang mau menolongku. Kamu baik deh.”
Gadis itu mencubit kedua pipinya. Pranaja jadi melongo.
Eh, baru kenal kok main cubit gitu. Dasar gadis murahan! Ada yang mengumpat dari dalam hatinya. Siapa lagi kalau bukan Wyona.
“Hah? Kalau kau takut, kenapa bepergian sendirian di angkasa luar?”
Gadis itu malah tersenyum semakin lebar mendengar kata-kata Pranaja. Ah, nampaknya dia hanya pemuda culun yang masih ingusan juga. Tapi wajahnya keren banget, guantenge puoll! batinnya. Dan senyumnya imut bangeeet!
“Oh ya, aku Amita,” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Kamu manusia bumi ya?”
“I..iya,” sahut Pranaja sambil menggenggam tangan Amita.
Pranaja memejamkan mata. Wow, tangan Amita lembut banget. Seperti ada aliran listrik yang nyetrum ke jantungnya. Serrr!
“Apa kamu yang membakar matahari?” tanya Amita penuh selidik.
Pranaja membuka matanya.
“Iya. Ehm.. bukan membakar matahari, tapi melumerkan lapisan es yang menyelubungi permukaannya.”
Pranaja terkesiap, baru sadar kalau dia masih menggenggam erat tangan Amita.
“Eh, oh, eh maaf! Lupa,” katanya sambil melepaskan tangan Amita.
Gadis itu jadi tertawa melihat Pranaja yang salting sendiri.
“Kamu itu sudah kaya polisi Wyona, main semprit aja!’ gumam Pranaja sedikit kesal.
Rupanya Amita juga mendengarnya.
“Apa? Kau bicara denganku?”
Pranaja menggeleng cepat.
“Ow, tidak, tidak! Aku lagi menggumam sendiri, masalahnya kamu cantik sekali.”
“Wow! Masalah? Maksudmu kecantikanku membuatmu bermasalah begitu?” ledek Amita, tapi dia memasang wajah serius.
Wadduh! Kok ngomomgku salah terus si! Batin Pranaja sambil menepuk kepalanya.
“Iya, eh bukan begitu. Maksudku hatiku yang bermasalah. Dagdigdug..dagdigdug!”
__ADS_1
Hahaha…tawa Amita meledak. Dia seakan lupa dengan misinya untuk menyelidiki Pranaja. Mereka malah tenggelam dalam obrolan panjang. Mata Amita berkali-kali mencuri pandang wajah Pranaja yang imut, polos tapi lucu dan periang. Apalagi kalau digoda, wajah pemuda itu langsung terbakar, merah menyala seperti buah Cerry di musim semi.
Yang uring-uringan? Tentu saja Wyona. Betapa kesalnya dia dengan Amita. Dia melihat gadis itu seperti sengaja menggoda kekasihnya. Huh! Tidak bisa dibiarkan. Dia pun keluar dari sisik permata biru dan muncul di belakang Amita. Lalu dengan sedikit kasar dia menepuk bahu gadis ganjen itu.
Plok!
Amita terkesiap dan langsung menoleh ke belakang.
“Heh! Kelamaan. Pulang sana, kamu di tunggu sama orang tuamu!” ujar Wyona.
Wajahnya nampak masam. Amita langsung berdiri. Ada sinar biru yang mengerjap dari kedua matanya. Ditatapnya wajah Wyona dengan tajam.
“Eh, perempuan bersinar! Siapa kamu?” ucapnya kesal.
Wyona tersenyum, lalu di berjalan menghampiri tubuh Pranaja dan memeluknya.
“Aku? Aku kekasihnya,” katanya.
Wajah Amita semakin kesal, sinar biru dimatanya mengerjap lagi. Ditatapnya wajah Pranaja. Tapi pemuda itu hanya terdiam dalam pelukan Wyona. Huh! Ingin rasanya dia \*\*\*\*\*\*\* gadis bersinar itu. Tapi dia ingat pesan ayahnya untuk menghindari perkelahian yang tidak perlu. Dan dia sudah berjanji akan berubah.
Huh!
Dia mendengus lagi, menghempas emosi yang membuncah. Lalu berbalik pergi meninggalkan Wyona dan Pranaja yang masih berpelukan. Masuk ke dalam pesawatnya kemudian melesat jauh. Dan Wyona tersenyum puas.
Hadewh!
Dengus Pranaja sambil menepuk jidatnya.
***
Pranaja memandang kepergian Amita dengan wajah bersalah. Mengapa dia malah larut dalam obrolan yang panjang, sampai lupa menanyakan siapa gadis itu sebenarnya. Padahal sejak awal dia sudah merasakan banyak kejanggalan dengan kehadirannya. Apakah dia adalah seorang mata-mata untuk menyelidiki keadaan di Kerajaan Bumi? Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Paling tidak dia sekarang tahu masih ada peradaban lain yang hidup di angkasa raya.
Mendadak instingnya yang tajam menangkap sebaran sinar warna-warni yang meengarah ke tubuhnya. Pranaja mempererat pelukannya ke tubuh Wyona, kemudian tubuhnya melenting tinggi. Sebaran sinar seperti pita berwarna merah, hijau, kuning dan putih itu terus melesat dan menghantam batu-batu angkasa yang terombang-ambing tak tentu arah.
Bum! Bum! Bum!
Seketika batu-batu meteorid itu hancur menjadi butiran-butiran debu angkasa.
“Ada apa Pranaja?” tanya Wyona kaget.
“Kita di serang Wyona. Sekelompok pasukan bersenjata bersembunyi di balik gugusan asteroid-asteroid itu,” bisik Pranaja di telinga Wyona.
__ADS_1
Tubuhnya terus melenting ke sana kemari sambil menggendong tubuh Peri cantik Wyona, menghindarai serangan tak terduga yang terus mengurung tubuhnya.