
XENARA KSYEANDRA
Sesungguhnya tidak ada batas antara perasaan benci dan perasaan cinta. Karena orang yang kau benci dan kau cinta memiliki nasib yang sama. Mereka sama-sama menjadi beban pikiranmu sepanjang waktu.
Pranaja melangkah tenang ke dalam markas Tentara Pembebasan Mongolia di dalam perut pegunungan Sayan. Tubuhnya yang tinggi kurus terlihat tidak kesulitan membawa tubuh Jenderal Xialuai Khan seberat duaratus kilogram. Prajurit-prajurit yang masih setia pada sang jenderal mengokang senjatanya. Tapi tidak ada yang berani memulai tembakan. Tanpa garis komando yang jelas, mereka terlihat bingung mau melakukan apa-apa.
Di sebuah lorong besar menuju ruang bawah tanah, tubuhnya melayang ringan dan mendarat dengan lembut. Kakinya terus melangkah memasuki ruang terbuka dimana ada kolam raksasa, air mancur dan istana Xialuai di belakangnya. Pasukan Penjaga Istana terus mengawasi pergerakan pemuda itu dengan senjata siap ditembakkan. Tapi mereka ragu karena ada tubuh pemimpin mereka dipundak Pranaja.
Tanpa ragu dia masuk ke dalam ruang balairung istana, kemudian meletakkan tubuh Xialuai di atas meja besar yang ada disana. Kemudian pandangannya berputar, menatap orang-orang yang tampak ragu untuk keluar dari kegelapan.
“Siapa pemimpin sementara di istana ini?” tanya Pranaja.
Tidak ada yang menjawab. Mereka tetap menyembunyikan dirinya di tempat-tempat gelap, dengan senjata siap tempur.
“Siapa pemimpin sementara disini?” Pranaja mengulang pertanyaan dengan nada yang lebih keras.
Kembali tidak ada yang memberikan jawaban. Suasana menjadi hening, hanya nafas orang-orang yang terdengar memburu penuh ketegangan. Mendadak keheningan itu di pecahkan oleh suara sepatu yang melangkan kakinya dari belakang singgasana.
Tok! tok! tok!
Suara itu terdengar menggema. Pranaja membalikkan tubuhnya lalu melihat ke atas ke arah singgasana. Seorang gadis melangkah tenang menuju singgasana. Lalu di duduk di atasnya. Orang-orang membelalakkan matanya, bahkan Xialuai Khan tidak pernah berani melakukannya. Tapi puterinya, Xenara Ksyeandra dengan anggun duduk bersemayam di atas singgasan warisan Kaisar Agung Jenghis Khan.
“Wooow!” seru mereka dengan suara sedikit ditekan,
Pranaja terhenyak. Ditatapnya Xenara, yang duduk di singgasana. Beberapa saat dia terdiam, matanya berbinar dan mulutnya terbuka. Bukan karena terpesona dengan kecantikan Xenara, tapi wajah gadis itu mirip sekali dengan foto ibunya saat remaja.
‘Ibu?’ batinnya.
Ingatan Pranaja sejenak kembali ke masa lalu. Saat kecil dia selalu memuji kecantikan ibunya.
“Ibu cantiiik, Naja minta susu,” katanya.
Lalu ibunya akan tersenyum dan memeluk putera kesayangannya itu.
__ADS_1
“Cium ibu dulu,” katanya.
Lalu Pranaja mencium kedua pipi ibunya sebagai donasi agar ibunya membuatkannya segelas susu.
“Hem!” gadis itu terbatuk.
Pranaja tergagap. Lalu segera membuang pandangannya.
“ Apakah kau pemimpin sementara di istana ini? Siapa namamu?”
Xenara tidak menjawab. Matanya tajam menatap Pranaja. Ada nyala api kemarahan dan kebencian yang terbenam didalamnya.
“Hmm..jadi kau yang telah mengalahkan ayahku? Kau lah pembunuh itu?” Xenara balik bertanya.
Pranaja menarik nafas dalam-dalam.
“Aku beri waktu kalian tiga hari untuk melakukannya. Sebentar lagi tentara pemerintah akan dating kemari untuk menangkap dan menghancurkan kalian,” kata Pranaja.
Kali ini dia menatap tajam wajah Xenara.
“Aku berjanji akan menahan mereka. Tapi setelah tiga hari aku tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dengan kalian.”
Xenara tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia langsung melompat menyerang Pranaja dengan cemeti yang tergulung di pinggangnya.
“Dasar pembunuh! Berpura-pura baik! Aku tidak membutuhkan pertolonganmu!” teriaknya.
Tarrr!!
Tapi Pranaja cuma tersenyum. Dengan satu kali gerakan, cemeti itu berhasil ditangkapnya. Kemudian di sentaknya dengan kuat. Tubuh Xenara langsung tertarik ke bawah dan jatuh dalam pelukan pemuda itu.
__ADS_1
“Bukalah matamu puteri Xialuai!”
Gadis itu berusaha memberontak tapi dia sama sekali tidak bisa bergerak. Dan dia hanya bisa berteriak dan menjerit agar Pranaja melepaskannya. Pranaja menjejakkan kakinya ke tanah, lalu terbang sambil memeluk Xenara. Turun kembali dan duduk disinggasana.
“Duduklah dengan tenang disini. Lihatlah sisa-sisa pengikut ayahmu. Mereka membutuhkanmu. Apa kau ingin mereka semua mati sia-sia, mati karena menanggung dosa dan kesalahan ayahmu? ” kata Pranaja.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari permukaan tanah. Bumi terasa bergetar, tapi bangunan di perut bumi itu sangat kokoh menahan getaran itu.
“Dengarlah! Tentara Pemerintah telah membombardir tempat ini. Sekarang laksanakan upacara pembakaran mayat Xialuai. Aku akan ke atas untuk menghadapi mereka,” teriak Pranaja.
Pranaja segera berlari dan meloncat ke atas. Tubuhnya melayang ringan kembali ke permukaan. Meninggalkan tatap penuh pertanyaan dalan hati puteri Xenara.
***
Sesampainya kembali ke permukaan bumi. Pranaja meminta seluruh sisa-sisa pasukan Xialuai Khan untuk masuk ke ruang bawah tanah.
“Pergilah kalian semua ke ruang bawah tanah dan tutup rapat lorongnya. Biar aku yang akan menghadapi mereka,” teriaknya.
Mereka semua segera menuruti perintah Pranaja. Tak lama kemudian, dipimpin Kolonel Bataar, tentara pemerintah memasuki ruang hangar pesawat. Tanpa perlawanan mereka segera menguasai tempat itu. Namun mereka tidak menemukan siapapun kecuali Pranaja yang sedang duduk santai di sayap pesawat Sukhoi SU 29.
“Agen 009! Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Kolonel Bataar heran.
“Apa yang aku lakukan? Tentu saja sedang melaksanakan tugasku memeriksa pesawat-pesawat ini,” jawabnya santai.
“Sekarang pergilah kau dari tempat ini. Kami akan membersihkan sisa-sisa tentara pemberontak Xialuai,” sahut Bataar.
Pranaja berdiri. Tubuhnya melayang ringan mendekati Kolonel Bataar yang tinginya cuma sepundaknya itu.
“Kau mengusirku?” tanya Pranaja.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan berbicara dengan Jenderal Chenghiz.
“Tarik semua anak buahmu dari tempat ini. Aku ingin bekerja dengan tenang,” katanya.
Tak lama kemudian datang perintah agar Kolonel Bataar menarik semua anak buahnya dari tempat itu dan kembali ke pos militernya.
Kolonel Bataar kembali memandang wajah Pranaja penuh beribu tanya, sebelum dia memerintahkan pasukannya keluar dari gua dan kembali ke pos militernya masing-masing.
***
Sudah dua hari sejak proses penyucian jazad atahnya berlalu. Tapi Xenara belum bisa melupakan kemarahannya kepada Pranaja. Hatinya masih bimbang dengan sikap apa yang akan diambilnya saat Pranaja kembali.
'Huh! Aku tak akan sudi diperbudak oleh orang yang telah membunuh ayahku, batinnya.
Tapi dia juga harus memikirkan keselamatan istana dan seluruh penghuninya. Dia lalu memanggil penasehat-penasehat ayahnya.
“Istana ini adalah tanah air kita. Ini adalah harga diri pergerakan kita. Bagaimanapun istana ini harus tetap berdiri tegak,”kata Xenara.
Tatapannya lurus ke depan.
“Aku hanya ingin mendengar nasehat kalian. Apa yang seharusnya aku lakukan?”sambungnya.
__ADS_1
Para penasehat ayahnya itu terdiam. Bertahun-tahun nasehat mereka tidak pernah diindahkan ayahnya, akankah sekarang puterinya akan mendengarkan kata-kata mereka?