
M? KAU ADA DISINI?
Manusia adalah makhluk berakal. Dia memiliki potensi untuk patuh ataupun membangkang. Tergantung daripada nilai-nilai pengetahuan yang dia baca dari setiap peristiwa kehidupan yang dialaminya. Sedangkan tumbuhan dan binatang tidak berakal, sehingga mereka selalu patuh kepada Tuhannya. Seperti lebah yang mengeluarkan kebaikan, kerbau yang selalu merunduk dan berdzikir, semut yang selalu bekerjasama dan saling menasehati, dan makhluk-makhluk tak berakal lainnya.
“Itulah mengapa warga dukuh Somawangi selalu memperhatikan keseimbangan alam. Mereka menggunakannya, memanfaatkannya tapi juga menjaga kelestariannya. Karena alam mengajarkan banyak hal bagaimana cara menyelamatkan kehidupan dalam situasi yang paling genting sekalipun,” ujar Panembahan Mbah Iro.
“Terimakasih kakek, telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Hari ini adalah hari terakhir aku disini. Aku mohon pamit kepada kakek dan seluruh saudaraku warga Dukuh Somawangi,” ujar Pranaja.
Satu persatu warga memeluk tubuh Pranaja. Mereka semua sudah mengerti bahwa Pranaja adalah saudara mereka Yang Terpilih sebagai pewaris Tirtanala Sejati. Karena itulah mereka begitu menyayangi pemuda itu. Apalagi Panembahan Mbah Iro juga begitu menghormatinya.
“Aku pergi dulu ya kek. Jaga dirimu baik-baik,” kata Pranaja.
Panembahan Mbah Iro mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada titik air yang hampir terjatuh di sudut matanya. Walaupun kadang bertindak aneh, tapi Pranaja adalah pemuda yang baik. Dia memiliki hati yang tulus.
“Pergilah cucuku, sambut duniamu yang baru. Ingat selalu nasihat-nasihat para leluhur kita. Bawalah kitab Irodarsulasikin ini selalu bersamamu. Karena dia akan menjagamu,” pesan Panembahan.
Kemudian dia menyerahkan kain sutera berwarna merah bersulamkan benang emas yang di lipat dengan rapi. Didalamnya berisi kitab pedoman hidup Trah Somawangi, Primbon Irodarsulasikin.
“Tentu kakek. Aku akan mempelajarinya. Ini adalah kitab kebanggaan kita,” ujarnya.
Lalu dipeluknya tubuh renta itu sekali lagi. Sebenarnya dia ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar. Padahal semua penduduk warga Somawangi menangisi kepergiannya. Apalagi gadis-gadis muda yang sudah terlanjur jatuh hati kepadanya.
“Aku pergi dulu ya?” katanya sambil melambaikan tangannya.
Lalu dia berjalan melewati jalan yang sama saat dia datang. Rumah-rumah yang bentuknya sama, air yang mengalir deras, hutan yang terjaga, tanah yang diolah dengan baik, tanaman pangan yang tumbuh subur. Semua dilewatinya dengan senyum kekaguman dan kebanggaan. Saat datang dia merasa bukan siapa-siapa, sekarang saat pergi seperti ada tali yang mengikat hatinya. Belum juga pergi, tiba-tiba dia sudah merasa akan merindukan dukuh Somawangi.
“I will miss you all, Somawangers,” batinnya menyebut orang-orang dukuh Somawangi.
***
Bulan nampak begitu besar dan dingin. Wajahnya halus dan bening seperti batu pualam. Shield mengapung tenang di depannya. Dia hanya berjarak seratus ribu kilometer dari wajah bulan yang terlihat seluas lapangan bola. Di angkasa raya yang begitu luas, banyak ruang kosong dan gelap. Bintang-bintang yang nampak begitu rapat kalau dipandang dari bumi ternyata jaraknya sangat berjauhan, bahkan sampai jutaan tahun cahaya.
“Enak banget disini ya Shield, tidak ada suara apa-apa,” katanya kepada robot penjaganya itu.
Pranaja sengaja mengajak Shield kembali mengunjungi bulan, buat menyegarkan pikiran. Setelah berhari-hari tubuhnya digembleng dalam ‘kawah Candradimuka’ nya Panembahan Mbah Iro, dia merasa perlu bersenang-senang. Berbaring santai di atas tubuh Shield, di depan wajah bulan yang begitu besar, membuat hatinya begitu ringan. Rasanya dia dapat melupakan beban kesibukannya sebagai agen rahasia untuk sementara waktu.
Ketenangannya terusik oleh suara desis Shield yang bergetar lembut. Lalu monitornya menyala. Nampak wajah Miracle terpampang di depannya. Miracle adalah agen rahasia M16 yang berasal dari Slovakia. Salah satu negeri di Eropa Timur.
“Hai, Sirenhead. Bagaimana kabarmu?” tanya Miracle.
Dia menjuluki Pranaja dengan tokoh kartun yang memiliki tubuh tinggi kurus itu.
__ADS_1
“Hai Miracle. Alhamdulillah, I’m fine, thanks,” sahut Pranaja.
Hatinya tiba-tiba begitu senang melihat sahabat yang baru dikenalnya beberapa waktu yang lalu di gedung biru, gedung rahasia milik M16 di tengah samudera Atlantik. Kebetulan banget Miracle muncul. Dia memang lagi ingin berbincang dengan seseorang, tapi tidak menemukannya.
“Kebetulan nih ada teman ngobrol,” katanya. “Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?”
“Aku juga sedang menikmati liburanku. Eh, Naja kamu sedang berada dimana?” tanya gadis berambut pirang itu.
“Aku sedang berada di depan bulan,” jawab Pranaja. “Kamu bisa lihat kan?”.
“Ya, aku juga melihatnya dari sini. Enak banget kamu dibuatkan pesawat sama Q.”
Pranaja menganggukkan kepala sambil tertawa lebar.
“Apa di tempatmu tidak ada bulan?”
“Kalau dari negeriku matahari dan bulan jarang terlihat. Tapi senang juga ya menikmati wajah bulan tepat didepannya,” ujar Miracle.
“Kau juga ingin menikmati keindahan bulan dari dekat?” tanya Pranaja.
“Tentu saja. Tapi, apa kau tidak merasa panas didekat sinar bulan?”
Pranaja tersenyum lebar.
“Hahaha, aku juga tahu” ledek Miracle. “Boleh tidak aku ke tempatmu?”
“Boleh sekali. Kapan? Sekarang?” tanya Toti.
Miracle tertawa sinis.
“Mentang-mentang punya pesawat super cepat, jadi belagu.”
Pranaja tertawa lebar.
“Kalau begitu aku saja yang ketempatmu.”
“Boleh,” sahut Miracle sambil menutup sambungan teleponnya.
Pranaja memberi perintah pada shield.
“Shield bias kau pindai keberadaan Miracle?”
__ADS_1
Shield mendengung. Rupanya sistemnya sedang bekerja memindai lokasi Miracle.
“SLOVAKIA," tulisnya di layar monitor.
“Baik. Bawalah aku kesana.”
***
Miracle terperanjat. Tiba-tiba dia melehat wajah jahil Pranaja sudah menempel di kaca jendela kamarnya.
“Auw!” jeritnya. “Pranaja.”
Pemuda jahil itu tertawa.
“Hahaha..kaget kan?”
Miracle serasa melihat hantu. Bagaimana bisa Pranaja tiba-tiba sudah sampai di rumahnya. Padahal jelas, lima detik yang lalu dia masih berada di depan wajah bulan? Wajahnya langsung curiga, Pranaja tidak dating sendirian.
“Heh! Kau bersama Tong Pi kan?” tebaknya yakin.
Pranaja malah melongo, bias-bisanya Miracle menuduhnya bersama Tong Pi.
“Kenapa kau berpikir begitu? Aku datang sendirian kok?”ujar Pranaja.
“Nanti aku ceritakan deh. Sekarang masuk dulu. Memang kau tidak kedinginan berada di luar rumah?” tanya Miracle.
Eh, betul juga kata Miracle. Dia baru sadar, disekitarnya hanya ada warna putih, putih, dan putih. Rumah, pohon, jalan raya, semuanya tertutup salju. Tentu suhu di luar dibawah nol derajat celcius. Tapi tentu saja dia tak kedinginan, karena memilki elemen api di dalam tubuhnya. Dia adalah Dewa Api, penerus Eyang Karangkobar.
Pranaja melangkah masuk ke dalam rumah. Miracle membuatkan kopi panas dan daging bakar untuknya. Hm, lezat sekali.
“Ternyata kau pintar memasak Miracle.” pujinya. “Cocok deh jadi ibu rumah tangga.”
Miracle mencibir, lalu tertawa ngakak.
“Hehehe..masih bocah bro? Sudah mikirin rumah tangga."
“Eh, Miracle katanya ada yang ingin kau ceritakan padaku. Apa?”
Miracle menggelengkan kepalanya.
“Bukan aku yang punya cerita, tapi dia,” ujar Miracle sambil menunjuk seseorang yang baru keluar dari dalam rumahnya.
__ADS_1
Pranaja terkesiap kaget. Seorang perempuan paruh baya, berwajah dingin, kuat dan tangguh, berjalan mendekati Pranaja. Tanpa senyum, tanpa sapa.
“M? Kau ada disini…?”