
EPS 65 TRADISI BARU
Beda Desa beda budaya, beda Negeri beda tradisi.
Ada perbedaan perlakuan penduduk desa Okunumenda begitu mereka mengetahui kemampuan Pranaja. Kalau sebelumnya mereka begitu meremehkan pemuda cungkring itu, sekarang malah memujanya. Kepala Desa bahkan menyiapkan pengawal-pengawal khusus untuknya. Namun bedanya, pengawal-pengawal bukan diambil dari pemuda-pemuda terbaik tapi dari gadis-gadis tercantik. Ya, sepuluh gadis tercantik Okunumenda, di perintahkan kepala Desa untuk melayani pemuda itu dimanapun dia berada.
“Ini pengawal-pengawal barumu tuan Naja,” kata Kepala Desa. “Yang baju merah Mey, baju hijau Yol, kuning Awf, biru Zel, hitam Gli, ungu Ryu, pink Prat, abu-abu Grey, jingga Tale, cokelat Myra.”
Pranaja senyum-senyum kesenangan. Senyum gantengnya langsung keluar. Adduh,..gadis-gadis itu cantik-cantik banget. Khas gadis pegunungan. Kulitnya putih kemerahan, matanya bening menenggelamkan dan senyumnya lesung pipit, dalem banget masuk ruang halusinasinya remaja yang lagi tumbuh kembang macam Pranaja. Mereka berebutan memeluk tubuh pemuda berwajah imut itu. Tapi berhubung tubuh Pranaja tinggi banget, akhirnya hanya bias ciumin keteknya yang tertutup baju pelindung T-Shield 313216.
“Apakah kamu suka tuan?” tanya Kepala Desa dengan wajah harap cemas.
“Terimakasih, Kepala Desa,” katanya. “Tentu saja aku suka.”
Mula-mula Pranaja merasa happy-happy saja dikawal gadis-gadis cantik itu. Siapa sih yang nggak suka gadis cantik? Apalagi mereka disuruh ngapain aja mau. Maksudnya di suruh bikin kopi, bikin makanan, nyanyi dan yang lainnya. Tapi lama-lama dia merasa terganggu juga. Apalagi mereka tidak pernah membiarkan Pranaja sendirian. Kecuali sedang di kamar mandi atau di toilet, mereka hanya berjaga dari luar.
“Nah, sekarang kalian pulang dulu ya. Soalnya aku mau istirahat. Sekarang pergilah,” kata Pranaja sambil melambaikan tangannya, mengusir mereka.
Kemudian pemuda itu merebahkan tubuhnya pura-pura tidur. Bukannya menuruti kata-kata Pranaja untuk pulang, mereka malah beramai-ramai memijit tubuhnya. Tentu saja Pranaja jadi merasa risih. Apalagi mereka memegang seluruh bagian tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Hai! Apa yang kalian la..mpfff!” kalimatnya tak selesai.
Kepalanya dibenamkan ke dalam bantal oleh kedua tangan Mey yang sedang memijitnya. Wajahnya langsung meleng ke kiri, biar bisa bernafas. Dia sama sekali dibuat tak berdaya. Kedua tangan dan kakinya juga ada yang memijitnya. Hanya mulutnya yang terus berteriak-teriak.
“Woi! Jangan kau pegang bagian itu. Sensi tahu! Auuwhh!” Pranaja menjerit pegal. “Malah kau remas pulak! Bagaimana sih?”
Saat hampir kehabisan akal, tiba-tiba dia menemukan cara untuk meloloskan diri dari sarang para penyamun cantik ini. Tiba-tiba mulutnya menjerit keras, seperti orang ketakutan.
“Kok banyak sekali kecoa dibawah kaki kalian!” teriaknya. “Aarhh!”
Mendengar teriakan Pranaja, gadis-gadis itu serentak melihat ke bawah. Dan secara reflek mereka melompat-lompat dan lari serabutan sambil jejeritan. Konsentrasi mereka langsung hilang. Pranaja menggunakan kesempatan emas ini untuk kabur. Tubuhnya melesat cepat dan hilang di kegelapan hutan.
“Maaf! Kalian baru saja kena ‘Prank’! Hahaha…,” Pranaja tertawa keras. “Kabuurr!"
Gadis-gadis yang baru saja kena tipuan gaya Pranaja, langsung berusaha mengejarnya, tapi tentu saja kecepatan mereka bukan tandingan Pranaja.
“Bagaimana nih Ox, aku nggak bisa dikejar-kejar mereka terus,” ucapnya kepada Ox, sahabat barunya yang lagi bekerja di dapur.
__ADS_1
“Bilang aja kau tidak suka dikawal pada Kepala Desa,” jawab Ox santai.
“Memang mereka mau menuruti kata-kataku?”
Ox malah tertawa lebar.
“Ternyata kau bisa bodoh juga ya. Kamu itu sudah dianggap Dewa oleh mereka. Setiap keinginanmu pasti ditaati dan diikuti.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar juga kata Ox.
“Encer juga otakmu,” ucap Pranaja sambil menepuk kepala Ox.
Buk!
Adduh!
***
Malam in Pranaja mengumpulkan seluruh laki-laki di desa Okunumenda, termasuk prajurit-prajurit Dewi Salju yang telah sadar. Dari cerita mereka, Pranaja berusaha mengorek keterangan tentang keberadaan Dewi Salju. Dari mereka juga Pranaja jadi tahu, ada kekuatan hitam yang mengendalikan tubuh Dewi Salju, yang berasal dari tongkat mustika milik penyihir tua bernama Sarju.
“Benar tuan. Dewi Salju hanyalah seorang gadis polos yang memiliki kemampuan indigo, sehingga mampu membuat benda apa saja dari salju dan es beku. Termasuk istana es yang sekarang dikuasai penyihir jahat itu. Tapi gadis itu kemudian terkena perangkap kutukan yang di pasang oleh si penyihir, sehingga dia tertidur selamanya. Tapi Sarju, dengan kekuatan hitamnya mampu membangkitkan tubuhnya dan menyalahgunakan kekuatan sang Dewi untuk kepentingannya sendiri,” ujar pengikut Dewi Salju itu panjang lebar.
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jadi yang membangun istana itu Dewi Salju sendiri? Lantas buat apa Sarju menculik dan mengumpulkan pemuda dan anak laki-laki di sana?”
“Mereka akan digembleng dan diberi kekuatan tempur sebagai prajurit Tuan Naja. Karena Sarju ingin mentasbihkan dirinya sebagai raja di daerah pegunungan ini. Karena itulah dia butuh Istana sebagai simbol kekuasaan dan tentara sebagai penopang kekuatan sebuah kerajaan.”
‘Jaman modern masih saja ada yang bermimpi menjadi raja,’ batinnya.
Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata di daerah pegunungan tinggi yang dingin ini ada kehidupan tersendiri, jauh dari nilai-nilai komunitas internasional.
“Sepertinya aku harus turun tangan sendiri menangani kasus ini. Aku akan mendatangi istana Salju milik penyihir Sarju,” ujar Pranaja penuh yakin.
“Kami siap mengikuti semua perintah tuan Pranaja,” ujar Kepala Desa.
“Tidak! Tidak! Tidak!" Pranaja menggeleng cepat. Ditatapnya wajah kepala Desa dalam-dalam. “Aku membutuhkan bantuanmu untuk menjaga desa ini bersama seluruh warganya.”
__ADS_1
Kepala Desa mengangguk tanda mengerti.
“Hanya pajurit Dewi Salju yang boleh mengikutiku, karena aku membutuhkan kalian,” ujar Pranaja kemudian.
Lagi pula mereka adalah prajurit terlatih yang bertenaga kuat.
“Siap! Tuanku,” sambut mereka serempak dan menggetarkan.
Mereka segera berkemas. Pranaja memilih kuda putih yang telah disembuhkan dari lukanya. Mereka berdua Nampak serasi, seperti pangeran Diponegoro dengan kuda hitamnya, Gagak Rimang.
“Aku pergi dulu kepala Desa,” pamit Pranaja kepada warga desa.
“Kami akan selalu mendoakanmu, Dewa Naja!” teriak mereka.
Sebelum pergi, Kepala Desa menggamit tangan Pranaja.
“Tuan Pranaja. Maukah kau tidur dulu dengan salah satu puteriku. Pilihlah salah satu diantara sepuluh gadis itu. Mereka semua puteriku, dan aku ingin sekali punya cucu darimu,” kata kepala Desa dengan wajah memelas.
Mendengar bisikan kepala Desa, Pranaja menjadi gemas. Dengan sigap dia berdiri di atas kudanya dan memandang semua penduduk desa.
“Mulai hari ini aku tidak mengizinkan seorang laki-laki bercampur dengan seorang perempuan, sebelum diikat dalam pernikahan suci! Paham!”
Para penduduk mengangguk ragu. Praktek **** bebas sudah biasa dilakukan di desa ini, sepanjang mereka suka sama suka. Bahkan ada sebagian yang tukeran pasangan untuk memenuhi fantasi gila mereka. Na’udubillaahi Min Dzalik.
“Dan iadikan pernikahan suci ini sebagai Tradisi Baru!”
“Caranya?”
“Nanti aku ajarkan!”
“Memangnya tuan Pranaja pernah melakukannya?”
Pranaja tergagap.
“Cerewet kali kau. Push up seratus kali!”
Hehehe…Dewa dilawan.
__ADS_1