RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 143 VIRUS PRANAJA


__ADS_3

143 VIRUS PRANAJA


Hanya dalam hitungan detik, Pranaja berhasil melumpuhkan komplotan begal itu. Setelah itu dia melangkah lagi ke depan dan naik ke ruang kemudi. Dengan tenang Pranaja kembali memegang kemudinya. Lalu berbicara sebentar dengan ponselnya. Saat mereka meninggalkan tempat itu, Lucra melihat delapan orang tergeletak pingsan di tumpuk menjadi satu dengan sepeda motornya. Sehingga mereka tidak bisa bergerak.


“Wow, ternyata kau cukup sadis,” ujar Lucra.


Pranaja tak merespon ucapan Lucra.


“Kau tadi menelpon siapa?”


“AKP Iben, Kasatserse Polres Purbalingga. Kebetulan dia kakakku,” sahut Pranaja. “Dia akan mengirim anak buahnya dari sektor Karangreja untuk mengurus mereka.”


“Ow, berasal dari keluarga militer juga kau ya?”


“Tidak juga, kakakku yang sulung adalah seorang dokter bedah plastik di Korea.”


“Wow, kakakmu operasi plastik juga?”


Pranaja tergelak. Lucra senang mendengar suaranya yang renyah.


“Enggaklah. Kakakku itu gadis paling cantik, jadi tidak perlu operasi.”


Lalu mereka terdiam lagi.


“Malam ini kita akan menginap di Karangtengah Regency, penginapan kecil di kaki gunung Slamet. Besok siang baru kita berangkat ke Megapolitan,” kata Pranaja.


Nada suaranya terdengar serius kembali.


“Kita naik kendaraan ini?”


“Ya. Sudah dua bulan aku keluar masuk ke proyek Megapolitan membawa material yang dibutuhkan disana. Kadang aku menginap untuk bisa menyelidiki tempat itu.”


“Siapa yang berkuasa di sana?”


“Namanya Pramono. Dia adalah orang kepercayaan Subrata, pemilik Subratas’s Holding Company, perusahaan yang sedang mengerjakan mega proyek itu.”


Lucra membuka notebooknya, melihat profil Subrata’s Holding Company dan Megapolitan. Wilayah proyek Megapolitan secara keseluruhan luasnya sepuluh ribu hektar. Wilayah seluas dua ribu hektar yang rencananya akan dibangun hunian berupa bangunan apartemen-apartemen bertingkat tujuh. Sedangkan di kanan dan kiri sungai Tambra direncanakan untuk hunian VVIP berbentuk rumah-rumah klasik bergaya eropa kuno.


Lucra merasa ada sesuatu yang aneh. Luas lokasi sepuluh ribu hektar, yang akan dijadikan area pemukiman hanya duaribu hektar. Terus yang delapan ribu hektar buat apa?

__ADS_1


“Kau sudah melakukan pemetaan tempat itu Pranaja?” tanya Lucra kemudian.


Pranaja menceritakan hasil pemetaannya, Lucra dengan cermat menyimak sambil membaca catatan penting dari Pranaja dari hasil pemetaannya.


“Hm, bocah ini cukup cerdik. Hasil kejanya juga bagus, Hasil pemetaannya sangat mendetail,” batin Lucra.


Bagian Barat sebagai satu-satunya akses pintu masuk wilayah Megapolitan dibangun sebagai wajah peradaban baru kehidupan orang-orang super kaya yang hidup dalam satu kota. Disana sudah dibangun gedung-gedung pencakar langit sebagai pusat bisnis dunia baru dan pusat transaksi keuangan, kondominium, hotel dan restoran bintang lima, pusat hiburan seperti discotek, bioskop, panggung pertunjukkan terbuka hingga gedung seni dan budaya.


Di bagian utara adalah pusat pendidikan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Kejuruan hingga Universitas modern dengan kurikulum yang menggerakkan sektor ekonomi, bisnis dan keuangan. Ada juga tempat-tempat penelitian yang dilengkapi peralatan paling canggih dari seluruh dunia. Ada gedung perpustakaan setinggi sepuluh lantai, Museum Geologi, Sejarah serta museum Sosioogi danAntropologi.



Di sebelah timur adalah tempat-tempat wisata edukasi, hotel dan restaurant yang mengelilingi danau buatan seluas dua ribu hektar. Danau ini bersambung dengan ruang terbuka hijau serta deretan hutan buatan yang mengular sambung menyambung sampai ke bukit Gralangan. Di dalam danau dan hutan ini akan dibuatkan ekosistem yang beragam yang bisa menampung setiap hewan aneh dan langka dari seluruh dunia.



Sedangkan di bagian selatan adalah wilayah hunian elit. Dibuatkan rumah-rumah bak istana dengan model klassik zaman pertengahan. Tiap rumah luasnya tiga hektar, di lengkapi dengan berbagai fasilitas olah raga, kolam renang, bioskop pribadi serta café pribadi. Ada landasan helipad di atas atapnya yang berlantai tiga, Nantinya yang tinggal di sana adalah para taipan, konglomerat, penguasa dunia putih maupun hitam, sultan-sultan dari seluruh dunia serta pelaku bisnis level tertinggi lainnya.


Belum lagi perbukitan panjang yang terletak di bagian paling belakang.Perbukitan ini sengaja dibiarkan sebagai hutan alami untuk menjaga tata guna tanah serta ketahanan air yang mencukupi kebutuhan penghuni Megapolitan. Sungai Tambra yang membelah wilayah ini akan dibuatkan bendungan raksasa untuk digunakan sebagai pembangkit listrik dan pasokan air yang menghidupi pepohonan dan taman-taman di setiap sudut kota.


***


Sedangkan Pranaja langsung kembali kedalam mobil truknya untuk tidur dan berdoa.


Dia baru bangun saat mendengar alarm berbunyi. Dengan sigap dia bangun, lalu melihat layar ponselnya. Jam lima pagi, saatnya sholat subuh. Pranaja turun dari kendaraannya, berjalan menuju Mushola untuk beribadah.



“Assalamu’alaikum,” ucapnya mengakhiri sholat subuh di pagi itu.


Hawa dingin pegunungan yang langsung menyergap membuat tubuhnya terasa kembali mengantuk.


Oahm!


Semenit kemudian, suara dengkurannya sudah terdengar kemana-mana. Pemuda imut itu tidur kembali.


Hrrr…hrrr…


Dua jam kemudian dia sudah bangun. Tubuhnya sudah terasa segar. Selamat pagi matahari, ucapnya sambil memandang ke arah sang raja surya. Senyumnya melebar secerah hari itu. Dan dia sudah siap melaksanakan tugasnya. Setelah mandi dan berganti baju, Pranaja segera menuju villa kecil di kaki gunung Slamet, dimana agen 004 masih terlelap.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok! Huk! Huk!



Pranaja mengetuk pintu kamar sambil terbatuk. Tiga kali ketukan pintu dan dua kali batuk adalah kode rahasia. Hanya agen-agen M16 yang mengerti bahasa itu.



“Pranaja?” tanya Lucra dari dalam.


“Lucra?” jawab Pranaja dari luar.



Lucra membuka pintunya. Ternyata memang Pranaja. Untuk sekejap Lucra terpana melihat pemuda di depannya. Ternyata Pranaja adalah pemuda yang sangat tampan. Perawakannya tidak terlalu kekar, tetapi tegap dan ototnya terlihat keras. Tubuhnya tinggi, gagah dan dia masih sangat muda. Sesuatu yang membuat hati agen cantik ini terkejut.



“Kau? Kau seperti mahasiswa?”



Pranaja melepaskan senyumnya, membuat hati Lucra langsung tergagap. Ada lesung pipit di kedua pipinya dan belahan dagunya membuat Lucra tak tahan untuk mencubitnya. Uh, mirip John Travolta.



“Aku kan memang masih kuliah,” jawab Pranaja.


Lucra masih terlihat gagap, bagai gadis remaja bertemu dengan Arjunanya.


“Oh, Eh iya…silahkan masuk Pranaja,” sahut Lucra sambil membuka pintunya.



Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Eh, nggak boleh, nanti dimarahin ayah. Kan bukan muhrimnya.”


__ADS_1


Lucra jadi merasa malu sendiri. Baru kali ini ajakannya ditolak seorang laki-laki. Padahal biasanya banyak lelaki yang pada ngantri ingin tidur dengannya. Lucra memandang sekejap wajah imut yang juga sedang memandangnya itu. Dan dia semakin tersipu. Heh, Lucra..Lucra. Rupanya hatimu ikut tertular virus Pranaja! Hadewh…


__ADS_2