
EPS 73 SINGA PADANG PASIR
“Kakek! Kakek Zyed!” teriak salah satu dari penunggang kuda.
“Tuan Zyed! Apakah tuan ada disitu?” teriak yang lainnya.
Mereka berteriak bersahut-sahutan memanggil seseorang. Dan orang yang dipanggil itu nampaknya adalah kakek Zyed Utsmanov yang kini bersamanya. Mendengar suaranya, nampaknya mereka adalah orang-orang yang cukup dekat dengan orang tua itu. Pranaja segera kembali ke tempat persembunyian kakek Zyed.
“Kakek, mereka memanggil-manggil namamu,” ujar Pranaja.
“Ya. Aku juga mendengarnya. Pranaja, tolong bawalah aku mendekat kesana.”
Pranaja lalu memapah kakek Zyed naik ke gundukan pasir. Rupanya dia ingin memastikan suara orang yang memanggilnya.
“Kakek! Kakek Zyed! Apakah kau ada disitu!” teriakan itu terdengar lagi.
Kakek Zyed nampak gembira. Tampaknya dia mengenali suara itu.
“Alisher! Kakek ada disini!’teriaknya.
Pranaja segera membakar kayu kering dengan api. Lalu dikibarkan diatas kepalanya sebagai tanda bahwa kakek Zyed ada disitu. Lalu terdengar suara orang berlari. Seorang pemuda muncul dari kegelapan dan langsung memeluk kakek Zyed.
“Kakek, kau tidak apa-apa?”
“Kau lihat sendiri, kakek tidak apa-apa kan?” ujar kakek Zyed.
Mereka pun berpelukan beberapa saat. Pemuda bernama Alisher itu adalah cucu kakek Zyed. Dia seumuran dengan Pranaja. Tubuhnya tinggi, tegap, kulitnya putih sedikit berotot dan sangat tampan. Dia menyandang senjata berat AK47 di pundaknya, serta pedang di punggungnya. Namun begitu, senyumnya sangat ramah, khas orang Uzbekh. Begitu kenal dia langsung akrab dengan Pranaja.
“Thanks, brother. Sudah menemani kakekku,” ucapnya.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Sama-sama. Kakekmu juga sudah menemani aku kan?”
Lalu kakek Zyed mengajak semua orang duduk. Pranaja dengan sigap mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun baru. Kakek Zyed menceriterakan peristiwa yang dialaminya kepada cucunya.
“Lalu kakek diselamatkan oleh Pranaja. Dia adalah dewa yang datang pada saat yang tepat. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin kakek sudah tidak ada.”
Alisher memandang Pranaja penuh rasa terimakasih.
“Terimakasih bro. Kau telah menyelamatkan kakekku,” ujar Alisher.
__ADS_1
“Pranaja ini sudah kakek anggap seperti cucu, sama dengan kamu, Alisher. Jadi kalian sekarang bersaudara,” kata kakek Zyed.
Semua orang pun tertawa mendengar kata-kata kakek Zyed. Alisher dalam bahasa Uzbekh berarti Singa Padang Pasir.
“Oh ya, apa kalian membawa makanan. Dari kemarin kakek sama Pranaja hanya makan daun rebus saja,” sambung kakek Zyed.
Lagi-lagi ucapan kakek membuat semua orang tertawa. Lalu salah seorang pengawal mengeluarkan perbekalan dari dalam sebuah kotak. Sebongkah daging domba, dan nasi Pilav, makanan khas Uzbekhistan.
“Sudah pernah merasakan lezatnya nasi pilav Pranaja?” tanya kakek.
“Belum kakek,” kata Pranaja sambil merasakan nasi pilav yang sedang dikunyahnya. “Rasanya seperti nasi uduk, nasi yang di rebus dengan kuah daging."
Pranaja mengambil daging setengah matang itu dan dipanggangnya diatas api unggun. Setelah matang, daging itu ditaburi daun Thyme sehingga aromanya semakin enak dan rasa dagingnya pun lezat. Thyme adalah tumbuhan gurun yang merupakan salah satu bumbu yang paling sering digunakan di seluruh dunia. Thyme merupakan rempah-rempah yang dapat memberikan rasa baru pada masakan.
Karena bentuknya yang cantik, Thyme juga sering dijadikan hiasan plating. Daun Thyme juga bisa digunakan untuk meredakan gigitan serangga atau luka bakar ringan. Thyme juga dapat menjaga tekanan darah supaya normal karena daun ini mengandung kalium. Thyme juga mengandung vitamin A yang sangat baik untuk mata, membrane dan kulit.
Sungguh malam yang sangat mengesankan. Semua tertawa, semua gembira. Apalagi Pranaja banyak menceriterakan pengalaman-pengalamannya yang luar biasa. Yang membuat Alisher, kakek Zyed dan para pengawal terkagum-kagum dibuatnya.
“Sudah hampir tengah malam Alisher. Kakek pasti butuh istirahat," kata Pranaja.
“Kenali jejaknya lari ke arah mana. Bila ada tanda-tanda membahayakan, jangan melakukan perlawanan. Kalian segera kembali kesini dan melaporkan semuanya kepadaku,” ucapnya tegas.
Pranaja memperhatikannya. Ah, ternyata Alisher sangat cerdas dan memiliki jiwa kepemimpinan. Langkah-langkahnya taktis seperti pernah mengalami pendidikan militer. Tubuhnya sangat kuat dan kalau berjalan begitu berwibawa bagaikan Singa Padang Pasir.
***
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan masing-masing. Alisher akan membawa kakeknya kembali ke Samarkand. Sedangkan Pranaja akan melanjutkan perjalananya pulang ke bumi Nusantara. Kakek Zyed sudah pulih dan bisa berjalan sendiri. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih.
“Ramuan bubuk buah Tin keringmu itu luar biasa. Lukaku sudah sembuh dan kering dengan cepat.”
“Sama-sama kek. Alam lah yang hebat sudah menyediakan semua kebutuhan kita. Tinggal kita mau belajar kepada alam atau tidak,” sahut Pranaja.
Kakek itu mengangguk-angguk.
“Kau sangat bijak. Juga masakan kaktusmu tadi malam sangat lezat,”kakek itu tertawa, ”Seumur hidupku aku baru pernah merasakan masakan Kaktus hehehe…”
“Ah itu belum seberapa. Kakek belum pernah makan masakan kerikil buatanku,” watak jahil Pranaja mulai keluar.
Kakek itu terperanjat.
“Apa? Kau juga bisa merubah kerikil menjadi masakan enak?” katanya tak percaya.
__ADS_1
Pranaja gantian tertawa. Lalu dia menjelaskan kalau dia tadi cuma bercanda. Kakek Zyed dan Alisher tambak terkekeh terkena prank ala sahabat barunya itu. Pranaja betul-betul membuat mereka merasa gembira.
“Anak muda. Kau telah memberikan pelajaran hidup yang sangat penting padaku. Terimakasih sekali. Apabila kau bersedia, singgahlah kau ke negeri Uzbekh. Akan aku sediakan semua yang kau mau,” katanya.
Pranaja mengangguk.
‘Pasti, suatu saat aku sampai ke negerimu. Dan tentu saja akau akan menemuimu. Kau pasti akan kangen dengan masakan kaktusku,” candanya.
Mereka tertawa lagi. Seperti sahabat lama yang baru bertemu. Kakek itu memeluk Pranaja erat-erat. Seperti memeluk anaknya sendiri. Alisher hanya memandangnya sambil tersenyum. Terimakasih Pranaja, kau sudah membuat kakek bahagia, batinnya.
Lalu mereka semua naik ke atas kudanya masing-masing. Alisher menawarkan agar Pranaja mengambil salah satu kuda milik pengawalnya, tapi Pranaja menolaknya.
“Thanks bro, tapi aku lebih menikmati berjalan dengan kakiku sendiri,” sahut Pranaja.
“Oke. Aku tidak akan memaksamu. Sampai jumpa lagi, sobat. Assalaamu’alaikum!” ujar Alisher.
“Walaikumsalam! Hati-hati kakek!” seru Pranaja sambil melambaikan tangannya.
Rombongan Alisher segera melanjutkan perjalanannya. Meninggalkan Pranaja yang masih berdiri memandang kepergian mereka.
“Aku tunggu kunjunganmu brother!” kata Alisher sekali lagi.
Pranaja tersennyum sambil mengacungkan jempolnya. Setelah rombongan itu hilang dari pandangan, barulah dia membalikkan badannya.
Pranaja memandang ke depan. Matanya menatap jauh ke arah horizon. Di depannya terhampar padang pasir yang begitu luas. Sinar matahari pagi yang hangat memberikan semangat sendiri untuk melangkahkan kakinya kembali ke bumi Nusantara.
“Tolooong!”
Mendadak terdengar suara teriakan meminta tolong. Pranaja membalikkan tubuhnya. Suara itu jelas berasal dari arah rombongan Kakek Zyed dan Alisher. Tanpa pikir panjang, tubuhnya segera melesat ringan ke arah mereka.
“Wush!”
__ADS_1