
EPS 138 ZOMBIE JALATUNDA
Pranaja terdiam membeku di depan batang pohon jambu, satu-satunya pohon yang tumbuh di lahan kosong Megapolitan City. Hati dan jiwanya bergetar lembut. Indera keenamnya dapat merasakan kesedihan yang begitu pahit dari kisah cinta dibalik tegak kokohnya pohon jambu itu. Lalu sayup terdengar rintihan suara perempuan menyenandungkan tembang Asmaradana, sebuah lagu cinta antara dua hati yang terjalin menjadi satu.
Nandang asmoro ing ati
( Ketika merasakan cinta di hati)
Nadyan katon ana
( Walaupun telihat di mataku)
Kaya edan bebasane
(Seperti gila seumpamanya)
Kanggomu aku lila
( Untukmu aku tetap rela)
Rasa tresna kang satuhu
( Rasa cinta yang sejati)
Aku tresna aku tresna
(Aku cinta, aku cinta)
Perlahan suara itu terdengar semakin lirih dan kemudian menghilang. Namun pesannya yang tajam begitu menusuk perasaan pemuda itu. Ah, indahnya bisa merasakan kisah cinta sejati yang terjalin di antara dua hati. Cinta yang tumbuh pada pandangan pertama dan bertahan selamanya. Perasaannya begitu luruh, hingga tanpa terasa ada air yang mengalir dari kedua matanya, jatuh membasahi pipi pendekar muda itu.
“Siapakah engkau yang teleh menderita karena kutukan cinta?” batin Pranaja begitu trenyuh. “Aku bahkan ingin mengalaminya dan berjuang seperti kalian, melawan kejamnya takdir yang kuasa memisahkan dua jiwa yang telah menjadi satu.”
Di perhatikannya dalam-dalam batang pohon itu. Kulit pohonnya yang tebal seperti menyembunyikan sesuatu. Meski samar, tapi Pranaja masih bisa membacanya dengan kekuatan netranya yang luar biasa. Ada guratan-guratan yang tersamar di balik kasarnya kulit pohon jambu air yang telah hidup lebih dari lima ratus tahun. Meski samar namun jelas dan tegas, guratan itu menyampaikan pesan yang penuh makna.
“Hm, ada gambar emoticon cinta yang didalamnya tertulis nama Santika dan Miryam? Di atasnya ada tulisan Pohon Cinta, dan dibawahnya ada guratan angka 1515” batinnya. “Santika…hm, mungkin dia si laki-laki sedangkan Miryam adalah yang perempuan.”
__ADS_1
Lalu dia teringat kata-kata Rokhman, kalau jazad dua sejoli itu masih utuh tersimpan dibawah akar pohon cinta ini. Hati Pranaja semakin penasaran. Rasanya dia ingin mengetahui lebih jauh tentang kedua jazad ini.
“Aku akan mencoba menghubungi mereka.”
Lalu Pranaja berdiri tegak. Kedua matanya terpejam. Diulurkannya kedua tangannya untuk menyentuh batang pohon cinta itu.
‘Srrrrdd!’
Ada hawa dingin yang langsung menyengat dan merasuk kedalam pori-pori kulitnya. Kekuatan yang membekukan dan menghancurkan. Dan kedua mata Pranaja langsung terbuka, wajahnya tersentak, seperti tak percaya dengan apa yang dialaminya.
“Kekuatan Tirtanala?” batinnya. “Pohon ini diselubungi kekuatan Tirtanala?”
Dia menekan lebih kuat lagi, mencoba memastikan bahwa kekuatan yang sedang menyerangnya adalah kekuatan yang hanya dimiliki olehnya itu. Kekuatan inti air warisan dari Panembahan Somawangi?
“Apa yang terjadi? Kenapa pohon jambu ini terselubung kekuatan Tirtanala? Apa hubungannya dengan Eyang Panembahan Somawangi?”
Kekuatan indera keenamnya terus menelisik turun ke bawah batang dan masuk ke bawah akarnya. Mencoba menemukan dua jazad sejoli yang katanya masih utuh itu. Tapi, huh..Pranaja harus kecewa. Tidak ada apapun yang terbaring dibawah akar pohon cinta. Jadi, itu cuma cerita mitos atau jazad mereka sudah dipindahkan?
Pranaja mencoba berpikir keras, menebak-nebak apa yang terjadi. Tapi instingnya berkata lain. Perasaannya yang tajam dapat menengarai ada gerakan-gerakan makhluk supranatural yang berjalan ke arahnya. Makhluk-makhluk mirip Zombie itu datang dari balik kabut dan debu yang terus beterbangan di atas permukaan tanah kering. Dan jumlahnya tidak sedikit tapi ratusan!
Ada suara menggeram dengan intonasi yang rendah sehingga terdengar sayup ditelinganya. Pranaja langsung bersikap waspada.
“Kekuatan Dinding Bayangan!”
Kedua tangannya berputar dari kanan ke kiri. Dinding angin setebal satu meter, perlahan menyelubungi tubuhnya. Kemudian bergerak maju menyerang ratusan manusia zombie yang datang mengepungnya. Seketika debu dan asap yang menyelubungi tubuh mereka, hingga hilang tak berbekas. Tapi ratusan makhluk zombie itu tetap bertahan, karena tubuh mereka yang tembus pandang. Mereka terus merangsek mengepung tubuhnya.
Pranaja memasang kembali kuda-kudanya. Lalu perlahan tangan kanannya diangkat ke udara. Terasa ada hawa dingin yang membekukan sekaligus menghancurkan' menghempas ratusan makhluk zombie itu.
“Heyaa! Pukulan Tirtanala!” teriaknya. “Heyaa!”
Tangan kanan yang berada di atas kepalanya, terayun dari atas ke bawah. Lalu terdiam sejenak. Membiarkan benda-benda, tumbuhan, bahkan bebatuan dalam jarak seratus meter persegi langsung membeku. Lalu saat dia mengangkat tangannya kembali, benda-benda yang remuk tadi, langsung hancur menjadi debu.
Namun kedahsyatan Tirtanala tak sebanding dengan kekuatan para zombie ini. Para zombie yang semakin mendekati tubuh Pranaja itu, sama sekali tidak terpengaruh dengan dinginnya Tirtanala. Zombie-zombie itu datang bergelombang dan mulai menggerayangi tubuh Pemuda itu. Na’udhubillahi min Dzalik.
Rupa para zombie itu begitu mengerikan. Tidak ada satupun bagian tubuh mereka yang terlihat utuh. Wajah mereka sangat menakutkan karena penuh luka berdarah. Kadang ada juga yang bola matanya menjulur keluar tapi masih tergantung di kelopaknya. Ada juga yang telinganya tinggal separo, mulutnya sobek atau pun ujung hidungnya terluka dan terus meneteskan darah.
__ADS_1
Kedua tangan mereka yang tidak utuh terlihat bergelantungan di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Kaki mereka berjalan lambat karena ketidak seimbangan antara kaki kanan dan kari kiri. Setelah dekat mereka langsung merangsek rebutan dengan monster zombie lainya untuk memakan tubuh Pranaja. Tentu saja pemuda itu menjadi bergidik. Namun dia tidak berdaya ketika ratusan makhluk Zombie ini memegang seluruh tubuh pemuda imut tadi.
Diangkatnya tubuh cunkring itu ke atas lalu ke bawah dengan cepat. Lalu di lempar ke tanah dengan keras.
Bruk!
Tubuh Pranaja jatuh terlentang. Para zombie langsung berebutan menghampirinya. Begitu zombie-zombie itu hampir menggerogoti tubuh rampingnya, dia langsung menghimpun kekuatannya. Lalu di bukanya matanya lebar-lebar, memelototi ratusan zombie itu. Tiba-tiba dari kedua matanya muncul sinar biru dan langsung menghantam tubuh zombie-zobi itu.
“Anugerah Mata Dewa!” teriaknya.
Slap! Slap! Slap! Slap! Slap! Slap! Slap! Slap!
Tubuh monster-monster itu langsung hilang tak berbekas.
“Mampus kalian semua!”
Tapi Pranaja tidak menghabisi mereka semua. Ada satu sosok setinggi Pranaja yang dibiarkannya tetap hidup. Tubuhnya tegap dan ada gelang emas di kedua tangannya. Pasti dia putera bangsawan atau pejabat kerajaan.
“Siapa kau?” tanya Pranaja.
“Aku Dhadungawuk, lurah Jalatunda.”
Pranaja mengernyitkan dahinya.
“Lurah? Jalatunda? Apa yang sebenarnya terjadi dengan rakyatmu?”
“Rakyaku dimakan oleh sosok siluman naga, Nyai Badranaya, penghuni alas kecipir di perbukitan Kethileng.”
“Dan para zombie itu adalah arwah gentayangan yang merupakan jelmaan rakyat Jalatunda yang ingin balas dendam kepada nyai Nagabadra.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata mereka adalah makhluk-makhluk jadul yang mati saat dimakan sama siluman Naga..
“Kalau begitu..hm..maaf. Apakah kau mengenal Santika dan Miryam?”
Dadhungawuk langsung membalikkan tubuhnya menghadap Pranaja.
__ADS_1