RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 120 AKHIR PERTEMPURAN


__ADS_3

EPS 120 AKHIR PERTEMPURAN


Secara sekilas pemandangan bintang-bintang di langit selalu sama setiap malam. Padahal sebenarnya bintang-bintang itu berubah. Setiap saat lahir bintang-bintang baru, dan bintang-bintang yang telah habis masa edarnya lenyap atau dihapuskan. Dan bintang –bintang yang mati itu akan tersedot ke dalam lubang hitam. Tekanan yang kuat dari putaran ini akan mendorong gas dan partikel gas untuk bersatu.



Tekanan gas dan partikel yang semakin kuat mengakibatkan ledakan bintang masif yang dikenal sebagai ledakan supernova. Saat terjadi ledakan supernova, materi akan mendapat tekanan yang kuat sehingga terkumpul dan membentuk bintang baru!



Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!



Permukaan planet Bumi yang biasanya dingin, siang itu terasa panas. Bom plasma yang dijatuhkan oleh pasukan Abroha membuat suhu Bumi meningkat drastis diatas empapuluh derajat celcius. Suasana panas itu menambah ketegangan antara pasukan gajah Abroha melawan Pranaja dan kawan-kawannya yang didukung oleh pasukan burung Shamtek.



Ribuan moncong senjata dan meriam pasukan gajah yang tadinya mengarah ke tubuh Pranaja dan Spot, kini harus tersebar perhatiannya kepada pasukan burung Shamtek dan psawat Amita.



Mata Pranaja terpejam, berdoa meminta pertolongan dan perlindungan Alloh SWT.



“Bismillaahirrokhmaanirrokhim,” matanya terbuka, tangannya terangkat ke udara lalu dia berteriak dengan lantang, “Allohu Akbar!”



Bersamaan dengan itu, Abrohah juga berteriak memberikan komando agar pasukan gajah mulai menyerang musuh-musuhnya.


Pertempuran pun pecah di antara dua kubu. Sesaat kemudian suara desingan dan ledakan bom plasma terdengan disana-sisni. Mengeluarkan sebaran sinar laser seperti kain pita berwarna-warni yang mematikan.


Pertempuran pasukan gajah Abroha berhadapan dengan burung ajaib Shamtek. Mereka nampak sama kuatnya. Tubuh gajah android itu memang dirancang untuk tahan terdapat serangan sinar laser, Seperti ada perisai tak terlihat yang menyelubungi tubuh mereka. Sehingga serangan-serangan itu langsug mental tanpa menimbulkan kerusakan berarti.


Pasukan burung Shamtek meliuk-liuk di udara. Lalu mereka menembakkan batu-batu panas yang ratusan tahun terpendam di dalam kawah.



Blar! Blar! Blar!.


__ADS_1


Barisan pasukan gajah paling depan mulai kocar-kacir. Tubuh-tubuh raksasa mereka mulai terguncang saat bebatuan nikel itu menembus kulit tebal mereka dan menimbulkan efek bakar yang luar biasa di dalamnya, sebelum meledak, hancur berkeping-keping. Ketika mereka mulai membalas pasukan burung Shamtek segera terbang lebih tinggi.



Sementara itu Pranaja terlibat duel langsung dengan Daj Jal, robot gajah Abroha. Kendaraan lapis baja gajah Abroha bertransformasi menjadi robot super yang sangat tangguh, Kulitnya yang terbuat dari titanium setebal limabelas sentimeter , membuatnya sulit di tembus oleh pedang Naga milik Pranaja Terlihat percikan api yang sangat besar sewaktu pedah itu menggores kulit Daj Jal. Mereka saling menghindar dan membalas serangan. Berkali-kali pukulan Gajah Godham dan tendangan Lebur Saketi Pranaja mengenai tubuh Daj Jal.



Bug!


Robot raksasa itu terdorong beberapa langkah ke belakang, namun dia segera maju menyerang lagi. Suatu saat hantaman tangan Daj Jal mengenai dada bidang Pranaja.


Blag!


Tubuh gempal Pranaja langsung terlempar jauh ke belakang.


Bum!


Menghantam bukit batu yang langsung berantakan.


Ugh!


Pranaja langsung merasa dadanya sesak dan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Tubuh Pranaja masih terbaring di tanah, Pandangannya terasa gelap. Hampir saja dia kehilangan kesadarannya, saat sayup-sayup mendengar suara Amita memanggil namanya.



“Bangun Pranaja! Kau adalah penyelamat umat manusia!” teriak gadis itu.


Perlahan Pranaja bangkit, bertumpu pada lutut dan kedua tangannya. Ah, rasanya semua tulangnya telah remuk. Sakit sekali.


“Harrgh!” teriakan Abroha menggetarkan angkasa.


Dia berlari untuk menghajar tubuh Pranaja dengan pukulan Destroyer-nya. Tangan Daj Jal tampak merah membara bagaikan besi yang dibakar api yang sangat panas. Disamping memiliki daya penghancur pukulan Destroyer juga memiliki daya panas yang luar biasa. Dan Pranaja hanya bisa memandangnya, karena kekuatannya belum pulih.


Tangan Daj Jal yang sebesar tubuhnya telah terayun. Mendadak ada benda yang meluncur cepat menghantam tubuhnya. Ternyata pesawat Amita yang dengan sengaja menabrakkan pesawatnya ke tubuh robot android itu. Gadis itu memilih tindakan bunuh diri untuk menghentikan kebrutalan Abroha dan menyelamatkan Pranaja.


Bum! Blar!


Benturan itu menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat. Pesawat Amita hancur berkeping-keping bersama pemiliknya, sementara tubuh Daj Jal terlempar ke belakang dan terguling-guling.


Pranaja terkesiap, demikian juga Abroha. Mereka sama sekali tidak menyangka tindakan nekad Amita.

__ADS_1


“Amita!” teriak Pranaja dan Abroha bersamaan.


Suasana menjadi hening. Pranaja dan Abroha sama-sama masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Asap tebal masih mengepul, menghalangi jarak pandang mereka.


Sementara tidak jauh dari mereka, Jah Hal, robot transformer Alahab terlibat pertempuran yang seru dengan Spot. Naga bersayap itu terus menghujani tubuh Jah Hal dengan bom-bom api biru yang yang panas. Jah Hal membalasnya dengan tembakan bom plasma. Terlihat bulatan-bulatan api biru berbenturan dengan bom plasma, meledak dan memunculkan sebaran sinar warna-warni seperti pita yang terpancar ke arah kemana-mana.


“Heaarrh!”


“Aark!”


Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!


Langit di atas kerajaan Bumi dipenuhi cahaya warna-warni yang sangat indah. Cahaya putih menyilaukan yang kemudian berpendar menjadi sebaran pita warna-warni yang teratur. Yaitu merah, oranye, kuning, hijau, biru, ungu. Kelihatan indah tapi sungguh mematikan. Namun kulit Spot yang tebal dan tubuh Jah Hal yang telah di rancang anti sinar laser, tidak terpengaruh sama sekali.


“Heaarh!”


“Aark!”


Tubuh Jah Hal mundur beberapa langkah. Lalu dia menyilangkan kedua tangannya, setelah itu tangan kanannya di angkat ke udara. Perlahan dari lengan sampai telapak tangah Jah-Hal mengeluarkan cahaya berwarna hijau terang. Rupanya dia akan mengeluarkan pukulan pamungkasnya, Radiasi Sinar Beta. Siapapun yang terkena efek radiasi ini akan membuat tubuhnya berpendar lalu meledak menjadi abu.


Sementara Spot menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Udara yang dikumpulkan di dalam perutnya itu akan diubah menjadi zat karbon, yang akan dipanaskan saat melewati tenggorokannya, dan kemudian keluar lewat mulutnya berupa api biru yang panasnya tiga kali lipat panas api biasa. Di belakang Spot, burung-burung Shamtek terbang berputar-putar, siap menyerang dengan kerikil apinya.


“Heaarh! Radiasi Sinar Beta”


“Aark!”


Selarik sinar berwarna hujau disentakkan Jah Hal lewat tangan kanannya mengarah ke tubuh Spot. Naga pelindung kerajaan Bumi itu membalasnya dengan menembakkan gumpalan bola api berwarna biru. Dibelakangnya burung-burung Shamtek juga menembakkan ratusan kerikil dari kawah yang berwarna merah menyala.


Bum! Blar!


Terdengar ledakan yang sangat dahsyat. Tubuh Jah Hal terbungkus cahaya biru, disusul terjangan batu-batu kerikil merah menyala yang menghujam tubuhnya. Sejenak tubuh Jah Hal terdiam. Lalu berdiri tegak kembali. Namun gumpalan api biru dan kerikil-kerikil dari kawah itu telah membakar jaringan listrik di dalam tubuhnya. Nampak kakinya mulai limbung, dan…


Blar! Bruum!


Robot transformer itu meledak dan hancur menjadi serpihan-serpihan bersama Alahab yang berada di dalamnya.


‘Aark!’ terdengar teriakan kemenangan Spot.


Tapi keadaannya sendiri tidak lebih baik daripada musuhnya. Tubuhnya diselubungi cahaya hijau terang. Sejenak tubuhnya berpendar menyilaukan lalu…


Blar!


Tubuh Spot langsung meledak dan hancur menjadi debu. Hanya sisik permata biru yang masih utuh, terpental jauh kemudian melayang-layang sebelum jatuh ke bumi.

__ADS_1


__ADS_2