
PERTARUNGAN DUA GENERASI
Kejernihan hati adalah kunci dalam kita memahami kehidupan. Dan kejernihan hati hanya dapat diperoleh ketika kita mampu membebaskan hati dari segala ambisi dan kekhawatiran terhadap dunia.
Jenderal Xialuai Khan sedang mempertaruhkan harga dirinya di depan anak buahnya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut manusia bertopeng telah menempatkan dirinya sebagai orang yang paling bersalah dalam jatuhnya korban dari revolusi yang sedang dia perjuangkan. Kematian ribuan orang tak berdosa karena ambisi konyol seorang Jenderal yang terobsesi akan keperkasaan Mongolia pada masa lalunya?
“Pergilah kalian semua! Aku sendiri yang akan menghadapi manusia bertopeng itu. Biar Maut yang menentukan siapa yang memiliki kebenaran disini!” teriaknya membelah angkasa.
Tapi tak seorang pun bergeming mendengar seruannya. Kesetiaan sejati didasari rasa cinta anak buah dengan piminannya, ikatan batin yang didasari keinginan yang sama, melihat kembali kejayaan Mongolia menguasai dunia. Dan mereka yakin dengan kemampuan sang Jenderal untuk mewujudkan impiannya. Artinya tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan pemimpinnya dalam situasi yang genting. Tijitibeh! Mati siji mati kabeh. Rawe-rawe rantas malang-malang tuntas! Lebih baik hancur binasa daripada hidup sebagai pengkhianat!
“Tidak Jenderal! Kami akan tetap disini bersamamu. Kita hadapi semua rintangan ini, untuk meraih masa depan Mongolia sesuai keyakinannmu!”
Jenderal Xialuai Khan membalikkan tubuhnya kembali. Kali ini dengan wajah yang terlihat jumawa. Matanya menatap tajam wajah Pranaja.
“Kau dengar sendiri kan? Mereka sendiri yang rela mengorbankan diri untuk negara, bukan karena kesalahanku,” katanya kemudian.
“Itu karena kau telah mencuci otak mereka dengan ramuan Mawar Hitam Jenderal,” ujar Pranaja.
“Ah, rasanya aku terlalu banyak bicara,” kata Xialuai kemudian. “Bunuh dia! Habisi sampai ruhnya tidak mengenali dirnya sendiri!”
Serentak keempat belas abak buahnya yang tersisa melesat menyerang Pranaja dengan pedang terhunus. Seketika ujung-ujung pedang yang bersinar memantulkan cahaya matahari itu mengepung tubuhnya. Pranaja mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya. Terasa hawa sejuk merasuki dirinya, meresap ke dalam pori-pori kulit, urat syaraf dan butir-butir darahnya. Membuat kekuatannya tubuhnya bertampah berlipat ganda.
Setelah itu dia mengeluarkan ajian Lembu Sekilan dari dalam tubuhnya. Seperti ada selubung tak terlihat yang melindungi dirinya. Setiap senjata yang menyerang tubuhnya, Pada jarak sepuluh sentimeter akan di mentalkan kembali.
“Matek ajian Lembu Sekilan!”
Rich Pranaja berjalan tenang diantara sabetan pedang-pedang musuhnya. Dengan ajian Lembu Sekilan yang dimilikinya, pedang-pedang itu tidak akan mampu menyentuh kulitnya. Walau musuhnya memiliki tenaga sekuat gajah sekalipun.
Lalu dia berhenti. Di tengah medan pertempuran dia berdiri tegak. Kakinya kokoh menginjak bumi. Suaranya menggelegar menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
“Keluatan Tirtanala!”
Pranaja mengibaskan kedua tangannya. Seketika hawa dingin yang membekukan sekaligus menghancur terasa berhembus dalam jarak dua puluh meter persegi. Hawa itu menyerang persendian, urat syaraf dan jaringan darah di dalam tubuh. Membuatnya semua menjadi beku.Seperti patung, tubuh para penyerangnya nampak diam menggigil dalam berbagai pose. Hanya mata mereka yang masih bisa bergerak-gerak.
“Perhatikan baik-baik Jenderal! Kalau aku mau menyentuhkan tanganku ke tanah, tbuh mereka akan hancur remuk seperti patung kaca yag pecah terkena hantaman palu,” kata Pranaja.
“Tapi aku tidak mau melakukannya. Karena aku tidak suka melihat ada darah yang mengalir, nyawa yang tercabut dan keluarga yang terluka karena kematian mereka.”
“Sombong sekali kau. Rupanya kau sedang pamer kekuatan dihadapanku!” teriak Xialuai.
Lalu dia mengeluarkan senjata andalannya. Dia buah tasbih dari dalam sakunya. Dua tasbih itu dilempar ke udara, satu ke kanan dan satu ke kiri. Dalam keadaan berputar-putar, kedua tasbih itu terbang saling mendekat. Kemudian menyatu membentuk tasbih yang lebih besar dengan dua belas butiran besar melambangkan dua belas elemen kekuatan bumi dan langit.
Tasbih itu berputar semakin cepat. Butir-butirnya yang terbuat dari mutiara, menyerap sinar matahari, menjadikannya terlihat bersinar kuning keemasan.
“Apa? Tasbih Suci Dalai Lama yang telah lama hilang dari Kuil Tibet? Ternyata kau pencurinya?” kata Pranaja seperti tak percaya.
Dia menyabetkan tangannya ke depan dengan kuat.
“Heyaaa!!”
Selarik sinar berwarna kuning keemasan melesat dari butiran-butiran tasbih itu ke arah Pranaja. Sontak pemuda itu melompat tinggi untuk menghindarinya, Dia tahu kekuatan sinar emas yang keluar dari butiran tasbih itu sangat dahsyat. Jangankan tubuh manusia, gunung pun bisa terbelah.
Akibatnya naas, empat belas anggota Pasukan Mawar Hitam yang tubuhnya membeku di belakang Pranaja terkena imbasnya. Tebuh mereka langsung terbelah menjadu dua akibat serangan yang di lancarkan pemimpin Tertinggi mereka sendiri.
Pyar! Prang! byar!
Tubuh-tubuh mereka jatuh ke tanah dan hancur bagaikan serpihan-serpihan kaca. Tanpa darah dan jerit kesakitan.
Sejenak Xialuai terkesiap melihat prajurit-prajuritnya yang setia tewas karena kecerobohannya sendiri. Amarahnya pun mencapai puncaknya. Dia berlari cepat ke arah Pranaja, kemdian meloncat dan melesat menyerang Pranaja dengan segenap kekuatannya. Sementara tasbih sucinya masih melayang-layang di udara mengikutinya.
__ADS_1
Pranaja berdiri dengan tenangnya. Kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Pada saat Xialuai mengeluarkan jurus andalannya, Pranaja menyambutnya dengan kekuatan Dinding Bayangan.
“Badai Sabana!” teriak Xialuai Khan.
Terdengar suara gemuruh badai dahsyat yang menumbangkan pepohonan dan menerbangkan bebatuan besar. Kekuatan badai itu melesat menyerang tubuh cungkring Pranaja.
“Dinding Bayangan!”
Dinding angin setebal dua meter melabrak ke depan, menyambut kekuatan Badai Sabana.
“Blar! Blar!”
Terlihat percikan-percikan api bagaikan petir saat kedua kekuatan dahsyat itu bertemu. Kedua kekuatan angin itu saling mendorong dengan kuatnya. Nampak rambur Pranaja dan Xialuai yang sama-sama panjang berkibar-kibar tertiup badai dahsyat. Lalu kedua tubuh itu meloncat ke depan.
Keduanya pun terlibat pertempuran satu lawan satu. Sama-sama kuat dan digdaya. Mereka mengerahkan semua ajian dan kesaktian yang mereka miliki. Lengan raksasa milik Xialuai beradu dengan lengan cungkring milik Rich Pranaja di udara. Menimbulkan gesekan kilat dan percikan api yang besar. Xialuai pernah menjadi murid kesayangan Dalai Lama, sedangkan Rich Pranaja adalah ksatria Yang Terpilih dari trah Begawan Wanayasa yang telah moksa dan menjadi Dewa..
Tubuhnya telah dilebur dengan berbagai kekuatan dahsyat milik para leluhurnya di curug Plethuk dan Gua Batu Hitam.
Miracle dan tentara dari kedua kubu yang bermusuhan pun berdatangan ke arena pertempuran. Pasukan berkuda dan militer pemerintah saling bersorak sorai memberikan dukungan dari kejauhan.
“Heyaa..!!”
“Aarrggghhh!!!”
Hingga menjelang sore pertempuran belum nampak akan berakhir. Lalu keduanya berdiri mengambil jarak. Xiaulai Khan segera menghimpun kekuatan pamungkasnya. Kedua tasbih sakti Tibet itu dipisahkan kembali. Lalu diikatkan di telapak tanganya masing-masing.
Lalu kekuatan itu mulai merambat dan mengisi kedua tangannya. Mulai siku sampai telapak tangannya, terpancar sinar kuning keemasan.
Rich Pranaja berdiri tegak. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Kekuatan para dewa bersatu mengalir dalam darahnya. Merambat ke dalam kedua bola matanya. Beberapa saat kemudian, tampak matanya berubah menjadi biru muda bersinar menyilaukan. Inilah kekuatan Anugerah Mata Dewa yang sangat dahsyat warisan Eyang Karangkobar.
__ADS_1