
EPS 64 DEWA SESEMBAHAN
Semakin malam, kabut semakin tebal menutup permukaan alam di sekitar pegunungan Allbush. Suara erangan dan jerit kesakitan masih terdengar dari dalam kabut. Pranaja telah meminta Kepala Desa agar mengehentikan serangan terhadap para makhluk yang muncul dari dalam kabut. Bahkan meminta penduduk desa agar mengumpulkan korban pertempuran yang masih hidup untuk diobati.
“Sesuai konvensi hukum perang internasional, kita harus memberikan hak hidup kepada korban peperangan yang menderita luka. Kewajiban kita untuk merawat dan mengobati mereka hingga sembuh,” ujarnya.
Didorong rasa segan dan berhutang budi akhirnya Kepala Desa menyuruh penduduk untuk memenuhi permintaan Chef Rich Pranaja. Namun mereka kesulitan membedakan korban yang masih hidup dan korban luka karena kabut tebal yang mengalangi jarak pandang mereka.
“Bagaimana ini Chef Rich? Pandangan mereka terhalang kabut tebal,” ujar Kepala Desa.
Pranaja berdiri menentang kabut tebal. Lalu dengan sekali hentakan, tangannya didorong kedepan dengan kuat.
“Pukulan Gelombang Dinding Bayangan!” teriaknya.
Dinding angin setebal satu meter bergerak cepat ke depan. Membuyarkan kabut tebal yang menghalangi pandangan orang-orang. Belum lagi hilang kekuatan angin bayangan itu, pukulan dinding angin berikutnya muncul secara bergelombang. Terus mendorong kabut tebal yang menyelimuti arena pertempuran hingga jarak seratus meter.
Kini terbukalah pemandangan mengerikan di depan mereka. Puluhan orang tengah meregang nyawa karena luka parah yang di deritanya. Ada yang tertusuk tombak, pedang, parang, sabit bahkan pisau dapur. Rupanya penduduk desa benar-benar memanfaatkan senjata tajam seadanya di rumah. Ada juga penyerang yang tewas tertindih kudanya sendiri, tergencet hingga kehabisan nafas.
“Ambilah semua tubuh manusia itu dan kumpulkan di tempat terpisah. Yang masih hidup akan kita rawat. Sedangkan yang sudah meninggal akan kita sucikan dengan cara yang baik,” seru Pranaja. “Aku akan mengobati yang terluka. Kumpulkan mereka dalam satu ruang tertutup dan terkunci rapat. Ambil senjata dan kuda-kuda mereka.”
Yang paling parah adalah korban yang masuk lubang perangkap yang penuh dengan ujung tombak. Tubuh-tubuh mereka bersama kudanya sudah tidak dapat ditolong lagu. Puluhan tombak memanggang mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Siapa yang membuat jebakan ini?” tanya mereka dalam hati.
Mereka saling pandang. Lalu seperti ada aba-aba, mereka terus menengok ke arah Chef Rich Pranaja dengan pandangan kagum. Walaupun hanya menebak, namun mereka yakin dengan Dewa Penyelamatnya itu. Dalam hati mereka menjulukinya Pemuda Segala Tahu, karena pengetahuan dan kecerdasan otaknya.
“Ternyata pemuda yang bersama kita itu bukan orang sembarangan,” gumam mereka.
__ADS_1
“Dia pasti keturunan dewa, atau paling tidak memiliki kekuatan dari Dewa,” bisik yang lainnya.
Di dalam ruang yang tertutup rapat, korban-korban perang yang terluka parah dan masih hidup di kumpulkan menjadi satu. Kemudian Pranaja masuk ke dalamnya, diiringi tatapan heran para penduduk desa. Apa akan dilakukan pemuda itu? batin mereka.
“Kekuatan Tirtanala!” ucapnya pelan.
Satu persatu dia memegang kepala mereka dengan lembut. Merasuki tubuh mereka dengan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Menyalurkan hawa sejuk yang menembus pori-pori kulit, terserap ke dalam jaringan urat syaraf mereka. Menghilangkan segala rasa sakit, berganti rasa nyaman. Memperbaiki sel-sel darah, syaraf dan otot yang terluka, hingga kembali sembuh seperti semula.
“Alhamdulillaahirobbil ‘alamiin,” ucapnya perlahan.
Orang-orang yang tadinya sekarat dan hampir kehilangan nyawanya itu, berbalik sembuh total tanpa terlihat ada bekas luka sedikitpun. Ajaib! Hanya satu yang berubah. Pranaja juga mencuci otak mereka, sehingga mereka melupakan jatidirinya di masa lalu dan terlahir kembali sebagai manusia dengan kepribadian baru.
“Kalian semua adalah orang-orang baik yang kuat, jujur, setia, suka bekerja keras serta selalu berbuat baik kepada sesama dan alam semesta. Camkan itu baik-baik dalam otak kalian,” ucap Pranaja sambil memberian sugesti ke alam bawah sadar mereka.
“Selamat datang di dunia kalian yang baru. Ikutilah langkahku,” kata Pranaja.
Dia membuka kembali pintu ruangan, lalu berjalan keluar diikuti puluhan pasukan musuh yang kini sudah menjadi sahabat tersebut. Penduduk Desa yang tadinya bersiaga malah terkesiap kaget, seolah tidak percaya dengan pandangan mereka. Bagaimana mungkin orang-orang yang tadinya terluka parah itu, tiba-tiba berubah menjadi bugar kembali. Bahkan tidak terlihat luka sedikit pun?
“Sambutlah teman-teman kalian yang baru, wahai warga Okunumenda,” ucap Pranaja sambil mengangkat tangan kanannya ke udara.
Alih-alih bertepuk tangan atau bersorak, mereka malah duduk bersimpuh dan bersujud di depan Pranaja.
__ADS_1
“Oh, maafkanlah kami Mahadewa, yang telah bersikap buruk kepadamu. Ampunilah kami,” kata Kepala Desa sambil menelungkupkan wajahnya ke tanah diikuti penduduk desa lainnya.
Pranaja terhenyak. Dia tak menyangka para penduduk desa telah salah memahami dirinya.
“Woi, Kepala Desa! Bangun kalian semua!” teriak Pranaja. “Aku bukan dewa. Aku bukan sesambahan kalian. Bangunlah!”
Tapi Kepala Desa tidak bergeming. Mereka tetap menangkupkan wajahnya ke tanah sebagai wujud bakti mereka kepada dewa yang selama ini mereka sembah dan puja-puji.
“Baiklah,” kata Pranaja pada akhirnya. “Aku adalah dewa kalian. Sekarang Dewa ingin kalian berdiri seperti semula.”
Kepala Desa dan para penduduk segera mematuhi perintah itu. Mereka kembali berdiri sambil menundukkan kepalanya. Tak ada satupun orang yang berani menatap ke depan, takut bertatapan mata dengan Pranaja. Dalam keyakinan mereka itu adalah sebuah kesalahan besar, menatap langsung mata Dewa sesembahan mereka.
“Nah, sekarang sambutlah teman-teman baru kalian. Ikat mereka sebagai warga Okunumenda. Hiduplah berdampingan sebagai saudara,” ujar Pranaja.
Meski mulanya agak ragu, namun akhirnya mereka menyambut orang-orang baru bekas musuhnya itu. Ternyata mereka begitu ramah dan hangat, jauh sekali dari kesan makhluk dalam kabut yang brutal dan kejam.
***
Di sebuah gua berbatu hitam yang dingin dan samar, penyihir Sarju marah besar. Bagaimana tidak, dia baru saja mendengar laporan anak buahnya tentang gagalnya pasukan makhluk-makhluk dari dalam kabut menaklukkan desa di puncak pegunungan Allbush. Desa miskin yang hampir di tinggal pergi para penghuninya itu, tiba-tiba mengejutkannya. Entah dapat kekuatan darimana, pasukan misterius mereka yang kuat dapat dihancurkan begitu mudahnya.
Dia lalu berrjalan menuju tengah ruangan. Kakinya yang lumpuh sebelah membuat dia harus berjalan menyeratnya. Wajahnya Nampak begitu muram, menggambarkan kemarahan dalam hatinya. Di tengah ruang gua itu terhampar batu besar yang diatasnya terdapat kotak kaca. Di dalam kotak kaca itu bersemayam seorang gadis muda berpakaian serba putih dengan rambut emas tergerai memanjang.
Sesampainya di depan kotak kaca itu, sang penyihir membaca mantra-mantra. Perlahan ada asap tipis yang muncul dari tongkat hitam yang diujungnya dihiasi tengkorak kepala manusia. Asap tipis itu perlahan turun ke dalam kotak dan masuk kedalam lubang hidung gadis yang terbaring di dalamnya. Mendadak kedua mata gadis itu terbuka. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa merinding bulu kuduknya. Kedua mata gadis cantik berpakaian serba putih itu berwarna hitam semua.
“Dewi Salju, bangunlah!”
__ADS_1
Lalu terdengar tawa berderai dari mulut si peyihir tua.