
EPS 108 MENEMBUS LORONG WAKTU
Pranaja berdiri gagah menapak bumi. Tatapan matanya memandang lurus jauh ke depan, seolah memastikan dunia ada dalam geggamannya. Tubuhya yang tinggi menjulang, mengeluarkan percikan-percikan api yang menyilaukan. Dadanya begitu bidang dengan otot bisep dan trisep yang bertonjolan keluar, serta urat-urat darah yang terlihat jelas mengular di sekujur tubuhnya.
Lalu dengan satu hentakan keras, Pranaja mengangkat pedang Naga miliknya, lurus menancap angkasa. Sinar putih yang sangat menyilaukan terpancar deras membelah langit. Menciptakan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Gupalan awan hitam berarak menutupi bumi Socrota.
Heyaa!
Jleger! Jleger!
Mendadak langit diatas Socrota semakin gelap. Matahari, bulan dan bintang-bintang tertutup uap air berwarna putih tipis sekali. Gumpalan uap es seperti kapas putih itu berkumpul dan mulai berputar, semakin lama semakin cepat. Angin bertiup diikuti suara bergemuruh yang amat dahsyat. Lalu pusat putaran itu perlahan terbuka, membentuk sebuah lorong yang amat panjang.
Nampak diujung lorong lainnya adalah penampang permukaan bumi yang tertutup lapisan es. Inilah yang namanya lorong waktu. Melalui lorong ini, Pranaja dan Spot akan menembus waktu kembali ke masa lalu. Saat peradaban manusia mencapai puncak kejayaan dan bumi di huni makhluk-makhluk mengerikan yang sama sekali berbeda dengan makhluk hidup manusia modern.
“Pintu Portal menuju Lorong Waktu telah terbuka Pranaja. Ini saatnya kau dan Naga milikmu menjalankan misi menyelamatkan kehidupan di Kerajaan Bumi, setelah kehidupan di planet-planet lainnya musnah,” kata Shamtek.
“Siap kakek aku segera berangkat!” sahut Pranaja.
Lalu tubuhnya melenting ke atas, melesat cepat menuju pintu portal Lorong Waktu.
“Aark!”
Spot mengepakkan sayapnya. Terdengar deru angin bergemuruh bagaikan ribuan lebah yang sedang mengamuk. Lalu tubuhnya yang sebesar bukit kecil itu melesat ke atas, menyambut tubuh Pranaja yang kemudian berputar dan duduk di atas punggungnya. Fantastik!
“Pranaja! Tunggu aku!” teriak Wyona.
Pranaja menoleh ke bawah. Peri cantik itu melayang cepat ke atas. Ada baju zirah yang menutup tubuhnya dari bahu sampai lututnya. Pranaja menarik nafas lega. Rupanya Shamtek mengerti kesulitan yang di alami pemuda itu, sehingga tubuh Wyona juga tertutup kain yang cukup tebal itu.
Jlep!
Wyona langsung duduk di depan Pranaja dan memeluk tubuhnya. Tentu Pranaja lagi-lagi terperanjat.
“A..apa yang kau lakukan Wyona? Tempatmu kan di sisik berlian biru?”
__ADS_1
Wyona tersenyum. Tatapan matanya penuh cinta.
“Aku sudah bosan tinggal di dalam batu permata. Aku ingin memboncengmu saja,” ucapnya dengan suara manja.
“A..apa!”
Hadewh! Bagaimana aku bisa menjalankan tugasku kalau konsentrasiku terganggu, batin pemuda gagah itu.
“Baik! Tapi yang namanya membonceng itu di belakang menghadap ke depan. Bukan di depan menghadap ke belakang,” Pranaja mencoba menjelaskan.
Wyona masih terdiam. Menatap wajah Pranaja sambil tersenyum-senyum.
“Kau tak mendengar kata-kataku Wyona? Lagian kau juga menghalangi pandanganku,” ujar Pranaja lagi.
“Iya iya, aku akan pindah ke belakang.”
Cup!
Tanpa di duga, tiba-tiba Wyona memgecup bibir Pranaja. Lalu memutar tubuhnya pindah di belakang punggung pemuda itu. Pranaja yang terkesiap kaget, kehilangan kendalinya beberapa saat. Tubuhnya nampak bergetar hebat. Bibir Wyona terasa empuk, hangat dan basah.
“Whoaaatttt!!!”
“Wyona!” teriaknya kesal. “Jangan kau lakukan hal itu lagi!”
Peri cantik itu hanya tersenyum. Di peluknya tubuh Pranaja dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di tubuh pemuda itu. Pranaja membiarkannya. Membiarkan sensasi itu merayapi hati dan perasaannya. Lalu diam-diam bibirnya tersenyum tipis menikmati pelukan Peri Wyona.
***
Tubuh Spot terbang tegak lurus menuju pintu Portal Lorong Waktu. Semakin dekat terasa pusaran angin berhembus semakin kencang. Juga cahaya dari pintu portal yang begitu menyilaukan. Pranaja merasakan pelukan Wyona semakin kencang. Sementara Spot terus memacu kecepatannya agar segera masuk lorong waktu sebelum pintu portal itu menutup kembali.
“Cepat Spot! Pintunya semakin menutup!” teriak Pranaja.
Pada detik terakhir, mereka berhasil memasuki lorong waktu sebelum pintu portal itu benar-benar tertutup rapat.
__ADS_1
Wush!
Begitu mereka memasuki lorong waktu dan pintu portal tertutup rapat, pemandangan di sekitarnya langsung berubah. Tubuh mereka bertiga terpental, lalu seperti tersedot dan melayang-layang dalam dunia yang penuh warna. Pranaja menggandeng tangan Wyona agar peri itu tidak terpisah terlalu jauh. Sementara tubuh Spot sudah melayang mendahului mereka.
Jleb! Jleg! Ah!
Sreeek! Slerreeet! Bug!
Begitu mereka menginjakkan kakinya di tanah, mereka langsung terpeleset. Tubuh mereka meluncur di atas lapisan es sebening kaca. Pranaja membalikkan tubuhnya, tatapan matanya tajam menembus pemandangan di bawah lapisan es. Pranaja terkesiap kaget, bulu kuduknya sampai merinding. Disamping pepohonan dan semak belukar banyak binatang-binatang raksasa yang terpendam di dalamnya.
Binatang purba yang sudah punah seperti keluarga Dinosaurus yang banyak dikenal manusia modern, ada Tyranosaurus Rex atau T-rex, Brontosaurus, Stegosarus, Ankylosaurus, Ichtyosaurus yang merupakan hewan raksasa terbesar yang pernah menghuni bumi. Sebagian dari mereka adalah binatang pemakan tumbuhan, sedangkan sebagian lainnya adalah binatang pemakan daging.
Selain itu ada Argavantis burung setinggi manusia yang memiliki sayap sepanjang enam meter. Disamping Megalodon juga ada Helicoprion, hewan predator mirip hiu raksasa yang giginya tumbuh dalam pola melingkar menyerupai roda, Titanoboa, hewan predator berwujud ular raksasa dengan panjang mencapai 25 meter dan bobot sampai 2 ton dan binatang-binatang purba raksasa lainnya.
Tubuh-tubuh mereka diam membeku dalam berbagai ekspresi. Ada yang sedang makan, ada yang sedang tertidur, ada yang sedang mengejar mangsanya bahkan ada yang sedang berkelahi. Nampak luka dan darah berceceran di wajah dan tubuh mereka.
Pranaja benar-benar takjub di buatnya.
“Wah ternyata banyak binatang purba yang benar-benar tidak pernah dilihat manusia modern, karena fosilnya tidak pernah ditemukan,” batinnya saat melihat binatang aneh yang belum pernah dilihatnya di buku ensiklopedia.
Saat tubuhnya berhenti meluncur dia melihat wajah manusia yang membeku dalam lapisan es itu juga. Wajah yang terlihat menyeringai kesakitan karena menahan dinginnya bumi tanpa sinar matahari.
“Hah!’ teriaknya sambil bangkit berdiri, tapi jatuh terjengkang lagi.
Rupanya lapisan es itu sangat licin. Pranaja yang baru pertama menginjaknya, langsung kehilangan keseimbangan tubuhnya.
“Lapisan es ini sangat licin. Aku tidak bisa berdiri tegak tanpa bantuan alat,” batinnya.
Lalu dia menancapkan pedang naganya ke dalam lapisan es itu.
Heyaa!
Lapisan es dalam radius limapuluh meter persegi langsung amblas begitu pedang naga itu menancap di dalamnya.
Prak! Reketek! Sreeeek!
__ADS_1
Potongan-potongan es itu langsung jatuh ke bawah. Tubuh Pranaja, Spot dan Wyona ikut terperosok ke dalamnya. Ternyata lapisan es yang menutupi permukaan bumi sangat tebal. Hingga terperosok sampai tigapuluh meter, barulah mereka menginjak tanah yang sebenarnya.