RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 96 CHENGDU J-20


__ADS_3

EPS 96 CHENGDU J-20


Fenomena alam yang terjadi membuat tentara Korea Utara terhenyak beberapa saat. Seumur hidup berjaga di atas perbatasan sungai Yalu, baru sekali ini mereka melihat airnya mendidih dan mengeluarkan cahaya berwarna biru. Apalagi semburat air yang bermunculan akibat meledaknya puluhan ranjau darat yang tertanam di dasar sungai, sungguh membuat mereka tercengang.



Byak!



Wush!


Di tengah puluhan semburat air yang memancar ke atas terdengar kecipak air diikuti gumpalan besar cahaya berwarna biru yang melesat dari dari dalam air. Warna air sungai Yalu kembali normal. Para tentara baru sadar ada sesuatu yang aneh dengan cahaya biru itu. Mereka terus mengamatinya sampai menghilang dari pandangan mata.


“Wuing! Wuing! Wuing! Wuing! Wuing!”


Mendadak di angkasa raya terdengar suara mendengung bagai jutaan tawon yang mengamuk. Puluhan pesawat jet tempur J20 Angkatan Udara China memburu cahaya biru dengan kecepatan empat kali kecepatan suara. Seolah mereka tidak mau kehilangan barang tangkapannya, hilang dan lolos dari pandangan.


“Cahaya biru itu melesat menuju perbatasan di semenanjung Korea. Kemungkinan besar mereka akan memenyelamatkan diri ke wilayah Korea Selatan,” laporan dari CNSA.


“Hancurkan sebelum melewati wilayah perbatasan dan masuk wilayah Korea Selatab,” perintah komandan militer China.


CNSA atau China National Space Administration adalah Guójiā Hángtiān Jú, atau "Biro Luar Angkasa Nasional" adalah badan antariksa nasional Republik Rakyat Tiongkok bertanggung jawab untuk program luar angkasa nasional dan bertanggung jawab untuk perencanaan dan pengembangan kegiatan ruang angkasa. Mereka terus mengawasi pergerakan cahaya biru itu melalui citra satelit.


Jet-jet tempur siluman China itu terus memburu dan berusaha mengunci pergerakan cahaya biru. Mendadak cahaya biru itu menghilang dan berganti tubuh Pranaja yang sedang menerbangkan kapal selamnya. Rupanya pemuda itu merasakan kehadiran pesawat-pesawat siluman yang membahayakan keselamatan mereka.


“Aktifkan roket pendorong pesawatmu Ryong!” teriak Pranaja.


Ryong menganggukkan kepalanya. Dengan sigap dia menekan tombol berwarna merah di papan panel.


Wrrrr! Brrrrddd!


Seperti meraung keras, dua buah roket pendorong yang diikatkan di bawah badan pesawat mengeluarkan api yang sangat panas.

__ADS_1


“Pergilah! Aku akan menghadapi pesawat-pesawat itu!”teriak Pranaja lagi.


Ryong membuka pelat yang mengikat pesawatnya dengan kendaraan lapis baja yang sedang di terbangkan Pranaja. Setelah terbuka, pesawat Thunderbolt miliknya langsung melesat dengan cepat.


Wush!


Sementara Pranaja menghadang kedatangan jet-jet tempur itu di angkasa. Dengan kekuatan yang menakjubkan dia melemparkan kendaraan lapis bajanya ke arah pesawat tempur yang melaju paling depan. Kendaraan lapis baja itu meluncur cepat, pilot pesawat tak sempat menghindar. Dua kendaraan militer itu meledak dahsyat di udara. Pecahan besinya mengenai beberapa pesawat lainnya yang sedang terbang bersama dalam formasi huruf V.


Blar! Blar! Blar! Blar!


Empat pesawat jet tempur siluman itu hancur tak bersisa. Pesawat lainnya segera terpencar. Sesaat kemudian mereka menyerang kembali dengan membentuk formasi baru, Formasi Ular Kobra. Mereka berbaris tidak dalam posisi beraturan, tetapi melekuk-lekuk bagaikan tubuh ular kobra.


Chengdu J-20 adalah pesawat tempur prototipe generasi kelima, siluman, twin-mesin yang dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Industry Group untuk Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina. Mereka segera menembakkan peluru kendali udara ke udara jarak pendek. Karena pesawat ini tidak memiliki autacannon atau meriam putar internal sehingga tidak ada peluru biasa yang bisa ditembakkan.


Sementara itu, wajah Pranaja sempat terekam citra satelit. Militer China langsung mengenalinya sebagai 009, agen rahasia Secret Intelligence Service atau sering dikenal sebagai M16. Komandan militer udara China segera memerintahkan pesawat-pesawat untuk melenyapkan Pranaja dengan rudal-rudal udara ke udara milik mereka.


“Lenyapkan dia hingga tak bersisa,” perintahnya.


Puluhan peluru kendali melesat berbarengan memburu titik kecil diantara gugusan awan, tubuh Pranaja, yang berdiri gagah di tengah angkasa. Nampak separuh tubuh ke bawah masih diselubungi api biru. Dia terdiam beberapa saat menunggu kedatangan peluru-peluru itu. Begitu rudal-rudal itu mendekatinya dia langsung memukulkan tangannya ke depan.


“Pukulan Gelombang Dinding Bayangan!” teriaknya.


Dinding angin setebal satu meter melabrak ke depan diikuti dinding angin berikutnya yang keluar susul menyusul. Gelombang dinding angina itu menyambut kedatangan rudal-rudal yang ditembakkan dari jet tempur J-20


Wugwgwgwgwgwg..!”


Rudal-rudal itu sempat berhenti sebentar di udara. Lalu mereka berputar cepat sekali. Ujungnya yang lancip sedikit demi sedikit berhasil membuyarkan kekuatan Dinding bayangan milik Pranaja. Tak ayal, rudal-rudal itu melesat kembali mengejar tubuh Pranaja.


“Heya!”


Dengan cepat tubuh Pranaja mundur ke belakang. Rudal-rudal itu terus memburunya.


“Kekuatan Geni Sawiji!” teriaknya kemudian.

__ADS_1


Sambil melesat mundur, kedua tangannya melemparkan bola-bola api biru ke arah rudal-rudal itu. Seketika rudal-rudal yang terkena bola-bola api itu langsung meledak.


“Bum! Bum! Bum! Bum!”


Puluhan rudal-ruudal itu meledak sebelum mencapai sasarannya. Namun rudal-rudal itu terlalu banyak. Mereka yang tidak terkena bola-bola api terus melesat memburunya. Dalam kondisi terdesak, Pranaja terus terbang melesat mundur, membuat jarak dengan rudal-rudal yang melesat dengan kecepatan suara itu.


Setelah cukup jauh dia berhenti. Pranaja mengaktifkan baju pelindungnya. Lalu melompat dan berdiri tegak diudara. Dibentangkannya kedua tangannya kesamping kanan dan kiri. Matanya terpejam, elemen panas dalam tubuhnya menyerap enegi api, masuk kedalam setiap serat baju T-Shield 313216 nya. Lalu kekuatan itu mengalir disetiap pembuluh kapiler dan urat-urat serabutnya. Seluruh tubuhnya nampak bersinar merah membara, lalu perlahan berubah menjadi biru dengan suhu panas yang semakin meningkat.


Kemudian pemuda itu memusatkan kekuatannya pada kedua tangannya. Perlahan energi api itu merambat ke ujung lengan kanannya. Membuatnya menjadi bersinar dari ujung telapak tangan sampai ke siku, begitu menyilaukan. Lalu dengan satu kali hentakan, tangannya memukul ke depan. Mengeluarkan kekuatan Geni Sawiji pada tingkat yang paling tinggi.


“Pukulan Api Biru!!” teriaknya.


Seketika gumpalan sinar berwarna biru yang lebih besar dari bola-bola api tadi melesat menuju sasaran, puluhan rudal rudal yang mengejarnya. Suaranya keras mengguntur seperti badai hebat yang tengah mengamuk.



Wugwugwugwugwugwug!!!



BUMM!!


Suara menggelegar diikuti cipratan api sepanjang puluhan meter menggetarkan langit di atas semenanjung Korea. Diikuti gelombang elektromagnetik dalam skala besar sehingga alam seperti terguncang. Rudal-rudal itu seperti hilang kendali. Sistem elektrik mereka rusak, kemudian meledak dan hancur menjadi debu.


Pyar!


Efek ledakan puluhan rudal berdaya ledak tinggi itu sungguh luar biasa. Tubuh Pranaja terpental ke belakang, meliuk-liuk diudara seperti kehilangan kendali. Kemudian berputar dan berguling-guling diantara gugusan awan. Untuk sesaat, kesadarannya seperti hilang. Tubuhnya langsung meluncur jatuh ke bumi dengan kecepatan tinggi.


Swing! Swing! Swing!



Pesawat-pesawat siluman Chengdu J-20 berhasil melewatinya. Kini mereka memburu sasaran berikutnya, pesawat Thunderbolt yang dinaiki Ryong Bae dan Ryung Nae!

__ADS_1


__ADS_2