
KENDALIKAN DENGAN HATI
Angin berhembus menerbangkan daun-daun kering. Menautkan dendam yang terpatri pada kegelisahan hati untuk menuntaskannya. Karena dendam adalah sebuah harga mati setelah penderitaan yang panjang akibat kesemena-menaan. Dan Panembahan memahami suasana hati Daningrum, yang ingin menagih kecerobohannya dimasa lalu dengan nyawanya.
“Berhenti kisanak! Jangan kau lanjutkan lagi!” ujar Panembahan.
Tangannya diangkat ke depan, memberi isyarat agar cantrik-cantrik Acarya itu berhenti menyerangnya.
Tapi tak ada niatan berhenti sedikitpun tersirat dalam hati dan pikiran mereka. Setelah saling berpandangan sebentar, mereka serentak menerjang lagi dengan formasi baru. Istrinya terbang melayang, menyerang dar bagian atas, sedangkan Tusin, suaminya, menyerang dari arah bawah.
“Paruh Rajawali Menusuk Buana!” teriaknya meneriakkan jurus yang mereka lakukan.
Panembahan berdiri tenang. Dengan cermat dia melihat gerakan mereka, membaca arah serangan lawannya.
Mendadak tubuh Daningrum berputar dan menukik ke bawak, ujung pedangnya mengarah tepat ke arah jantung Panembahan. Demikian juga Tusin membelokkan arah serangannya ke atas, ujung pedangnya juga mengarah uluhati sang panembahan. Seperti paruh Rajawali yang mengatup dan siap mengambil jantung hati musuhnya.
Dengan penuh kekuatan, Panembahan mengangkat kedua telapak tanggannya ke depan dada, kemudian tangannya berputar seratus delapan puluh derajat.
“Kekuatan Tirtanala!”
Hawa dingin yang sangat kuat tiba-tiba menyergap dan berputar seperti angin ****** beliung. Menyelubung kedua tubuh lawannya dalam dengan hawa dingin yang membekukan.
‘Wush’
Kedua tubuh itu sempat melintir terbawa kekuatan Tirtanala, sebelum mereka berhasil mengendalikannya. Namun kesalahan setengah detik itu berhasil dimanfaatkan oleh Panembahan. Tanpa diduga, dengan kecepatan tak terlihat mata biasa, tubuh pemimpin tanah perdikan Somawangi itu berkelebat ke belakang mereka, lalu memegang kedua kakinya.
Tusin dan Daningrum tak sempat mengelak. Mendadak ada hawa dingin yang merambat sangat cepat membekukan kaki mereka, dan menyelubungi tubuh mereka tanpa sempat mengibaskan pedang mustikanya. Seketika tubuh mereka menjadi kaku dan tak bias digerakkan lagi.
‘Bum!”
Kedua tubuh yang masih melayang di udara itu jatuh berdebum di atas tanah. Debu-debu dan tanah beterbangan menyelubungi tubuh mereka yang kaku dan tak bisa bergerak itu. Sesaat kemudian suasana menjadi sepi. Hanya mata kedua pendekar muda itu yang masih bisa bergerak-gerak, pertanda masih ada kehidupan di dalam tubuh mereka. Betapa marahnya mereka, tapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
Panembahan menghela nafas panjang. Lalu berjongkok mengambil kedua pedang Mustika yang masih dalam genggaman itu. Kedua bola mata Tusin dan Daningrum semakin melotot. Jika saja mulut mereka bisa bersuara, mungkin mereka sedang mengumpat tak karuan.
“Jangan khawatir. Aku akan mengembalikan kedua pedang ini kepada Sapujagad, guru kalian. Sebelum kalian menyebutkan jurus-jurus yang kalian teriakkan itu, aku sudah terlebih dahulu mengenalnya. Ya, aku kenal semua jurus Sapujagad, karena dia adalah temanku,” sambung Panembahan.
__ADS_1
Kemudian dia berdiri. Lalu memainkan jurus-jurus Rajawali yang tadi di peragakan oleh Tusin dan Daningrum dengan kecepatan yang sangat mengagumkan.
‘Wus! Bet! Sshh!’
Menyabet, membelah, menusuk, menangkis dan memainkannya di udara. Sebuah pertunjukkan akrobatik yang luar biasa. Walaupun sudah tua, tubuh Panembahan terlihat begitu ringan dan lincah memainkan pedangnya. Sebentar saja tubuhnya terbungkus sinar putih yang berasal dari pantulan sinar matahari yang mengenai pedang tersebut.
Daningrum dan suaminya hanya bisa melihatnya antara pandangan kagum dan kebencian. Mereka tidak merasa sesungguhnya Panembahan sedang membagi ilmunya. Seringkali kebencian dan air mata menutupi kebaikan hanya karena belum bisa memaafkan. Dan itu bukan salahmu, karena penderitaan yang telah merubah hidupmu tidak akan hilang hanya oleh satu kali kebaikan.
“Pedang ini akan memiliki kekuatan penuh apabila dikendalikan dengan hati bukan dengan emosi. Karena hati cenderung membawa kebaikan sedangkan emosi cenderung membuat kita berbuat kesalahan,” kata Panembahan bijak.
Lalu dia berkemas, memperbaiki baju kebesarannya yang nampak semrawut karena petarungan tadi.
“Hari ini aku telah membayar kesalahanku dengan mengampuni nyawamu. Lain kali kita bertemu lagi, maka kalian akan berhuang nyawa kepadaku. Jadi berlatihlah dengan baik, lalu kalahkan aku, biar tidak ada hutang apapun diantara kita.”
“Tunggulah sampai matahari mencapai puncaknya. Panasnya akan membuyarkan kekuatan Tirtanala, dan kalian bisa terbebas dari rasa dingin yang membekukan.”
Perlahan tubuh Panembahan melayang di udara, jubah kebesarannya nampak berkibar tertiup angin. Dengan satu kali hentakan, tubuhnya melesat jauh mennggalkan Jalatunda.
***
Tidak ada penyesalan yang harus membuatmu berhenti, selama kau tahu betapa indahnya kehidupan yang kau jalani. Karena rasa syukur itu akan selalu hadir saat kau bersimpuh di jalan cahaya.
Riyani mengamati pecahan batu Kristal yang dia temukan di tengah hutan tadi. Rasanya dia masih penasaran dengan tubuhnya yang tiba-tiba bisa melompat sangat tinggi, melebihi tinggi Dalem Kademangan. Benarkah batu kristal ini memiliki kekuatan yang mendorong tubuhnya melompat lebih tinggi dari kemampuan normalnya?
__ADS_1
“Aku akan mencobanya sekali lagi,” batinnya.
Lalu dia melepas baju dan kain kembennya. Lalu berganti memakai celana panjang dan baju lengan pendek. Hehehe..dia tertawa sendiri. Celana panjang yang biasa dia pakai pergi ke hutan saat masih kecil, sudah berada diatas lututnya. Lebih mirip celana pendek. Untuk celana ini dibikin agak longgar. Lagipula, walaupun tubuhnya bertambah tinggi, tapi lingkar paha dan pinggangnya tidak berubah banget, jadi celananya masih bisa dipake.
Dibungkusnya batu Kristal itu dengan kain kecil, lalu ujungnya diikat pada seuntai benang. Setelah itu dikalungkan ke lehernya.
“Eh, kau mau kemana Riyani?” tanya ki Demang sambil menatap pakaian Riyani yang ‘aneh’ itu.
“Mau ke kebun belakang ayah, mengumpulkan kayu-kayu kering,’ kilahnya.
“Kenapa kau tidak minta bantuan Tumin saja?”
“Biar aku saja ayah. Lagian aku juga bosan tinggal di kamar seharian.”
Ki Demang tidak berkata lagi dan membiarkan puterinya berlari ke belakang. Riyani berjalan ke arah tanah yang cukup lapang. Lalu berdiri terdiam. Hatinya menjadi ragu dan sedikit khawatir.
‘Bagaimana jika aku melompat terlalu tinggi dan jatuh ke atap rumah?’ batinnya.
Tapi keraguan itu ditepisnya. Dia lalu mengambil ancang-ancang. Menarik nafas panjang, kemudian dihembuskan perlahan sambil memejamkan matanya. Setelah itu matanya di buka, metap dahan pohon rambutan setinggi lima meter dari permukaan tanah. Kemudian gadis itu berlari cepat, lalu menghentakkan kakinya dan melompat tinggi. Tangannya menggapai-gapai ke udara dan…gagal.
“Buk!”
Dia malah jatuh tersungkur.
“Aduh!”
Ki Demang, mbok Dal dan kang Tumin berlarian ke kebun belakang, menolong Riyani agar berdiri kembali.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau lakukan Den Ayu?” tanya mbok Dal.
Riyani tersenyum malu. Membersihkan baju bagian belakangnya yang kotor, lalu berlari masuk kembali ke dalam rumah. Diiringi tatapan aneh ki Demang dan yang lainnya.