
MIMPI YANG MENGGANGGU
Mimpi adalah bunga-bunga tidur yang akan menyempurnakan kebahagiaanmu. Semua orang menyukai dunia mimpi karena kita bisa menjadi apa saja disana.
Riyani tersenyum sendiri dalam tidurnya. Dia mendapati dirinya sedang bermain-main dalam sebuah taman yang penuh bunga. Tanaman itu merambat kesana kemari memenuhi pagar halamannya dengan warna-warni yang mengharukan hati. Lalu dia melihat Santika, berpakaian serba hitam dan menaiki kuda hitam yang gagah melambaikan tangannya. Betapa bahagia hati gadis itu melihat pangeran cintanya memanggilnya.
“Kakang Santika! Kau memanggilku?” seru Riyani.
Bibir Santika nampak bergerak-gerak menyebutkan sesuatu sambil melambaikan tangannya. Tapi Riyani tidak mendengar apapun. Gadis itu segera berlari mendekat, tapi kuda hitam yang dinaiki Santika malah bergerak menjauh.
“Kakang Santika! Kenapa kudamu menjauhiku? Kau hendak bermain-main denganku?” tanya Riyani sambil tertawa gembira.
Dia berlari lagi mendekati pemuda pujaannya itu, tapi begitu dekat, kudanya lari menjauh lagi. Sampai dia merasa kecapaian dan jatuh tersungkur. Dia melihat kearah Santika yang semakin jauh. Tapi anehnya suaranya malah terdengar jelas memanggil sebuah nama.
“Miryam! Miryam!”
Riyani terkesiap kaget. Miryam? Kakang Santika memanggil dirinya Miryam? Owh, ternyata dia memanggil gadis lain. Pantas kuda hitam selalu menjauh saat dirinya hampir menyentuh Santika.
Gadis itu merebahkan tubuhnya diatas rumput hijau. Air matanya terlihat menetes membasahi wajahnya yang bening sempurna. Ternyata tidak ada cinta untukku. Tidak ada namaku dihatimu kakang, batinnya. Dan air mata itu terus menetes. Sampai hal aneh lainnya terjadi.
Seorang pemuda lain datang menolongnya. Berpakaian serba putih, berselempang kain emas, menaiki seekor kuda berwarna putih yang besar. Kuda putih itu berhenti di dekatnya seperti sedang mengantarkan tuannya. Pemuda itu sangat tampan, tidak kalah dengan santika. Badannya tinggi dan kuat, kulitnya putih dan lembut, dengan senyum menawan. Dia membawa sekuntum bunga yang dipetiknya dari pagar taman. Mawar merah pertanda cinta diulurkan kepadanya.
“Riyani, ini bunga untukmu,” kata pangeran tampan itu.
Tapi Riyani diam saja. Dia bahkan mengalihkan pandangannya, mencari Santika. Tapi kuda hitamnya telah melarikannya entah kemana.
“Kakang Santika? Kenapa dia pergi begitu saja?” batinnya.
Dia bangkit lagi dan berlari. Namun baru beberapa langkah dia berhenti dan menengok ke belakang. Nampak pangeran berkuda putih itu masih menatapnya sambil tersenyum lebar. Riyani memandangnya dengan kesal.
‘Siapa sih pemuda itu. Kurang ajar banget, tidak tahu sopan santun! Melihatku sambil tersenyum-senyum. Memangnya aku lucu apa!’ gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba ada yang menggoyang tubuhnya.
“Den Ayu bangun.! Den Ayu ayo bangun! Tidur kok marah-marah,” ujar mbok Dal.
Riyani bangun dari tidurnya, terus duduk dipinggir ranjang. Nampak jelas ada kemarahan di wajahnya. Mbok Dal mengusap-usap punggungnya.
__ADS_1
“Ada apa cah Ayu kok marah-marah,” tanya mbok Dal lagi.
“Itu lho ada pemuda yang tidak sopan. Maksa-maksa ngasih bunga, kedua matanya melihatku terus sambil senyum-senyum,” gerutunya.
Mbok Dal tersenyum.
“Ow, Den Ayu barusan mimpi ketemu cowok?”
“Hah?” gadis itu terhenyak. Mimpi? Dia baru sadar kalau tadi itu cuman mimpi. “Mimpi ya? Kok kayak beneran?”
Riyani menatap wajah mbok Dal yang masih tersenyum. Wajahnya langsung memerah karena malu.
“Apaan si mbok, kok senyum-senyum begitu.”
“Gak papa cah Ayu, seumurmu mulai memimpikan lelaki.”
Riyani tersenyum nakal, wajahnya didekatkan pada wajah mbok Dal.
“Berarti simbok dulu sering mimpiin lelaki muda ya?”
Mbok Dal jadi gelagepan. Sekarang dia yang merasa malu.
Simbok senyum-senyum tambah malu.
“Bukannya genit Den. Soalnya dulu banyak yang mbok taksir, jadi sering masuk ke alam mimpi.”
Riyani tertawa mendengar kata-kata pengasuhnya itu.
“Ada yang jadian nggak mbok?”
“Huh, boro-boro. Yang mbok taksir tuh pemuda-pemuda ganteng, eh jadiannya malah sama itu tuuh,” kata simbok sambil menunjuk kang Tumin yang lagi sibuk mengejar-ngejar bebek di belakang.
“Hahaha…” Riyani tambah tergelak.
***
Senja menabur warna jingga matahari sore. Menata hati yang gelisah menghadapi malam. Karena kau mengalami mimpi yang aneh di setiap tidurmu.
__ADS_1
Sudah tujuh hari berturut-turut, Riyani mengalami mimpi sama. Kisahnya dramatik, tapi karakternya selalu sama. Pernah mimpi digigit ular, lalu di tolong oleh pemuda berkuda putih itu. Pernah juga mimpi melihat dirinya di kaca tiba-tiba muncul orang itu di kaca yang sama. Betapa kesal hatinya. Hari-harinya jadi kepengin marah terus.
“Mbok! Aku mau jalan-jalan ke perkebunan!” ucapnya ketus.
Mbok Dal yang tahu suasana hati junjungannya, buru-buru mengejarnya. Membuntuti langkahnya.
“Eh, Den Ayu tunggu! Jangan cepat-cepat,” panggil simboknya.
Tapi Riyani tidak perduli. Dia terus berjalan keluar halaman Kademangan. Langkahnya cepat sekali sehingga. Mbok Dal ketinggalan. Untung dia melihat sais kereta yang sedang membersihkan kandang kuda.
“Kang Diro! Kang Diro!" ujarnya dengan napas tergopoh-gopoh.
“Ada apa mbok?” sahut Kng Diro.
“Ayo, persiapkan keretamu. Den Ayu mau pergi ke perkebunan.”
“Oh iya mbok.”
“Ayo cepetan!”
“Lho, Den Ayunya mana?”
“Itu sudah keluar berjalan kaki!”
Kang Diro terkesiap. Lalu cepat-cepat mengeluarkan keretanya dan menyusul Riyani yang sudah berada di tengah perjalanan. Setelah dekat, menghentikan keretanya.
“Monggo Den Ayu silahkan naik,” katanya sambil membuka pintu kereta.
Dengan wajah masih kesal, Riyani segera naik ke dalam kereta. Kang Diro memacu keretanya menuju perkebunan milik Kademangan di lereng bukit Wuled. Tak lama kemudian, sampailah mereka di tempat itu.
“Sudah sampai Den Ayu, silahkan turun.”
Riyani turun dari kereta. Udara sejuk lereng bukit Wuled langsung menyergapnya dengan kesejukan. Uuh…pemandangannya cantik sekali. Deretan pohon mrica yang merambat pada batang laraside terlihat berderet tertata rapi sepanjang lereng. Buahnya yang majemuk merah, kuning dan hijau memberikan nuansa tersendiri. Bagaikan barisan gadis-gadis cantik yang memanjakan mata, melenggak-lenggok tertiup angin sore.
Beberapa pekerja nampak sedang berkemas, bersiap untuk pulang. Sebagian lainnya sedang mengumpulkan biji-biji mrica tua berwarna merah yang baru saja dipanen. Biasanya biji-biji mrica itu akan diproses, direndam satu hari satu malam untuk memudahkan mengupas kulitnya. Setelah itu dijemur sampai kering. Banyak tengkulak dari Kotaraja yang datang untuk membeli panen mrica yang sudah siap pakai itu.
Riyani paling senang pergi ke tempat ini. Sambil menikmati suasana bukit Wuled di sore hari, dia bisa membantu memasukkan mrica-mrica itu ke dalam keranjang. Disamping dia bisa melupakan kegundahan hatinya untuk sementara. Setelah keranjangnya penuh dia akan memanggil pekerja laki-laki untuk membawanya ke dalam gerobak.
__ADS_1
“Kang! Tolong bawakan keranjang ini ke dalam gerobak,” ujar Riyani memanggil seorang pekerja yang sedang sibuk membersihkan sampah dedaunan.
Pekerja berbadan kekar, tinggi dan berkulit putih itu segera berlari menghampiri junjungannya. Riyani terkesiap kaget. Dia merasa mengenal wajah laki-laki itu, wajah yang selalu hadir dalam mimpinya selama tujuh malam berturut-turut.