
EPS 122 PERADABAN NOL
Jagad Raya yang secara utuh kita pandang sebagai keadaan yang hampa dan sepi, sejatinya secara kasat mata dipenuhi oleh pertikel-pertikel yang tidak pernah diam. Menari dengan sangat dinamis, menari dengan irama, ritme, dan pola yang sangat indah. Bahkan di ruang angkasa, partikel-partikel ini merupakan bahan penting dalam pembentukan bintang.
Partikel-pertikel itu terus berputar dalam pola spiral lalu menyatu menjadi debu dan gas angkasa. Dan debu-debu itu juga berputar dan menjadi satu dengan gas dalam sebuah kisaran lalu membentuk benda-benda langit. Meteorid, bintang, asteroid, bulan, planet, matahari, tata surya, galaksi, kluster, super kluster dan jagad raya. Kalau jagad raya ini saja tercipta dari sesuatu yang kasat mata, maka bukankah kehidupan juga berasal dari sana?
Pranaja berdiri tegak di depan sosok Shamtek Yang Agung.
“Tidak ada yang bisa melawan garis takdir Pranaja. Semua sudah tercatat sebagai suratan dari Dewata yang harus dijalani,” ujar Shamtek. “Semua telah menjalani takdirya. Amita. Naga Suci dan Wyona sudah menyelesaikan kewajibannya, termasuk kau.”
“Aku merasa telah gagal menjalankan kewajibanku, kakek,” sahut Pranaja.
Shamtek menatap wajah sedih Pranaja dalam-dalam.
“Kenapa kau merasa gagal? Karena kematian mereka bertiga?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Kau salah anakku. Kewajibanmu bukan untuk menyelamatkan hidup Amita, Spot atau Wyona. Kewajibanmu adalah menyelamatkan manusia bumi yang terkurung di dalam lapisan es agar mereka dapat melanjutkan kehidupan manusia di bumi ini.”
“Tapi aku merasa ini tidak adil kakek. Kenapa dewata mengambil nyawa sahabat-sahabatku, sementara aku di selamatkan?”
“Karena garis takdirmu bukan disini Pranaja. Kau kuhadirkan karena kau lah yang memiliki darah naga, setelah ratusan tahun aku mencarinya.”
Pranaja menatap wajah Shamtek tak mengerti.
“Naga adalah pelindung kerajaan Bumi. Dia adalah symbol yang membangkitkan kekuatan manusia. Tetapi bahkan seekor naga yang paling sakti pun tetap membutuhkan penunggangnya. Dan kau adalah Penunggang Naga yang terakhir,” ujar Shamtek.
Pendekar berwajah imut itu masih terdiam, berusaha memahami kata-kata Penyihir Yang Agung. Penunggang Naga yang terakhir?
“Naga milikmu adalah naga terakhir. Setelah kematiannya, Naga hanya akan menjadi makhluk legenda manusia bumi. Dia akan menjadi makhluk yang sangat dihormati, dikagumi dan dipuja setiap bangsa di seluruh dunia.”
“Mengapa Naga harus dihapuskan Kakek?”
“Karena sudah tidak ada lagi yang harus di lindungi. Kau sudah tahu kan, seluruh kehidupan di planet-planet telah musnah? Seluruh Planet di dalam tata surya telah menjadi tempat yang kosong dan tak berpenghuni. Artinya tidak ada lagi ancaman terhadap planet Bumi. Tugas Naga sebagai pelindung manusia telah selesai.”
__ADS_1
Pranaja mengangguk-angukkan kepalanya. Sekarang dia mulai memahami kalimat-kalimat Shamtek Yang Agung. Selama ini yang mengancam kehidupan di Bumi adalah manusia-manusia penghuni planet-planet dalam tata surya. Saat ancaman itu hilang, maka Naga sudah tidak dibutuhkan lagi.
“Maka musuh manusia adalah mengalahkan diri mereka sendiri,” sambung Shamtek.
“Apa maksudmu kakek?”
Kakek Shamtek tidak menjawab pertanyaan Pranaja. Dia malah membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu. Kedua tangannya diangkat ke atas kepalanya. Lalu bibirnya mengucapkan doa-doa, sambil memainkan tongkat di tangannya. Setelah itu dia menancapkan tongkatnya menghunjam ke dalam tanah.
“Lortungkahgrekyangparikhadpreh!” teriaknya.
Angin bertiup kencang saat kedua tangannya juga diputar-putarkan. Lalu ada uap air yang menutupi pandangan. Uap air yang berputar itu membentuk lapisan putih pada udara, sebelum akhirnya semakin menipis dan hilang. Betapa terkejutnya Pranaja, begitu uap air itu hilang dihadapannya muncul bangunan berbentuk limas.
Limas merupakan sebuah bangun ruang tiga dimensi yang memiliki alas berupa poligon atu segi banyak: yaitu segi empat, segitiga, dan segi lima. Sisi-sisinya berbentuk segitiga dan memiliki puncak. Bangunan berbentuk limas banyak ditemukan di Mesir yang disebut Piramida.
Perlahan bangunan berbentuk piramida itu terbelah lalu membuka diri. Tampaklah rombongan puluhan anak kecil yang keluar dari dalamnya.
“Hah?” Pranaja terkesiap, untuk sejenak dia tidak bisa berkata-kata. “ Si..siapa mereka kakek?”
“Mereka adalah generasi manusia pertama yang dilahirkan setelah jaman es berakhir. Seluruh makhluk hidup mengalami evolusi setelah terlalu lama terkurung dalam lapisan es. Tubuh mereka semakin kecil. Manusia sebelum jaman es jauh lebih besar daripada manusia yang lahir setelah jaman es. Demikian juga binatang-binatang raksasa yang punah dan berganti dengan makhluk baru yang lebih kecil meskipun dengan pola makan yang sama.”
“Kalau begitu bumi ini akan merasakan kedamaian karena sudah tidak ada ancaman lagi,” ujar Pranaja.
Shamtek menggelengkan kepalanya.
“Manusia memiliki perangkat canggih di dalam tubuhnya yaitu akal dan pikiran. Namun mereka di kendalikan oleh nafsu dan kata hati. Kebanyakan manusia lebih suka menggunakan akal pikirannya untuk memenuhi nafsunya daripada menuruti kata hatinya.”
Raut muka Shamtex berubah menjadi sangat sedih. Mendadak Pranaja teringat kitab Irodarsulasikin. Kata-kata yang baru didengarnya dari bibir Shamtex ada di dalam kitab itu.
__ADS_1
“Kehidupan terus berkembang. Manusia akan terbagi-bagi menjadi berbagai suku, ras, golongan dan bangsa-bangsa. Akan terjadi pergolakan antar mereka, karena mereka melupakan jati dirinya, bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama. Mereka bahkan melupakan sosok Naga Suci sebagai pelindung dan pemersatu manusia. Dan Naga hanya akan menjadi simbol belaka tanpa dipahami filosofinya.”
Pranaja tersenyum tipis.
“Untung ada kakek yang akan selalu menjaga manusia.”
Shamtex menggelengkan kepalanya.
“Tidak Pranaja. Tugasku juga sudah selesai. Aku akan kembali kepada hakikatku sebagai cahaya, yang memberi terang pada jalan kegelapan. Terserah mereka mana jalan yang ingin ditempuh, walaupun kakek yakin mereka lebih suka jalan gelap yang banyak kerikil tajam. Karena mereka lebih suka melihat kaki saudaranya yang berdarah.”
Tiba-tiba terdengar ada keributan diantara anak-anak manusia itu. Rupanya mereka sedang berkelahi memperebutkan seekor daging rusa yang barusan mereka bunuh bersama. Wajah mereka Nampak menyeringai satu sama lain. Dengan senjata yang penuh gelimang darah mereka bersiap untuk saling membunuh demi makanan yang sesungguhnya cukup untuk dimakan bersama.
“Huft!”
Pranaja menghempaskan nafas kasar. Seluruh tubuhnya terasa merinding. Benar-benar peradaban manusia kembali ke titik nol. Betapa buasnya satu-satunya makhluk berakal di bumi ini. Benar kata kakek, musuh utama manusia adalah mengalahkan diri mereka sendiri, mengalahkan ego yang lebih mementingkan ambisi pribadi daripada kepentingan bersama.
Namun Pranaja yakin diantara jiwa yang kalut dan lemah, selalu ada orang yang kuat untuk menginspirasi. Dan itulah pahlawan sesungguhnya.
“Hm, tugasku juga sudah selesai kakek. Aku harus kembali ke duniaku. Teman-temanku pasti sudah gelisah menunggu.”
Kakek Shamtex mengangukkan kepalanya sambil mengulurkan tangannya yang terkepal. Saat dia membukanya, ternyata sisik naga permata biru ada dalam genggamannya.
“Terimalah ini. Berikan sisik permata biru kepada siapapun orang yang mati, maka jiwanya akan kembali.”
Pranaja memandang takjub. Wow, sisik permata biru bisa menghidupkan orang mati?
“Tapi kau hanya bisa menggunakannya satu kali,” kata kakek Shamtek lagi.
Ketika Pranaja mendongakkan kepalanya, kakek Shamtek sudah tidak lagi berada di tempatnya. Entah pergi kemana. Pranaja mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga.
__ADS_1
“Kakek…!” teriaknya membelah angkasa.