
EPS 100 MOVE ON BRO!
Malam ini purnama hadir kembali. Wajahnya bulat sempurna menggantung gagah di kegelapan langit yang begitu pekat. Tapi tidak seperti biasanya Pranaja tidak duduk menikmati wajah bulan di balkon kamarnya. Kali ini dia duduk diatas bukit karang di pinggir pantai sambil memegang sebuah gitar. Hatinya sedikit gembira. Pertemuannya dengan Miracle dan Tong Pi tadi siang membuatnya bisa sedikit menghilangkan gundah di hatinya.
Pandangannya jauh ke tengah lautan. Semakin sempurna wajah bulan, terasa ombak juga semakin tinggi menjulang. Seolah ikut menyambut datangnya purnama. Pada saat bulan purnama, air di laut akan mengalami pasang. Yaitu naiknya ketinggian gelombang laut akibat gaya tarik bulan. Dia sedang asyik menyanyikan lagunya Ungu, Tercipta Untukku.
Menatap indahnya senyuman diwajahmu.
Membuat ku terdiam dan terpaku.
Mengerti akan hadirnya cinta terindah.
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan kepada dirimu
Aku ingin engkau slalu hadir dan temani aku
Disetiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku sepanjang hidupku
Meski waktu akan mampu memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tau ku slalu milikmu
Yang mencintaimu sepanjang hidupku
Suaranya mengalun lembut dengan vibrasi yang menggetarkan hati. Lalu terdiam sejenak. Pandangannya sama sekali tak beralih. Dia terus memandang bulan sambil berharap ada sesuatu yang membalas kerinduannya.
Tapi bulan tak pernah berubah. Dari waktu ke waktu wajahnya tetap sama. Begitu cantik dan menenangkan. Seolah tidak ada kesedihan yang diembannya.
Krsrek!
Mendadak instingnya yang tajam merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya. Siapa? Dia mempertajam panca inderanya.Diam-diam Pranaja memindai keberadaannya. Sosoknya selalu berpindah-pindah di sekitar tubuh Pranaja. Kadang di belakang lalu pindah ke depan, ada di kiri lalu pindah ke kanan. Pranaja tersenyum.
“Keluar Tong Pi! Aku lagi nggak mood buat bermain denganmu,” ucapnya.
Diam sebentar.
Kressek!
Terdengar langkah kaki keluar dari balik pepohonan, kemudian berjalan menghampiri tubuh Pranaja. Wajahnya terlihat kesal dan bibirnya bersungut-sungut. Rupanya dia kesal dengan sikap Pranaja yang tidak peduli dengan kehadirannya.
“Kamu itu nggak asik Pranaja. Nggak biasanya kamu begini,” ujar Tong Pi.
Pranaja menatap sahabat kecilnya itu sambil mengernyitkan dahi.
“Memangnya kenapa?”
“Kau sudah berubah. Tidak asik lagi.”
“Oh ya? Aku tidak pernah berubah sobat.”
Tong Pi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Tidak Pranaja. Kau berubah. Kau yang sekarang berbeda dengan yang dulu.”
Pranaja terdiam. Kata-kata Tong Pi merasuki kepalanya.
‘Aku berubah?’ batinnya.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Tong Pi lagi.
“Hah?”
Mulut Pranaja terbuka.
“Maksudku, selama beberapa minggu kau pergi, apa ada seseorang yang telah merubahmu?”
Pranaja masih terdiam. Seseorang? Siapa yang telah merubahku?
“Tidak ada. Itu hanya perasaanmu saja Tong Pi.”
“Lalu kenapa kau jarang tertawa, nggak mau nge prank aku lagi, suka duduk menyendiri dan mengukir malam dengan lagu-lagu cintamu,” ujar Tong Pi sedikit puitis. “Kau sedang jatuh cinta?”
Pertanyaan Tong Pi langsung menyodok relung hatinya. Sekejap dia tergagap. Wajahnya terlihat gugup dan sedikit tegang. Apalagi Tong Pi terus menatapnya.
“Oh, eeh,…anu. Beginu…eh maksudku begini…”
Kressek!
Ada orang datang lagi. Miracle langsung berlari dan memeluk tubuh Pranaja dari belakang. Kedua tangannya melingkar di leher Pranaja dengan mesra.
Heh! Pranaja menjadi lega. Alhamdulillah, untung Miracle datang, batinnya.
“Apa? Maksudmu kau dan Miracle sudah…”
Miracle mengangguk cepat.
“Iya. Aku dan Pranaja sudah jadian, adik kecil,” kata Miracle. “Iya kan sayang.”
Pranaja terkesiap. Mata Tong Pi semakin membesar menatapnya. Pranaja terpaksa menganggukkan kepalanya.
“I..iya,” ujarnya.
Tawa Tong Pi langsung meledak. Tentu saja dia ikut bahagia melihat dua sahabat baiknya menjadi pasangan yang saling mencintai.
“Hahahaaa….Wow! Amazing! “
Tong Pi berlari lalu merangkul tubuh kedua sahabatnya itu,
“Hahaha…!”
Tawa Tong Pi dan Miracle memecah malam, sementara Pranaja hanya terdiam dengan senyum yang tertahan.
***
Pranaja duduk terpekur di depan M. Di ruang besar yang menyeramkan itu, M sedang menunjukkan gambar-gambar citra satelit dimana Ren berada. Ternyata gadis itu masih berada di sebuah markas militer bersama beberapa perempuan lainnya. Wajah Ren masih terlihat sedih, tapi dia baik-baik saja.
“Kekasihmu bersama beberapa perempuan Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan sedang diinvestigasi di sebuah markas militer,” kata M. “Tapi jangan khawatir, orang Korea Selatan sangat menghormati orang Korea Utara yang membelot ke wilayahnya. Setelah melewati proses unvestigasi dan assimilasi, mereka akan diberikan indentitas baru, pekerjaan, tempat tinggal dan fasilitas lainnya."
__ADS_1
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Ren dalam-dalam. Gadis itu terlihat begitu gelisah, dan menoleh kesana kemari, seolah sedang mencari seseorang. Sesekali dia tersenyum malu-malu pada orang-orang yang menyapanya. Wajah cantik Ren rupanya telah menjadi magnet yang menarik perhatian banyak orang.
“Dimana Ryong?” tanya Pranaja.
“Diinvestigasi di tempat lain. Kau tahu kan dia seorang perwira militer? Tentu saja dia mendapatkan perlakuan yang berbeda,” sahut M.
Mata Pranaja langsung membesar.
“Tapi M, Ryong adalah perwira yang baik. Dia benar-benar ingin pergi ke Korea Selatan walaupun memiliki karir yang bagus di Korea Utara.”
M menganggukkan kepalanya.
“Aku tahu. Aku sudah melaporkannya ke otoritas Korea Selatan.”
“Apa? Kau juga tahu tentang Ryong? Darimana kau….”
Pranaja memotong ucapannya sendiri. Ya, tentu saja M tahu, karena di dalam tubuhnya sudah ada chip yang tertanam dan terhubung dengan satelit milik Dinas Rahasia Inggris itu. Semua agen utama M16 dari 001 sampai 009 di dalam tubuhnya sudah tertanam chip komputer, sehingga M dapat memantau keberadaan mereka, apa yang sedang mereka lakukan dan dengan siapa mereka berbiccara.
“Aku juga tahu saat kau mencuri foto Ren saat sedang memetik bunga ilalang di padang sabana,” kata M.
Pranaja menahan senyum sambil tertunduk malu. Ada semburat merah jambu di wajahnya yang imut.
“Heh,” M menghela nafas panjang.
Pranaja diam menunggu.
“Kau sudah lihat kan Ren baik-baik saja? Sebentar lagi aku pastikan dia akan bertemu dengan kakaknya. Militer Korea Selatan sudah mengabulkan permintaanku.”
Pranaja memandang wajah M dalam-dalam. Seringkali perempuan itu melakukan hal-hal tak terduga, di luar jangkauan pikiran manusia. Dan itu selalu mengagumkan.
“Terimakasih M” katanya dengan wajah lega.
“Dan itu adalah video terakhir tentang Ren yang bisa kau lihat. Kau bisa menemuinya dua tahun lagi,” sahut M.
Kriyeet!
Seseorang masuk ke dalam ruangan M. Meletakkan beberapa berkas, lalu berbalik lagi. Pranaja tak memperhatikannya, dia lebih fokus menatap wajah Ren.
“Belajarlah pada James, dia selalu punya kisah cinta di setiap tempat yang dia kunjungi, tapi tidak pernah baper.”
“No, M. I’ve been heartbroken too.”
“When?”
“When I was eighteen years old.”
Suara itu begitu berat dan dingin. Pranaja langsung menengok ke belakang. Pria tinggi tegap yang begitu tampan dan karismatik. Pranaja terkesiap beberapa saat.
‘What? 007?’ batinnya.
Sambil mengacungkan jempol kanan, James mengerlingkan salah satu matanya. Ting!
“Move on Bro!”
Pranaja tersenyum. M benar, dia harus belajar banyak dari James yang begitu tangguh dan tak terkalahkan. Tapi dia tidak ingin menjadi James, yang memiliki cinta dimana-mana. Dia hanya ingin memiliki satu cinta, dan dia akan menjaganya hingga waktu memanggil seluruh raganya.
__ADS_1