RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 93 YEONGHON-UI SIJAG


__ADS_3

EPS 93 YEONGHON-UI SIJAG


Malam begitu hening dan menghanyutkan. Angin berkesiur menyentuh dinding hati. Meninggalkan jejak pada debu kegelisahan jiwa-jiwa yang tidak mampu membaca takdir. Karena keinginan yang tak sejalan dengan kemampuan. Juga kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan yang tumbuh di dalam angan. Maka bacalah, bacalah, bacalah. Agar kau tahu arti daripada nikmat, dan tidak berhenti pada kesialan yang kau umpat.


Kakek Kim duduk terpekur di depan altar pemujaan. Mengalunkan senandung suci untuk Seongju, Dewa tertinggi, yang dia yakini telah memberikan banyak kenikmatan, Juga karena hidup membutuhkan arah yang jelas, sehingga kita tetap berada di jalan cahaya. Di ruang sunyi dia melafadzkan doa, menyerahkan sepenuh hatinya dalam pertapaan segala jiwa.


Di belakangnya Pranaja, Ryong dan Ren duduk terdiam. Membeku dalam permainan hati dan pikiran masing-masing. Mata Ren bahkan masih menitikkan air mata. Seharian tadi mereka membujuk kakek Kim untuk merngubah pendiriannya. Tapi kakek tetap teguh dengan keputusannya, dia tidak akan meninggalkan rumahnya, apapun alasannya.


“Tuuuuiiiiiiit! Tuuuuiiiit! Tuuuiiiiit!”


Terdengar bunyi peluit yang ditiup sambung menyambung jauh di luar sana. Suaranya begitu keras mendengung dan terdengar di seantero bumi Korea. Kakek Kim membalikkan tubuhnya.


“Itu sirine tanda bahaya Pranaja. Kedatanganmu dengan Ryong telah diketahui tentara. Sebentar lagi mereka akan menyebar mencari kalian. Menyisir setiap senti tanah ini. Bahkan ke lubang semut pun mereka akan mencari kalian,” kata kakek Kim.


Pranaja dan Ryong menganggukkan kepalanya. Kakek Kim berdiri kemudian berjalan menghampiri guci besar di tengah altar pemujaan. Dia memegang erat guci itu kemudian merobohkannya. Ternyata di bawah guci ada kotak rahasia yang hanya diketahui Kakek Kim.


“Apa yang kau lakukan kek?” tanya Pranaja.


Kakek Kim tidak menjawab pertanyaan Pranaja. Tangannya masuk ke dalam kotak seperti mengambil sesuatu. Ketika dia mengeluarkan benda yang diambilnya, semua terkesiap kaget. Sebilah pedang pusaka yang sangat keramat. Sarungnya berwarna biru metalik, dengan ukiran emas bermotif naga yang melingkar di sarung pedang. Saat kakek mencabut pedangnya, terlihat sinar yang sangat menyilaukan terpancar dari pedang itu.


“Ini adalah YEONGHON-UI SIJAG atau Pedang Perasuk Sukma. Siapapun yang memegang pedang ini tanpa dilandasi tenaga dalam yang cukup, jiwanya akan dirasuki oleh isi pedang ini. Dia akan menjelma menjadi pendekar pedang nomer satu, tak terkalahkan. Namun sejatinya pedang inilah yang menguasai jiwanya. Dan ini sangat berbahaya.”


“Kalau begitu untuk apa kau mengeluarkan pedang itu kek?”


“Berpuluh tahun aku mencari orang yang ku anggap mampu menguasai pedang ini Pranaja. Tadinya aku berharap Ryong dapat melakukannya. Struktur tulangnya sangat sempurna untuk ku bentuk menjadi seorang pendekar. Tapi dia terlalu berambisi menjadi tentara dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar pedang.”


Pranaja melirik Ren, kakek Lim tersenyum.


“Aku memang telah melatih dasar-dasar ilmu pedang kepadanya. Dan dia dapat menguasainya dengan baik. Tapi sayang, perkembangan jiwanya masih sangat labil.”

__ADS_1


Wow…Pranaja dan Ryong menatap Ren, mereka tak percaya gadis pendiam dan lembut itu menguasai dasar ilmu pedang. Kakek Kim tersenyum kepada Ren.


“Tunjukkan kepada mereka Ren.”


Ren terlihat gelisah dan ragu. Tapi tatapan mata kakek seperti memaksanya untuk berdiri dan menunjukkan kemampuannya kepada mereka. Akhirnya dia berdiri sambil mengambil pedang miliknya sendiri.


“Berdirilah dengan tenang Ren,” kata Kakek. “Pusatkan pikiranmu.”


Ren berdiri tegak di tengah ruangan itu. Matanya di pejamkan, dan bibir indahnya terkatup rapat. Rupanya dia sedang memusatkan pikirannya, sesuai perintah kakek. Pranaja dan Ryong terdiam membeku, wajah mereka masih menyiratkan rasa tak percaya.


“Sebagai pendekar pedang, kau harus memiliki kecepatan, sampai musuhmu tak bisa melihatmu” kata kakek Kim.


Tubuh Ren berlari cepat ke depan, lalu melompat dan bersalto di udara. Bayangannya berkelebat secepat angin. Ryong bahkan tidak bisa melihat gerakannya.


“Woa..” gumam Ryong.


Pertama kali dalam hidupnya dia melihat tubuh adiknya bersalto di udara. Mulut Pranaja malah sudah melongo sejak Ren berjalan ke tengah ruangan tadi.


Pedang di tangan Ren disapukan ke kanan dan ke kiri, keatas dan ke bawah. Menyapu, menangkis dan menusuk. Sinar yang ditimbulkan karena pantulan sinar lampu yang mengenai pedang itu begitu menyilaukan, seperti sebaran pita putih, membentuk lingkaran-lingkaran ekor naga.


“Ketepatan dalam setiap sasaran adalah hal yang mutlak di butuhkan,” sambung kakek Kim,”Artinya kau harus memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi, dibarengi kekuatan dan ketepatan menusukkan pedangmu supaya tepat sasaran.”


Kaki Ren berputar di udara kemudian tubuhnya meliuk sambil melontarkan tinju yang panjang (Chang Quan) ke depan. Kepalan tangannya menabrak dinding udara dan kecepatannya menimbulkan suara gesekan angin yang mengalir cepat.


Wuss! wuss! Dab!


“Dan yang tidak boleh kau lupakan, Pendekar pedang selalu mengedepankan keindahan dalam setiap gerakannya. Karena hakikat dari permainan pedang adalah keharmonisan antara hati dan pikiran, jiwa dan raga,” kakek Kim mengakhiri kalimatnya.


Ren berdiri tegak, mengatur nafasnya perlahan. Kemudian dia mulai bergerak kembali. Di awali dengan pukulan tangan ke depan, badan sedikit membungkuk lalu dengan cepat tubuhnya berputar sambil meluncurkan pukulan, tangkisan dan tendangan. Seluruh tubuhnya bergerak dalam suatu kombinasi yang serasi, tepat dan begitu indah untuk dilihat.

__ADS_1


Lalu dalam sekejap, tubuhnya di selubungi larikan sinar pedangnya yang menyilaukan. Tiba-tiba kakek Kim melemparkan tongkat kayu yang ada di sampingnya. Begitu mendekati tubuh Ren, kilatan pedang itu langsung menyelubungi tongkat itu. Lalu Ren menarik dan mengangkat pedangnya ke udara. Tongkat itu sepertinya masih utuh saat di udara, tapi begitu jatuh ke tanah langsung terpotong menjadi beberapa bagian.


Prak! Prol!


Beberapa saat suasana menjadi hening. Pranaja dan Ryong menatap Ren dengan mata melotot. Gadis itu menurunkan pedangnya. Kulit wajahnya yang bening tampak memerah karena malu. Lalu dia berlari dan duduk di belakang tubuh kakek.


Plok! Plok! Plok!


Beberapa saat kemudian Pranaja dan Ryong seperti tersadar, lalu bertepuk tangan.


“Ren, kenapa kau tak pernah bercerita sama kakak?” tanya Ryong.


“Hebat Ren! Kau juga hebat kakek!” Pranaja memberikan pujiannya. “Kenapa tak kau coba memberikan pedang pusaka itu kepadanya Kek?”


Kakek Kim menggelengkan kepalanya. Dia meminta Ren untuk duduk kembali di hadapannya.


“Belum saatnya Pranaja. Aku paham kekuatan pedang itu, dan Ren belum siap menerimanya,” ujar kakek.


Pranaja mengernyitkan keningnya.


“Lalu apa yang kakek inginkan?”


“Aku ingin kau melanjutkan tugasku membimbing Ren agar dia benar-benar matang saat menjadi pendekar pedang.”


“Apa!?” tanya Pranaja dan Ryong berbarengan.


“Ya. Pedang ini akan aku titipkan kepadamu. Berikan kepada Ren saat waktunya tiba,” pesan kakek Kim.


Pranaja diam terpaku. Tatapannya sulit untuk diartikan. Tapi saat melihat wajah Ren, hatinya menjadi mantap. Dan tanpa ragu dia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Baik kakek, aku akan melaksanakan semua pesan kakek,” gumamnya.


Di luar angin berkesiur lembut, menggoyangkan dedaunan dalam tarian yang tak beraturan. Seolah alam terlarut dalam suasana riang yang menyelimuti dinding hati.


__ADS_2